Elvina Reyna Lion. Nona sulung dari keluarga kaya yang memilih mengabdikan dirinya di sebuah Rumah Sakit swasta tempat dimana dia akhirnya bertemu cinta pertamanya.
Rangga Abelard. Pengusaha muda yang sukses. Tidak hanya tampan tapi juga brilian dalam segala hal. Namun tidak dengan kehidupan pribadinya.
Arkana Wijaya, Pewaris tunggal Rumah Sakit tempat dimana Rena bekerja dan menjadi satu-satunya profesor termuda di Rumah Sakit tersebut.
Ketiganya akhirnya di pertemukan kembali setelah sekian lama. Dan akhirnya awal kisah mereka terulang kembali di Rumah sakit tersebut dan mengulang kembali kisah lama yang belum usai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khairiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pilihan.
{Suara klakson mobil}
Satpam segera berlari membuka gerbang. Rani yang sedari tadi menunggu kepulangan Rena bergegas membuka pintu.
Rena turun dari mobil bersama Rangga
"Rena pulang bun." Ia mencium pipi Ibunya dan terus masuk menuju kamarnya tanpa menoleh sedikitpun pada Rangga
"Tante, kalau begitu aku pamit dulu."
"Oh, iya, terimakasih ya ? salam sama mamah kamu."
Rangga hanya mengangguk senyum pada Rani dan berbalik pergi.
Setelah melihat kepergian Rangga, Rani bergegas menuju kamar putrinya, masih terlihat jelas wajah Rena yang sangat kesal.
"Kamu kenapa lagi ?" Sambil mengusap rambut putrinya.
"Bunda, pokoknya aku tidak ingin di jodohkan dengannya !" Pinta Rena merengek.
"Loh, ko' tiba-tiba mengatakan masalah itu sih ? apa kamu habis bertengkar lagi sama Rangga ?!" Tanya Rani
"Dia laki-laki yang sangat menyebalkan bunda !"
"Tapi, apa masalahnya ?"
"Rena benci sama dia, pokoknya Rena tidak mau tau ya bun, Bunda harus menyudahi perjodohan ini !" Rena berbalik membelakangi ibunya.
Rani menghela nafas pelan.
"Sekarang kamu cerita dulu sama bunda, apa masalahnya ? mengapa kamu sangat membencinya ? bukankah kalian baru saja menghabiskan waktu bersama ?" Tanya Rani dengan sabar menghadapi kemarahan putrinya.
"Rena tidak ingin saja menghabiskan waktu bersama seseorang yang Rena tidak cinta ! buat apa hidup bersama, kalau tidak saling mencintai ?".Jelas Rena
"Memangnya kamu sudah tahu perasaan Rangga yang sebenarnya terhadapmu ?!" Tanya Rani memancing
"Ya, tadi dia jelas-jelas mengatakan, kalau dia lebih suka bersama teman wanitanya itu dari pada bersamaku !" Rena cemberut.
Rani kemudian tersenyum,sebenarnya ia sangat ingin tertawa lepas namun ia masih ingin menjaga perasaan putrinya.
"Apa kamu ingin mengatakan kalau kamu cemburu kalau Rangga lebih suka bersama teman wanitanya ?" Rani menggoda putrinya
"Apa sih bun, buat apa aku cemburu ?!" Suara Rena sedikit meninggi.
"Sayang, sini, lihat Bunda." Sambil membalikkan badan putrinya.
"Apa kamu tahu, perbedaan antara cinta dan benci itu sangat tipis." Jelasnya
"Maksud bunda ?!" Tanya Rena bingung
Rani tersenyum menatap putrinya, dia kini tahu kalau sebenarnya Rena mulai menyukai Rangga.
"Biar waktu yang mengajarkanmu sayang."
Rena hanya terdiam merenungi perkataan ibunya.
"Ya sudah, sekarang kamu ganti baju terus tidur, besok kamu harus ke sekolah lagi."
Rena hanya mengangguk,Rani kemudian mengecup kening putrinya dan beranjak pergi meninggalkan Rena yang masih termenung.
"(Benci ? Cinta ? beda tipis ?! apa maksud bunda ?)"
Rena menyadarkan dirinya dan beranjak menuju kamar mandi membersihkan badannya,menggosok gigi,setelah semuanya selesai, ia kembali ke tempat tidur merebahkan dirinya dan mematikan lampu.
Mungkin karna terlalu lelah, dengan cepat ia tertidur dengan lelap.
•••
Rangga yang sudah membersihkan dirinya, duduk di sofa memegang ponselnya.Ia berniat menelfon Monica untuk meminta maaf
"(Mungkin lebih baik besok saja aku meminta maaf padanya,untuk saat ini,dia pasti sangat marah padaku !)"Gumamnya sambil meletakkan ponselnya di atas meja
Ia kemudian merebahkan dirinya di atas kasur dan hanyut dalam lamunan, mengingat kembali momen saat dirinya bersama Rena.
"(Apa dia cemburu pada monica ?! Kenapa dia harus marah saat aku mengatakan kalau aku lebih suka bersama Monica ?! Aaakh.. aku tidak bisa menebak fikirannya ! kalau dia cemburu, kenapa dia sangat membenciku ?)"
Tiba tiba ia mengingat tahi lalat kecil Rena yang membuatnya sangat tergoda, pikirannya terus menjalar kemudian ia mengingat setiap bagian tubuh Rena, entah itu Mata, Hidung, Bibir bahakan lekukan pinggangnya yang sangat seksi menurutnya. Aaakh ! pikirannya terus memperkosa dirinya.
"(Aaaaakh.. mengapa tahi lalat itu sangat menggodaku ?!)" Tiba tiba adik kecil Rangga berdiri dengan menunjuk angka satu.
"(Sial !!)" Desisnya.
•••
Pagi yang cerah,mungkin ini masih musim panas, akhir akhir ini tak pernah sekalipun turun hujan.
Di kediaman John Abelard
Ruang Dapur
"Mah, Rangga berangkat ya ?!" Rangga terlihat terburu-buru.
"Apa kau tidak sarapan dulu ?" Tanya Mariah
"Di sekolah saja !" Rangga mencium pipih ibunya
Setelah beberapa langkah, ia terhenti dan menoleh ke arah Ibunya
"Mah, salam dari tante Rani !" Serunya, kemudian melanjutkan langkah kakinya.
Mariah dan John hanya saling menatap dengan bingung
"Sejak kapan Rangga akrab dengan keluarga Jaya ?!" Tanya John pada Istrinya
"Entahlah, setahuku, semalam ia hanya bersama Monica !" Jelas Mariah
Mereka kemudian menyelesaikan sarapannya
"Mah, Papah juga berangkat !" John terlihat terburu-buru setelah melihat jam yang ada di pergelangan tangannya.
Maria hanya geleng-geleng kepala melihat anak dan suaminya.
"Hmmmp buah jatuh memang tak jauh dari pohonnya !" Umpatnya pelan.
"Apa mamah baru saja mengumpat ?!" Tanya John mendekati Istrinya.
"Ya, kau dan anakmu benar-benar tidak jauh berbeda !"
"Dan mamah harus terus bersabar dengan itu" Senyum John sambil mengecup dahi Maria
"Sudah terlambat, papah berangkat sekarang !" Ia meraih jas dan kunci mobilnya lalu pergi
•••
Mariah yang tidak memiliki aktivitas di luar rumah hari ini, memilih membersihkan rumah, walau ada pembantu, tapi Mariah masih akan tetap mengerjakan pekerjaan rumah jika ia merasa tidak terlalu sibuk.
Mariah adalah Wanita mandiri yang sangat disiplin dan ketat dengan kebersihan. Selain itu ia juga gemar berbisnis. Mariah memiliki beberapa butik ternama di beberapa kota bahkan sudah mengepakkan sayapnya di manca Negara.
Ia menuju kamar Rangga,memperbaiki tatanan bantal dan seprei.
"Apa ini ?" Ia melihat seprei yang berwarna
"Emmmh.. !!!" Ia menutup hidungnya dan membuka seprei
"(Apa anak itu semalam mengalami mimpi basah ? atau, Hah !)" Ia terkejut,matanya membola dengan menutup mulutnya
"(Apa sekarang dia mulai menonton film porno !?)
Dasar anak nakal !"
Maria segera mengganti dengan seprei yang baru dan membawa seprei sebelumnya ke ruang laundry.
•••
Di sekolah
Baru saja berbunyi bel bertanda istirahat, Rena segera keluar mencari Arka, ia benar-benar merasa bersalah karna meninggalka nya sendiri semalam, walau itu bukan sepenuhnya keinginannya.
Rena mencoba bertanya ke beberapa siswa maupun sisiwi
"Apa kau melihat Arka ?!" Pertanyaan itu terus terlontar dari mulutnya
Namun tidak ada satupun yang melihatnya.
"Apa hari ini dia tidak masuk sekolah ?!"
Tiba-tiba kedua sahabatnya memeluknya dari belakang mengejutkannya.
"Hai Ren... !" Seru Tika
"Kamu cari siapa sih ? dari tadi aku perhatikan kamu mondar mandir menanyakan setiap siswa !" Lanjutnya sambil menatap Rena
Tika memang sosok gadis yang ceria,dia juga selalu spontan jika ingin mengatakan sesuatu, tanpa memikirkan perasaan orang yang ada di sekitarnya.
Rena hanya tersenyum pahit
"Apa kau mencari Arka ?" Tanya Anggi menebak.
"He'emm !" Jawabnya sambil menganggukkan kepala.
"Mengapa repot-repot mencarinya ? tanpa di cari dia akan datang sendiri menemuimu !" Celetuk Tika
"Kali ini berbeda !" Jawab Rena serius
"Apa yang terjadi ?!" Anggi mencari tahu.
"Ceritanya panjang ! aku tidak bisa memberitahu kalian saat ini, aku harus mencari Arka !" Tegas Rena
"Yah, padahal kita ingin mengajakmu ke kantin !" Seru Tika
"Jika aku sudah bertemu Arka, aku akan menyusul kalian !"
"Apa kau tahu sekarang Arka dimana ?" Tanya Anggi kembali
Rena hanya menggelengkan kepalanya
"Kau bisa mencarinya di atap sekolah !" Jelas Anggi
Tanpa bertanya ataupun curiga, Rena segera berlari menaiki anak tangga menuju atap sekolah.
Tika merasa bingung menatap Anggi penuh tanya
"Kamu tahu dari mana kalau Arka ada di atap sekolah ?"
"Tahu saja !" Jawab Anggi melangkah pergi menuju kantin meninggalkan Tika yang semakin kebingungan.
"Anggi.. tunggu, kasih tau aku, apa kau punya rahasia yang tidak ku ketahui ?" Serunya mempercepat langkah kakinya.
"Kalaupun iya, aku tidak akan pernah mengatakannya padamu." Jawab Anggi
"Yaah, kenapa begitu ? kita kan teman."
Anggi menghentikan langkah kakinya kemudian berbalik menatap Tika yang sumringah dengan antusias.Berharap Anggi mengungkapkan rahasianya"Ehemmm, kita memang teman."
"Lalu ? apa kau tidak percaya padaku ?" Tanya Tika .
"Aku percaya padamu, hanya saja,aku tidak pernah percaya dengan mulut embermu itu !" Jawab Anggi terkekeh kemudian berbalik dan melanjutkan langkahnya.
Kantin sekolah.
Mereka duduk dengan meletakkan makanan mereka masing-masing.
"Eh bay the way apa yang terjadi pada Rena dan Arka ?"Tika kembali bertanya-tanya.
"Hmmmp entahlah !" Anggi hanya mengangkat bahu seakan tak ingin tahu
"Apa menurutmu Rena juga menyukai Arka ?" Sambil mengaduk makanannya.
"Kalau memang benar, terus bagaimana dengan Rangga ?!" Mulut Tika memang tidak pernah mau diam.
Uhuk Uhuk uhuk
"Rangga, apa kau baik-baik saja ?!" Tanya Monica.
Namun, sepertinya kali ini tenggorokan Rangga benar-benar terasa gatal.Ia berdiri dan menuju kamar kecil.
Tika tidak menyadari kalau orang yang duduk di belakangnya adalah Rangga. Matanya terbuka lebar dan menutup mulutnya menatap Anggi yang sudah memelototinya.
"Apa kau tak bisa sedikit saja menutup mulutmu ?!" Bentak Anggi pelan.
"Aku benar-benar tidak sengaja !" Tika merasa bersalah
Monica hanya bisa menatap tajam ke arah Anggi dan Tika lalu segera pergi menyusul Rangga.
Tok tok tok {Suara ketukan pintu.}
"Rangga, apa kau baik baik saja ?" Monica bertanya dengan cemas.
Rangga yang masih sedikit batuk berdiri di depan cermin. Ia terlihat sangat marah mendengar percakapan kedua sahabat Rena. Setelah beberapa saat ia akhirnya membuka pintu.
"Apa sudah baikan ?" Tanya kembali Monica
Rangga hanya menganggukkan kepalanya.
"Sepertinya kita harus ke dokter, meminta obat batuk untukmu ! Sejak tadi malam kamu batuk seperti ini." Sambil mengenggam tangan Rangga.
Rangga hanya menatap Monica, Ia kasihan karna sudah mempermainkan sahabatnya sendiri.
Rangga sebenarnya batuk bukan karna dia sakit, dia hanya tersedak mendengar obrolan singkat kedua sahabat Rena, dan mengetahui fakta bahwa Rena lebih memilih Arka dari pada dirinya.
Ikuti terus setiap episodenya karna mungkin ini akan menjadi empat dari sepuluh episode terakhir. ☺️😉
See you all.. 😘🥰
Jadi mohon pengertiannya.. 🤗😊
padahal aku rindu.bodo" bikin kangen😑🤣