NovelToon NovelToon
Ditinggal Menikah Dipinang Pewaris

Ditinggal Menikah Dipinang Pewaris

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO
Popularitas:484
Nilai: 5
Nama Author: Anjana

Ketika Zilia mengetahui kekasihnya menikah dengan wanita lain, hidupnya seketika berubah.
Belum sempat menyembuhkan luka, ia justru dijodohkan dengan Rafael, pewaris keluarga Darmawan yang nyaris tidak dikenalnya. Namun, siapa sangka jika Vio datang kembali dan bersumpah akan merebutnya, sementara Rafael terang-terangan bahwa Zilia sebagai calon istrinya.
Di antara cinta lama, perjodohan, kecemburuan, dan rahasia keluarga, Zilia tidak pernah menyangka, bahwa pria yang awalnya hanya dianggap sebagai pengganti, justru akan menjadi lelaki yang mengubah seluruh hidupnya.

Akankah Zilia mendapatkan kebahagiaan? Atau justru ujian hidupnya semakin berat.
Penasaran? yuk ikuti jalan cerita mereka

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 15

Sesampainya di kamar, Zilia langsung menjatuhkan tubuhnya ke atas tempat tidur.

Ia memejamkan mata sambil mengembuskan napas panjang.

"Kenapa hidupku jadi serumit ini..."

Belum sempat ia menikmati keheningan, suara ketukan pintu tiba-tiba terdengar.

Tok... tok... tok...

Zilia membuka mata.

"Siapa?"

Tidak ada jawaban.

Dengan malas, ia bangkit lalu berjalan menuju pintu.

Klik.

Begitu pintu terbuka, ternyata Lora sudah berdiri di depan kamar dengan kedua tangan terlipat di dada.

"Lora?"

Tatapan Lora tajam, seolah sedang menahan amarah.

"Apa? Kaget lihat aku?"

"Ada perlu apa?"

Lora mendengus.

"Aku cuma mau kasih peringatan."

Zilia mengangkat sebelah alisnya.

"Peringatan?"

"Iya."

Lora melangkah mendekat.

"Jangan pernah berpikir kamu bisa mendapatkan Kak Rafael."

"Mimpi! Meski kalian dijodohkan, jangan berharap kalian benar-benar akan menikah."

Zilia justru tersenyum tipis.

Senyum yang membuat Lora semakin kesal.

"Kamu suka sama dia?"

"Tentu saja."

"Kalau begitu, ambil saja dia."

Jawaban Zilia terdengar santai.

"Aku juga nggak butuh dia."

Lora langsung melotot.

"Kamu sombong banget!"

"Mungkin."

"Jangan sok jual mahal."

Zilia menyandarkan tubuhnya di kusen pintu.

"Memangnya aku harus berebut laki-laki?"

"Kamu bahkan belum tahu siapa Kak Rafael sebenarnya."

"Mau dia kaya raya, tampan, atau sesempurna apa pun di matamu..."

Zilia mengangkat bahu.

"...tetap saja itu bukan urusanku."

Lora mengepalkan kedua tangannya.

"Kamu menyesal nanti."

"Bisa jadi."

"Tapi sekarang juga kamu batalkan perjodohan itu."

Zilia terkekeh pelan.

"Lucu."

"Apanya yang lucu?"

"Yang mau nikah sama Rafael itu kamu."

"Bukan aku."

"Jadi kenapa malah aku yang disuruh membatalkan?"

Lora terdiam beberapa detik.

"Pokoknya kamu harus menolak!"

"Kenapa nggak kamu saja yang ngomong sama Papa?"

"Tidak bisa!"

"Nah, berarti sama."

Zilia menghela napas pelan.

"Daripada capek marah-marah di depan pintu kamarku... lebih baik kamu bujuk Rafael supaya mau sama kamu."

Wajah Lora memerah karena emosi.

"Kamu!"

"Kalau dia memang mencintaimu, tanpa kamu minta pun dia akan memilihmu. Jadi nggak usah datang ke sini buat mengancamku."

Lora menggertakkan giginya.

"Kamu sengaja menantangku, ya?"

"Terserah kamu berpikir apa."

Zilia mulai kehilangan kesabaran.

"Sudah selesai?"

Lora masih diam.

"Kalau sudah... aku mau istirahat."

Tanpa menunggu jawaban, Zilia mendorong pelan tubuh Lora hingga keluar dari ambang pintu.

Bruk.

"Lho!"

Lora kehilangan keseimbangan beberapa langkah.

Klik!

Pintu kamar langsung ditutup.

Ceklek.

Suara kunci terdengar dari dalam.

Lora berdiri dengan wajah merah padam.

"Awas kamu, Zilia.bJangan pikir aku akan menyerahkan Kak Rafael begitu saja.nAku akan membuatmu keluar dari rumah ini."

Di balik pintu, Zilia hanya menggeleng pelan sambil menyandarkan tubuhnya.

"Anak itu benar-benar keras kepala."

Ia kembali merebahkan tubuh di atas tempat tidur.

Namun, firasatnya mengatakan bahwa kedatangannya ke rumah utama bukan hanya akan mempertemukannya dengan masa lalu yang menyakitkan.

Melainkan juga membuka permusuhan baru yang jauh lebih rumit.

Keesokan paginya, sinar matahari yang menembus sela-sela tirai membangunkan Zilia dari tidurnya.

Ia mengusap wajahnya pelan, lalu meraih ponsel yang semalam sengaja dimatikan.

"Oh iya..."

"Aku matiin HP."

Begitu ponsel dinyalakan, layar langsung dipenuhi notifikasi.

Puluhan pesan.

Belasan panggilan tak terjawab.

Semuanya berasal dari satu nama.

Vio.

Zilia mengembuskan napas panjang.

"Masih saja..."

Belum sempat ia membuka satu pun pesan, ponselnya kembali berdering.

Nama Vio kembali muncul di layar.

Zilia menatapnya beberapa detik.

Dalam hati ia ingin mengabaikannya.

Namun ia sadar, semakin lama dihindari, semuanya justru akan semakin rumit.

Dengan berat hati, ia menggeser tombol hijau.

"Halo."

Mendengar suara Zilia, Vio langsung mengembuskan napas lega.

"Akhirnya kamu angkat juga."

"Ada apa?"

Nada bicara Zilia terdengar datar.

"Aku cuma mau ketemu kamu."

"Nggak perlu."

"Zil, tolong."

"Aku rasa nggak ada lagi yang perlu dibicarakan."

"Ada."

"Aku harus menjelaskan semuanya."

"Aku sudah dengar penjelasanmu waktu itu."

"Tapi belum selesai."

"Bagiku sudah selesai."

Vio terdiam sesaat.

"Kalau kamu benar-benar ingin mengakhiri semuanya, setidaknya beri aku kesempatan bicara untuk terakhir kalinya."

Kalimat itu membuat Zilia menutup mata.

Ia tidak ingin terus dibayang-bayangi hubungan yang menggantung.

"Baik."

"Tapi ini yang terakhir."

"Kita ketemu di kafe dekat taman kota."

"Aku tunggu."

Menjelang siang.

Zilia tiba lebih dulu di sebuah kafe yang cukup tenang.

Tak lama kemudian, Vio datang.

Wajah pria itu terlihat lebih lelah dibanding beberapa hari lalu.

Lingkar hitam di bawah matanya menunjukkan bahwa ia hampir tidak pernah tidur nyenyak.

"Terima kasih sudah datang."

Zilia hanya mengangguk.

"Apa yang ingin kamu bicarakan?"

Vio menarik napas panjang.

"Zil..."

"Aku memang menikah. Tapi aku tidak pernah mencintainya. Hatiku tetap kamu."

Zilia tersenyum hambar.

"Terus?"

"Aku dipaksa. Aku sudah bilang. Aku akan menceraikannya. Berikan aku waktu. Aku mohon."

Zilia menggeleng pelan.

"Vio. Aku bukan perempuan yang mau menunggu laki-laki berstatus suami orang. Aku nggak bisa. Kamu cuma perlu bersabar."

"Bersabar?"

Zilia tertawa pelan.

"Yang kamu minta itu bukan sabar. Tapi menyuruhku menjadi perempuan kedua."

"Bukan begitu!"

"Lalu bagaimana?"

"Kamu masih sah menjadi suami perempuan lain. Apa kamu sadar apa yang kamu minta dariku?"

Vio menggenggam kedua tangannya erat.

"Aku cuma ingin kamu percaya."

"Maaf. Aku sudah kehilangan kepercayaan itu."

Keheningan menyelimuti meja mereka.

Beberapa detik kemudian, Zilia berdiri.

"Mulai hari ini hubungan kita selesai. Dengan sadar aku memutuskan hubungan ini. Aku tidak ingin lagi terikat dengan hubungan yang rumit."

Vio ikut berdiri.

"Tidak! Aku tidak menerima keputusan itu. Zil, dengarkan aku. Aku akan memperjuangkanmu."

"Aku tidak peduli."

"Aku peduli."

Vio spontan meraih pergelangan tangan Zilia.

"Jangan pergi. Aku mohon."

"Lepaskan."

"Tidak."

"Lepaskan tanganku, Vio."

"Aku nggak akan melepasmu."

Tepat saat itu...

Sebuah tangan lain menarik tubuh Zilia menjauh.

Zilia langsung berpindah ke belakang sosok tinggi yang berdiri di depannya.

Rafael.

Tatapannya dingin mengarah kepada Vio.

"Tolong lepaskan dia."

Vio menatap tajam.

"Ini urusan kami."

Rafael tetap tenang.

"Bukan lagi."

"Apa maksudmu?"

Rafael melirik sekilas ke arah Zilia.

Kemudian menatap kembali Vio.

"Sebentar lagi Zilia akan menjadi istriku. Jadi mulai sekarang... tolong jaga batasmu."

Ucapan itu seolah menyiram bensin ke bara api.

Wajah Vio berubah gelap.

"Aku nggak percaya."

"Itu urusanmu."

Rafael tersenyum tipis.

"Aku tidak mengambil siapa pun. Dia sendiri yang memilih meninggalkanmu."

Bug!

Tanpa bisa menahan emosinya lagi, Vio langsung melayangkan pukulan ke wajah Rafael.

Tinju keras itu mendarat tepat di sudut bibir Rafael.

Brak!

Tubuh Rafael sedikit terdorong ke belakang.

Darah segar langsung mengalir dari sudut bibirnya.

Suasana kafe mendadak gaduh.

Beberapa pengunjung berdiri menyaksikan keributan itu.

"Rafael!"

Zilia bergegas menghampiri. Namun yang membuat semua orang terkejut. Rafael sama sekali tidak membalas pukulan itu.

Ia hanya mengusap darah di sudut bibirnya sambil menatap Vio tanpa ekspresi.

Melihat Rafael tidak melawan, justru Zilia yang naik pitam.

Plak!

Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Vio.

Semua orang kembali terdiam.

"Sudah cukup!"

Suara Zilia bergetar karena emosi.

"Apa kamu puas?"

"Kamu menikah. Kamu membohongiku. Sekarang kamu memukul orang lain. Kamu mau menghancurkan hidup siapa lagi?"

Vio memegang pipinya.

Tatapannya dipenuhi rasa tidak percaya.

"Zil..."

"Jangan panggil namaku!"

Mulai hari ini jangan pernah ganggu kehidupanku lagi. Aku sudah memilih pergi. Dan aku tidak akan pernah kembali."

Tanpa memberi kesempatan Vio berbicara lagi, Zilia menggenggam tangan Rafael.

"Ayo."

Mereka meninggalkan kafe.

Sementara Vio hanya mampu berdiri mematung.

Tatapannya mengikuti langkah keduanya hingga menghilang dari pandangan.

Di sebuah taman yang tidak jauh dari sana.

Zilia menghentikan langkah.

Ia mengeluarkan sebungkus tisu dari tasnya.

"Diam."

Rafael mengernyit.

"Hm?"

"Bibir kamu berdarah."

Zilia mengambil beberapa lembar tisu, lalu dengan hati-hati mengusap darah di sudut bibir Rafael.

Gerakannya begitu pelan. Penuh perhatian.

"Perih?"

"Tidak seberapa."

"Kenapa tadi kamu nggak balas?"

Rafael tersenyum tipis.

"Kalau aku balas... yang susah nanti kamu."

Zilia menatap Rafael beberapa detik.

Tanpa mereka sadari...

Dari kejauhan, Vio masih berdiri memandangi pemandangan itu. Dadanya terasa diremas.

Perempuan yang selama ini selalu mengkhawatirkannya, kini sedang mengusap luka laki-laki lain dengan tatapan yang dulu hanya diberikan kepadanya.

Saat itulah Vio benar-benar merasakan bagaimana rasanya kehilangan seseorang yang paling ia cintai.

Tak jauh dari taman, Vio masih berdiri mematung.

Ia tidak benar-benar pergi. Kedua matanya terus mengikuti setiap gerakan Zilia. Terutama ketika gadis itu dengan hati-hati mengusap darah yang masih tersisa di sudut bibir Rafael.

Pemandangan itu terasa begitu menusuk.

Dulu perhatian seperti itu hanya diberikan kepadanya. Kini, semuanya telah berpindah kepada laki-laki lain. Vio mengepalkan kedua tangannya. Penyesalan mulai menggerogoti hatinya.

Sementara itu, Zilia masih sibuk membersihkan luka Rafael.

"Diam dulu."

"Aku diam, kok."

"Kalau sakit bilang."

Rafael hanya tersenyum tipis.

"Tidak sesakit itu."

Zilia kembali mengusap darah yang mulai mengering.

Namun, tiba-tiba Rafael menahan pergelangan tangan Zilia.

"Sudah."

Zilia mengernyit.

"Kenapa?"

"Sudah cukup."

"Tapi masih berdarah."

"Nanti juga berhenti sendiri."

Zilia masih tampak khawatir.

"Kamu dipukul gara-gara aku."

Rafael menggeleng pelan.

"Aku tidak menyesal."

Tatapan keduanya sempat bertemu.

Beberapa detik kemudian, Rafael melepaskan tangan Zilia perlahan.

Raut wajahnya berubah serius.

"Zilia."

"Hm?"

"Lain kali kalau mau keluar rumah, setidaknya bawa pengawal."

Zilia langsung mengembuskan napas pelan.

"Pengawal lagi."

"Iya."

"Aku risih."

"Aku tahu."

"Tapi bukan itu masalahnya."

Zilia menatap Rafael heran.

"Maksudmu?"

Rafael menyandarkan tubuhnya di bangku taman.

"Papa kamu meneleponku sebelum aku datang ke kafe."

"Apa?"

"Iya."

"Beliau tahu kamu keluar tanpa pengawalan yang semestinya."

Zilia menghela napas panjang.

"Papa benar-benar berlebihan."

"Beliau bukan berlebihan."

"Beliau sedang melindungimu."

"Aku bisa menjaga diri sendiri."

Rafael tersenyum tipis.

"Tadi kalau aku tidak datang, apa kamu yakin semuanya akan berakhir baik?"

Zilia langsung terdiam.

Ia tidak bisa membantah.

Rafael melanjutkan ucapannya.

"Zilia. Kamu mungkin belum tahu seberapa rumit dunia orang tua kita."

"Apa maksudmu?"

"Vio bukan orang biasa."

Zilia mengernyit.

"Aku tahu dia anak orang kaya."

"Bukan hanya itu."

Rafael menatap lurus ke depan.

"Keluarga Vio merupakan rekan bisnis keluarga kita. Mereka juga memiliki kerja sama dengan keluarga istrinya."

"Begitu juga keluargaku. Dan... keluarga ayahmu."

Zilia membelalak.

"Maksudmu..."

Rafael mengangguk pelan.

"Empat keluarga besar itu saling terikat dalam kerja sama bisnis."

"Setiap keputusan yang diambil oleh salah satu pihak bisa berdampak pada pihak lainnya. Itulah sebabnya orang tua kita sangat berhati-hati."

Zilia menggigit bibir bawahnya.

"Pantas Papa selalu mengawalku."

"Bukan karena ingin membatasi kebebasanmu."

"Tapi karena beliau tahu posisimu jauh lebih penting daripada yang kamu bayangkan."

Rafael menatap Zilia dengan serius.

"Kamu adalah putri pertama keluarga Tuan Adrian."

"Dan suatu hari nanti, kamu akan memegang sebagian tanggung jawab keluarga."

"Kalau terjadi sesuatu padamu... bukan hanya keluargamu yang terkena dampaknya. Hubungan antarkeluarga dan kerja sama yang sudah dibangun bertahun-tahun juga bisa ikut terguncang."

Zilia terdiam cukup lama.

Selama ini ia hanya menganggap semua pengawalan itu sebagai bentuk kekangan.

Ternyata ada alasan yang jauh lebih besar di balik semua itu.

Rafael kemudian berdiri.

"Jadi, mulai sekarang... jangan lagi keluar sendirian. Kalau memang ingin bertemu seseorang, setidaknya beri tahu pengawal atau keluargamu. Bukan karena kamu lemah. Tapi karena sekarang... kamu tidak lagi hanya membawa nama Zilia."

"Kamu juga membawa nama keluarga."

Zilia menundukkan kepala.

Perlahan ia mulai memahami beban yang selama ini dipikul ayahnya.

1
Leisha
Lanjut thor...
awas y thor kalo gk update
suka ceritanya
Leisha
Ditunggu kelanjutannya kak❤
Anjana
Asiap.... gas pol nyampe end kak. Jangan lupa untuk selalu dukung biar authornya semangat nulisnya😍
Leisha
Semoga tidak gantung ceritanya
awas ya thor kalo gak nyampe end
tak jewer kamu thor😄
Leisha
Bagus ceritanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!