NovelToon NovelToon
Surat Untuk Aluna Kayara

Surat Untuk Aluna Kayara

Status: sedang berlangsung
Genre:Keluarga / Selingkuh / Persahabatan / Cintapertama
Popularitas:13.6k
Nilai: 5
Nama Author: Kim elly

⚠️ sebelum baca cerita ini wajib baca Pengantin Brutal ok⚠️

Setelah kematian Kayla dan Revan, Aluna tumbuh dalam kasih sayang Romi dan Anya - pasangan yang menjaga dirinya seperti anak sendiri.
Namun di balik kehidupan mewah dan kasih berlimpah, Aluna Kayara Pradana dikenal dingin, judes, dan nyaris tak punya empati.
Wajahnya selalu datar. Senyumnya langka. Tak ada yang tahu apa yang sesungguhnya disimpannya di hati.
Setiap tahun, di hari ulang tahunnya, Aluna selalu menerima tiga surat dari mendiang ibunya, Kayla.
Surat-surat itu berisi kenangan, pengakuan, dan cinta seorang ibu kepada anak yang tak sempat ia lihat tumbuh dewasa.
Aluna selalu tertawa setiap membacanya... sampai tiba di surat ke-100.
Senyum itu hilang.
Dan sejak hari itu - hidup Aluna tak lagi sama.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kim elly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

chapter 2

“Papa!” seru Aluna riang ketika melihat Axel menjemputnya sore itu di sekolah SD elit daerah Bandung.

“Udah pulang?” sapa Axel sambil tersenyum, menatap gadis kecil yang kini tumbuh semakin mirip ibunya.

“Udah. Tumben jemput,” jawab Aluna sambil manyun, pipinya menggembung lucu.

“Hehe, iya nih, Papa lagi pengen aja jemput cantik,” ucap Axel sambil membukakan pintu mobil untuknya.

Saat mobil melaju perlahan, Axel melirik ke arah Aluna. “Aluna ulang tahun ya, hari ini?”

“Iya,” jawab Aluna sambil tersenyum manis, matanya berbinar.

“Mau kado apa dari Papa?” tanya Axel lembut.

“Hmm... apa ya?” Aluna pura-pura mikir, lalu terkekeh. “Bebas deh!”

“Bebas, ya?” Axel tertawa kecil. “Mau besok apa sekarang?”

“Kalo sekarang, kemana gitu, Papa?” tanya Aluna penasaran.

“Main ke mall gimana?” usul Axel.

“Tapi harus izin dulu sama Mama Anya, nanti dia nungguin,” jawab Aluna dengan nada penuh tanggung jawab.

“Yaudah, telpon mamanya,” ucap Axel sambil nyetir pelan.

Aluna pun menelpon Anya. Dengan nada ceria, ia memberi tahu kalau akan main bersama Axel. Anya pun mengizinkannya.

Sore itu mereka berdua pergi ke sebuah mall besar di tengah kota. Axel menatap Aluna dari kaca spion — betapa cepatnya waktu berlalu. Anak kecil yang dulu menangis di makam ibunya itu kini tumbuh ceria, polos, dan penuh kasih.

Di mall, Axel membelikan Aluna beberapa baju dan sepatu baru — semuanya mahal, tapi bagi Axel itu bukan tentang harga.

Itu tentang rasa sayang yang tak bisa ia ucapkan.

Mereka menonton film animasi di bioskop, tertawa bersama, lalu makan di McD.

Aluna sesekali menyuapkan kentang goreng ke mulut Axel sambil tertawa. “Papa harus habisin ini, biar kuat!” katanya dengan nada menggemaskan.

Axel hanya bisa tersenyum, dadanya hangat. Kayla, kamu lihat, kan? Anakmu tumbuh bahagia.

Selesai makan, Axel mengantar Aluna pulang. Mobil berhenti di depan rumah Romi.

“Mana papa Romi nya? Panggil, deh,” ucap Axel.

Aluna melompat keluar sambil berlari. “Papaaa!” teriaknya sambil membuka pagar.

Romi yang duduk di teras menatapnya. “Apa?” katanya datar, wajah lelahnya jelas terlihat.

“Bete amat wajah lo,” ucap Axel sambil duduk di kursi depan rumah itu.

“Pusing gue, po-an nggak lancar,” jawab Romi sambil mengacak-acak rambutnya.

“Sabar, kendala jualan tuh nggak bakal selamanya lancar,” kata Axel terkekeh, menepuk bahunya.

Romi menatap Axel, lalu tertawa kecil. “Iya, tapi lo sekarang udah ada semangat hidup ya?”

Axel menghela napas panjang. “Udah. Berkat Aluna, Rom. Kalo nggak ada dia… nggak tau deh gue sekarang jadi apa.”

Romi tersenyum pelan. “Sabar, Xel. Mending lo cari istri.”

Axel tertawa hambar, lalu meneguk teh botol yang dibawa Romi. “Nggak, ah. Males.”

Beberapa detik hening. Angin sore berhembus pelan.

“Kayla nitip surat nggak buat gue?” tanya Axel pelan sambil menatap jauh.

Romi terdiam sebentar, lalu berkata pelan, “Ada.”

Axel mendongak. “Mana?”

Romi masuk ke rumah, mengambil sesuatu dari laci meja kayu. Rumah itu masih sama seperti dulu — aroma sabun lembut yang disukai Kayla masih samar tercium. Rumah itu adalah rumah peninggalan Kayla.

Romi keluar sambil membawa satu amplop berwarna krem. Ia menyerahkannya ke Axel.

“Makasih ya,” ucap Axel pelan. Senyumnya tipis, matanya bergetar menahan air mata. Ia pun pamit pulang malam itu.

Di rumah, Axel duduk di balkon. Lampu kota Bandung berkelap-kelip di kejauhan. Ia membuka amplop itu dengan hati berdebar. Di dalamnya, secarik kertas dengan tulisan tangan yang ia kenal betul — tulisan Kayla.

Assalamualaikum, Axel.

Semoga kamu sehat ya. Aku tau kamu pasti sedih kehilangan aku.

Jangan larut ya, Xel.

Romi pasti telat kasih surat ini ke kamu, dia orangnya suka iseng, hehe.

Kalian harus akur ya, jagain Aluna. Aku tau Revan sakit, Xel. Aku tau hidupnya nggak akan lama, makanya dia nggak janji urus Aluna.

Aku serahkan Aluna sama kalian ya. Tolong rawat dia dengan baik, Axel.

Axelino Raditya Pradana.

Kamu suka kan aku manggil kamu gitu, hihi.

Aku sayang kamu, Axel. Makasih ya udah bikin aku nyaman dulu. Kamu baik, Xel.

Maaf dulu kita suka huru-hara, haha.

Maaf juga aku suka malakin kamu, aku tuh gemes banget sama kamu. Dulu kamu lucu, tapi judes, makanya aku, Revan, sama Romi suka jailin kamu.

Tapi ayah aku suka belain kamu terus, itu yang bikin aku cemburu. Aku jadi nggak suka sama kamu.

Ditambah kamu ngadu terus ke ayah aku—bete banget!

Hmm, udah ah ngomongin masa kecil.

Sekian surat dari aku. Sekali lagi, semangat menjalani hidup ya, Axelino Raditya Pradana.

Kayla Aurelia Putri.

Seseorang yang pernah singgah di hati kamu.

Axel membaca setiap kata perlahan. Tulisan itu seakan hidup di tangannya. Setiap huruf seperti membawa napas Kayla kembali.

Tangannya bergetar. Air mata jatuh tanpa bisa ia tahan.

Ia menatap langit, menahan sesak yang menekan dadanya. “Kayla…” suaranya parau, “aku masih di sini.”

Ia mencium kertas itu, memeluknya erat ke dada, seolah di balik kertas itu ada pelukan yang selama ini ia rindukan.

Malam itu, Axel duduk lama di balkon — menatap langit yang sama, di mana Kayla mungkin sedang menatapnya juga.

Bersambung...

Jangan lupa tinggalkan jejak like, vote dan komen 🥰🥰🥰

1
GreenForest
Dua singa dalam satu kandang apa nggak bahaya 🤣🤣
GreenForest
Al lu nggak takut di ewe kan lu udah jadi bininya Baskara Al 😭😭 mikir sampai situ nggak sih lu
Arin
Apa nanti lama-lama Aluna gak jatuh cinta beneran sama Baskara?
Arin: Dan semoga jika Ray sadar lagi, tidak merasa di khianati
total 4 replies
Ramun🍓😈
si Laura benar benar ib-lis😩😩😩
Ramun🍓😈
kasihan banget Axel.Pasti syok bnget dengarnya🥹🥹
Addb_Rh
hidup menduda kelamaan juga kasihan sih🥲.
Tapi aluna takut perhatian bapaknya ke bagi. nanti dia jd di nomor sekian kan. gitu,,
Addb_Rh
Axel..! lihat nihh, anak gadis mu. seret aja serettt🤣🤣..

Aluna ih, cegil parah. Ray iih malah ambil kesempatan dalam ketidaktahuan. Gue timpuk ya kalian😌✊
WDY
kasihan aduh baskara... bas yuk pindah sekolah aja. bu Wida kesian lihat kamu bas
WDY
Waduh Aluna ngeri bnget intograsi nya melebihi polisi tau🤣🤣🤣 kasihan tu mbak lauranya🤣🤣🤣
Icha sun
jangan2 Laura adalah.... wuiih bakalan tambah seru panas niih
Icha sun
ah, senangnya Aluna udh bisa lupa masa lalu n maafin Axel
NyonyaGala
aduuh kok giniiiii 😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭mewek plis thor jan dimatiin
NyonyaGala
udah makin keterlaluan si baskara ini. kenapa juga cepet bgt keluar penjara nya thor
Addb_Rh
kalian tahu gak sih, bedanya benci sama cinta tu setipis kulit bawang. 🤣

takut bgt, kualat ama rasa benci, jadi bucin lho😌
Addb_Rh
wahh Reno... kalo gitu, lanjutkan Lun.. ancurin Baskaranya... kan gara-gara bapaknya itu. ibu lu pisah sama papa 🥲
GreenForest
Baskara campuran benih banyak orng 🤣
GreenForest
😭😭 semoga Ray segera sadar
Ramun🍓😈
Laura, tamatlah riwayatmu sekarang
Ramun🍓😈
ngakak, Aluna sadis tapi polosnya kebangetan 😭
Alessandro
wah slice of life... ringan & rekomended bgt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!