NovelToon NovelToon
Bencana Akhir Zaman: Seluruh Kota Tenggelam

Bencana Akhir Zaman: Seluruh Kota Tenggelam

Status: sedang berlangsung
Popularitas:31
Nilai: 5
Nama Author: Novi

Arga Bayu Pratama, mantan prajurit Kopassus, terbangun di kamar kosnya yang sempit.
Tanggal di ponselnya: 10 November 2040 — dua hari sebelum kiamat.
Di kehidupan sebelumnya, ia bertahan selama enam tahun di dunia yang hancur. Ia menyaksikan hujan api menghujani kota, zombie berkeliaran di jalanan, dan manusia saling membunuh demi segenggam beras. Ia mati sendirian, tanpa apa-apa, tanpa siapa-siapa.
Tapi sekarang ia kembali. Dengan seluruh ingatan masa depan di kepalanya. Dan satu kekuatan baru yang membuatnya bisa mendengar pikiran setiap orang di sekitarnya.
"Kali ini, aku tidak akan menjadi yang paling lemah."
Sambil membeli puluhan karung beras, air mineral, dan gas elpiji sebelum dunia runtuh, Arga mulai menyusun rencana: membangun tim terkuat, menguasai kota, dan mencari tahu siapa — atau apa — yang sebenarnya menyebabkan kiamat ini.
Karena kiamat bukan kebetulan. Seseorang sedang menonton dari atas sana.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 6

Bab 006 - Gadis di Balik Jendela

Keinginan untuk hidup.

Arga mengenali tatapan itu.

Di akhir zaman, ada orang yang menangis karena takut mati. Ada orang yang berteriak karena ingin diselamatkan. Ada juga orang yang matanya kosong bahkan sebelum tubuhnya berhenti bernapas.

Gadis di jendela itu berbeda.

Ia takut. Jelas takut.

Tapi ia belum menyerah.

Arga menatapnya dari halaman gedung olahraga. Combat Suit masih tersimpan di Cincin Dimensi, dua Pedang Hi-Tech juga belum ia pakai. Ia sengaja tetap memegang pisau dapur lama. Kadang, terlihat sedikit lebih lemah membuat orang lebih cepat menunjukkan niat asli.

"Turun," katanya.

Gadis itu gemetar. Tirai robek di sampingnya bergerak pelan tertiup angin panas. Beberapa detik berlalu sebelum ia menghilang dari jendela.

Arga menunggu.

Ia tidak mengejar.

Jika gadis itu tidak punya keberanian untuk turun sendiri, berarti ia belum layak dibawa.

Lima menit kemudian, pintu samping gedung olahraga terbuka.

Seorang mahasiswi keluar dengan langkah hati-hati. Kaosnya robek di bagian bahu, celana training-nya kotor oleh lumpur kering, dan beberapa luka gores melintang di lengan. Wajahnya pucat karena lapar, bibirnya pecah, tapi punggungnya tidak sepenuhnya membungkuk.

Ia berhenti tiga meter dari Arga.

"Namaku Kiara," katanya. Suaranya serak. "Kiara Ayu Dewanti. Aku mahasiswa Seni Pertunjukan."

Arga tidak menjawab.

Matanya bergerak dari luka di lengan Kiara, ke cara gadis itu berdiri, lalu ke jarak antara kaki dan tangannya.

Gerak tubuhnya ringan. Otot pahanya terlatih. Refleks bahu bagus. Bukan petarung, tapi tubuhnya sudah mengenal disiplin.

Penari.

Dalam dunia normal, itu hanya bakat panggung.

Dalam dunia ini, itu bisa menjadi dasar pembunuh.

Kiara menelan ludah. "Aku melihat kamu buka kotak itu. Aku juga lihat kamu membunuh... benda-benda itu."

"Zombie."

"Ya. Zombie." Kiara memaksa kata itu keluar. Matanya sempat melirik tiga tubuh pucat di halaman, lalu cepat kembali ke Arga. "Aku tidak akan pura-pura kuat. Aku lapar. Aku haus. Teman-temanku banyak yang hilang. Kalau tetap di sini, aku akan mati."

Ia menggenggam ujung kaosnya sampai jarinya memutih.

"Bawa aku ikut."

Arga memandangnya datar. "Kenapa?"

"Karena kamu bisa hidup."

Jawaban itu cepat.

Terlalu cepat untuk kalimat yang dibuat-buat.

Arga memusatkan Telepati.

Suara Kiara muncul di kepalanya, berantakan tapi jujur.

Aku takut. Aku sangat takut. Tapi aku tidak mau mati di sini. Dia kuat. Dia punya makanan. Dia tahu apa yang dia lakukan. Kalau harus merendahkan diri, tidak apa-apa. Kalau harus belajar membunuh, aku belajar. Asal hidup.

Telepati tidak menemukan rencana menusuk dari belakang, niat mencuri cincin, atau iri pada barang-barang yang baru saja ia lihat lenyap.

Hanya kelaparan, ketakutan, dan kemauan bertahan hidup yang keras.

Arga menilai ulang wajahnya.

Kiara.

Nama itu ia kenal.

Di kehidupan sebelumnya, orang-orang di Kota Harapan pernah menyebutnya "Ratu Bayangan" dengan suara rendah. Julukan itu lahir dari cara Kiara membunuh: targetnya sering mati sebelum melihat wajahnya.

Bayangan.

Kemampuan itu baru muncul ketika ia menjadi Evolver Tingkat 3. Lima menit menghilang dari pandangan, kecepatan meningkat, langkah tanpa suara. Banyak pria kuat mengira Kiara hanya perempuan cantik yang beruntung bisa bertahan hidup.

Mereka semua mati dengan leher terbuka.

Di kehidupan sebelumnya, Kiara bukan bagian dari tim Arga. Ia milik faksi lain, menjadi pisau paling tajam yang beberapa kali membuat Arga harus mundur.

Sekarang pisau itu berdiri di depannya, lapar, terluka, dan belum ditempa.

Arga memasukkan pisau dapur ke pinggang.

"Ikut aku boleh," katanya. "Tapi ada syarat."

Kiara mengangkat wajah. "Apa pun."

"Jangan ucapkan itu kalau belum tahu harganya."

Kiara terdiam.

Arga melangkah mendekat. Ia tidak menyentuhnya. Jarak satu lengan tetap dipertahankan, cukup untuk membuat aturan jelas.

"Mulai hari ini, kamu tidak hidup karena aku kasihan. Kamu hidup karena kamu punya nilai. Kalau kamu mau ikut, kamu harus belajar mendengar perintah, bergerak cepat, dan membunuh saat harus membunuh."

Wajah Kiara memucat sedikit.

"Membunuh... manusia?"

"Zombie lebih dulu. Manusia nanti, kalau mereka mencoba membunuhmu."

Kiara menggigit bibir. Ketakutan di matanya bergetar, tapi tidak pecah.

Aku tidak bisa. Tidak... kalau tidak bisa, aku mati. Ratna... Rina... semua orang akan mati. Aku tidak mau.

"Aku belajar," katanya pelan.

Baru setelah itu Arga mengeluarkan satu kotak makanan otomatis dan satu botol air otomatis dari Cincin Dimensi.

Mata Kiara melebar.

Barang itu muncul dari udara kosong.

"Jangan tanya," kata Arga.

Kiara langsung menutup mulutnya.

Keputusan bagus.

Arga menyerahkan keduanya. "Kotak ini menghasilkan makanan satu porsi setiap hari. Botol ini menghasilkan air minum. Mulai sekarang, ini milikmu. Hilangkan, dan kamu tanggung akibatnya."

Tangan Kiara gemetar saat menerima kotak makanan.

Ketika tutupnya dibuka, aroma nasi hangat, telur, dan lauk sederhana keluar. Tidak mewah. Tapi bagi orang yang sudah melewati banjir, panas, dan satu malam Hujan Zombie tanpa makanan layak, aroma itu cukup untuk membuat mata basah.

Kiara makan dengan cepat.

Terlalu cepat.

"Pelan," kata Arga. "Perut kosong terlalu lama. Kalau kamu muntah, makanan itu terbuang."

Kiara berhenti, memaksa dirinya mengunyah lebih lambat. Air matanya jatuh tanpa suara ke punggung tangan.

"Maaf," bisiknya.

"Jangan minta maaf karena lapar."

Kalimat itu membuat gerakan Kiara terhenti sesaat.

Arga melihatnya, lalu memalingkan wajah ke halaman.

Ia tidak sedang melembut.

Ia hanya tahu harga makanan pertama di akhir zaman.

Setelah Kiara selesai makan setengah porsi dan minum beberapa teguk, warna wajahnya mulai kembali.

Arga mengambil pisau dapur cadangan dari Cincin Dimensi, salah satu yang dibeli di Johar, lalu menyerahkannya.

"Pegang."

Kiara menerima pisau itu dengan dua tangan.

"Jangan pegang seperti mau memotong bawang." Arga berdiri di sampingnya, menunjukkan posisi jari dan pergelangan. "Ibu jari kunci gagang. Pergelangan jangan lemas. Kalau melawan Zombie, target kepala. Kalau melawan manusia, tangan yang memegang senjata, leher, paha bagian dalam. Jangan menusuk perut kecuali kamu punya waktu memastikan dia tidak bangun lagi."

Kiara menelan ludah.

"Kamu bicara seperti itu biasa."

"Karena itu akan menjadi biasa."

Ia membawa Kiara ke sisi halaman yang agak bersih. Dua Zombie tersesat bergerak di dekat lapangan, tertarik oleh suara gesekan besi dari pagar yang jatuh.

Kiara langsung mundur setengah langkah.

Arga menangkap gerakan itu.

"Takut boleh. Mundur tanpa perintah tidak."

Kiara membeku.

Zombie pertama bergerak mendekat, lehernya miring, mulutnya terbuka, mengendus udara. Arga mengambil batu kecil dan melemparkannya ke arah tiang.

Tak!

Zombie itu menoleh.

"Lihat," kata Arga. "Matanya buruk. Telinga dan hidungnya tajam. Jangan berteriak. Jangan lari di jalur terbuka. Gunakan suara untuk memindahkan mereka."

Ia bergerak dari samping, cepat dan bersih. Pisau masuk ke bagian belakang kepala Zombie. Tubuh itu jatuh.

Kiara menutup mulutnya, tapi tidak menjerit.

Bagus.

Zombie kedua mendekat. Arga tidak langsung membunuhnya.

"Sekarang kamu."

Wajah Kiara kehilangan warna. "Aku?"

"Aku pegang. Kamu tusuk."

"Aku... aku belum siap."

"Zombie tidak menunggu kamu siap."

Arga maju, menendang lutut Zombie itu sampai jatuh, lalu menekan bahunya dengan kaki. Makhluk itu meronta, kuku menggaruk tanah, mulutnya menggigit udara kosong.

Kiara berdiri kaku.

Dalam kepalanya, pikirannya kacau.

Aku tidak bisa. Itu seperti manusia. Tapi bukan manusia. Kalau aku tidak bisa sekarang, nanti aku mati. Dia akan meninggalkanku. Aku tidak mau ditinggal.

"Kiara," suara Arga rendah. "Pilih."

Gadis itu menggenggam pisau lebih erat. Tangannya masih gemetar, tapi kakinya maju.

Satu langkah.

Dua langkah.

Ia menusuk.

Tusukan pertama meleset, mengenai leher samping. Zombie meronta lebih kuat. Kiara hampir jatuh.

"Lagi. Kepala."

Kiara mengeluarkan suara tertahan, setengah takut setengah marah, lalu menusuk lagi. Kali ini bilah masuk ke rongga mata.

Tubuh Zombie berhenti bergerak.

Kiara terhuyung mundur, napasnya pecah.

Arga tidak memujinya.

"Cabut pisaunya. Bersihkan. Jangan tinggalkan senjata di tubuh musuh."

Kiara menatapnya seperti ingin menangis, tapi akhirnya melakukan apa yang diperintahkan. Ia mencabut pisau dengan susah payah, membersihkannya di pakaian Zombie, lalu berdiri dengan wajah pucat.

"Aku benar-benar melakukannya," bisiknya.

"Itu baru awal."

Arga mengambil Kristal dari dua Zombie itu. Satu ia simpan, satu ia tunjukkan kepada Kiara.

"Kristal. Ini mata uang, obat, dan jalan menjadi Evolver. Jangan pernah meninggalkan ini kalau situasi aman."

Kiara mengangguk, kali ini lebih cepat.

Latihan singkat itu berlangsung hampir satu jam. Arga mengajarinya bergerak tanpa menyeret kaki, memegang napas saat Zombie lewat dekat, memakai batu untuk mengalihkan suara, dan menusuk dengan seluruh berat badan. Kiara lemah karena lapar dan trauma, tapi koordinasi tubuhnya memang bagus. Setiap koreksi masuk ke ototnya lebih cepat daripada orang biasa.

Investasi ini benar.

Menjelang siang, mereka bergerak melewati sisi kampus untuk mencari tempat yang lebih aman. Arga berjalan di depan, Kiara di belakang kiri, jarak dua langkah. Sesekali ia menoleh memastikan gadis itu tidak membuat suara bodoh.

Kiara tidak banyak bicara.

Itu juga nilai tambah.

Mereka baru melewati deretan pohon hangus dekat jalan menuju area asrama ketika sebuah jeritan perempuan merobek udara.

"Tolong! Jangan dekati aku!"

Kiara berhenti mendadak.

Wajahnya berubah.

"Suara itu..." Bibirnya bergetar. "Ratna."

Arga menatapnya.

"Temanmu?"

"Teman sekamarku." Kiara sudah bergerak sebelum kalimatnya selesai. "Dia masih hidup!"

"Kiara."

Terlambat.

Gadis itu berlari ke arah asrama, lupa semua aturan tentang suara, jarak, dan Zombie.

Arga menghela napas pendek, lalu mencabut Pedang Hi-Tech dari Cincin Dimensi.

Bilah hitam itu muncul di tangannya dengan dingin sempurna.

"Pelajaran kedua datang lebih cepat dari yang kuperkirakan."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!