Sequel Jodoh Pilihan Allah
~Aku mencintaimu karena Allah, aku menikahimu Karena Allah, Semoga Karena Allah pulalah kita berpisah~
Shafa Azura & Zidane Ar-Rayyan pasangan fenomenal dengan kisah cintanya yang unik dan menginspirasi. Namun, sebuah tragedi terjadi, memaksa mereka terpisah. Apakah itu ujian? Atau garis takdir yang harus mereka jalani.
Mampukah Shafa bertahan dengan penantian dan cintanya kepada Rayyan?
Jangan tanyakan sampai kapan aku menunggu, Karena aku di takdirkan untuk menunggu dan kau di takdirkan untuk kembali~
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Citra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Insting Seorang Ayah
"Yang mana?" Tanya Aisyah pada Andi yang tengah memilih frame kaca mata. Ia baru saja selesai melakukan pengukuran untuk lensa yang akan ia gunakan.
"Yang ini saja" Ia memilih satu frame berbentuk segi empat agak besar untuk ia gunakan.
"Ketuaan kang, cari yang agak keren dikit kang, yang kekinian." Ujar Aisyah. Ia menunjuk salah satu frame berbentuk bulat yang saat ini sedang trend di kalangan anak muda.
"Memang saya bukan anak muda lagi Aish, yang penting nyaman" Ujarnya setelah memilih sebuah frame yang cukup elegan dan membuatnya terlihat lebih berkharisma.
Setelah selesai memilih dan membayar kaca matanya, Andi dan Aisyah segera kembali ke dalam mobil untuk melakukan misi selanjutnya, yaitu menuju alamat yang di berikan oleh Dul.
"Bismillah ya kang, semoga akang segera ketemu sama keluarga" Ujar Aisyah, ia turut bahagia jika Andi berhasil menemukan kembali keluarganya.
"Saya takut Syah" Andi nampak gelisah.
"Takut kenapa kang?"
"Saya takut kalau ternyata semua ini hanya khayalan semu. Saya takut jika saya terlalu banyak berharap" Ujarnya.
"Insha Allah semua sudah di atur kang sama yang di atas. Kang Andi kumaha, biasanya akang selalu optimis, sekarang kok jadi pesimis?"
"Entahlah Syah, perasaanku tidak enak. Astagfirullah hal adzim" Ia beristigfar saat merasakan perasaan yang tidak nyaman.
Mobil terus melaju menuju perumahan dimana Shafa tinggal, setiap jalan yang di lewati menuju rumah itu seperti menyimpan kenangan tersendiri dalam fikiran Andi. Beberapa kali ia memejamkan mata, seperti mengingat sesuatu, ada rengekan anak kecil, suara tawa, tangis dan bayangan lain yang mulai mengusik ketenangannya, menimbulkan sensasi pusing di kepalanya.
"Kang kenapa? Ini sudah mau sampai" Ujar Aisyah, ia melihat Andi sedikit pucat dengan peluh di keningnya.
"Neng sudah sampai, ini rumah yang di alamat" Ujar pak Marno Ia memarkirkan mobil tak jauh dari sebuah rumah dua lantai dengan pagar putih yang masih tertutup rapat, sepertinya sang empunya masih berada di dalam rumah.
"Ayo kang turun" Ajak Aish setelah membuka seatbelt nya. Andi masih dalam posisi bersandar dengan mata terpejam.
"Kamu saja yang turun Syah, sesuai dengan rencana kita. Kepalaku mendadak pusing" Balas Andi tanpa membuka matanya.
Akhirnya Aisyah turun dari mobil, sedangkan Andi menunggu di dalam mobil yabg terparkir di seberang jalan. Aisyah mulai berjalan mendekat ke arah pagar yang masih tertutup rapat, ia mencoba mendorong tapi tak mampu.
"Permisiiiiii" Teriaknya, tapi tak mendapat sahutan.
Dog...dog...dog... Ia memukul-mukul pagar tersebut tapi tetap tak ada respon dari dalam. Aisyah berusaha mengintip dari celah pagar untuk melihat situasi di dalam, tapi ia tak melihat seorang pun di dalam rumah itu.
"Permisiiiiiii... Assalamualaikuuum!!!" Teriaknya lebih kencang.
Dengan kesal ia kembali ke dalam mobil, namun saat ia hendak membuka pintu ia melihat seseorang keluar dari pagar do depan rumah tempat mereka parkir.
"Permisi...permisi" Aisyah menghampiri seorang ART yang hendak membuang sampah.
"Iya, ada apa ya mbak?"
"Mmm... Itu, rumah di depan orangnya kemana bu, kok kosong?" Tanya Aisyah.
"Mbak mencari siapa?"
Duh cari siapa ya? Kan aku nggak tau siapa yang punya rumah itu.
Aisyah nampak menoleh ke kiri dan ke kanan, bingung mau menjawab apa.
"Mbak?" Panggil ART di sebelahnya.
"Ah..ya? Anu saya... Emm... Saya teh nyari rumahnya Am, iya Am." Jawab Aisyah saat tiba-tiba teringat akan bocah kecil yang di ceritakan Andi.
"Benar itu rumahnya bu?" Tanya Aisyah kembali.
"Oh iya benar, itu rumah mas Am. Mbak kenal?"
"I.. iya... Minggu lalu kita ketemu di bandung" Balas Aisyah untuk meyakinkan ART tersebut bahwa ia benar-benar mengenal Am.
"Mas Am nya masih belum pulang mbak" Jawabnya ramah.
"Memangnya adek Am kemana?"
"Di klinik. Waktu pulang dari Bandung dia langsung sakit dan sampai sekarang masuk di rawat" Terang ART tersebut.
"Jadi rumahnya kosong ya bu?" Aish terlihat begitu kecewa, tapi itu bagian dari misinya untuk mengulik informasi tentang keluarganya.
"Kosong mba, kalau jam segini ibu, pasti di klinik nemani mas Am, sedangkan mas Zafran masih sekolah" Jawab ART tersebut.
"Kalau ayah nya Am kemana bu? Soalnya waktu di Bandung dia sempat salah ngenalin saudara saya sebagai ayahnya" Tanya Aisyah. Wajah ART itu nampak berubah sedih.
"Duduk mbak" ART itu menyuruh Aisyah duduk. Sebuah lampu hijau baginya. Setelah ini ia akan mengorek informasi sebanyak-banyaknya tentang keluarga Am.
"Ayah mas Am sudah meninggal"
"Innalillahi wa inna ilaihi rojiun" Aisyah menutup mulutnya tak percaya dengan apa yang ia dengar.
"Mas Am sejak kecil sangat dekat dengan pak Rayyan. Sampai sekarang pun ia selalu menanyakan kapan ayahnya pulang, dan ibunya selalu menutupi kebenaran itu dari anak-anaknya" Ujar ART tersebut dengan berurai air mata.
Astaga! wanita macam apa yang tega membohongi anaknya. Ini mah jelas bukan kang Andi. Jelas-jelas tetangganya bilang bapaknya Am sudah meninggal.
"Kalau boleh tahu ayah Am kerja di mana ya bu? Kok dia selalu bilang ayahnya ada di Mesir?" Tanya Aisyah lagi.
"Pak Rayyan dosen mbak di Universitas Indonesia. Beliau memang kuliahnya dulu di Mesir"
Dosen?
"Nama lengkapnya siapa bu?" Pertanyaan terakhir Aisyah sebelum ia berpamitan.
"Namanya pak Zidane Ar-Rayyan"
.
.
.
"Gimana Aish?" Tanya Andi setelah Aisyah masuk kembali di dalam mobil.
"Tunggu dulu ya pak" Instruksinya pada pak Marno agar jangan dulu menyalakan mesin. Ia perlu menyusun langkah selanjutnya sebelum meninggalkan tempat itu.
"Jadi gimana Aish?" Andi sudah sangat tidak sabar mendengar informasi yang di dapat Aisyah.
"Am sedang di rawat di klinik kang, katanya dia sakit setelah liburan minggu lalu. Menurut pembantu rumah itu juga, Ayahnya Am sudah meninggal. Tapi ibunya menutupi hal itu dari anak-anaknya"
"Lalu?"
"Emm... Ayahnya Am dosen UI, dia pernah kuliah di Mesir, itu mengapa ibunya mengatakan kalau ayahnya ada di Mesir" Imbuhnya.
Andi menghela nafas panjang dan kembali bersandar pada kursi mobil.
"Kayaknya bukan akang deh, karena tetangganya aja bilang ayahnya sudah meninggal" Aisyah mengusap bahu Andi seolah ikut prihatin pada laki-laki yang telah ia anggap sebagai saudara itu.
Tin...tin...
Suara klakson di depan rumah Shafa berhasil mengalihkan konsentrasi mereka. Aisyah menurunkan setengah kaca mobilnya untuk mengetahui siapa yang datang. Andi pun ikut memperhatikan dengan seksama mobil sedan berwarna hitam yang berada tepat di depan pagar.
"Astaga!!!" Aisyah menutup mulutnya. Matanya melotot dengan leher yang semakin mendongak keluar memastikan yang di lihatnya.
"Kenapa Syah?" Tanya Andi heran.
"I... itu dokter Malvin" Tunjuk nya pada seorang pria yang keluar dari mobil untuk membuka pagar pintu.
"Dokter yang akan kita datangi?"
"Iya... Ya Allah itu kan Shafa Azura, Anak pemilik Hs Clinic." Aisyah semakin terkejut dengan kenyataan yang ada di depan matanya. Dokter yang menjadi idola seisi klinik kini sedang bersama dengan anak pemilik klinik yang sudah lana di incar nya.
"Itu kan mommy nya Am Syah" Balas Andi saat wanita cantik berhijab abu-abu itu keluar dari mobil yang sama dengan Malvin dengan menggendong Zifara. Ada perasaan aneh yang tiba-tiba di rasakan Andi, seperti rasa kesal dan marah.
"Ya Allah... Sumpah Aish puyeng. Ie teh kumaha?" Aisyah menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Aku masih penasaran dengan ayahnya Am Syah" Andi menoleh pada Aisyah . Tatapannya berubah menjadi begitu serius.
"Teing Ah... Aish puyeng kang, puyeng!!! Potek hati adek melihat abang Malvin sama dia" Gumam Aisyah.
"Mending kita pulang kang, sepertinya kita salah alamat" Ujar Aisyah. Ia tak tertarik lagi melanjutkan penyelidikan, karena menurutnya tidak mungkin Am anak Andi meskipun wajah mereka sangat identik.
"Pak Marno jalan!" Ujar Aisyah.
"Tunggu pak!" Tahan Andi.
"Kang, mau ngapain lagi? Akang masih ngarep jadi bapaknya Am?Jangan ikut stress kaya emaknya atuh kang"
"Tunggu Aish!!! Kita pastikan dulu semuanya baru kita pergi" Ucap Andi, ia mengeluarkan ponselnya dari dalam saku dan memberikannya ada Aisyah.
"Buat apa kang? Semuanya udah jelas"
"Cari informasi di g*ogle! Bukankah dia putri pemilik HS Clinic. Semua informasi tentang keluarganya pasti ada rekam digitalnya termasuk tentang suami Shafa. Saya hanya ingin mengetahui seperti apa ayah Am, setelah itu kita pergi!" Ucap Andi.
"Oke..Oke!" Aisyah menyambar ponsel Andi dan mulai merekam suara di mesin pencarian nomor 1 di dunia itu.
"Oke g**gle. Zidane Ar-Rayyan suami Shafa Azura putri pemilik HS Clinic" Ucapnya yang langsung di proses oleh aplikasi pencarian tersebut. Tak lama muncul satu demi satu berita dan artikel yang memuat informasi tentang HS Clinic.
Dengan cekatan Aisyah menekan pilihan Gambar dan untuk seperti sekian detik jantungnya seakan berhenti berdetak, ia menoleh sekilas ke arah Andi dan kembali menatap ponselnya. Tangannya gemetar saat menekan gambar pada ponsel tersebut. Gambar seorang pria yang tengah memakai jas bersanding dengan wanita cantik dalam balutan gaun panjang super mewah. Foto tersebut merupakan foto Shafa dan Rayyan saat acara resepsi mereka yang di muat oleh salah satu media online.
Seakan tak yakin oleh apa yang ia lihat, Aisyah kembali mengetik keyword lain pada mesin pencarian g**gle dengan menulis "Profil Zidane Ar-Rayyan" Dengan seksama ia membaca artikel yang berisi biografi Rayyan termasuk kapan dan mengapa Rayyan meninggal dan semuanya menjurus pada satu orang, yaitu Andi.
"Ka...kang" Aisyah menatap Andi dengan wajah bahagia.
"Insting seorang ayah tidak bisa di bohongi Aish! Pak Marno, kita ke HS Clinic sekarang" Titahnya. Wajahnya yang biada tenang dan kalem kini nampak dingin dan menegang.
tp akhirnya ceritanya gantung.
tolong dilanjut sampai end kak...
ternyata selama itu kak authornya vakum
semoga sehat selalu kak ya, dimudahkan segala urusan oleh Allah SWT
Aamiiiin
ayolah kakak di lanjut lg
jngan di gantung
sy selalu mendoakan semoga kak Thor naik sehat dan selalu dlm lindungan Tuhan ,,
biar bisa lanjut
sy samapai jenuh menunggu
Tp ngomong2. Ini banyak komen gn dibaca ga sih sama si Author.
ga terlalu lebay
tapi kenapa lama sX up lanjutan nya
sampe 5 x baca bolak balik
belum ada sambung nya ,
sampe cape nunggu
sampe hafal cerita nya karna berulang X di baca
malah sampe geregetan sama AUTHOR nya
kenapa blm UP lg
sampe nangis di tinggal AUTHOR ngilang begitu Saja
tapi kenapa kelanjutan nya belum ada juga tor
lanjut dong biar seru
sampe bosen bacanya 5X baca loh ,,
sampe khatam ceritanya