Kisah Sofia dalam menghadapi tujuh tahun naik turun dalam pernikahannya yang penuh kesedihan.
Di awali dengan berbagai kebohongan yang dibuat oleh Suaminya sejak awal pernikahan mereka.
Evan yang telah merenggut hal paling berharga milik Sofia.
Satu persatu kebohongan terungkap, Sofia mencoba bertahan dan memaafkan Suaminya lagi dan lagi karena cintanya pada Evan, dan Sofia yang melihat ketulusan Suaminya yang menerima kelemahannya.
Namun Suaminya tidak pernah berubah, kebohongan demi kebohongan selalu dia buat, sikapnya yang perlahan berubah dan menyakitinya, dan menghacurkannya.
Ibu Mertua yang selalu mencari masalah dengannya.
Sampai akhirnya, kesabaran Sofia tiba pada batasnya.
Batas Akhir dari Cintanya Pada Evan.
Apakah dia masih sanggup bertahan?
Atau malah bisa menemukan kebahagiaannya yang lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Za L Lucifer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 15: Curiga
Mendengar kata-kata Erina itu, Sofia sedikit gugup, namun segera berbicara dengan percaya diri,
"Eh? Apa? Suamiku Evan enggak kayak gitu lagi, dia cinta banget sama Aku, hubungan kami masih sangat baik."
"Iya maaf, Aku hanya sedikit salah bicara. Kamu benar-benar sangat beruntung bisa ketemu, Suamimu itu ya,"
"Memang, dia adalah Pria terbaik yang pernah Aku temui selama ini..."
Hanya....
Sofia mencoba untuk tidak berpikir yang tidak-tidak, walaupun Suaminya belakangan sedikit berubah, namun Sofia masih yakin Suaminya setia. Kata orang, dalam pernikahan memang sering terjadi pasang surut seperti itu, namun pasti akan baik-baik saja.
Hanya saja, malam pada akhirnya, Suaminya yang katanya lembur itu, malah tidak pulang. Di pagi hari, Sofia merasakan tempat tidur kosong disampingnya.
"Loh? Mas Evan kemana kok tidak pulang sih?"
Sofia lalu mulai mengecat ponselnya namun tidak ada kabar atau pesan apapun dari suaminya itu.
Tentu saja, Sofia segera diliputi dengan kekhawatiran.
"Jangan bilang, terjadi sesuatu pada Mas Evan?"
Sofia yang panik segera menelepon Suaminya itu. Cukup lama telepon berdering namun belum juga diangkat. Setelah mencoba sekali lagi, barulah telepon diangkat.
Ada suara sedit panik dari ujung telepon,
'Sofia? Ah, Maaf semalam Aku tidak pulang, karena lembur di kantor dan akhirnya aku tidur di sini karena begitu lelah.'
"Astaga, Mas Evan bikin khawatir saja aku kira terjadi sesuatu padamu."
'Aku baik-baik saja sayang, Kamu tidak usah khawatir.'
"Besok-besok kabari dong kalau tidak pulang, bikin aku hampir jantungan saja,"
'Maaf sayang, semalam itu Mas capek banget jadi langsung tidur di Kamar di ruanganku.'
"Ya udah Mas gak papa. Apa aku anterin baju sama sarapan? Aku tak buru-buru kesana,"
'Eh... Eh, enggak Usah aja Sofia.'
"Loh, tapi Mas kan enggak ada baju ganti di Kantor."
'Sudah nanti kamu antarnya sambil berangkat kerja aja, enggak usah buru-buru, kalau udah mau jalan nanti kirim pesan dulu ya.'
"Ya udah deh Mas kalau itu yang Mas mau."
Pagi itu, walaupun Suaminya tidak memintanya buru-buru untuk pergi ke Perusahaan, tetap saja Sofia datang lebih cepat dari biasanya. Tentu saja selain membawa baju ganti dia suka menyiapkan beberapa sarapan sederhana yang di sukai Suaminya.
Ketika Sofia sampai di kantor, dia melihat Suaminya Evan yang terlihat memiliki ekspresi kelelahan seperti baru saja lari-lari dari jauh, dan berkeringat.
"So--Sofia? Kamu sudah tiba? Sangat cepat,"
"Kan ya Apartemen cuman Deket Mas. Mas sendiri gimana? Kok kayak habis keringetan gitu?"
Evan segera mengusap krigat di dahinya, dan berkata dengan gugup,
"Kamu tahulah, Aku sedikit berolahraga pagi untuk merenggangkan tubuh."
"Tapi tidak biasanya kamu olahraga seperti itu? Biasanya hanya akhir pekan saja,"
"Hahahaha, tidak apa-apa hanya untuk menjaga kesehatan karena belakangan aku sering lembur."
"Ah, jadi begitu. Sudahlah, ini Mas Aku sudah membawakanmu baju ganti dan sarapan, sana mandi dulu, nanti baru makan."
"Terimakasih, Sofia sayang..." Kata Evan sambil memeluk Sofia dan mencium keningnya.
"Udah sana mandi dulu, bau tahu!"
"Walau begini kamu tetep mau kan?"
"Udah deh, jangan nakal pagi-pagi..."
Evan pun segera menuju kamar mandi dan bernafas lega.
Ketika keduanya selesai dengan Sarapan, baru disini Sofia akhirnya bisa mengutarakan hal-hal yang ingin dia katakan dari kemarin.
"Mas Evan apakah sekarang benar-benar lagi sibuk-sibuknya?"
Evan menjawab dengan gugup,
"Begitulah, belakangan emang banyak pekerjaan ini itu kamu tahu lah saat ini perusahaan sedang masa penting."
"Emm, Apakah Mas Evan mau Aku bantu jadi Asisten lagi seperti sebelumnya?"
Evan yang mendengar itu segera memiliki ekspresi sedikit panik dan berkata,
"Astaga, tidak perlu sampai seperti itu Kamu sendiri kan juga punya pekerjaan yang harus kamu urus...."
"Sebenarnya, Aku ingin berhenti kerja dulu sementara, namun melihat kamu bekerja begitu keras seperti ini sepertinya keputusanku ini harus ditunda."
"Eh? Memangnya kenapa? Kok tiba-tiba sekali?"
Sofia segera bingung mulai dari mana menjelaskannya, namun dia juga tidak bisa berbohong.
"Aku sebenarnya sudah berkonsultasi pada Dokter, untuk Program Kehamilan, dan Dokter bilang untuk meningkatkan keberhasilannya aku harus menjaga kesehatanku salah satunya dengan mengurangi terlalu banyak aktivitas dan pikiran, jadi Aku berencana tidak kerja dulu sementara, Tapi..."
Evan yang mendengar alasan itu segera menunjukkan ekspresi tidak senang.
"Sofia, Apakah kamu tidak lelah ikut konsultasi dan program-program seperti itu juga? Sudah tahu tidak ada hasilnya dari dulu!"
Mendengar kemarahan itu, Sofia mencoba sabar.
"Mas Evan tidak boleh seperti itu namanya juga usaha,"
"Tapi Sofia, kita kan juga sudah usaha, namun tidak juga ada hasilnya. Hanya ada kekecewaan, sebenarnya Aku cukup lelah seperti itu, jika memang tidak berhasil mending tidak perlu dicoba sama sekali daripada hanya memberikan harapan palsu!"
"Mas tidak boleh begitu dong!"
"Sofia, kenapa sih kamu itu keras kepala sekali dibilangin? Aku sudah bilang, tidak apa-apa jika tidak ada anak."
"Mas Evan bilang begitu, namun bukannya Mas Evan sendiri yang padahal paling peduli soal itu? Terutama soal kata-kata orang soal itu."
"Ya itu kamu tahu kan? Ketika kamu mengikuti program ini itu dapatkan sampai bayi tabung segala menurutmu orang tidak banyak berbicara tentangku? Terutama orang tuaku, hah dan hasilnya gagal lagi dan gagal lagi, aku itu muak!"
"Tapi...."
"Sofia cukup! Sudahlah Aku tidak ingin bertengkar lagi atau berdebat denganmu Apapun yang kamu lakukan itu terserah padamu Apakah kamu masih ingin melanjutkan program itu dan bahkan mau berhenti bekerja itu benar-benar urusanmu aku sudah tidak ingin peduli!"
"Mas Evan tidak bisa begitu!"
"Sudahlah, Sofia aku capek sekali, mau Istirahat sebentar sebelum jam masuk kantor."
Evan segera pergi ke Ruang Istirahat yang berada tepat di samping ruangannya itu, meninggalkan Sofia sendirian.
Sofia juga segera pergi dari sana setelah membereskan kotak makan. Dia juga merasa lelah dengan respon Suaminya itu.
Namun pada akhirnya, Sofia sudah menentukan bahwa dia masih ingin berusaha sekali lagi. Harapan masih ada, dan tidak boleh menyerah.
####
Beberapa hari berikutnya, Sofia benar-benar sudah menyerahkan surat pengunduran diri sementara miliknya pada HRD dan mengurus semuanya. Tentu saja, Evan sudah tahu tentang itu.
Dan pagi ini adalah hari pertama Sofia tidak lagi bekerja.
"Jadi kamu benar-benar sudah memutuskan untuk tidak berkerja?"
"Benar Mas Evan."
"Ya sudah kalau memang itu keputusanmu aku akan menghargainya Aku harap kamu senang dengan itu dan bisa menikmati waktumu sekarang."
"Terimakasih Mas Evan lalu...."
"Sudah cukup, Aku tidak ingin membahas hal-hal lain. Owh iya, aku sempat lupa bilang padamu bahwa untuk satu minggu kedepan Aku ada rencana pergi ke Luar Kota."
"Eh? Kok tiba-tiba sekali?"
"Ini bukan tiba-tiba, namun memang ada Tugas memantau salah satu tempat Syuting yang didanai oleh Perusahaan."
"Jadi begitu. Kamu akan pergi kapan?"
"Nanti malam."
"Begitu cepat? Padahal aku ingin mengajakmu makan malam bersama, kita kan sudah lama tidak makan bersama diluar."
"Maaf sayang, Aku janji setelah pulang dari Luar Kota, akan meluangkan waktu untukmu."
"Hmm, baiklah kalau begitu."
Sore itu, karena Sofia juga tidak ada kerjaan dia mulai menyiapkan Koper yang akan dibawa pergi oleh Suaminya. Hanya saja, dia tiba-tiba menemukan hal-hal tidak terduga disalah satu Jas milik Suaminya.
"Huh? Surat tagihan Kartu Kredit? Kenapa begitu banyak? Dan isinya baju-baju dan perhiasan? Buat apa Mas Evan beli beginian ya?"
Sofia tiba-tiba menjadi curiga. Lalu dia teringat perubahan sikap Suaminya belakangan ini.
"Tidak, Mas Evan tidak mungkin punya wanita simpanan kan ya?"
Sofia tiba-tiba saja cemas.
"Tunggu, mungkin saja itu hadiah untuk Mama dan Kakak Ipar?"
Sofia mencoba untuk berpikir positif, nanti biar dia cari tahu lagi dari orangnya.
Namun walaupun dia sudah berpikir positif tetap saja rasa cemas dan curiga masih memasuki hatinya.
dan akhir yg cukup memilukan bagi Evan yg terakhir ini sdh berubah lebih baik 👍😊
selamat ya bas, calon Bastian junior akan launching n licya akan jadi kakak 🤗😘
sabar ya Van, semua butuh waktu
terimakasih kakak, telah menemani emak dengan kisah mu yang cukup menguras emosi 😊
tetap semangat dan sukses selalu
so mulailah saling terima kekurangan dan kelebihan masing-masing, karena kepercayaan adalah dasar kuatnya sebuah hubungan 🤗
ayo dong Sofia jangan bikin emak n readers se-Indonesia gemas saking g tahan pada ego kalian 😚