Sejak SMP, ia mencintainya dalam diam.Namun bagi pria itu, kehadirannya hanyalah gangguan yang ingin ia hindari.Tahun demi tahun berlalu, perasaan itu tidak pernah padam—meski balasannya hanya tatapan dingin dan kata-kata yang menyakitkan.Tapi takdir mempertemukan mereka kembali, saat keduanya kini telah tumbuh menjadi dewasa.Luka lama kembali terbuka.Rasa yang seharusnya mati, justru tumbuh semakin dalam.Apakah cinta yang bertahan sendirian mampu berubah menjadi sesuatu yang layak diperjuangkan?Atau ia hanya sedang menghancurkan dirinya sendiri demi seseorang yang tidak pernah ingin melihatnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sea.night~, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku seburuk itu ya?
Waktu demi waktu berlalu, hari demi hari berlalu. Hingga hari itu tiba, hari yang tak pernah di nantikan Winda tapi terasa begitu cepat datang. Hari dimana Winda harus menghadiri acara makan malam bersama keluarga Om Bram.
Penampilan Winda hanya sederhana karena sejak awal Winda tak pernah ingin menghadiri pertemuan ini.
Mobil berhenti di depan restoran mewah itu. Cahaya lampu menggantung di balik kaca besar, terlalu terang untuk perasaan Winda yang sejak tadi terasa suram.
Winda tahu, ini bukan makan malam biasa.
Makan malam sambil membicarakan pernikahan yang dipaksakan.
Ayahnya turun lebih dulu. Sikapnya rapi, wajahnya puas. Ibunya mengikuti, diam seperti bayangan. Winda berjalan paling akhir, menahan langkah seolah berharap pintu restoran itu menolak kehadirannya.
Di dalam, udara terasa dingin. Pelayan mengantar mereka ke sebuah meja yang sudah terisi.
Winda baru menyadari keberadaan orang-orang di sana ketika ayahnya berhenti.
Dan saat ia mengangkat wajah—si*l!
Dadanya seakan diremas keras.
Dirga.
Winda membeku. Sebelum cepat cepat menunduk.
Jujur saja rasanya lebih baik mati dari pada bertemu pria itu lagi. Kenapa tidak orang lain? kenapa harus dia? kenapa dunia ini terasa sangat sempit?!
Winda mendongak sedikit melirik ke arah Dirga.Tapi, tatapan itu.
Mata itu.
Wajah itu.
Ekspresinya datar, dan tidak menyenangkan untuk dilihat. Tapi satu hal yang begitu jelas.
Jijik.
Dirga memandangnya seperti melihat sesuatu yang seharusnya tidak ada di hadapannya. Alisnya menegang tipis, rahangnya mengeras, lalu—tanpa basa-basi—ia mengalihkan pandangan.
Seolah Winda tidak layak ditatap lebih lama.
Tangan Winda bergetar saat ia duduk.
Kenangan SMP itu datang tanpa diminta.
Cara ia dulu terlalu Terlalu terang-terangan menyukai Dirga. Cara teman-teman menertawakan. Cara Dirga awalnya masih bersikap biasa—sekadar teman—sebelum perlahan menjauh. Sebelum jarak berubah menjadi kebencian yang tak pernah diucapkan, tapi jelas terasa.
Dan kejadian beberapa hari lalu di Restaurant. Dirga secara terang terangan merasa tidak suka pada Winda. cara dia menjauh dan mengatakan ia tak mau di layani oleh Winda.
Kini, kebencian itu duduk tepat di depannya.
Perkenalan berlangsung singkat. Formal. Nama, pekerjaan, keluarga. Dirga menjawab seperlunya, tanpa sekali pun melirik ke arah Winda. Bahkan ketika orang tua mereka tertawa kecil, Dirga tetap menjaga jarak, seolah takut tercemar hanya dengan menoleh.
Winda menunduk. Garpu di tangannya dingin.
Ia tidak lapar.
"Aku dengar kalian pernah satu sekolah," ujar ayah Winda ringan, seakan itu sekadar fakta kecil.
Jantung Winda langsung jatuh. Mata nya membesar karena kaget.
Dirga tersenyum tipis—bukan senyum ramah, melainkan senyum kaku yang dipaksakan demi sopan santun.
"Pernah," jawabnya singkat. " SMP."
Satu kata itu terdengar seperti garis tegas.
-
Sepanjang makan malam, Dirga sama sekali tidak menatap Winda.
Bahkan saat tanpa sengaja kaki mereka di bawah meja sedikit bersentuhan, Dirga langsung menarik kakinya, wajahnya mengeras, jelas terganggu.
Seolah sentuhan sekecil itu menjijikkan.
Winda menahan napas. Dadanya sesak, tapi ia memaksa tetap duduk tegak. Ia tidak ingin terlihat lemah. Tidak di depan orang yang sudah sejak lama memandangnya seperti kesalahan.
Pembicaraan mengalir ke arah masa depan. Tentang kecocokan. Tentang rencana.
Jika saja mereka tahu…
Ia mencuri pandang sekali lagi. Tapi Dirga masih sama—menatap ke arah lain, rahangnya tegang, seolah keberadaan Winda adalah hukuman yang harus ia tanggung malam ini.
Dan saat itu, satu kalimat terlintas di pikiran Winda.
Bahkan setelah bertahun-tahun… Dirga masih merasa jijik dan membenciku.
Winda tiba-tiba berdiri.
"Yah, ma , om ,tante, Winda Permisi," ucapnya pelan. "Winda mau ke kamar mandi sebentar."
"Ah iya, sayang" ucap ibu dirga ramah- Megan.
Priska mengangguk. Arman hanya melirik singkat, sibuk dengan obrolan. Winda melangkah pergi tanpa menoleh ke belakang, dadanya sesak seolah udara restoran itu terlalu sempit untuknya.
Belum sampai tiga langkah—
"Dirga," panggil Bramanta ramah.
"Kamu temani Winda nya , dong"
Langkah Winda terhenti.
Ia menoleh refleks.
Dirga juga terdiam.Rahangnya mengeras jelas. Ia tidak langsung menjawab, seolah permintaan itu adalah sesuatu yang menjijikkan untuk dipenuhi.
"Ga usah, Om. Winda sendiri aja-"
"Udah nggak apa, sekalian kalian mengobrol mungkin ada yang mau di bicarakan"
ucap Om Bramanta ramah.
Dirga tak bisa menolak di hadapan orang tua. Dengan terpaksa ia menjawab,
"Iya, Pa," jawabnya singkat. Terpaksa.
Mereka berjalan beriringan, tapi tidak sejajar. Jarak di antara mereka seperti sengaja dipertahankan. Dirga melangkah sedikit di belakang, wajahnya datar, matanya menatap lurus ke depan—bukan ke arah Winda.
Lorong menuju kamar mandi sunyi. Lampu putih memantul di lantai mengilap.
Winda berhenti di depan pintu kamar mandi wanita.
"Terima kasih," ucapnya lirih, tanpa menatap.
Ia masuk cepat, seolah pintu itu satu-satunya tempat aman.
Di dalam, Winda menggenggam wastafel. Napasnya bergetar. Dadanya terasa perih, bukan karena tangis, tapi karena kenangan yang terus menghantam tanpa ampun.
Kenapa harus dia yang akan di jodohkan dengan ku… Ujian macam apa ini...
Beberapa menit kemudian, Winda keluar dari kamar mandi.
Dirga berdiri menyamping, bersandar pada dinding, kedua tangannya terlipat di dada.
Begitu Winda melangkah keluar, ia langsung menjauh setengah langkah—gerakan refleks yang terlalu jelas untuk disembunyikan.
Seolah takut tertular hanya karena berdiri terlalu dekat.
Winda melihatnya.
Dan itu lebih menyakitkan daripada kata apa pun.
Mereka berjalan kembali. Baru beberapa langkah, suara Dirga akhirnya terdengar.
Datar. Rendah. Tanpa emosi.
"Kamu masih sama."
Winda terhenti dan diam.
Dirga berhenti juga, lalu menoleh setengah. Tatapannya singkat—tajam, dingin, dan penuh muak.
"Masih punya kemampuan bikin orang nggak nyaman," lanjutnya pelan.
"Dari dulu. Menjijikkan."
Kata itu jatuh perlahan, tapi menghantam keras.
Jantung Winda seperti diremas. Mendengar satu kata itu "Menjijikan", dan bagaimana cara Dirga mengucapkan nya seperti sangat ditekan dan garis bawahi.
Winda menelan ludah. Tenggorokannya sakit.
" Jujur saja. Sebenarnya kau senang kan? karena di jodohkan dengan ku." tuduh Dirga.
"Engga-"
"Dengar ya, Winda. Aku nggak pernah minta kamu suka sama aku.Dan aku lebih nggak minta dipertemukan lagi kayak gini. " lanjut Dirga.
Ia menoleh sebentar, cukup untuk memastikan Winda mendengar semuanya.
Winda menunduk. Ia diam cukup lama sebelum berbicara pelan "Kita bisa batalkan perjodohan ini," ucap Winda pelan.
"Aku sudah bilang ke ayahku…tapi dia nggak mau dengar."
Winda menelan ludah. "Kalau kamu bilang ke orang tuamu, mungkin—"
"Aku sudah coba." katanya datar.
Winda terdiam.
"Aku sudah bilang tidak." lanjut Dirga.
"Jelas. Tanpa basa-basi."
Ia menoleh, menatap Winda untuk pertama kalinya sejak tadi—tatapan itu membuat Winda ingin mundur selangkah.
"Dan hasilnya sama." sambungnya.
Dirga menghela napas pelan, lalu menyapu Winda dengan pandangan cepat—bukan menatap, lebih seperti menilai. Dari atas ke bawah. Sekilas saja. Tapi cukup.
Ekspresinya berubah.
Muak.
Jijik.
Benci.
Ia melangkah sedikit lebih dekat, lalu berhenti—menjaga jarak aman, seperti takut terlalu dekat.
"Kenyataannya," lanjutnya pelan, dingin,
"dari dulu sampai sekarang, kamu tetap orang yang sama."
"Kenapa kau muncul dalam hidup ku? Kenapa kau wanita yang di jodohkan dengan ku? kenapa tidak wanita yang cantik saja? kenapa harus kau? setidaknya tanpa jerawat dan bekas jerawat itu." lanjut nya dengan kejam.
Jarinya terangkat, menunjuk wajah Winda dengan tatapan jijik yang tak ia sembunyikan.
"Aku bahkan tak sanggup menatap wajahmu lama-lama."
"Maaf aku -" Winda menunduk. Ia tak bisa berkata kata. Hatinya sakit. Rasanya seperti di tusuk dengan belati yang sudah di asah berkali kali.
Tatapan Dirga beralih, menahan jijik yang jelas terlihat di rahangnya yang mengeras.
Sebelum ia berjalan pergi lebih dulu.
Meninggalkan Winda berdiri sendiri di lorong yang terlalu terang, terlalu sunyi.
Untuk pertama kalinya malam itu, Winda sadar—
Yang paling menyakitkan bukan penolakan.
Tapi cara Dirga memperlakukannya seolah ia tidak pernah layak dipertimbangkan sejak awal. "Dan... apa diriku seburuk itu?" batinya. Air matanya jatuh tanpa ia sadari
dalem bnggt sehhh
Winda muka tembok ga sih ini