[SEDANG DIREVISI] S2 nya silakan baca—{Menikahi Mantan Dewa Tertinggi} generasi anak Fu Chan Yin.
Dia menjadi istri surga sang Raja Neraka
Sebelumnya, Fu Chan Yin merupakan agen termuda zaman modern. Tiba-tiba berpindah dimensi ke zaman kuno yang membutuhkan energi spiritual untuk bertahan hidup. Sebagai pewaris esensi delapan dewa-dewi, dia menjadi yang disegani di dunia langit. Dan hidupnya telah ditakdirkan menjadi bintang phoenix sang Raja Neraka, Xiu Jichen.
Pria itu masih ras iblis yang dingin, sombong, kuat dan mendominasi. Dia ditakdirkan untuk memegang gadis itu dalam hidupnya, agar tidak ada orang lain yang berani menatap kecantikannya.
Gadis itu pintar, tak terkalahkan, mampu membuat racun, menjinakkan binatang roh dan memasang array spiritual. Bahkan mengontrak binatang roh suci kuno.
Tapi dibalik itu semua, Fu Chan Yin memiliki kelahiran yang misterius. Dan perjalanan ini, akan mengungkapkan semua jati dirinya. Akankah semuanya terjawab?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Risa Jey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dibuka Secara Paksa, Rusak
PINTU belakang terdapat pada bawah tanah. Ada banyak tulisan rahasia yang membentuk lingkaran pada permukaan tanah. Hanya Fu Chan Yin yang mengerti tulisan rahasia tersebut, bisa mengubah atau membuat banyak dari mereka. Ada juga beberapa simbol yang disematkan dengan tulisan rahasia.
Lalu pintu samping yang dianggap paling ilegal. Biasanya seseorang yang memiliki kemampuan besar atau tulisan rahasia yang sama mampu melakukannya. Contohnya ras iblis. Mereka bisa memasukinya jika seseorang telah membuka jalan dengan kemauannya sendiri. Pintu samping terletak di beberapa tempat paling berbahaya dan jarang ada orang yang selamat.
Sementara pintu atas ada di langit. Ada formasi tak terlihat di langit. Setidaknya satu kilometer dari permukaan tanah. Tulisan rahasia terdapat pada formasi pentagram bersimbol lima elemen. Ini pintu paling khusus bagi orang-orang dari dunia yang lebih tinggi. Meski begitu, mereka tak berani memasuki Pagoda Neraka seenaknya. Seberapa kuatnya mereka, tempat tersebut memiliki ketakutannya tersendiri.
"Seseorang yang berhasil membuka pintu belakang pasti orang yang kuat. Penguasa, apa tujuanmu selanjutnya?" tanya Loah antusias.
"Aku akan kembali."
"Kembali? Begitu cepat? Tidakkah Penguasa akan menginap dan melakukan jamuan. Sudah lama sejak kau pergi, kami merindukanmu." Loah membujuk sambil menggoyangkan ekor buayanya sesekali.
"Apakah penguasa sebelumnya juga sering pergi?"
Siluman buaya itu enggan menjawab tapi masih mengangguk, "Dulu juga seperti itu dan datang beberapa ratus tahun sekali. Penguasa sebelumnya terlihat tidak mementingkan kami tapi sebenarnya dia sangat peduli. Saat dia mati, dia khawatir Dunia Pagoda Neraka akan berantakan tanpa pemimpin. Oleh karena itu menyegel tempat penyucian untuk mendapatkan penguasa yang baru."
Itulah kenapa Fu Chan Yin menjadi penguasa. Dia juga melakukan penyucian selama ribuan tahun. Mungkin penguasa sebelumnya khawatir bahwa Dunia Pagoda Neraka akan jatuh ke tangan yang salah. Jadi ujilah sang calon penguasa baru dan berikan berbagai rasa sakit sebelum mendapatkan manfaat.
"Tapi aku tidak mengadakan jamuan saat ini. Kamu bisa mengaturnya untuk mewakiliku ...."
Tiba-tiba saja Fu Chan Yin mengerutkan kening, merasakan tubuhnya sakit seperti dirobek dari dalam. Wajahnya menjadi pucat. Satu tangannya memegang zaoshan Blacky dengan erat. Loah dan Blacky terkejut hingga tak lepas dari gadis itu.
"Pe-penguasa?!" Loah berteriak kaget. Ia juga merasa tubuhnya tidak nyaman namun tak merasakan apapun selain ketidaknyamanan.
"Tuan, apa yang terjadi?" tanya Blacky mulai panik. Ia mengerutkan kening dan membantu majikannya tetap berdiri kokoh.
"Rasanya tubuhku dirobek!" desis Fu Chan Yin berusaha bersuara. Dadanya sangat sakit dan tampak akan dihantam batu besar. Dia memiliki penglihatan kabur saat ini.
"Apa? Mungkinkah kedua iblis kecil itu ..." Blacky tidak bisa membayangkannya. Hanya ada satu alasan untuk ini, ada pintu samping yang dibuka paksa.
"Aku tidak tahu." Fu Chan Yin menanggapinya dengan jujur. Ia benar-benar tidak tahu. Tapi merasa bahwa tubuhnya dirobek dan itu menyakitkan.
Gadis itu menggeleng dan menyentuh dadanya. Rasa sakit yang luar biasa, ditambah kekuatannya mulai berantakan—membuat keduanya bingung harus berbuat apa. Ia langsung memuntahkan darah segar.
"Tuan!!" Blacky mulai merasakan apa yang sedang diderita Fu Chan Yin. Ia melirik Loah yang tengah kebingungan sekaligus panik.
"Katakan apa yang terjadi?" tanyanya menuntut.
"Mungkin ... Mungkin ada pintu samping yang dibuka paksa atau rusak karena kekuatan tertentu. Karena Penguasa terhubung langsung dengan semua pintu, maka dampaknya akan terlihat jika pintu-pintu mengalami kerusakan," jelas siluman buaya itu tanpa ragu-ragu.
Tapi ia masih sedikit bingung. Bagaimana mungkin ada pintu yang dibuka secara paksa. Loah telah memeriksa semua pintu dan para penjaga memastikan itu sangat aman.
"Sial! Ini memang seperti dugaanku!" gerutu Blacky. "Kedua iblis itu benar-benar berani. Tuan, haruskah aku membunuh mereka?"
Fu Chan Yin menggelengkan kepala. "Terlambat. Lagi pula biarkan saja. Aku sudah mulai membaik. Bawa aku keluar dari sini."
"Tapi ...."
"Lupakan!"
Blacky hanya bisa mendesah dan menuruti permintaannya tanpa protes. Setelah mengintruksikan Loah beberapa hal, keduanya meninggalkan Pagoda Neraka melalui pintu utama. Dua penjaga siluman rubah memberi hormat padanya saat datang. Sama seperti Loah, keduanya memiliki perawakan seperti manusia, namun bentuknya rubah. Telinga panjang dan moncong indah, serta sembilan ekor cantik.
Muncul di hutan, Fu Chan Yin akhirnya bisa bernapas lega. Ia menelan pil pemulihan untuk menenangkan kekuatannya yang mengamuk. Blacky mengamati dari samping. Melihat majikannya yang tampak tak berdaya, perasaannya juga tidak nyaman. Ia kembali ke dimensi ruang dan membiarkan Roh Bunga menemaninya.
Saat keluar, Roh Bunga mengkhawatirkannya secara berlebihan, membuat Fu Chan Yin tak tahan untuk menampar wajah sok tampannya. Sementara hari masih pagi. Keduanya menyusul keberadaan kelompok Huang Fu Jung. Tidak ada halangan saat melalui perjalanan, tapi ada bekas pertarungan yang menonjol.
Huang Fu Jung dan yang lainnya mungkin kembali menemui bahaya sepanjang perjalanan. Tanpa peta atau lokasi yang akurat tentang keberadaan binatang roh, sangat sulit untuk mendeteksi bahaya. Apalagi Energi spiritual hasil kultivasi benar-benar hilang saat memasuki hutan.
"Haruskah kita langsung mengejar mereka?" tanya Roh Bunga manja, mengikuti langkah majikannya dengan anggun. Zaoshan merah mudanya sedikit berkibar saat angin berembus.
"Tidak perlu terburu-buru. Cari tempat untuk membuat pil dan menyusun array. Aku belum pernah memasuki kota sama sekali. Harus buat persiapan, setidaknya untuk berjaga-jaga."
"Ada gua tersembunyi di hutan paling dalam. Sepertinya itu aman." Roh Bunga mengusulkan.
"Baiklah. Ayo pergi." Gadis itu mulai berteleportasi bersama Roh Bunga.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hutan paling dalam lebih gelap dan lembab. Sumber cahaya matahari hanya sedikit menyelinap dari pepohonan yang sangat rindang. Bahaya yang dihasilkan juga lebih besar. Di sana, berbagai binatang kecil mematikan tak terhitung jumlahnya. Tanaman pemakan serangga atau bunga karnivora bisa berkamuflase dengan baik.
Fu Chan Yin sudah meluangkan waktunya untuk bertarung dengan mereka ketika tiba di hutan terdalam. Yang paling menjengkelkan adalah ketika serangga beracun mulai mengintainya diam-diam dan menyerang bersamaan.Untungnya Fu Chan Yin kebal terhadap racun dan menganggap mereka sebagai nyamuk yang mencium kulit mulusnya.
Sementara Roh Bunga sama sekali tidak mengalami gangguan apapun. Sebagai Roh yang sakral, tidak ada serangga atau tanaman hidup yang mengintainya. Tapi ia membantu Fu Chan Yin mengatasi mereka dengan tanaman merambat atau bunga beracun.
"Apa masih jauh?" tanya Fu Chan Yin seraya mengibaskan tangan kanan. Dia membunuh kumpulan lebah hitam yang datang tiba-tiba untuk menyengatnya. Hanya dengan sekali kibasan, mereka mati.
"Sebentar lagi sampai. Ah, itu ... Di balik tanaman merambat itu." Roh Bunga menunjuk ke arah depan dengan mata berbinar. Ia melewati Fu Chan Yin dan menyingkap tanaman merambat yang cukup lebat.
"Heiii ..." Fu Chan Yin berseru.
Ada gua di balik tanaman itu? Ia merasa heran. Bagaimana tempat ini memiliki gua yang aman. Bisakah itu menjadi tempat untuk membuat pil dengan tenang?
Di baliknya ada sebidang tanah berbatu kapur dan mulut gua yang cukup lebar. Fu Chan Yin mengamatinya sejenak sebelum melihat dalam kegelapan gua. Aura kegelapan samar-samar menguar, hanya sedikit tapi membuatnya mengerutkan kening.
ibu fu can yin
ceritamu seru keren 😘😘😘😘😘😘