Cerita ini diangkat dari sudut pandang yang bebeda, dengan alur kehidupan sehari-hari.
Dan menyebabkan kebaperan. Semoga banyak pelajaran yang bisa kita ambil dari cerita ini.
Amanda, gadis cantik dan lembut. Harus terikat hubungan terlarang dengan pria beristri yang bernama Satria. Berawal dari pertemuan tak sengaja dan hutang budi, akhirnya mereka saling jatuh cinta dan menjalin hubungan yang tak semestinya.
Akankah mereka bersatu? Atau malah berpisah.
IG : nona_vie90
FB : Nevi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ZiOzil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Buket bunga krisan
Sudah seminggu Satria tiada kabar dan sudah seminggu juga kegalauan menyerangku. Begitupun Dimas, sejak malam itu, dia tak menampakkan batang hidungnya, dia juga tak ada menghubungiku sama sekali. Kedua pria itu seperti menghilang ditelan bumi.
Pagi ini seperti biasa, aku bersiap untuk berangkat bekerja, tapi langkahku terhenti saat ku temukan sebuket bunga krisan kuning di depan teras rumahku. Aku sedikit bingung, siapa orang yang telah meninggalkan buket bunga sepagi ini di terasku?
Apa mungkin ini ulah Satria?
Kupungut buket bunga itu, kuperhatikan dengan seksama, ada sebuah kertas terselip diantara bunga-bunga itu. Kuambil kertas yang terlipat rapi itu lalu kubuka, ada tulisan dengan tinta merah disana yang berbunyi "BERSIAPLAH AMANDA! KARENA SEBENTAR LAGI BUNGA-BUNGA INI AKAN BERTABUR DI MAKAMMU."
Setelah membaca tulisan itu, aku spontan mencampakkan buket bunganya dengan perasaan takut. Aku mengedarkan pandangan kesegala arah, mungkin saja ada petunjuk siapa orang yang telah mengirim bunga dan surat ancaman ini.
Otakku seketika mengingat sesuatu, apakah ini ulah ibu karena sakit hati atas kejadian waktu direstoran itu? Tapi apa mungkin ibuku tega mengancam putrinya sendiri?
Aku rasa ibu tak sekejam itu!
Lalu siapa? Atau mungkin Satria yang sakit hati karena aku melarangnya datang ke rumah, tapi aku sendiri tak yakin dia sejahat itu. Aku benar-benar bingung bercampur takut saat ini.
Dimas ... saat ini aku membutuhkan Dimas untuk menceritakan ketakutanku, karena aku tak mungkin menceritakan semua ini kepada ayah, bisa-bisa sakit jantung ayah kumat nanti. Kuputuskan untuk segera ke rumah Dimas, tak lupa aku bawa serta buket bunga dan surat ancaman itu sebagai barang bukti.
***
Setelah tiba di rumah Dimas, aku segera menunjukkan barang bukti yang ku bawa dan menceritakan semuanya. Dimas yang terkejut dan khawatir segera melempar buket bunga itu ke tong sampah.
"Apa kau ada mencium bunga-bunga itu?" Dimas bertanya dengan wajah cemas, bahkan kecemasannya bisa aku rasakan.
"Tidak ada! Memangnya kenapa, Mas?" Aku bingung dengan maksud Dimas, memangnya kenapa kalau aku ada mencium bunga itu?
"Syukurlah! Aku takut si pengirim sengaja menyemprotkan racun dibunga-bunga ini, dan saat kau hirup, kau bisa keracunan. Aku pernah melihat adegan seperti itu difilm-film." Dimas menjelaskan maksud pertanyaannya tadi. Sekarang aku paham maksudnya.
"Aduuuhh, Mas ... aku menjadi semakin takut ini. Apa yang harus aku lakukan sekarang?" Aku merinding takut membayangkan kalau itu benar-benar dilakukan si pengirim tadi.
"Amanda tenanglah dulu! Kita akan fikirkan semua ini bersama. Siapa ya kira-kira pengirim buket bunga itu? Apa kau punya musuh di luar sana?" Dimas mulai melakukan penyelidikannya.
"Tidak ada, aku merasa tak pernah menyakiti siapapun apalagi sampai punya musuh."
"Hmmm ... kalau mantan pacar atau orang yang perbah kau tolak misalnya?" Tanya Dimas lagi.
"Apa mungkin Evan? Tapi hubungan kami sudah lama sekali berakhir, untuk apa dia melakukan ini sekarang?" Aku tidak yakin Evan melakukan ini, dia bahkan mungkin sudah bahagia dengan kekasih kayanya itu, untuk apa dia meneror remahan kecimpring sepertiku ini?
"Kau benar juga! Lalu siapa ya?" Dimas mulai berfikir lagi. "Atau jangan-jangan ini ulah Satria?" Dimas menyebut nama seseorang yang sangat aku rindukan.
"Satria ...? Apa alasannya dia melakukan ini?" Aku sungguh tak yakin Satria melakukan semua ini, aku rasa Satria lelaki baik yang tak akan bertindak sejahat ini.
"Alasannya tentu saja karena sakit hati. Bukankah kau bilang dia menghilang setelah kau melarangnya datang ke rumahmu?"
Aku terdiam mendengar kata-kata Dimas, ini sungguh tidak masuk akal, apa Satria akan sejahat itu?
Tapi jika dilihat faktanya, memang benar Satria menghilang setelah aku melarangnya datang ke rumahku, tapi apa dia akan melakukan semua ini?
Aku benar-benar pusing dengan semua ini, hatiku samakin galau rasanya.
"Aku benar-benar bingung, Mas! Ya sudahlah, aku berangkat bekerja dulu, nanti kita bahas lagi." Aku segera mengakhiri pembicaraan kami dan beranjak dari dudukku.
"Baiklah, aku akan mengantarmu! Dan nanti pulangnya aku jemput lagi."
"Tidak usah, Mas! Aku tidak ingin merepotkanmu! Aku bisa sendiri kok!" Aku menolak tawaran Dimas dengan sungkan, aku tak ingin merepotkan siapapun dalam hidupku termasuk sahabatku yang satu ini.
"Manda, aku hanya ingin memastikan keselamatanmu! Bagaimana kalau peneror itu benar-benar gila dan menyakitimu saat kau di jalanan? Aku pasti akan sangat menyesal karena gagal melindungi sahabatku sendiri." Kata-kata Dimas ada benarnya juga, bagaimana kalau peneror itu benar-benar menyakitiku. Aku semakin takut membayangkannya.
"Baiklah." Aku pasrah dan menerima tawaran Dimas. Ini juga demi keselamatanku juga.
Akhirnya aku berangkat bekerja dengan diantar oleh Dimas, memang jarak dari rumah ke tempat kerjaku tidak terlalu jauh, aku bahkan berjalan kaki setiap harinya, tapi bukan tidak mungkin peneror itu bisa mencelakaiku dengan jarak yang dekat sekalipun.
***
Tidak terasa hari sudah beranjak sore, tubuhku juga sudah sangat lelah saat ini karena pelanggan yang ramai hari ini, kulangkahkan kaki pelan ke luar dari toko tempatku bekerja sambil meremas-remas leher belakangku yang kaku.
"Amanda ...!" Suara berat khas lelaki yang sangat aku hapal memanggil namaku. Aku sontak memandang ke arahnya.
"Satria ...?" Aku benar-benar terkejut melihat pria yang aku tunggu-tunggu kabarnya beberapa hari ini sedang berdiri menatapku dengan senyum yang mengembang.
"Manda, yuk ...!" Dan satu suara lagi memanggilku dari arah yang berbeda. Aku tahu pasti itu suara siapa.
"Dimas!" Aku mengalihkan pandanganku ke arah sahabatku yang sudah berdiri di samping motornya.
Ya, ampun mereka datang disaat bersamaan. Kalau Dimas, aku tahu niatnya ingin menjemputku, tapi kalau Satria?
Setelah berhari-hari menghilang, lelaki ini akhirnya menampakkan batang hidungnya lagi, apa dia memang ada hubungannya dengan teror buket bunga itu? Seketika prasangka-prasangka buruk menyerbu fikiranku saat ini. Mendadak aku merasa takut, kuputuskan berjalan mendekati Dimas untuk mencari perlindungan.
"Amanda, tunggu!" Satria berlari menghampiriku.
"Ada apa, Sat?" Aku berusaha menenangkan hatiku yang berkecamuk penuh kebimbangan dan ketakutan.
"Aku ingin mengajakmu pergi sebentar, bisa ...?" Satria bertanya dengan wajah penuh harap.
"Tapi aku sudah berjanji untuk pulang bersama Dimas. Iyakan, Mas?" Aku beralih menatap Dimas yang memandangku dengan tatapan ambigu.
"Iya." Jawab Dimas singkat. Tapi aku melihat raut ketidakrelaan diwajah sahabatku ini, aku mengerti dia pasti ingin sekali melarangku ikut bersama Satria karena takut sesuatu yang buruk terjadi denganku.
"Baiklah, kalau begitu apa aku boleh ke rumahmu?" Ternyata Satria masih belum menyerah, kali ini dia meminta izin ke rumahku.
"Sat ... aku sudah menjelaskannya waktu itu, aku rasa kau paham kan maksudku?" Aku mencoba mengingatkan lelaki ini tentang perkataanku waktu itu.
"Tapi kan aku sudah lama tidak berkunjung ke rumahmu. Aku rasa ..." Satria tak melanjutkan kata-katanya saat aku menyela dengan cepat.
"Sat, sudah ya ... aku lelah dan ingin pulang. Lain waktu saja kita mengobrol lagi." Aku memotong ucapan Satria, dan segera naik ke atas motor Dimas.
Dimas pun segera menyalakan motornya dan melaju meninggalkan Satria begitu saja.
"Manda ... Amanda ...!" Aku masih bisa mendengar teriakan Satria memanggil namaku. Sebenarnya aku senang sekali bisa melihatnya lagi, tetapi entah mengapa prasangka-prasangka buruk terus menghantui fikiranku tentang Satria dan teror buket bunga itu. Aku yang baru mengenal Satria tentu tidak tahu pasti tabiatnya, aku juga tidak bisa menilai dia baik atau tidak hanya dari sikap hangat dan perhatiannya saja. Siapa tahu dia itu psikopat atau punya kepribadian ganda, mungkin saja bukan?
Aku juga tetap harus menggunakan logikaku dari pada perasaanku saat ini.
***
Lanjut nggak ini?
Like dulu dong sayang akuh ...💜
sukses
semangat
mksh