Shaqila Ardhani Vriskha, mahasiswi tingkat akhir yang sedang berada di ujung kewarasan.
Enam belas kali skripsinya ditolak oleh satu-satunya makhluk di kampus yang menurutnya tidak punya hati yaitu Reyhan Adiyasa, M.M.
Dosen killer berumur 34 tahun yang selalu tampil dingin, tegas, dan… menyebalkan.
Di saat Shaqila nyaris menyerah dan orang tuanya terus menekan agar ia lulus tahun ini,
pria dingin itu justru mengajukan sebuah ide gila yang tak pernah Shaqila bayangkan sebelumnya.
Kontrak pernikahan selama satu tahun.
Antara skripsi yang tak kunjung selesai, tekanan keluarga, dan ide gila yang bisa mengubah hidupnya…
Mampukah Shaqila menolak? Atau justru terjebak semakin dalam pada sosok dosen yang paling ingin ia hindari?
Semuanya akan dijawab dalam cerita ini.
Jangan lupa like, vote, komen dan bintang limanya ya guys.
Agar author semakin semangat berkarya 🤗🤗💐
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rezqhi Amalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sekedar teman
Udara di sekitar mereka seolah membeku. Shaqila menatap Tasya, lalu Arga, lalu kembali ke Tasya.
"Kak Arga kenal sepupu gue…?" tanya Shaqila akhirnya. Suaranya terdengar lebih rendah dari biasanya, nyaris asing di telinganya sendiri.
Tasya tersenyum kecil, santai. Terlalu santai untuk situasi yang membuat dada Shaqila mulai terasa sempit.
"Ya jelas kenal lah, Kak. Kita kan mantan."
Arga tidak merespons.
Ia berdiri kaku, bahunya tegang, tatapannya lurus menembus wajah Tasya... bukan dengan marah, tapi dengan keterkejutan yang belum sepenuhnya ia cerna bercampur kerinduan.
Rahangnya mengeras, napasnya tertahan seolah satu kata pun bisa membuat semuanya runtuh.
Shaqila ikut menegang.
Rasanya seperti tersambar petir di tengah siang bolong...terlalu terang untuk ditolak, terlalu menyakitkan untuk diterima.
"No," suara Arga akhirnya terdengar. Serak... Patah. "Bukan mantan."
Kepala Shaqila terangkat perlahan.
"Tapi pacar," lanjut Arga, tanpa menatap Shaqila. "Kita nggak pernah putus!"
Kalimat itu menghantam dada Shaqila telak.
Bukan lagi seperti petir...melainkan seperti beban berat yang dijatuhkan tepat di atas jantungnya. Napasnya tercekat, paru-parunya terasa sempit, seolah udara tiba-tiba menolak masuk.
Tasya terdiam sejenak. Senyum tipis di wajahnya memudar, digantikan ekspresi yang lebih dingin...lebih terluka.
"Awalnya aku juga mikir gitu, kak," ucap Tasya.
Shaqila menatap gadis itu. Air mata mulai menggenang, tapi ia menahannya mati-matian.
"Tapi setelah dua tahun kita LDR," lanjut Tasya, suaranya tetap tenang meski matanya sedikit berkilat, "nomor Kakak nggak bisa dihubungi sama sekali."
Arga menegang lebih keras.
"Aku nunggu," ujar Tasya. "Aku mikir mungkin Kakak sibuk. Aku fokus kuliah, Kak. Aku kejar kelulusan biar bisa lulus cepat, biar bisa ketemu kakak lagi, dan terbukti aku berhasil lulus dalam waktu tiga setengah tahun."
Shaqila menggigit bibirnya. Kalimat itu seperti tamparan untuknya karena dia yang setingkat di atas sepupunya itu masih stay ditahap revisi, malah ditolak enam belas kali.
Satu tetes air mata jatuh tanpa izin.
"Tapi..." Tasya menoleh ke Shaqila sekarang, tatapannya lurus dan jujur, "sepertinya kalian pacaran."
Kata pacaran itu terasa seperti pisau tipis yang menggores perlahan, tapi dalam.
Air mata Shaqila akhirnya turun. Tidak deras, tidak dramatis, hanya jatuh satu-satu, sunyi, menyakitkan.
Dan dengan cepat ia menghembusnya agar tidak seorang pun yang melihat ia menangis.
"Tidak!" Arga cepat-cepat menyela. Nadanya defensif. "Kami cuma teman."
Shaqila menoleh padanya.
Teman.
"Lagipula..." lanjut Arga, seolah berusaha membenarkan dirinya sendiri, "dia cuma adik tingkat. Minta bantuan skripsi karena sering ditolak dosen pembimbingnya."
Setiap kata Arga terdengar jelas. Terlalu jelas.
Adik tingkat.
Minta bantuan.
Cuma teman.
Dan lagi-lagi...pernyataan itu meski benar adanya namun membuat jantung Shaqila seperti ditancapkan ribuan jarum kecil. Sakitnya bukan sekali, tapi berulang, berdenyut, tanpa ampun.
Ia tersenyum kecil. Senyum yang rapuh.
Mengingat semua perilaku Arga kepadanya yang diluar batas teman, atau hanya dirinya saja yang terlalu berlebihan.
"Apakah itu benar kak?" tanya Tasya kepada Shaqila dengan sangat hati-hati.
"I-iya," jawab Shaqila singkat.
"Sya, aku sangat merindukanmu. Nomorku bukannya tidak aktif, tapi ponselku dibegal dan aku tidak menghapal nomormu. Aku sangat bangga padamu bisa lulus dengan waktu yang sangat cepat," ucap Arga dan seraya menarik Tasya ke pelukannya, seolah disana hanya ada dirinya dan gadis kesayangannya itu.
Sementara Shaqila berulang kali menghapus air matanya melihat itu.
Gadis itu memilih pergi dengan jantung yang seakan dicabik-cabik.
Langkahnya terasa ringan… terlalu ringan untuk tubuh yang sedang menahan beban sebesar itu.
Ia melangkah menjauh dari mereka tanpa menoleh lagi. Bukan karena ia kuat, tapi karena jika ia berhenti satu detik saja, ia tahu...ia akan runtuh tepat di sana.
Udara di luar terasa lebih dingin pdahal matahari sedang terik. Atau mungkin dadanya yang sudah membeku lebih dulu.
Tangannya gemetar saat meraih ponsel di dalam tas. Layarnya buram oleh air mata yang kembali menggenang, tapi ia memaksa matanya fokus. Satu napas panjang. Lalu satu lagi.
Teman.
Kata itu terus berputar di kepalanya, seperti kaset rusak yang tak mau berhenti.
Teman tidak menatap seperti itu.
Teman tidak menarik tangan dengan cara selembut itu.
Teman tidak membuat jantungnya hidup setiap kali namanya disebut.
Tapi nyatanya… itulah label yang Arga pilih.
Ia berhenti di tepi trotoar. Lampu kendaraan lewat silih berganti, terang lalu menghilang, seperti perasaan yang sempat ia kira harapan.
Air matanya akhirnya jatuh lebih deras.
Bukan karena Arga memilih Tasya.
Bukan juga karena ia kalah.
Tapi karena ia baru sadar...sejak awal, ia bahkan tidak pernah ikut dalam perlombaan.
Di sisi lain, Arga semakin memeluk Tasya dengan sangat erat, seakan takut jika melepaskan maka gadis itu akan pergi lagi dengan waktu yang sangat lama.
"Loh kak Qila dimana?" tanya Tasya saat menyadari bahwa sepupunya itu sudah tidak ada di tempat.
"Mungkin dia sudah pergi, aku kangen banget sama kamu. Kamu jangan pergi lagi ya, kamu tidak tahu seberapa hancurnya aku saat kamu jauh, terlebih satu satunya alat komunikasi yang dapat menghubungkan kita sudah dibegal." ucap Arga seraya mengingat kejadian dulu.
Flashback on
Malam itu sunyi. Terlalu sunyi.
Lampu jalan berdiri malas, jaraknya jauh satu sama lain, meninggalkan potongan aspal yang tenggelam dalam bayangan. Motor Arga melaju pelan. Kepalanya penuh agenda organisasi, laporan yang belum selesai, dan pesan terakhir dari gadisnya yang belum sempat ia balas.
Getaran kecil di saku jaketnya membuatnya refleks menurunkan kecepatan.
Namun belum sempat ia merogoh saku, dua motor muncul dari arah belakang. Lampunya menyilaukan.
Terlalu dekat.
Dan tiba-tiba sesuatu menghantam setang motornya dari samping.
Motor laki-laki itu oleng, dan pemiliknya terhuyung. Ia nyaris terjatuh sebelum kakinya menghantam aspal untuk menahan tubuhnya.
Dua motor tadi muncul.
"BERHENTI!" teriak salah satu dari pengendara motor itu.
Arga menelan ludah. Jantungnya menghantam rusuk seperti ingin keluar. Ia mencoba menarik gas... namun terlambat.
Motor di belakangnya menabrak ban belakangnya dengan sengaja.
Menyebabkan tubuh laki-laki itu terlempar. Aspal menghantam punggungnya. Nyeri tajam menjalar dari bahu hingga tulang ekor. Napasnya terhempas keluar, dadanya terasa kosong, seperti paru-parunya diremas paksa.
Belum sempat ia bangkit...sebuah sepatu menghantam perutnya.
"JANGAN BANYAK GERAK!" bentak seseorang.
Arga meringis. Tangannya refleks melindungi tubuh. Pandangannya berkunang-kunang.
Seseorang menarik kerah jaketnya dengan kasar hingga kepalanya terangkat.
"Serahkan semua benda berhargamu kalau tidak ingin nyawamu melayang sia-sia,"
Satu pukulan mendarat di rahangnya sebelum ia sempat bicara.
Rasa asin memenuhi mulutnya. Darah segar mulai menetes sedikit demi sedikit.
"LAMA!"
Kilatan besi muncul di sudut pandangnya—pisau. Bukan besar, tapi cukup dekat dengan lehernya.
Satu pembegal lain menggeledah sakunya, merampas dompet yang berisi sejumlah uang tunai,kartu mahasiswa, ATM, sim, dan surat surat penting lainnya. Bahkan jam tangan mahal di pergelangannya pun di rampas
Sebelum pergi para pembegal itu pergi... satu tendangan terakhir menghantam rusuk Arga.
Kemudian motor-motor itu melesat pergi, menelan kegelapan, meninggalkan dengung mesin yang makin lama makin jauh.
Dan mulai sejak itu, ia kehilangan komunikasi dengan gadisnya.
Ia memang masih bisa beli hp baru namun tidak dengan nomor di ponsel itu. Ia juga tidak menghadap sandi sosmednya. Oleh sebabnya ia frustasi.
Sampai ketika adik-adik di organisasi yang pernah ia ikuti mengundangnya menjadi pemateri ia tidak sengaja bertemu dengan Shaqila.
Awalnya ia terkejut karena wajah gadis itu delapan puluh persen mirip dengan wajah gadisnya. Matanya, hidungnya, alisnya, bibirnya. Hanya saja wajah Shaqila lebih bulat sedangkan wajah Tasya lebih tirus. Dan juga badan Shaqila yang sedikit berisi.
Dan karena ingin mengobati rasa rindunya kepada Tasya, ia mencoba mendekati Shaqila meski sama sekali tidak memiliki perasaan kepada gadis itu.
Dan hari ini, ia mengetahui bahwa Tasya mirip dengan Shaqila karena keduanya masih memiliki hubungan darah.
Flashback off.
Hai hai guys, kembali lagi bersama author 🤗,
Jangan lupa like, komen, vote, bintang lima nya ya guys biar author semakin semangat up.
See you next part 🤗🤗🤗
tapi aku juga jika ada di posisi Shakila stress sih