Cerita ini kelanjutan dari novel "Mencari kasih sayang"
Pernikahan adalah ibadah terpanjang karena dilakukan seumur hidup. Pernikahan juga disebut sebagai penyempurnaan separuh agama.
Dua insan yang telah di satukan dalam ikatan pernikahan, tapi kebahagiaan mereka tidak berlangsung lama. Hari memiliki rahasia yang dapat menghancurkan kepercayaan Resa. Apakah dia dapat bertahan?
Resa menemukan kebenaran tentang Hari yang telah menyembunyikan kebenaran tentang status nya. Resa merasa dikhianati dan tidak tahu apa yang harus dilakukan. Apakah dia harus memaafkan Hari atau meninggalkannya?
Apakah cinta Resa dan Hari dapat bertahan di tengah konflik dan kebohongan? Apakah Resa dapat memaafkan Hari dan melanjutkan pernikahan mereka?
Apakah mereka akan menemukan kebahagiaan atau akan terpisah oleh kebohongan dan konfliknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
15 Kali ini salah ku apa lagi
Dalam ruang yang sunyi dan sepi, gadis itu duduk dengan hati yang berat. Dia mengambil pena dan buku diary, kemudian mulai mencurahkan keluh kesahnya dalam bentuk tulisan. Setiap goresan pena yang meninggalkan jejak di atas kertas itu diiringi tetesan air mata yang tak terbendung, mengalir deras seperti sungai yang meluap.
"Aku Tinggal di antara keluarga yang tak utuh, cinta yang hilang,kesepian yang mendera,memenuhi malam yang semakin hambar.
Pelukan tak lagi kurasakan, hanya dinginnya tembok kesunyian. Aku belajar kuat sendirian,aku menyembunyikan luka dalam senyuman.
Jika rumah adalah tempat pulang, mengapa aku merasa tersesat? Jika keluarga adalah tempat tenang, mengapa hatiku selalu penat?
Aku mencari hangat di hati orang lain, mengemis cinta yang tak pernah utuh. Berharap ada tempat untuk berlabuh, tanpa takut dihantui masa silam yang rapuh.
Meski hancur, aku tetap berdiri, meski luka, aku tetap melangkah. Sebab hidup bukan tentang masa lalu, tapi bagaimana aku melawan pilu, dan membangun bahagia yang baru.
Waktu itu kita kenal tak sengaja, Dua hati saling sapa dalam sunyi yang hampa. Dari pandangan sederhana, tumbuhlah rasa, Benih cinta yang perlahan mengisi jiwa.
Hari demi hari kau menjadi cahaya, Menghangatkan jiwa yang lama tak bersuara. Aku percaya, kita adalah cerita, Namun perlahan kau mengungkap rahasia.
Rupanya aku hanya teka-teki bagimu, Rasa penasaran yang memuaskan egomu. Ketika kamu telah mendapatkan ku, Kamu tak lagi peduli, bagaimana keadaan ku.
Tanpa aba-aba kamu perlihatkan satu persatu rahasia, Menghapus harapan yang pernah aku damba. Aku terpaku, tak mengerti maknanya, Apakah cinta ini hanya sandiwara?
Kini aku sendiri, merajut luka, Mengumpulkan serpihan hati yang kau hancurkan. Namun dari puing, aku akan belajar, Bahwa mencintai selalu tak berarti.
kamu buat aku mengagumimu, Sebab hati ini rapuh dan lugu. Sedikit senyummu mampu merayu, Meninggalkan jejak yang sulit berlalu.
kamu bisikkan harapan di telinga, memberi janji.Sebab aku mudah membangun asa.Aku Cukup diam, membiarkan semuanya reda.
kamu beri waktu terlalu dekat,kini hatiku kerap tersesat. Sekali perhatian, ku anggap isyarat, Padahal mungkin itu hanya adat.
Kamu biarkan aku terus menerka, kini lamunan hanya jadi luka. Segala prasangka yang ku bawa, Akan jadi cerita yang hampa tanpa makna.
Cinta yang ku rasakan bagai duri tajam, Menusuk perlahan hatiku. Kupeluk rasa yang tak pernah utuh, Namun luka datang, berturut-turut.
Kupikir ikhlas bisa ku jalin paksa, Meski jiwaku meronta dalam rasa. Ternyata hati tak bisa dipaksa, la melawan dalam senyap, menciptakan luka.
Ku ciptakan harapan dalam angan semu, Namun kasih itu tak pernah berpadu. Segalanya retak, hancur tak bersisa, Hanya air mata yang kini bercerita.
Seandainya cinta tahu cara bertahan, Mungkin luka ini takkan pernah datang. Namun cinta yang datang tanpa aba-aba, Hanya menyisakan sesal yang membara.
Kini ku ikhlaskan perasaan yang terasa salah arah, Ingin melepas beban dan menutup lembaran resah. Biarlah waktu menyembuhkan segalanya,"
Setelah selesai meluapkan isi hatinya, gadis itu menarik napas dalam-dalam, merasa sedikit lega setelah menyampaikan semua perasaannya di atas kertas. Dia memandang kertas yang penuh dengan tulisan dan air mata, lalu menutup buku diary nya dan menyimpannya di tempat yang aman.
Saat sore tiba, ibu Tika datang untuk menjemput cucunya yang sedang duduk di pangkuan Resa. Perempuan paruh baya itu tersenyum haru melihat pemandangan di depannya, ternyata keadaan seperti harapannya. Resa dapat menerima kehadiran Humaira dengan baik, dan bahkan terlihat dekat dengan anak kecil itu.
Ibu Tika menghampiri keduanya dan memeluk Resa dengan sayang setelah cucunya turun dari pangkuannya. Resa yang tak pernah merasakan pelukan seorang ibu lagi setelah sekian lama itu tak bisa menahan haru. Dia menangis dalam dekapan mertuanya yang penuh kasih sayang.
Terasa sangat nyaman yang ia rasakan, mungkin begini rasanya di saat hati rapuh dan butuh sosok ibu yang bisa menenangkan jiwa batin. Resa menelusup makin dalam di pelukan mertuanya, merasa aman dan nyaman dalam dekapan yang hangat dan penuh kasih sayang.
"makasih ya, udah bantu mamah jaga umai," ucap Bu Tika mengurai pelukannya. Resa mengangguk sebagai jawaban, masih terlihat sedikit murung tapi sudah lebih tenang. Bu Tika kemudian memandang Resa dengan mata yang penuh kasih sayang, sebelum berpaling dan meninggalkan ruangan.
Satu bulan kemudian, Hari merasakan banyak perubahan yang tidak biasa dari sikap istrinya, Resa. Dia menjadi lebih manja, sensitif, dan akan marah jika keinginannya tidak dipenuhi. Bahkan, dia sering merengek seolah ingin bersaing dengan Umai memperebutkan perhatiannya.
Malam ini, Resa sedang merajuk dan tidak mau keluar kamar. Hari sudah membujuknya untuk makan, tapi tidak dihiraukannya. Bahkan, anak sambungnya, Umai, sudah beberapa kali menengok ke dalam kamar, meskipun hanya dari balik pintu. Tapi, gadis itu tidak mau keluar juga.
Hari merasa khawatir dengan keadaan istrinya yang sudah beberapa hari mogok makan. Dia tidak tahu apa yang harus dilakukan untuk membuat Resa kembali normal. Hari merasa bingung dan tidak tahu bagaimana cara mengatasi situasi ini. Dia hanya bisa berharap bahwa Resa akan segera kembali normal dan tidak akan terus merajuk seperti ini.
Hari duduk merenung di atas kursi, merasa kurang enak badan. Kukunya yang sedikit panjang ia kerokan ke tangan yang menjulur di atas lutut sebagai tumpuan. Hingga timbul warna merah yang mencolok.
Resa yang mengintip dari balik pintu kamar kaget melihat itu. Dia pikir Hari sedang melukai dirinya sendiri. Sehingga Resa menghampiri suaminya dengan langkah lebar. Matanya sudah berkaca-kaca, dan wajahnya terlihat khawatir.
"Apa yang kamu lakukan,?" Resa bertanya dengan suara yang bergetar. Dia mengambil tangan Hari dan memeriksa luka yang ada di atasnya. "tidak apa-apa, kan?" Resa bertanya lagi, dengan mata yang semakin berair.
Aku memandang Resa dengan rasa lega dan haru. Dia masih memiliki hati yang lembut dan peduli terhadapku, meskipun dia sedang marah dan merajuk. Aku tersenyum tipis saat dia menghentikan kerokan kuku di lenganku, karena dia mengira aku sedang menyakiti diri sendiri.
Aku menutup wajah untuk menyembunyikan senyumku, karena aku tidak ingin membuatnya semakin marah. Tapi, aku merasa bahagia karena dia masih memiliki perhatian dan kasih sayang terhadapku.
Dengan sedih, Resa berkata lirih, "aku minta maaf, kalau sikap ku buat AA kaya gini." Ujarnya mengelus tangan Hari yang terlihat sangat merah dengan suara yang bergetar karena menahan tangis.
"Aa, maafin, tapi kamu harus makan dulu ya! Belakangan ini kamu mogok makan terus, nanti kamu sakit," kata Hari dengan nada yang lembut.
Resa menatap Hari dengan mata yang murung. "Gak mau, aku gak nafsu makan. Jangan pedulikan aku, urus aja Umai sana," jawabnya dengan nada yang dingin.
Hari merasa jengkel, tapi dia berusaha untuk tetap sabar. "Aini, kali ini aja, nurut dulu sama Aa," pinta Hari dengan nada yang lembut.
Resa menatap Hari dengan mata yang masih murung, tapi kemudian dia mengangguk. "Ya udah, aku mau. Tapi pengen makan di luar," pinta Resa dengan raut wajah yang menggemaskan.
Hari tersenyum lebar. "Boleh," jawabnya.
Resa berlari ke dalam kamar untuk mengganti baju dan memakai jaket, serta menggunakan hijab. "Ayo, A, aku udah siap," kata Resa dengan nada yang ceria.
Hari tersenyum dan menuntun Resa keluar rumah. Dia sudah menyiapkan dua piring nasi dan lauknya di atas meja yang berada di teras, serta air minumnya. Namun, wajah Resa yang sudah ceria kembali murung saat Hari menundukkan tubuhnya di atas kursi.
"Ayo dimakan, Aa udah siapin, mumpung masih panas," kata Hari dengan nada yang lembut.
Tanpa menjawab, Resa beranjak dari duduknya dan menghentakkan kakinya saat melangkah. Dia kembali ke dalam kamar, meninggalkan Hari yang bingung.
Hari menatap punggung Resa dengan rasa bingung. "Salahku kali ini apa lagi?" pikirnya.