"Maharnya cuma lima ribu? Ya ampun, buat beli gorengan aja kurang!"
Karena penghianatan dari Rava, calon suaminya, Citra memaksa Rama, ayah Rava untuk menikahinya. Tak perduli dengan mahar 5000, asalkan dia bisa membalas perbuatan Rava.
"Aku sudah naik pangkat jadi ibumu! jangan macam-macam denganku!"
baca, tekan suka, tinggalin komentar ya.😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon uutami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 15
Malam sudah turun ketika Rava memutuskan keluar dari rumah. Udara lembab sisa hujan sore membuat jaketnya terasa dingin di kulit. Langkahnya berhenti di depan pagar rumah sederhana milik Pak Haris — rumah yang dulu hampir menjadi saksi pernikahannya dengan Citra. Ia menatap dari jauh, melihat lampu-lampu di teras menyala lembut, memberi kesan damai yang menyakitkan.
"Apa dia masih di sini?"gumamnya lirih, suaranya nyaris tenggelam oleh suara jangkrik malam.
"Apa mereka masih tinggal di sini? Di mana? Kenapa enggak kelihatan?"
“Dia tinggal di sini, kan?”
Rava mengintip dari luar tanpa berani mendekat. Setiap ada yang mendekat, ia akan bersembunyi di balik bayangan pohon.
"Wah, beruntung sekali ya, Pak Haris. Walau udah dibikin malu sama calon sebelumnya, tapi malah dapat ganti yang lebih-lebih."
"Iya, betul! Mana semua pengganti seserahannya elektronik baru semua..."
"Kalau ini mas, lepas bujang, dapat duren sawit..."
Suara dua orang ibu-ibu tetangga rumah terdengar terkekeh dan semakin jauh. Memang mereka tadi mengobrol sambil jalan, dan tak satupun dari mereka yang melihat Rava.
"Terus Citranya gimana?"
"Ya senenglah dia pasti."
"Masih di sini?"
"Enggaklah. Tadi siang aku lihat dia dan suaminya udah pergi. Kayaknya sih balik ke kota. Lakinya kan harus kerja."
Rava meremas rambutnya frustasi. Ia hanya bisa menatap punggung ibu-ibu yang sedang bergosip itu semakin jauh. “Jadi mereka sudah pergi? Aku tak punya kesempatan lagi buat lihat siapa suami Citra?”
Ia berjalan gontai ke tepi jalan, menendang batu kecil tanpa arah. Hatinya sesak. Ia ingin marah pada dirinya sendiri, pada keadaan, bahkan pada waktu yang tak memberinya kesempatan kedua.
Di dalam dadanya, masih tersimpan bayangan wajah Citra. Cara gadis itu tersenyum, tatapan lembut yang dulu membuatnya merasa pantas dicintai. Tapi sekarang semuanya hanya tinggal kenangan yang tak bisa diperbaiki.
“Citra… aku bodoh banget, ya?” gumamnya. “Aku malah nyakitin orang yang paling tulus.”
Namun di sisi lain, pikirannya juga digelayuti kenyataan pahit — Cantika, sepupu Citra, kini mengandung anaknya. Ia tak bisa kabur dari tanggung jawab itu, meski hatinya tak ada di sana.
Malam itu, Rava pulang dengan langkah berat. Ia duduk di ruang tamu, menatap kosong ke arah televisi yang tak menyala. Lani menghampiri dari dapur, membawa secangkir teh.
“Kamu kemana aja, Rava?” tanya Lani dengan nada curiga.
Rava tidak langsung menjawab. Ia hanya memejamkan mata sejenak, lalu berucap pelan, “Aku ke rumah Citra, Ma.”
“Ya ampun, buat apa? Ngapain lagi kamu ke sana?” sergah Lani.
“Aku cuma pengin tahu siapa suami dia, Ma.”
Lani mendecak. “Kamu pikir itu penting sekarang? Dia jelas udah lupain kamu karna sudah nikah sama lelaki lain!”
Rava tak menjawab. Ia hanya menunduk, menatap gelas teh yang tak disentuh. Dalam diam, matanya mulai berkaca-kaca.
"Sadarlah, Rava!"
*****
"Apa? Kamu udah temukan Rava?"
Beberapa hari kemudian, Rama akhirnya mendapat kabar dari orang suruhannya. Rava ditemukan — tinggal di rumah lain di pinggiran kota bersama ibunya.
"Baiklah! Kirimkan lokasinya sekarang juga."
Tak lama sebuah lokasi dia dapatkan. Rama bermaksud menghubungi Citra. Namun, ucapan terakhir Citra membuatnya urung.
"Dia bilang tak perlu tau. Aku akan temui Rava sendiri. Nanti setelah menemui dan tau apa alasan dia, aku akan sampaikan sama Citra."
Tanpa pikir panjang, Rama datang sendiri. Mobil hitamnya berhenti di depan rumah minimalis itu. Ia turun, mengetuk pintu dengan wajah tegas dan sorot mata yang menyala.
Lani yang membuka pintu pertama kali langsung kaget. “Rama…?” suaranya tercekat.
“Mana Rava?” tanyanya dingin.
Lani menelan ludah. “Dia… di dalam. Tapi—”
Belum sempat Lani melanjutkan, Rama sudah melangkah masuk. Rava yang duduk di ruang tamu sontak berdiri, wajahnya pucat seketika.
“P—Papa?” suaranya gemetar.
Rama menatapnya tajam. “Duduk!!kita perlu bicara, Rava."
Mereka lalu duduk bertiga di ruang tamu rumah itu. Tiga cangkir tersaji di atas meja.
"Katakan! Kasih papa alasan kenapa kamu menghilang? Kenapa kamu sangat tidak bertanggung jawab menyelesaikan janjimu!?”
Rava menunduk. “Aku… aku salah, Pa.”
“Salah? Kamu lari dari akad nikah! Kamu bikin keluarga orang malu besar, dan kamu pikir cukup dengan bilang ‘aku salah’?!” bentak Rama.
Lani menatap dari sisi ruangan, canggung tapi juga takut. “Rama, tolong jangan marah dulu. Rava—”
“Jangan ikut campur, Lani!” Rama menoleh tajam. “Kamu gagal didik anak! Kamu bukannya kasih tau hal yang benar, malah ikut-ikutan blokir! Ikut-ikutan lari!”
"Bukan gitu, Ram... Masalahnya..."
"Apa lagi? Kau mau membuat pembelaan!?"
Lani terdiam, wajahnya memucat. Rava spontan melangkah maju. “Jangan salahin Mama! Ini semua salah aku!”
"Ya! Kau memang salah! Mamamu juga salah!" Rama menatapnya dengan mata merah menahan emosi. “Kenapa kamu kabur waktu itu?!”
Rava menggigit bibirnya keras, lalu berkata dengan suara rendah, “Karena aku sudah… menghamili Cantika.”
Kata-kata itu jatuh seperti petir. Ruangan mendadak hening. Rama menatapnya lama, tak percaya. “Kamu… apa?”
“Cantika, sepupunya Citra… dia hamil, Pa. Aku harus tanggung jawab.”
Rama menutup wajahnya dengan tangan. “Astaga…” desisnya, menahan napas berat. “Kamu sadar enggak, kamu bukan cuma bikin malu keluarga Haris, tapi juga mempermalukan dirimu sendiri?”
Rava mengangguk pelan. “Aku tahu. Tapi aku udah nikahin dia pah... Di hari yang sama dengan Citra... Cantika menahanku.. Aku enggak bisa apa-apa...”
Rama menghentakkan kakinya ke lantai. “Pergi dan minta maaf sama keluarga pak Haris!”
Rava terdiam. Air matanya mulai menetes. “Aku bakal minta maaf sama Citra sama pak Haris… cuma belum sekarang.”
“Belum sekarang?” Rama mendengus keras. “Kamu harus datang ke rumah Pak Haris dan minta maaf langsung! Ayo! Ikut sama papa! Kita ke rumah pak Haris sekarang!”
“Papa, tolong…” suara Rava bergetar. “Aku belum siap. Aku takut, Pa. Aku enggak tahu harus ngomong apa kalau lihat Citra.”
Rama mendekat, menatap anaknya dari jarak dekat. “Itu konsekwensinya, Rava! Hadapi dan jangan jadi pengecut!”
Lani menahan air mata di sudut ruangan. “Rama, tolong… kasih dia waktu sedikit.”
"Masih bisa kami bilang begitu? Kemarin? Apa kalian kasih mereka waktu? Mereka harus menahan malu! Menanggung omongan tetangga seumur hidup. Menanggung semua sendiri."
"Lalu kamu mau korbankan anakmu sendiri? Rava? Kamu enggak mikirin dia juga! Jangan egois! Apa yang sudah mereka katakan padamu sampai kamu lebih belain mereka dari pada anak sendiri?"
"Papa, Mama. Tolong jangan bertengkar..ini memang salahku. Aku akan minta maaf. Tapi, kasih aku waktu sebentar saja, pah."
Rama menghela napas panjang, menatap ke arah Lani dan Rava. “Baik. Aku kasih waktu dua hari. Dua hari, Rava! Setelah itu, kamu harus ke rumah Pak Haris. Kamu minta maaf — entah diterima atau tidak, itu urusan lain. Tapi kamu harus tanggung jawab atas apa yang kamu lakukan.”
Rava menatap ayahnya dengan wajah memelas. “Terima kasih, Pa. Aku janji… aku bakal datang.”
Rama menatapnya tajam satu kali lagi sebelum melangkah pergi. Di ambang pintu, ia berucap tanpa menoleh, “Kalau kamu kabur lagi, jangan pernah anggap aku ayahmu.”
Pintu menutup keras. Suara mobil menjauh, meninggalkan keheningan berat di rumah itu.
Rava duduk di lantai, memegangi wajahnya. “Dua hari..."
"Kamu enggak perlu beneran minta maaf ke mereka, Rava. Entah dipengaruhi apa Rama Sama mereka? Heran! Bisa-bisanya malah belain orang lain dari pada anak sendiri."
"Enggak. Kali ini... Biarkan aku lakukan hal yang benar, Ma."
"Kamu enggak perlu merendahkan diri begitu, Va."
"Tapi, yang kita lakukan memang salah, Ma. Kita harus minta maaf."
"Terserahlah! Tapi itu tak akan merubah apapun. Citra tetap jadi istri pria lain. Dan kamu... Tak akan bisa kembali padanya... itu kenyataan Rava!"
meninggal Juni 2012
😭😭