"Aku tidak pernah memaksa siapapun untuk mencintai ku, dan jika pun cinta segitiga ini tetap harus berlanjut maka aku akan pastikan bahwa aku akan menjadi pemenang nya. apapun yang terjadi nantinya." ucap Daisy yang sudah putus asa karena tidak bisa melepaskan diri dari cinta yang terus membelenggu nya.
Dengan luka dan tetes air mata gadis cantik itu melanjutkan langkahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erny Su, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
Daisy hanya tersenyum sinis pada Aksa karena dia berpikir bahwa pria yang kini ada di hadapannya hanyalah bayangan.
Daisy pun menggeser tubuhnya sambil tersenyum sinis kearah Aksa, dia meraih nakas untuk berpegangan karena ingin bangkit dari ranjang.
Tapi sayang baru saja setengah berlari tubuhnya limbung dan hampir terjatuh ke lantai jika saja Aksa tidak menahan tubuh nya.
Mereka yang kini saling bertatapan pun masih mematung sampai saat Daisy kembali memejamkan matanya untuk beberapa detik sambil berkata."Ya tuhan cobaan apa lagi ini, belum puas kah kau mengujiku dengan membuat pria itu hadir di hidupku. Dan sekarang disaat aku sudah berusaha untuk melupakan semuanya kau bahkan mengirim bayangan nya."ucap Daisy yang kini masih merasakan kepalanya yang berdenyut.
"Berbaringlah saya akan panggil dokter,"ujar Aksa yang kini membaringkan Daisy di atas ranjang nya lagi.
Sementara wanita itu langsung membuka mata kembali dan menatap lekat wajah tampan yang kini masih terlihat sangat khawatir terhadap nya.
"Anda disini tuan, siapa yang mengijinkan anda masuk dan darimana anda tau password pintu rumah saya?!"ujar Daisy yang kini bangkit dari ranjang dengan cepat dan tatapan mata tajam seolah dia sedang berbicara dengan penjahat.
"Tidak penting aku tau darimana yang jelas saat ini saya hanya ingin kamu sembuh."balas Aksa dengan tenang.
"Memangnya anda siapanya saya heh! hingga anda bisa begitu peduli terhadap saya, bahkan kita tidak memiliki hubungan apapun jadi tolong pergi dari rumah saya!"ujar Daisy dengan nada tinggi.
"Honey kamu masih mempertanyakan hubungan kita, baiklah sekarang akan saya perjelas."ucap Aksa yang kini meraih sebuah kotak perhiasan kecil berbentuk lop yang tentu saja berisi sebuah cincin berlian yang begitu cantik yang kini dipasangkan di jari manis Daisy tanpa izin.
"Sekarang kamu tidak boleh pertanyakan apa hubungan kita, sekarang kamu adalah tunangan saya."ucap Aksa dengan tegas.
Sementara Daisy hanya tersenyum sinis, dan melepas cincin yang ternyata tidak bisa terlepas begitu saja.
Aksa langsung menahan tangan Daisy sambil berkata."Digunakan ataupun tidak kamu sudah menjadi tunangan saya jadi jangan pernah berfikir bisa menjauh dari saya."ucap Aksa yang kini kembali membantu Daisy berbaring di atas ranjang karena tubuh Daisy masih sangat lemah.
"Carikan dokter yang lebih baik di negara ini dan bawa sekarang juga kesini saya beri waktu tiga puluh menit."ucap Aksa tegas.
Pria itu pun langsung memutus panggilan telefon nya. Sementara Daisy yang masih merasakan sakit kepala hanya bisa pasrah terserah pria itu mau berbuat apa asalkan dia tidak bertindak lebih jauh Daisy akan membiarkan nya untuk saat ini.
Sementara Aksa langsung melepaskan jas blazer yang kini ia gantung di tempat penyimpanan yang ada di kamar Daisy, setelah itu ia juga melepaskan dasi dan menggulung lengan kemeja setelah itu melepaskan tuksedo nya.
"Honey menurut lah tunggu aku disini sebentar, aku akan buatkan bubur untuk mu."ucap Aksa yang kini bergegas pergi meninggalkan Daisy yang kini menatap lekat punggung pria tampan itu.
Daisy pun kembali memejamkan mata dalam keadaan sakit yang cukup parah saat ini, ditambah lagi Daisy terlambat makan dan minum.
Sampai saat Aksa kembali dengan bubur di atas nampan berikut segelas susu, Daisy pun kembali berusaha untuk bangkit dan bersandar tapi tidak bisa karena kepalanya begitu sakit.
"Jangan bergerak dulu honey biar saya bantu kamu."ucap Aksa.
"Saya bukan orang cacat yang membutuhkan bantuan orang lain."ucap Daisy.
"Honey jika kamu tidak menurut maka jangan salahkan saya jika saya membuat kamu dikeluarkan dari kampus."ancam pria itu yang kini mampu membuat Daisy terdiam, tapi diamnya itu bukan karena dia takut melainkan dia sedang mengumpulkan keberanian untuk melawan.
Tidak lama handphone milik Aksa bergetar, pria itu pun langsung menerima panggilan telefon, dia pun mengakhiri panggilan telepon tersebut dan langsung membantu Daisy untuk duduk bersandar sebelum kemudian dia kembali pergi meninggalkan Daisy.
Pria itu terlihat begitu sibuk, Daisy pun membulatkan matanya saat melihat koper besar yang ada di dekat ranjang nya saat ini.
"Apa lagi yang ingin dia lakukan, dasar batu es."ucap Daisy yang kini memegangi kepalanya itu.
Tidak lama Aksa datang dengan pria berjas putih yang tidak lain adalah dokter,"periksalah sekarang juga."ucap Aksa yang kini dibalas anggukan kepala oleh dokter tersebut yang langsung meminta izin pada Daisy untuk memeriksa Daisy dengan sopan.
"Apa yang dirasakan nona Daisy."ucap dokter itu sambil memeriksa Daisy.
"Kepala saya sakit, dan perut saya juga terasa sakit."jawab Daisy.
Dokter pun mengangguk setelah memeriksa tensi darah Daisy, dokter pun langsung memasang infus di tangan kiri Daisy, sampai saat dokter menyuntikkan obat pada botol infus tersebut, dia pun memberikan resep obat yang harus dibeli di apotek.
Dokter pun pamit untuk kembali lagi besok pagi, sementara Aksa langsung mengantar dokter itu keluar hingga terasa depan dokter itu pun disambut Kris.
Aksa pun langsung bergegas pergi meninggalkan mereka yang sebentar lagi berlalu pergi dengan mobil Kris, sementara Aksa mengunci pintu dan kembali berjalan menuju kamar Daisy.
Aksa pun langsung duduk di tepi ranjang tempat disamping Daisy yang kini hanya menatap lekat wajah tampan Aksa yang sedang bersiap untuk menyuapi Daisy bubur.
"Uang perawatan nya anda ambil di laci itu, saya tidak mau berhutang pada siapapun."ucap Daisy.
"Bisa diam?"ucap Aksa yang kini menatap datar pada Daisy.
Daisy tau Aksa marah, tapi Daisy justru memanfaatkan hal itu."Tuan setelah ini tolong jangan datang lagi, saya sangat berterimakasih pada anda tapi saya juga tidak ingin ada masalah kedepannya nanti anda sudah memiliki calon istri dan tolong hargai keputusan saya."ucap Daisy.
"Saya bilang diam! apa kamu tidak mengerti?"ucap Aksa.
Daisy pun langsung terdiam sambil menerima suapan dari Aksa. Aksa pun masih menatap lekat wajah pucat itu, dia tidak tau jika gadis itu menjadi begitu keras kepala seperti ini padahal Tiana dan Jeny adiknya pernah bilang bahwa Daisy adalah gadis yang sangat baik dan penurut.
Mungkinkah dia memiliki masalah yang saat ini dia pendam sendiri, adiknya juga bilang Daisy selalu tertutup untuk urusan pribadinya.
"Kenapa kamu menolak bi Cece untuk bekerja disini?"tanya Aksa.
"Saya tidak bisa bayar asisten, lagipula saya bisa mengurus semuanya sendiri."ucap Daisy.
"Kamu bilang bisa mengurus semuanya sendiri, lalu bagaimana dengan dirimu sendiri, bahkan kamu sudah tidak masuk kuliah beberapa hari ini."ujar Aksa.
"Siapa bilang, saya kuliah atau tidak juga bukan urusan anda."ujar Daisy.
"Dy aku calon suami mu,"ucap Aksa.
"Heh... hanya mimpi, tuan Aksa Dimitri, saya bukan calon istri anda, apa perlu saya katakan apa yang anda lakukan saat ini pada tuan Dimitri yang kemarin meminta saya untuk menjauh dari keluarga nya termasuk Anda dan Jeny."ujar Daisy yang kini membuat Aksa terdiam sejenak.
...*****...
Setelah perdebatan sengit antara Daisy dan Aksa yang tetap kekeuh tidak akan meninggalkan Daisy meskipun dunia ini ikut menentang keinginan nya, akhirnya Daisy hanya bisa diam tanpa kata hingga gadis itu terlelap dalam tidurnya pagi hari bersama Aksa yang kini juga berbaring di samping Daisy.
Entah bagaimana caranya Daisy bisa menyadarkan Aksa bahwa semua yang Aksa lakukan adalah sebuah kesalahan dan semua akan berimbas pada kehidupan Daisy nantinya.
Sampai saat Daisy bangun tidur dalam keadaan jauh lebih baik, Daisy melihat bahwa saat ini botol infus itu sudah terganti dengan yang baru.
Daisy pun berusaha untuk bangkit, tapi masih tidak bisa, kali ini bukan karena sakit kepala tapi karena tubuhnya masih lemes.
"Jangan dulu banyak bergerak, tunggu sebentar."ujar Aksa yang kini terlihat begitu tampan dengan setelan pakaian santai nya.
Aksa yang kini meletakkan sarapan untuk mereka berdua diatas meja kecil yang ada di kamar Daisy pun langsung bergegas menghampiri Daisy dan menghentikan aliran infus terlebih dahulu sebelum akhirnya membantu Daisy bangkit dari ranjang.
Daisy awalnya terlihat sangat ragu tapi Aksa langsung menggendong gadis cantik itu yang dia tau ingin ke kamar mandi.
"Bi Cece ada disini, jika kamu butuh bantuan untuk mandi, atau mau saya bantu."ucap Aksa.
"Kak!"pekik Daisy yang kini membuat Aksa tersenyum akhirnya Daisy bisa kembali memanggil nya seperti saat awal mereka berinteraksi.
Aksa pun tersenyum manis dan kini menatap lekat gadis yang tengah kesulitan untuk membasuh muka nya itu.
"Biar aku saja."ucap Aksa yang hendak membantu Daisy.
"Keluar kak aku mau mandi."ujar Daisy yang kini menatap kearah Aksa.
"Baiklah honey."ucap Aksa yang kini meninggalkan Daisy dengan senyum manis nya.
Padahal dirumah itu tidak ada siapapun, dan Aksa meminta asisten pribadinya untuk mencari apartment yang nyaman untuk dia dan Daisy.
Aksa berencana untuk tetap tinggal bersama Daisy meskipun waktu yang ditentukan oleh kedua orang tuanya untuk menikah dengan Tiana sudah semakin dekat.
Aksa tidak akan pernah meninggalkan Daisy meskipun dia harus menjadikan Daisy sebagai istri keduanya nanti.
Daisy sementara Daisy masih berusaha untuk mandi meskipun sulit tapi sebagai calon dokter dia sudah bisa melepaskan botol infus dan memasang nya lagi untuk mempermudah nya melepaskan pakaian yang ia kenakan saat ini.
Daisy pun akhirnya bisa mandi meskipun tidak sebebas biasanya karena dia tidak bisa menggunakan tangan kirinya untuk menggosok tubuh nya.
Sampai saat ia selesai mandi dan berganti pakaian dengan t-shirt kebesaran nya dan juga legging panjang yang bisa membuat nya nyaman untuk bergerak.
Daisy pun keluar dari dalam walk-in closed yang tidak Aksa ketahui darimana Daisy masuk sementara pintu kamar mandi itu masih tertutup rapat.
"Perlu bantuan."ucap Aksa.
"Saya bisa sendiri."ucap gadis itu lirih sambil duduk di depan meja rias.
"Hm..."balas Aksa yang kini kembali fokus pada laptop nya.
Daisy pun menggunakan pelembab wajah dan bibir, setelah itu ia menyisir rambut nya, yang kini dia gerai karena baru saja keramas dan belum sepenuhnya kering.
Rambut hitam panjang dengan keriting Curly Daisy pun kembali ke ranjang dan mengaitkan botol infus itu di tempat semua lalu mengoperasikan nya kembali.
"Saya lupa bawa kamu adalah calon dokter honey, berapa lama lagi kamu kuliah?"ucap Aksa bertanya.
"Masih sangat lama, setelah lulus nanti saya juga akan kembali mengambil spesialis."ucap Daisy.
"Tapi kelulusan dan ujian akhir mu tidak lama lagi kan honey, bagaimana kalau setelah lulus nanti kita menikah dan setelah itu kamu bisa lanjut kuliah."ucap Aksa yang kini membawa nampan berisi sarapan untuk mereka berdua.
Daisy hanya memalingkan wajahnya kearah lain, dia tidak tau lagi apa yang harus ia lakukan untuk membuat Aksa mengerti bahwa mereka tidak akan pernah bisa bersama.
"Saya tidak butuh jawaban apapun, yang jelas itu akan terjadi."ujarnya lagi.
Daisy pun meraih mangkuk bubur itu dan juga sendok nya, saat ini dia sudah bisa melakukan semuanya sendiri jadi tidak butuh bantuan lagi.
"Pelan-pelan, kamu baru saja sedikit membaik"ucap Aksa yang kini menyuapkan sandwich miliknya.
"Tuan saya akan pindah kuliah dan menjual rumah ini, mungkin anda bisa membeli rumah ini untuk ditempati oleh Anda dan istri anda kelak, tapi jika tidak berminat pun tidak masalah."ucap Daisy sambil mengaduk-aduk bubur yang ada di hadapannya itu.
"Pindah?"ujar Aksa.
"Ya, rumah ini terlalu besar untuk saya tinggali sendiri, meskipun rasanya sangat berat kehilangan tempat berharga yang begitu penuh kenangan ini, tapi saya harus segera pergi untuk mengejar cita-cita saya." ucap Daisy.
"Jawab saya dengan jujur honey, apa kamu kekurangan uang?"ujar Aksa.
"Bukankah sudah saya katakan apa alasan nya, jadi sebaiknya lupakan saja jika tidak berminat."ucap Daisy.
"Honey,"ucap Aksa yang kini menatap lekat wajah cantik itu mencari kebenaran di mata Daisy.
"Terserah saja jika anda tidak percaya."ucap Daisy.
"Jika kamu merasa kesepian tinggal sendirian disini sebaiknya kamu ikut saya tinggal di rumah kita."ucap Aksa.
"Itu tidak mungkin tuan, lagipula saya akan pindah ke luar kota."ujar Daisy.
"Kenapa, apa kamu ingin menghindari saya?"ujar Aksa.
"Saya tidak perlu mengatakan niat saya jika hanya untuk menghindari anda, kampus impian kedua saya ada disana."ujar Daisy.
"Rumah ini tidak boleh dijual, jika kamu butuh uang kamu bisa bilang pada Kris,"ucap Aksa.
"Ah sudahlah lupakan saja, anggap saja saya tidak berkata apa-apa pada anda."ujar Daisy.
"Saya serius honey,"ujar Aksa.
"Saya juga serius tuan."balas Daisy yang kini menghentikan suapannya dan langsung meneguk susu itu hingga habis.
"Saya sudah mencari apartment yang cocok untuk kita tinggal nanti, setelah ini menjauh lah dari laki-laki manapun termasuk pemuda itu karena saya tidak suka melihat kamu bersamanya."ucap Aksa dengan tegas.
"Saya gadis lajang tuan, dan saya juga orang yang akan lebih banyak berinteraksi dengan orang luar seperti halnya anda, saya tidak suka Anda bersikap demikian."Ujar Daisy.