Anna tanpa sengaja menghabiskan malam panas dengan mantan suaminya, Liam. Akibat pil pe-rang-sang membuatnya menghabiskan malam bersama dengan Liam setelah satu tahun mereka bercerai. Anna menganggap jika semua hanya kecelakaan saja begitu pula Liam mencoba menganggap hal yang sama.
Tapi, semua itu hilang disaat mendapati fakta jika Anna hamil setelah satu bulan berlalu. Liam sangat yakin jika anak yang dikandung oleh Anna adalah darah dagingnya. Hingga memaksa untuk menanggung jawabi benih tersebut meskipun Anna sendiri enggan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Haasaanaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15
Semua makanan habis tidak tersisa dan ini pertama kali bagi Anna makan di pagi hari tanpa gangguan apapun. Bahkan perutnya sampai kenyang kesulitan untuk bangkit, padahal tadi awalnya Anna menolak tapi kini malah menghabiskan. Untungnya Liam tidak banyak bicara hanya diam merapikan semua sisa-sisa makanan yang ada.
Pandangan mata Anna menuju jam di dinding, sekalipun sudah satu tahun bercerai tapi Anna masih sedikit ingat kesibukan seorang Liam.
"Kau tidak bekerja?" Tanya Anna sebagai bentuk basa-basi saja.
"Tidak, aku harus memastikan kau dan Baby Boy aman. Mengantarkan kalian menuju Apartemen baru aku bisa bekerja lagi.."
Anna terdiam sebentar mencerna apa yang Liam jelaskan, ia duduk tegak hingga bisa melihat Liam dengan sangat jelas. "Kenapa kau terus menyebut anak ini Baby boy?"
Pertanyaan Anna membuat pergerakan Liam yang sibuk membersihkan meja menjadi terhenti. Pria itu menatap kearah perut Anna yang masih rata, feelingnya kali ini merasa jika Anna sedang mengandung seorang anak laki-laki yang gemas dan tampan.
"Aku merasa anakku itu Baby boy," Jawab Liam singkat saja.
Tangan Anna langsung memegang perutnya, ia saja masih belum percaya benar ada kehidupan didalam perutnya sana. Sementara Liam sudah menebak jenis kelamin kehamilannya, apakah pria itu benar-benar menerima anak ini?
Anna menghela napas panjang, memikirkan banyak hal yang tidak perlu hanya membuat kepala semakin sakit. Mencoba mengalihkan dengan hal lain yang lebih bebermanfaat, itu yang paling penting bagi Anna sekarang. Perut yang terlalu kenyang membuat Anna sedikit susah untuk berdiri tapi ia tetap berusaha.
"Emm.. perutku terasa penuh sekali.." Anna benar-benar mengeluh kali ini, semua karena Liam tidak berhenti terus memasukkan makanan kedalam perutnya.
"Kau mau mandi?" Tanya Liam karena Anna berjalan menuju kearahnya, padahal Anna ingin membantunya membereskan hal-hal yang berantakan. "Aku siapkan air hangat dulu, sepertinya_"
"Tidak perlu, Liam. Aku bisa urus diriku sendiri, ingat.. aku bukan bayi ataupun seseorang yang cacat. Aku sedang hamil tidak sakit jadi... jangan berlebihan." Tolak Anna mentah-mentah, sikap Liam yang sedikit berlebihan membuat Anna tidak enak sendiri.
Sementara Liam terus berdiri didekat Anna menatap lekat-lekat wanita keras kepala itu. Memutar bola matanya kesal karena Anna mengabaikan semua bentuk kasih sayangnya sebagai seorang Ayah yang ingin memastikan Anna tetap aman.
"Aku akan menyiapkan air untukmu, tunggu disini.." Liam tetap mengikuti pikirannya sendiri tidak pernah mau mendengarkan apa yang Anna inginkan.
Membuat Anna menjadi kesal, disaat Liam sudah masuk kedalam toilet langsung Anna membanting paper bag yang telah ia pegang.
"Dia masih saja sama keras kepala! Sikapnya sama seperti Ibunya itu!" Tiada henti Anna mengumpat, ia kembali duduk dengan bibir yang cemberut.
Kalau sudah begini rasanya Anna sebal dengan anak yang ia kandung, ia ingin memukul perutnya tapi takut kena amukan Liam lagi.
"Selama proses kehamilan kau akan tinggal di Apartemenku," Ucap Liam secara tiba-tiba membuat Anna sedikit terkejut.
Anna merasa semua itu tidak perlu, setelah menandatangani perjanjian kemarin malam pastinya Anna akan menjaga anak tersebut dengan sangat baik meskipun tanpa pantauan langsung dari Liam.
"Aku rasa tidak perlu seperti itu, Liam. Aku bisa menjaga anakmu dengan baik, aku akan tetap tinggal di Apartemenku." Anna mengatakan alasan terbaiknya.
Belum ada jawaban apapun dari Liam, hanya ada saling tatap diantara kedua mereka. "Kurang lebih sembilan bulan, An. Aku ingin melihat perkembangan anakku setiap harinya, aku mohon.. kali ini terima semua aturan." Pinta Liam sedikit menekan Anna.
Sembilan bulan akan terasa dua puluh tahun bagi Anna, bagaimana bisa tinggal satu atap dengan mantan suami. Hanya bermodalkan kata bertanggung jawab akan kehamilan Anna rasa tidak perlu sampai seperti itu. Anna hanya tidak mau semua menjadi kacau, tidak hanya kehidupan Anna melainkan kehidupan Liam sendiri.
"Kau akan sering sendiri di Apartemenku nanti, aku hanya akan datang disaat sempat saja."
Anna sedikit mendengarkan, tapi tetap dalam kondisi diam menunduk. "Apapun yang kau butuhkan dan inginkan akan ada pelayan yang menemani. Yang terpenting kalian tinggal di Apartemenku, kalian akan aman disana."
"Tapi_"
"Aku rasa semua hal yang aku tawarkan bisa kau pertimbangkan dengan baik, An. Tidak ada alasan untuk menolak lagi, iyakan?" Sela Liam, ia menatap Anna lekat-lekat. Wanita itu mengangguk perlahan, karena bingung mau berkata apa.
"Sialan!" Anna tiada henti mengumpat, rasanya Liam sangat menyebalkan. Cepat cepat Anna bangkit masuk kedalam toilet untuk membersihkan diri tidak lupa membawa papar bag berisi pakaian ganti.
Didalam toilet Anna sengaja menutup pintu sangat keras murni melampiaskan rasa kesal kepada Liam Alexander. Pria dominan yang selalu saja membuat Anna mati kata, ia menatap dirinya di pantulan cermin yang bahkan sampai sekarang tidak bisa lari dari semua masalah ini.
"Ahhhh... kenapa harus dia? Kenapa diantara banyak pria aku harus hamil anak dia?!" Anna terus menarik rambutnya karena amarah dihati, seperti orang gila yang haus akan sebuah pengobatan.
Anna terduduk diatas closet, menatap malas air yang sudah Liam siapkan tadi.
"Pada akhirnya dia... ah, aku harap waktu sembilan bulan segera berlalu, agar aku segera pergi dari masalah ini!" Anna cepat cepat membuka seluruh pakaian sebelum Liam mengamuk di luar nanti.
Sementara itu Liam tengah menunggu Anna sembari membaca majalah yang sama sekali tidak menarik. Majalah itu berisi Emma yang terus menampilkan kecantikan dan segala fashion dari wanita itu. Wajar saja sang Mama selalu memaksa Liam agar menerima Emma sebagai pasangannya karena memang wanita bernama Emma itu sangat sempurna jika disandingkan dengan Liam.
"Apa menariknya dari wanita yang suka mengumbar kecantikan seperti ini?" Liam melempar asal majalah tidak menarik tersebut.
"Tuan.."
"Masuk!" Pastinya orang itu adalah Ezra, Liam sudah menyuruh asistennya untuk menjemput tadi. "Semua sudah beres?"
"Sudah, Tuan. Nyonya besar dan bahkan Nona Emma juga tidak akan curiga akan semua ini, pasti Nona Anna akan aman."
Sungguh lega Liam mendengarkan semua itu, hanya saja tidak dipungkiri ia masih sangat mengkhawatirkan Anna dan kenyamanan wanita itu.
"Tolong carikan kelas kehamilan dan juga pelayan untuk menemani Anna di Apartemen nanti. Harus benar-benar orang baik agar Anna aman," Perintah Liam lagi.
"Kenapa tidak Tuan saja yang menemani?"
"Kenapa harus aku?" Liam ingin sebenarnya tapi kalau Anna terus menolak ia bisa apa, dan lagian Liam bukanlah orang yang santai bisa menemani Anna seharian.
"Karna kau adalah Ayahnya, Tuan. Semakin seorang Ayah sering dekat dengan anaknya di dalam perut.. maka akan lahir seorang anak yang bijak dan pintar." Jelas Ezra panjang lebar, anehnya Liam tidak protes melainkan sedikit tertarik.
"Sudah jangan banyak bicara, segera lakukan saja hal yang aku perintahkan tadi!" Perintah Liam lagi, ia kembali mengambil ponselnya sebagai bentuk pengalihan pikiran saja.
Tapi, Ezra yang sudah lama bekerja dengan Liam tidak akan menyerah begitu saja. Ia tahu jika sang Tuan sedikit tertarik sebenarnya, Ezra ingin memberikan saran lagi.
"Begini saja, Tuan.. Pelayan menemani Nona Anna dari pagi sampai menuju kau pulang kerja saja. Lalu_"
"Aku sudah lama tidak menghajar seseorang, apakah kau menjadi orang pertama yang aku pukuli?" Tanya Liam dengan tatapan mata sangat tajam, tangannya sangat siap memukuli Ezra sekarang.