Xaviera Collins, gadis yatim piatu bermata hazel yang biasa dipanggil Xerra, hidup bersama bibi, paman, dan dua sepupunya.
Meski selalu diperlakukan tidak adil oleh bibinya yang kejam, Xerra tumbuh menjadi gadis ceria dan penuh semangat. Hidupnya nyaris tanpa beban, seolah ia mampu menertawakan setiap luka yang datang.
Namun, malam itu segalanya berubah.
Demi uang, bibinya menjual Xerra ke sebuah rumah bordil di pinggiran kota. Di sanalah ia pertama kali bertemu Evans Pattinson seorang mafia terkenal yang ditakuti banyak orang karena kekejamannya.
Pertemuan itu menjadi awal dari takdir gelap yang tak pernah Xerra bayangkan.
Evans, pria yang terbiasa menumpahkan darah tanpa ragu, justru mulai terobsesi padanya. Di balik tatapan dingin dan dunia yang penuh dosa, ia menemukan sesuatu yang tak pernah ia rasakan sebelumnya, perasaan ingin memiliki dan takut kehilangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nanda wistia fitri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
Mobil hitam Evans berhenti di depan sebuah bangunan megah yang berdiri anggun di pusat London.
Asterion Grand Hotel.
Hotel bintang lima yang dikenal sebagai tempat pernikahan para keluarga konglomerat.
Xerra menatap fasad hotel itu dari jendela.
“Om… ini terlalu mewah,” gumamnya pelan.
“Cocok untukmu,” jawab Evans singkat.
Ia turun terlebih dulu, lalu membuka pintu untuk Xerra. Tangan besar itu terulur dengan tenang.
“Pegang.”
Xerra menggenggamnya pelan, dan Evans membantu menurunkannya seperti seorang putri.
Beberapa staf hotel yang mengenali Evans langsung menunduk hormat.
“Selamat pagi, Tuan Pattinson.”
Evans hanya mengangguk, tetapi ketika ia memandang Xerra, sorotnya berubah lembut.
“Ini hanya permulaan,” katanya sambil menggenggam tangan gadis itu lebih erat.
Begitu mereka melangkah masuk, aroma bunga lili dan mawar putih langsung menyambut.
Lobi hotel dipenuhi marmer putih, lampu kristal besar, dan jendela kaca setinggi langit-langit.
Xerra tertegun.
“Cantik sekali…” bisiknya.
Evans melirik ke samping. “Belum seberapa dibanding wajahmu saat menginjak altar nanti.”
Wajah Xerra langsung memerah,ia menunduk karena tersipu,sementara Evans seolah puas dengan reaksinya.
Manajer hotel mengantar mereka melalui lift pribadi.
“Semua sudah disiapkan sesuai instruksi Anda, Tuan Pattinson,” katanya.
Xerra menoleh cepat. “Hah? Sudah disiapkan? Tanpa aku lihat?”
Evans menatapnya sebentar.
“Aku ingin memberikan kejutan.”
Lorong panjang dengan karpet putih emas terhampar, dihiasi lampu gantung kecil-kecil seperti bintang.
Evans berjalan lebih dulu, lalu mengulurkan tangan agar Xerra menyusul.
“Kemari.”
Xerra melangkah ragu-ragu… lalu menggenggam tangan Evans.
Setiap kali jari mereka bersentuhan, jantung Xerra rasanya hampir meledak.
Dua staf hotel membuka pintu besar ballroom.
Cahaya keemasan langsung menyambut mereka.
Ballroom itu luas, dindingnya dihiasi kaca tinggi dengan tirai putih elegan. Di tengah ruangan, terdapat panggung kecil berbentuk setengah lingkaran dengan karpet putih.
Di sisi kanan, ada area makan resepsi dengan dekorasi bunga mawar putih, baby’s breath, dan lilin-lilin kecil.
Di sisi kiri, ada taman indoor dengan kaca bening menghadap kota London seakan membawa suasana luar ruangan masuk ke dalam.
Xerra menutup mulutnya.
“Om… ini… untuk kita?”
Evans berdiri di sampingnya, tangan di saku, suara lembut namun mengikat.
“Untuk pernikahanmu.”
Xerra menoleh.
“Untuk pernikahan kita,” koreksi Evans, menatapnya dalam.
Xerra menunduk, hatinya bergetar hebat.
“Om…ini terlalu indah…”
Evans mendekat perlahan, mencondongkan tubuh.
“Kau layak mendapat yang terbaik.”
Ia menambahkan, lebih pelan, nyaris berbisik.
“Dan aku ingin melihatmu berjalan di sini… sebagai pengantinku.”
Xerra memegang dadanya.
Ia tidak tahu apa yang lebih berbahaya…
Ballroom itu…
Atau pria di sampingnya.
Setelah selesai berkeliling ballroom dan memastikan semua dekorasi sesuai rencana, Evans menoleh pada Xerra yang masih terlihat terpesona.
“Sudah cukup untuk hari ini?” tanyanya lembut.
Xerra mengangguk cepat. “Iya… Om. Ini sudah… sempurna.”
Evans menatapnya sebentar, lalu menggeleng kecil.
“Belum.”
“Hah?”
Xerra berkedip. “Belum apa…?”
Evans menunduk sedikit, suaranya turun satu oktaf.
“Belum disiapkan.”
Tanpa menjelaskan lebih jauh, Evans menggenggam tangan Xerra dan mengajaknya keluar ballroom.
“Ke mana kita?” tanya Xerra panik.
“Salon. Lalu butik. Lalu memilih perhiasan.”
“Semua dalam satu hari??”
Evans memiringkan kepala, tatapan tajam namun hangat.
“Apa kau keberatan?”
Xerra buru-buru menggeleng. “Tidak! Tidak keberatan. Hanya… kaget.”
“Kau harus terbiasa,” jawab Evans singkat, namun terdengar manis.
Mobil mereka melaju menuju SALON MEWAH “Aurora Privé Beauty House”
Mobil berhenti di depan sebuah salon super mewah dengan desain kaca elegan.
Seorang stylist pribadi langsung berdiri di pintu dan menunduk hormat.
“Selamat datang, Tuan Pattinson. Semua sudah disiapkan sesuai permintaan Anda.”
Xerra langsung menatap Evans.
“Om… Om booking salon? Satu salon??”
“Untukmu,” jawab Evans datar, lalu mendorong punggung Xerra pelan.
Begitu masuk, aroma bunga segar memenuhi udara. Seluruh ruangan tampak kosong memang disewa khusus.
Xerra duduk dengan gugup di kursi rias besar.
Sebuah jubah putih sutra disampirkan ke bahunya.
Evans berdiri di belakangnya, kedua tangan di saku, tapi tatapannya tidak pernah lepas dari cermin.
Ketika stylist mengambil hairdryer, Xerra refleks hendak mengambil alih.
“Biarkan aku saja ...”
Evans menahan tangannya.
“Kau cukup duduk.”
Ia mengambil hairdryer, memberi instruksi singkat ke stylist, lalu mulai mengeringkan rambut Xerra sendiri.
Xerra membelalak.
“Om! Tidak usah, nanti Om capek...”
Evans menatapnya melalui cermin.
Pandangan itu membuat Xerra langsung diam.
“Aku tidak keberatan.”
Ia mengarahkan hairdryer dengan lembut, jarinya sesekali menyisir rambut Xerra dengan hati-hati.
“Rambutmu terlalu halus,” gumam Evans. “Mudah kusut.”
Xerra tersenyum kecil. “Maaf…?”
“Tidak perlu minta maaf,” jawab Evans. “Aku suka.”
Xerra hampir meleleh di kursi.
Setelah rambutnya kering, stylist menata rambut Xerra dengan poni lembut dan sanggul kecil yang manis mirip calon pengantin muda.
Evans menyuruh mereka berhenti.
“Jangan terlalu dewasa,” katanya. “Biarkan dia terlihat seperti dirinya.”
Wajah Xerra memerah.
Stylist mengubah gaya. Hasilnya terlalu manis, muda, segar dan membuat Xerra terlihat mempesona.
“Cantik,” puji stylist.
Evans menambahkan pelan
“Cantik sekali.”
Setelah itu mereka langsung menuju BUTIK GAUN “Lunaria Bridal Atelier”
Saat mereka tiba, butik sudah kosong. Hanya ada desainer pribadi Evans.
“Pilihkan gaun yang cocok untuknya,” perintah Evans.
Desainer mengambil beberapa gaun.
Xerra masuk ruang ganti… keluar dengan gaun pertama.
Evans langsung menggeleng.
“Kepanjangan.”
Gaun kedua keluar.
“Terlalu terbuka.”
Gaun ketiga.
“Tidak cocok untuk kulitnya.”
Xerra mulai frustasi. “Om… terserah Om saja, aku pasrah…”
Evans bangkit dari duduknya dan berjalan mendekat.
Ia berhenti tepat di depannya, menatap gaun sederhana keempat yang dipakai Xerra,gaun putih lembut dengan pita kecil di pinggang, tampak polos tapi anggun.
Evans menyentuh pita itu.
“Ini bagus.”
Ia menatap Xerra dari atas hingga bawah.
“Sangat bagus.”
Xerra menunduk, tersipu. “Jadi… yang ini?”
Evans mengangguk.
“Yang lain tidak membuatku ingin segera menikahimu.”
Xerra langsung ingin sembunyi di balik gorden.
Selesai dengan gaun,mereka langsung menuju
TOKO PERHIASAN “Celesté Jewel Gallery”
Di dalam ruang privat, koleksi berlian dan perhiasan mahal terpajang di bawah lampu kaca.
Xerra hampir tidak berani melangkah.
“Om… ini… terlalu mahal…”
Evans berdiri di belakangnya, menyentuh bahunya dari belakang.
“Tidak lebih mahal darimu.”
Xerra membeku.
“Kau pilih yang mana?” tanya Evans.
“Aku tidak tahu…”
Evans mengambil satu set
Kalung berlian tipis
Anting kecil mutiara
Gelang halus perak
Semuanya sederhana, elegan, dan manis,cocok untuk Xerra.
“Yang ini saja,” katanya.
Xerra terkejut. “Kok cepat?”
“Aku sudah tahu yang cocok untukmu sejak masuk ruangan.”
Ia mengangkat dagunya pelan.
“Kau tidak perlu berkilau banyak. Cukup dengan senyummu.”
Xerra langsung menunduk, wajah nya menjadi merah merona.