Seina, adalah seorang gadis kampung yang hidupnya penuh dengan kesederhanaan, dia dari keluarga baik-baik, dia juga mendapatkan pendidikan yang baik dari keluarganya, namun dia harus kehilangan anggota keluarganya karena sebuah bencana.
Seina pun satu-satunya yang selamat dan dibawa ke tempat pengungsian oleh para relawan, gadis itu cukup terpuruk dengan nasibnya, namun dia tetap harus menjalani hidupnya.
Karena yang bernasib sama dengannya itu juga cukup banyak.
Hal itu membuatnya bangkit dan merangkul anak-anak yang bernasib sama dengannya.
Suatu hari dia bertemu dengan seorang wanita cantik jelita, dari atas kepala sampai bawah kakinya, terlihat bernilai mahal, bahkan kibasan rambutnya pun berbau dollar.
"Jadi kamu ya Seina?" tanya wanita itu dengan angkuh.
"Ya, ada apa Nyonya?" tanya balik Seina.
Wanita itu segera membuka koper besar, dan di sana terlihat sangat banyak tumpukkan uang.
"Aku sewa rahimmu!" Tegas wanita itu.
Yuk kepoin baca lanjutannya 👉
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vie Alfredo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
15 Istri?
" Mona, Mona, aku bawakan kepiting." teriak seseorang dari luar.
Seina segera keluar.
" Hallo, ada yang bisa saya bantu Tuan?" tanya Seina.
" Oh, Nona ... Apa Mona ada?"
" Ada tapi baru memasak, apa aku panggilkan dulu?" ujar Seina lembut.
" Anda majikannya ya?, bolehkah saya menitipkan ini untuk anak itu?, ya kami warga di sini biasanya memberikan sedikit dari hasil tangkapan untuk Mona." ujar orang itu.
" Wah, ini banyak sekali Tuan." ujar Seina.
" Ya, anak itu biasanya memasaknya dan menjualnya keliling, kami warga sekitar hanya bisa membantu sedikit setelah ibunya tiada, karena dia sebatang kara, saya senang dia bilang kemarin akan ada majikan yang tinggal di sini." ujar warga tersebut.
Seina tak menyangka jika nasib Mona juga menyedihkan.
" Tolong saya titip saja boleh Nona?" ujar orang itu.
" Oh, boleh saja, kalau begitu saya terima ya Tuan, dan terima kasih." ujar Seina menerima kepiting itu.
Dan segera membawanya ke Mona.
" Mona, ada warga memberikan ini, aku mau Mona, bisakah dimasak asam manis?, aku beli ya." ujar Seina.
" Kok di beli?, saya masakan untuk anda Nona." ujar Mona.
" Loh, kata bapak tadi kau biasa memasak dan menjualnya keliling." Seina mana tega makan gratis.
" Hahaha, ya itu karena saya tidak ada kegiatan saja, uang yang diberikan Tuan itu lebih dari cukup setiap bulannya untuk saya, mereka memberikan ini sebagai perhatian, jika saya tidak sendiri, Nona duduk saja saya masakan." ujar Mona bersemangat.
" Tapi kan itu untukmu Mona." ujar Seina.
" Itu hak saya, mau saya masakan untuk anda." jawab Mona.
" Kalau begitu, terimakasih Mona." ujar Seina senang.
Seina memperhatikan Mona yang dengan gesitnya memasak makanan laut itu, padahal masih muda, yang mungkin seumuran dirinya.
" Mona, kau tidak kesepian ya?" ujar Seina.
" Kesepian sangat Nona, tapi mau bagaimana lagi, saya harus tetap hidup dengan suka cita." jawab Mona.
" Bukankah, kita seumuran?, kau bisa memanggilku Seina." ujar Seina senang.
" Mana berani, umur saya masih 15 tahun kok." jawab Mona.
" Cuma beda 2 tahun dong sama aku." ujar Seina.
Mereka berbincang sangat panjang, dan Mona pun memberanikan diri bertanya melihat Seina sangat ramah dan baik.
" Nona, kenapa anda mau mengandung anak orang?, maaf ya kalau anda tersinggung, anda bisa menampar mulut saya." ujar Mona.
" Hehehe, iya aku butuh bantuan mereka dan aku juga sebatang kara sama denganmu, pokoknya ada hal yang harus aku pertaruhkan, tapi terserah orang lain menilai seperti apa , itu tidaklah penting." ujar Seina.
" Anda hebat sekali Nona, semoga anda sehat selalu." Mona tidak bertanya lebih banyak lagi, tapi dia menceritakan semua tentang dirinya dan orang sekitarnya, jadi dia tidak pernah merasa sendiri.
" Sudah siap semua Nona, ayo kita makan." ujar Mona bersemangat.
" Ayo kita makan bersama Mona." ujar Seina menarik tangan Mona untuk duduk.
Tapi Mona mencoba menolak karena sangat tahu diri di mana posisinya.
" Aku sama saja Mona, aku juga hanya melayani Tuan dan Nyonya untuk memberikan anak pada mereka." ujar Seina
" Tentu saja beda." tegas Mona.
" Jadi kau tidak mau menjadi dekat denganku, padahal aku suka karena ada teman seumuran." ujar Seina sedih.
" Aku pulang, lah Seina?, kenapa kamu sedih?" Martin langsung mendorong Mona, karena yang ada di samping Seina hanya Mona, siapa lagi kalau bukan dia pikir Martin.
" Martin apa yang kau lakukan!" Seina langsung membantu Mona bangun.
" Maaf ya Mon, Martin minta maaf!" tegas Seina.
" Dia menyakitimu, aku akan membalasnya." ujar Martin.
" Gila, kau sudah gila, dia tidak salah apa-apa, aku hanya memintanya makan bersama saja, tapi dia merasa tidak pantas." Seina menjelaskan.
" Baguslah kalau tahu diri." ujar Martin.
" Minta Maaf Martin!' Seina melotot pada Martin.
" Ah Cina, kau ini ... Maaf." ujar Martin singkat.
" Ya Tuan." jawab Mona tersenyum.
" Mona ayo duduk, aku juga tidak bisa makan segini banyaknya, Mona kalau nanti kau jualan aku ikut jualan keliling ya." ujar Seina.
" Gila kau Cina, kau mau jualan keliling?, masak anak kakakku kau ajak hidup susah?" ujar Martin merasa Seina ini sangat aneh.
Orang lain kalau di beri hidup enak pasti akan menikmati, kenapa Seina malah mencari kerjaan sendiri.
" Kau cepat duduk makan, Cina tidak akan makan kalau kau tidak mau makan bersama, tapi ngomong - ngomong, kau masak ini sendiri?" ujar Martin terkejut.
Anak sekecil itu masak begitu banyak dan sempurna.
" Dia hebat kan Martin, ayo kita makan bersama." ujar Seina bangga.
Seina benar - benar di layani oleh Mona dengan segenap hati, dia di kupas kan kulit udang dan kepiting oleh Mona.
Martin merasa tenang karena rupanya Mona cukup baik sebagai teman sebaya Seina, masakan Mona juga sangat enak.
Setelah kenyang, Seina berjalan-jalan di pinggir pantai.
Seina sangat suka pantai, meskipun keluarganya telah di sapu habis oleh ombak pantai dan hanya menyisakan dirinya.
Tidak ada kata trauma, karena itu memang resiko bagi mereka yang tinggal di pesisir pantai.
Ibunya selalu menanamkan semua itu, bahwa dalam hidup ini, kita selalu harus menanggung resikonya.
Karena hidup itu sendiri adalah resiko.
" Ayo masuk Cin, kau harus istirahat, dokter juga sudah datang untuk memeriksa kamu." ujar Martin.
Seina pun segera kembali, Seina pun di periksa dan diingatkan untuk minum vitamin, setelah itu Seina harus beristirahat.
Seina bisa tidur nyaman, namun tidak untuk Martin, suara ombak itu membuatnya tidak bisa tidur nyenyak.
" Kenapa harus di sini sih?, berisik aku tidak bisa istirahat." Martin pun segera keluar dan melihat sekitar yang terlihat sangat sepi.
Anak itu bagaimana bisa tidur nyenyak sih.
Dalam hati Martin.
" Malam Tuan." sapa seorang warga yang sedang berjaga malam.
" Malam." jawab Martin.
" Apa anda majikan Mona?, anda dan istri anda akan menetap di sini kan?" ujar warga itu.
" Ah, iya sementara, sampai istri saya melahirkan." Jawab Martin.
Martin juga takut kalau bilang bukan istri, terus nanti perut Seina makin membesar, lalu di kira kumpul kebo lagi. Tapi kalau bilang yang sebenarnya juga tidak mungkin, karena itu rahasia untuk keluarga inti Howard dan orang-orang tertentu di keluarga itu.
" Yah kenapa sementara?, kan seharusnya selamanya, kasihan Mona sebatang kara atau kalau kalian harus kembali ke kota kalian bisa membawa anak itu." ujar warga tersebut merasa sedih untuk Mona.
" Oh, hahaha iya itu nanti akan kita pikirkan." ujar Martin.
" Bagus kalau begitu, mau ikut saya keliling Tuan?, ini juga sudah pagi petang, pasti anda tidak bisa tidur karena belum terbiasa." ujar warga itu ramah.
Martin pun ikut warga keliling, lagian dia juga lumayan suka alam, meskipun pantai bukan yang paling di sukai, karena ombaknya yang berisik.
semangat seina, semoga author cepat membuat bahagia 🤣