Mengidap Endometriosis, bagai vonis mimpi buruk bagi wanita mana pun hingga terpaksa melakukan operasi dan proses bayi tabung, namun perceraian justru harus terjadi.
Berjuang sebagai orang tua tunggal dengan kehadiran kedua buah hati yang terlahir fraternal, membuat hari-hari Irene tidak terduga hingga pertemuan tak terduga kembali terjadi dengan Hendrik, menyisakan pertanyaan yang tanpa diketahui ada bahaya mengancam di saat kebenaran mulai terungkap.
Di saat pertemuan dan genggaman tangan itu menarikmu, apa kau akan berbalik untuk bersama atau justru meninggalkan kembali?
Ikuti kisah Irene & Hendrik selanjutnya, tak lupa Xander & Xavia yang menggemaskan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fidia K.R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertanyaan 5
Terdengar perumpamaan mengenai anak kembar bahwasanya akan membuat cinta lebih kuat, hari lebih pendek, malam lebih panjang, rekening bank lebih kecil, rumah lebih bahagia, pakaian lebih lusuh, masa lalu terlupakan dan masa depan layak untuk dijalani.
Setidaknya itulah yang harus di pahami tak kala sepasang cinta memang menyatu dan menjalin sebuah hubungan yang memang indah untuk dibicarakan. Tapi apa jadinya jika hubungan itu berakhir sejak lama, jauh dari kehadiran kedua kembar buah hasil cinta yang ditinggalkan?
“Jadi pria ini, bukan hanya mengancam tapi ia juga yang mengamati pergerakan kepindahan Irena dan keluarganya? Maksudmu mengikuti keluarga Farmer? Gila, benar-benar tidak masuk akal,” ucap Bastian merasa ada yang janggal setelah mendengar rekaman suara yang Irene kirimkan.
“Ya, karena itu kita tidak bisa menemukan mereka. Irene dan keluarganya dibawa ke Arlington, kemudian Austin, sebelum akhirnya menetap di Dallas. Mereka berhasil kabur dari pria itu saat dalam perjalanan menuju San Antonio,” jelas Hendrik dengan nada berat dan sedikit tertunduk.
“Aku tahu kau sangat kesal, tapi kita harus berpikir jernih siapa sebenarnya pria ini karena Irene pun tidak pernah bertemu dengannya bukan? Jadi dengan kata lain, pria ini mempunyai sindikat mafia, karena setiap pria yang datang menghampiri keluarga Farmer berbeda-beda.”
“Bass, kau pernah terlibat di dalamnya. Apa menurutmu, ada kemungkinan mereka adalah orang-orang yang mencarimu karena kau berhenti dan memilih bekerja bersamaku?” tanya Hendrik.
“Jika benar, seharusnya aku menyadari keberadaan mereka. Atau mungkin ... ada rencana lain yang mereka sembunyikan karena tahu kau kini memegang kartu merah mereka?” tanya Bastian pada Hendrik yang mengerutkan alisnya.
“Maksudmu, Luckert masih beroperasi? Bukankah kelompok mafia itu sudah kita tuntaskan saat bekerja sama dengan FBI?” Hendrik berbalik bertanya pada Bastian yang juga merasa ragu.
Terulang kenangan pada kejadian masa lalu di mana jauh sebelum pertemuan dengan Irene terjadi. Kehadiran Bastian yang kala itu sebagai salah satu anggota mafia terbaik bernama Luckert, berusaha membunuh Hendrik yang kala itu sedang dalam masa penolakan para dewan direksi.
Mengambil alih jabatan CEO diusianya yang masih terbilang muda, tentu akan banyak musuh yang menentangnya terlebih bisnis usaha keluarga Kessler yang sudah perlu diragukan lagi perkembangannya yang kian melesat mendapat keuntungan berlipat di dunia bisnis internasional.
Masa lalu Bastian yang kelam menuntun pertemuan tidak terduga pada Hendrik yang kala itu sedang mengatasi masalah pengeluaran perusahaan yang kian membengkak dengan jumlah produksi yang tidak mencapai target. Kepintaran dengan keahlian Hendrik yang tidak perlu diragukan pun dapat menemukan di mana titik masalah namun tidak menyadari justru menjadi bertaruh nyawa.
Rahasia tersembunyi yang sengaja Hendrik tidak keluarkan sampai detik ini, sengaja ia lakukan agar dapat menangkap sosok Mr. JK yang tidak dimengerti akan mengapa, kenapa, atau alasannya dari melakukan tindakan perlawanan pada Hendrik yang tidak mengenalnya sama sekali.
“Jika dibiarkan terus seperti ini, Irene dan keluarga Farmer akan dalam bahaya. Hendrik, kau harus segara melakukan sesuatu,” ucap Bastian dengan menatap Hendrik begitu serius.
“Aku tahu.”
***
Kembali bekerja pada keesokan harinya, kejutan tak terduga kembali Hendrik dapatkan tak kala Irene mengundurkan diri dari proyek pembangunan dan melimpahkan pekerjaannya pada rekan kerja yang lebih senior atau berpengalaman darinya.
Terbawa suasana hati membara, tentu Hendrik mempertanyakan maksud dari tindakan Irene saat ini di mana Hendrik merasa bahwa hubungannya dengan Irene mulai membaik. Prasangka yang ternyata salah besar, dengan Irene yang kembali menjaga jarak akan alasan buram.
Hendrik semakin merasa kesal tak kala Luke yang selalu pergi meninggalkan meeting dengan alasan yang tidak dimengerti. Kedekatan Luke dan Irene semakin tersebar di perusahaan hingga akhirnya memuncaklah emosi jiwa yang meluap tak lagi terbendung.
(SYUTT) (SYUTT) (SYUTT) (SYUTT) Hendrik melempar satu per satu map dokumen hasil desain bangunan dari para arsitek terbaik yang menawarkan diri untuk menggantikan Irene.
“Hanya ini? Sudah kubilang kalau aku ingin bangunan yang lebih modern! Tidak menyita tempat lebih dengan alat-alat produksi serta ruangan para pegawai yang terpisah jauh!” ucap Hendrik.
“Tapi, bukankah Mr. Hendrik sendiri berkata ingin memangkas model bangunan yang tidak terpakai karena sudah banyak waktu yang terbuang percuma? Jika ingin be—”
“Aku bilang memangkas, bukan berarti membuang! Apa kau tidak mengerti maksud dari omonganku ini?!” balas Hendrik dengan begitu ketus memotong pembicaraan salah satu arsitek senior.
“Desain sebelumnya begitu luas dengan jumlah ruangan yang cukup! Bahkan rangka bangunan pun berdiri kokoh. Perlu kalian tahu, aku berniat mendirikan anak cabang di kota ini bukan untuk sebagai gudang penyimpanan tapi untuk produksi kedua Levelex yang sedang ku kembangkan! Jadi, jika kalian tidak memiliki kompetensi dalam hal ini, lebih baik mengundurkan diri!”
Sentakan tegas Hendrik membuat para arsitek senior pun terdiam berdiri mematung dengan kepala mereka yang tertunduk merasa tidak berguna. Entah sudah berapa desain bangunan yang mereka berikan, sungguh tidak mudah memenuhi keinginan Hendrik, CEO PT. Etheral.
Tahu bahwa kerajaan indsutri kerajaan Kessler tidak bisa dianggap kecil, namun cukup membuat mereka membenci Hendrik yang benar-benar begitu tegas dalam mengambil keputusan hingga membuat mereka kewalahan menghadapinya.
Tiga hari berlalu dengan percuma dengan kegiatan proyek pembangunan yang kembali tertunda karena tidak ada satu pengawas yang datang ke lokasi pembangunan dari tempat Irene bekerja. Terancam pemutusan kontrak kerja sama, Luke pun akhirnya memberanikan diri menemui Hendrik yang kala itu ternyata sedang menyelidiki keberadaan Mr. JK di sebuah hotel tengah kota.
“Mr. Hendrik!” ucap Luke sedikit meninggikan suaranya, mencoba untuk menghentikan langkah Hendrik yang terlihat begitu terburu-buru.
“Kau pergilah lebih dulu,” Hendrik segera berbisik pada Bastian, hingga langsung berlari menuju pintu lift dengan begitu tergesah.
“Ada apa mencariku? Tahu dari mana aku di sini?” tanya Hendrik dengan mengerutkan kedua alisnya pada Luke. Namun Luke tiba-tiba memberikan sebuah kartu nama pada Hendrik.
“Jakov Kulver? ... Apa ini maksudnya?” tanya Hendrik kebingungan seraya menadah ke atas kartu nama yang diberikan Luke padanya.
“Mr. Jakov adalah salah satu klien penting PT. Loic, dan kami sempat bertemu tadi, kebetulan ia pun berada di hotel ini. Dia berkata mungkin kau ada di sini,” balas Luke dengan sedikit gugup.
“Aaahh ... apa yang kau adukan padanya? Lagipula, aku tidak begitu mengenal Mr. Jakov. Apa dia mengenalku?” tanya Hendrik begitu penasaran pada Luke yang akhirnya sedikit tersenyum.
“Ya, dia mengatakan bahwa kau dan dia pernah terlibat bisnis bersama karena itu dia sangat mengenalmu. Dan tentu aku berniat untuk membicarakan mengenai pembangunan proyek padamu ... bisakah kita berbicara sebentar,” pinta Luke sedikit memohon.
Diambang kegelisahan, Bastian mengirimkan sebuah pesan pada Hendrik untuk memberitahu bahwa Mr. JK sudah meninggalkan hotel sejak dua jam yang lalu. Merasa kesal karena kedatangan yang terlambat, Hendrik tanpa sadar meremas kartu nama yang diberikan Luke padanya.
Mencoba mengendalikan emosi dengan sekembalinya Bastian menuju lobby utama hotel, percakapan pun akhirnya terjadi di restaurant hotel yang berada di ballroom samping hotel. Mencoba bernegosiasi Luke meminta Hendrik untuk memberikan kesempatan serta memberitahunya desain bangunan seperti apa yang Hendrik inginkan.
Merasa bosan dan membuang waktu percuma karena Hendrik sudah menjelaskan sebelumnya, Bastian menginjak kaki Hendrik seraya menegurnya untuk bersikap profesional. Hendrik tidak memperdulikan teguran Bastian dengan larut memainkan handphonenya.
“Mr. Hendrik, bagaimana menurut anda?” tanya Luke pada Hendrik.
“Mr. Luke, sepertinya anda masih belum mengerti bagaimana kebiasaanku dalam bekerja. Bukankah sudah kubilang sebelumnya, kalau aku tidak ma—”
“Makan. Mr. Hendrik saat ini lapar, sebenarnya dia seperti ini karena sejak pagi belum sarapan ... jadi maafkan dia! Bagaimana jika kita makan siang bersama dahulu kemudian lanjut berbincang masalah pekerjaan?” ucap Bastian tersenyum namun memberikan tatapan maut dengan mulut miring bergumam tak jelas, hingga membuat Hendrik terpaksa setuju dengan pendapatnya.
Di tengah-tengah jamuan makan siang, Bastian terlihat menggantikan Hendrik untuk berbicara dengan Luke yang kini terlihat begitu antusias kembali. Jujur bagi Hendrik kehilangan kontrak kerja sama yang tidak begitu menguntungkan meski ia sudah menghabiskan beberapa puluh ribu dollar, Hendrik enggan mengambil pusing pada hal yang tidak menarik untuknya.
Percakapan berlangsung dengan sebuah keputusan akan permintaan Irene yang kembali mengambil proyek pembangunan karena sejak awal Irenelah yang seharusnya bertanggung jawab dan tidak semudah itu melepaskan pekerjaannya. Merasa perkataan Bastian benar, Luke pun akhirnya menyetujui permintaannya dan akan menyuruh Irene untuk kembali bekerja dalam proyek.
Selesai berunding dan makan siang bersama, di saat tengah lanjut berdiskusi mengenai pekerjaan, tatapan Hendrik seketika menjurus pada sosok wanita bergaun merah muda panjang dengan motif bunga, berjalan masuk dengan begitu anggun menuju meja resepsionis. Tanpa sadar berdiri, Hendrik langsung berlari menghampiri wanita tersebut meninggalkan Bastian dan Luke begitu saja.
“Apa yang kau lakukan di sini?!” tanya Hendrik saat menarik tangan Irene agar dapat menatapnya.
“Aa-apa yang ... sedang apa kau di sini?” Irene yang terkejut pun bertanya balik dengan nada tak beraturan.
“MOMMY, MOMMY ...,” teriak kedua kembar secara berbarengan, berlari ke arah Irene.
“Paman tampan juga ada di sini? ... Apa Paman mau menemani kami bermain lagi hari ini?” tanya Xavia dengan tatapan malaikatnya, menarik celana kain Hendrik dari bawah.
“Putri Xavia, ksatria Xander ... sedang apa di sini? Boleh Paman tahu?” tanya Hendrik dengan langsung melipat kedua kakinya agar sejajar dengan kedua kembar.
“Paman Luke berkata kami boleh berlibur hari ini karena besok libur... Paman lihat? Ini tasku, Via, dan Mommy ... kami akan menginap malam ini di hotel ... ada kolam renang besarrrr dan pasir,” Xander menjelaskan penuh antusias hingga membuat Irene kesulitan menghentikannya berbicara.
“LUKE?! Maksudnya kalian berempat akan, menginap malam ini di sini? Di hotel ini?” tanya Hendrik penuh terkejut hingga tak sanggup berkata kembali.
“Yaa Paman ... Xavia juga nanti mau main di pa—”
“TIDAK BOLEH! Kalian ikut aku sekarang!” Hendrik seketika menggendong Xander dan Xavia bagai menculik mereka, dengan Irene yang terkejut berlari mengejarnya dari belakang.
“Mr. Bastian, bisa jelaskan padaku ada hubungan apa antara Hendrik dan Irene?” tanya Luke begitu serius, yang saat ini menatap Hendrik sedang menghancurkan rencana yang sudah ia persiapkan.
“Itu ... mereka ... mungkin lebih baik, jika anda menanyakannya secara langsung.”
Kepergian Bastian dengan terburu-buru pun akhirnya dapat menjawab sedikit kecurigaan Luke saat ini akan pertanyaan yang sejak lama ingin dia tanyakan. Hendrik, kau seperti ingin mengambil alih perusahaanku, dan kini kau juga ingin mengambil sesuatu yang seharusnya menjadi milikku?!
“Jika kau ingin berani bermain api, maka bersiaplah untuk terbakar!”