perjalanan seorang anak yatim menggapai cita cita nya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bang deni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Preman Bambu Kuning
Dengan kemenangan dari duel malam itu Hadi berharap Edi dan anak buahnya tak akan mengganggu nya lagi, namun Hadi salah perkiraan, bukannya kapok Edi malah semakin jadi, Edi tak juga kapok, ia malah menyewa beberapa preman dengan bayaran cukup tinggi untuk memberinya pelajaran
Malam itu, Edi bersama beberapa temannya mendatangi preman di pasar Bambu Kuning yang di kenalnya cukup kejam dan sadis
" Bang , gw minta tolong nih, " ucap Edi saat ia menemui Mat jago di pasar bambu kuning
" minta tolong apaan loe!?" tanya Mat Jago, sambil menenggak figur yang ada di tangannya
" gw lagi kesel sama yang ngekost di kontrakan gw, tapi gw kalah saat kemaren berantem" Jawab Edi sambil menunduk
" Wah jago juga berarti lawan loe itu!" seru Mat jago Kaget, setahunya Edi juga jago berkelahi
" Iya bang lumayan jago"
" anak mana dia aslinya?" tanya Mat Jago penasaran
" anak STM Bhakti Utama bang"
" Apaaa! lawan loe cuma anak STM tapi loe ga bisa ngalahin dia!" bentak Mat Jago
" Iya bang tapi dia emang jago banget berantemnya" sahut Edi
" Ya udah nanti gw beresin anak itu, tapi ga gratis" Sahut Mat Jago
" iya bang gw tau aturan mainnya, ini" sahut Edi sambil menyerahkan amplop yang di baru ia ambil di kantong jaketnya, Mat jago memeriksa isi amplop itu
" Cuma satu juta?!" tanya Mat Jago setelah menghitung uang yang di berikan
" itu uang mukanya doang bang, nanti kalau udah di beresin baru gw kasih sisanya" ucap Edi berjanji
" ya udah nanti gw nyuruh anak buah gw ngadepinnya" sahut mat Jago
" sekarang apa yang harus gw lakuin bang
" loe ada photonya ga, biar anak buah gw ga salah orang" Ucap
" Ada bang, ini" Edi mengeluarkan satu pas photo ukuran 3 X 4, yang entah di dapat dari mana , rupanya ia telah menyiapkan segalanya agar dendamnya terbalaskan
" Yot, ambil foto itu nanti loe kasih pelajaran, " seru Mat Jago pada salah satu anak buahnya.
" Siap bang!" satu lelaki bertubuh ceking mengambil foto yang ada di tangan Edi.
" Kaya pernah lihat gw anak ini?" gumam Oyot saat melihat foto Hadi, tapi ia lupa di mana ia pernah lihat anak itu
" Dah loe nanti ajak berapa orang untuk ngasih pelajaran" Perintah Mat Jago
" Ya bang nanti gw ajak yang badannya besar, gw ga yakin bisa ngalahin dia sendirian" sahut Oyot
" ya ajak aja si Jabrik sama Dia" Mat Jago menunjuk dua orang yang duduk di teras ruko tak jauh dari mereka.
Oyot dan kedua temannya langsung menyusun rencana, bagaimana bisa melaksanakan perintah bos mereka
" loe tahu kebiasaan anak ini?" tanya Oyot pada Edi,
" setahu gw dia kerja sambilan di bengkel tv di panjang" jawab Edi,
" pulang sekolahnya lewat mana?" tanya Jabrik
" Gw pernah lihat dia kalau berangkkat lewat palapa lima " kata Edi " kalau pulangnya gw ga tau" lanjut Edi
" agak susah juga yah, paling sebar aja anak anak , biar kalau lihat bisa tahu dia ada di mana" timpal jabrik
" ya udah nanti kita sebar anak anak, loe foto copy dulu foto ini biar anak anak pada tahu" seru Oyot.
Jabrik mengangguk dan mengambil foto itu untuk di foto copy dalam jumlah banyak untuk di bagikan k anak anak yang akan ia sebar.
sedangkan Hadi setelah malam duel itu, Hadi memutuskan akan tinggal sementara di Loteng bengkel Kak Mu'i sampai sekolahnya beres, walau ia sudah membayar liunas sewa untuk kamar kost-annya ia tak bisa tenang bila di ganggu terus menerus
" urusan loe udah beres?" tanya Ferry yang melihat Hadi termenung
" Mudah mudahan aja udah, cape gw ngurusin anak Herman" balas Hadi sambil menyeruput kopinya.
" ya mudah mudahan aja" sahut Ferry, ia membuat kopi , ia menemani Hadi menginap di loteng karena Hadi pasti membutuhkan teman di saat seperti ini.
Hadi kini menetap di Panjang, karena tak mau belajar nya terganggu oleh Edi CS, ia berangkat dan pulang ke bengkel, kini Bengkel kak Mu'i menjadi rumah keduanya, kamar kostnya yang di Gang Dakwah hanya sesekali saja ia datangi, itu juga hanya untuk membayar iuran listrik.
" Hadi dari mana aja kamu?" kak Made yang saat itu melihat Hadi pulang menegur
" Di Panjang Bang, di bengkel sekarang ada buat tinggal" jawab Hadi
" sini dulu, duduk dulu ceritain sama abang ada apa sebenarnya?" tanya bang Made memanggil
Hadi menceritakan perseteruannya dengan Edi yang berawal depan kamar kost-an waktu itu, yang berujung duel antara drinya bersama Edi di lapangan Unila.
" kurang ajar si edi itu! kenapa kau tak bilang!?" tegur Bang Made marah
" abang waktu itu katanya lagi ujian skripsi, aku ga mau ganggu abang " ucap adi karena memang Bang Made sedang ujian Skipsi.
" ah, kau ini, terus kau mau di panjang terus? " tanya Bang Made,
" Ya bang, aku ga mau sekolahku yang tinggal 6 bulan terganggu " jawab Hadi
" kamar kau ini bagaimana?" tanya bang Made Lagi
" aku juga ga tahu bang, mungkin biarin aja kosong" sahut Hadi
" kalau kau tak mau mengisi kamar kau, kau oper saja" saran bang Made
" emang bisa?" tanya Hadi, ia sudah tak betah karena gangguan Edi, mungkin pindah dari sana jalan terbaik baginya.
" bisa, kebetulan ada teman abang lagi nyari kamar kost, berapa tahun lagi kau di sini?" tanya Bang Made
" masih ada dua setengah tahun Bang"jawab Hadi
" ya udah, sini kunci cadangannya nanti aku kabarin" ucap Bang Made, hadi memmberikan kunci cadangan pada bang Made
" terima kasih yang bang" ucap hadi tulus
" ah kau kaya sama siapa saja"
Hadi membereskan barang barangnya , ia menjual semua perobatan yang ada di sana hanya barang barang penting saja yang ia bawa, ia berencana akan tinggal di bengkel untuk sementara waktu sampai ia tamat Sekolah yang hanya tinggal 6 bulan.
Sementara Oyot dan beberapa preman yang di sewa Edi belum juga berhasil mendapat kesempatan, saat mereka berhasil menemukan Hadi pasti sedang bersama teman temannya, yang jelas mereka tak bisa mengambil tindakan karena pasti akan ketahuan oleh aparat karena banyak saksi mata, dan juga belum tentu mereka menang karena setiiap bertemu Hadi pasti bersama dengan 5 atau 6 temannya
" Ah, kalau begini kita ga bisa bertindak!" seru Oyot yang kesal
" sabar Yot, kita awasi saja, nanti juga ada saatnya dia sendirian" celetuk Jabrik.
" ada cara!" seru Oyot Tiba tiba ,
" cara apa?" tanya Jabrik penasaran
" dia kan kerja di bengkel tv, kita pura pura manggil aja buat service tv, nanti baru kita hajar dia" seru Oyot memberitahukan rencananya
" iya, boleh juga tuh, tapi di mana ga mungkin kan kita manggil dia dari panjang ke kaliawi?" ucap Jabrik
" tar kita coba bilang ke Edi, siapa tahu dia punya rumah kontrakan di dekat panjang" sahut Oyot, ia yakin Edi yang ayahnya kaya pasti punya rumah di daerah dekat dengan Pasar panjang atau sekitarnya.