Aku masih perawan, itu yang di katakan Maudy ketika akhirnya Ia tau kalau suaminya selama ini mencoba menghindarinya karena kepercayaan turun temurun dari keluarga suaminya itu.
Pada saat resepsi pernikahan mereka entah karena apa, ada beberapa kembang mayang yang tiba-tiba mengering, dan itu membuatnya mendapat hinaan karena di percaya sudah tidak segel lagi.
Maudy yang mengira kalau suaminya menghindarinya karena memang tidak ada cinta, karena memang pernikahan mereka terjadi karena perjodohan.
Hingga akhirnya Ia tau alasan suaminya itu diam padanya selama berbulan-bulan. Yuk mampir di karya author remangan, jangan lupa bagi like komennya ya 🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raisya Putri 🕊, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15 Gagal Total
...----------------...
Dua bulan berlalu semenjak pertama kalinya Mawar memeriksakan kandungan nya, bulan ini Ia kembali ke rumah sakit namun hasilnya masih nihil, Ia belum menunjukkan tanda- tanda kehamilan, hal itu membuatnya semakin gelisah. Belum lagi ketika melihat gelagat saudara iparnya beberapa minggu terakhir ini yang menurutnya sedikit aneh, hal itu semakin membuatnya tidak tenang. Di tambah lagi mendengar ucapan teman-temannya membuat ketakutan nya semakin menjadi-jadi, hingga membuatnya memikirkan cara bagaimana agar semua keinginannya bisa terwujud.
" Mas, aku boleh minta ijin nggak. Hm.....nanti malam ada acara sama teman-teman ku, ada salah satu teman ku yang ngerayain ultahnya, nggak enak juga kalau aku nggak hadir. "
Sebelum sarapan di mulai Mawar mengutarakan keinginannya pada suaminya dan ucapannya itu di dengar oleh semua orang yang hadir disana.
" Iya boleh, tapi jangan sampai larut malam pulangnya. "
Mawar tersenyum karena mendapatkan ijin dari suaminya, sebenarnya ini pertama kalinya Ia minta ijin langsung. Biasanya juga Ia melakukan apapun sesuka hatinya, berhubung di depan mertuanya jadi Ia harus terlihat baik, apalagi di depan Maudy.
" Makasih Mas, tapi apa Mas punya waktu. Sebenarnya aku ingin kesana bersama mu, itu karena semua yang hadir disana membawa pasangannya masing-masing. "
Bu Ayu yang mendengar permintaan Mawar kemudian meminta Bayu untuk menemani istrinya, bagaimana pun juga tidak baik seorang wanita berada di luar saat malam hari, sendirian lagi.
" Maaf Bunda, tapi untuk malam ini sepertinya Bayu nggak bisa. "
Bu Ayu menghela nafas, Ia tau kalau kedua putranya memang tengah sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing.
" Ah bagaimana kalau aku ajak Maudy saja, kamu mau kan pergi dengan ku. Bukankah selama ini kita belum pernah jalan bersama, banyak teman-teman ku yang menanyakan mu loh. Bahkan ada yang bilang kalau hubungan kita tidak akur, padahal tidak begitu kan. Belakangan ini kita sudah baik- baik saja, ya begitulah. Mungkin karena mereka tidak pernah melihat kita pergi bersama. "
Bu Ayu nampak terdiam dan merasa apa yang di katakan Mawar ada benarnya, mungkin hubungan mereka akan semakin membaik kalau mereka jalan bersama.
" Gibran, apa boleh istri mu pergi menemani Istri adik mu. Kasihan juga kalau dia pergi sendiri, akan lebih baik kalau ada yang menemaninya. "
Gibran yang sejak tadi diam dan menunggu sarapan hanya bisa menyerahkan semua keputusan pada Istrinya.
" Gibran terserah Maudy saja Bunda, kalau dia ingin pergi juga tidak apa-apa. Asal bisa jaga diri dan tidak lupa jalan pulang saja. "
Jawaban Gibran membuat Bu Ayu tersenyum dan menanyakan keputusan Maudy.
" Bagaimana Maudy, apa kamu mau pergi bersama Mawar. "
Maudy mengangguk karena tidak mungkin Ia menolak keinginan Ibu mertua nya yang menginginkan dirinya menemani menantu nya yang lain.
" Baiklah Mawar, kamu bisa pergi bersama Maudy. Tapi ingat, jangan sampai kamu meninggalkan nya apalagi membuatnya tidak bisa pulang karena tidak tau jalan pulang. Ya sudah, sekarang saat nya sarapan. "
Akhirnya mereka bisa menikmati sarapan pagi mereka, Mawar bersorak dalam hati karena akhirnya bisa pergi bersama istri dari saudara iparnya.
***
Beberapa kali Gibran melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya, akhirnya Ia memutuskan untuk kembali.
" Sayang.....................!!! "
Gibran terkejut mendengar sebuah suara yang sangat di kenalinya, Ia berdiri mematung manakala seseorang memeluknya dengan sangat erat.
" Sayang, aku merindukan mu. "
Gibran mengangkat kedua tangannya, menolak secara halus ketika seseorang itu ingin menciumnya.
" Susan, kapan kamu kembali. "
Susan mencoba tersenyum meskipun sedikit kecewa karena Gibran menolak berciuman dengan nya.
" Ah sayang, aku baru saja tiba dan langsung kemari karena aku merindukan mu. Apakah kamu juga merindukan ku. "
Susan yang memiliki sikap periang membuatnya mampu menyembunyikan perasaannya yang sebenarnya.
" Oh.... iya, ini sudah waktunya pulang. Bagaimana kalau aku antarkan kamu pulang. "
Susan mengangguk dan dengan senyum merekah Ia menggandeng tangan Gibran, sesampainya di parkiran Gibran membukakan pintu untuk Susan.
Susan beberapa kali melirik ke arah Gibran, Ia merasakan ada perubahan besar yang terjadi pada Pria itu.
" Sayang, are you okay ?. " Tanyanya pelan.
Gibran menghela nafas dan kemudian mengangguk pelan, Susan kembali tersenyum.
" Kamu masuklah lebih dulu. " Pinta Gibran pada Susan.
Setelah Susan masuk Gibran mengambil ponselnya dan mengetik beberapa pesan lalu mengirimkan nya pada seseorang.
Di tempat lain.
Sebelum pergi Bu Ayu kembali berpesan pada Mawar agar tidak sampai terpisah dan mereka harus kembali bersama-sama, mereka pergi mengendarai mobil milik Mawar. Sepanjang jalan Maudy hanya diam saja sembari memandang keluar kaca.
Mawar mengajak Maudy untuk masuk ke dalam gedung tempat acara berlangsung, Maudy mengikutinya dari arah belakang. Mawar memperkenalkan Maudy pada semua teman-teman nya, Maudy tersenyum dan menjabat tangan mereka satu persatu.
Dua jam berlalu, Maudy merasa lelah. Ia yang tadinya di suruh Mawar menikmati hidangan mulai mencari keberadaan Mawar yang tak nampak oleh nya sejak tadi.
" Dimana Mawar. " Gumamnya.
Ingin menghubunginya namun Ia bahkan tidak punya nomor ponselnya, Maudy mengotak ngatik ponselnya. Ingin menghubungi Ibu mertuanya namun merasa tidak enak hati, Maudy mencoba keluar parkiran namun tidak menemukan mobil milik Mawar.
" Duh bagaimana caranya aku pulang. " Gumam Maudy lagi.
Ia kembali mengotak ngatik ponselnya dan menghubungi seseorang, akhirnya Ia memutuskan menunggu disana. Tanpa Ia sadari sejak tadi gerak geriknya sudah ada yang mengawasi, tidak lama kemudian turun hujan. Maudy ingin berteduh namun tiba-tiba ada mobil yang berhenti tepat di depannya.
Ada seseorang turun dari sana dan meminta Maudy untuk ikut bersamanya, Maudy awalnya menolak namun karena hujan mulai turun akhirnya Ia pun mengalah dan ikut bersama seseorang itu.
" Kenapa Kakak ipar bisa ada di luar sendiri seperti tadi, terus Mawar mana, bukankah kalian tadi pergi bersama. "
Maudy bingung bagaimana Ia harus menjawab pertanyaan adik ipar nya itu.
" Sudahlah, Ini pasti kerjaan Mawar, beruntung aku kebetulan lewat. Kalau tidak mau jadi apa wanita ini. " Batin Bayu.
Disisi lain, Mawar merasa senang karena apa yang Ia rencanakan berhasil, setidaknya itu menurutnya.
" Baiklah guys, aku pulang dulu. Terima kasih untuk kerja samanya, sampai jumpa. "
Mawar buru-buru mengendarai mobil nya, sepanjang perjalanan Ia mulai memikirkan rencananya selanjutnya. Bibirnya tak putus- putusnya menyunggingkan senyum.
" Ah Mas Bayu sudah kembali. " Gumam Mawar ketika melihat mobil suaminya sudah ada di parkiran.
Mawar segera berlari kedalam rumah, Ia memanggil- manggil nama Maudy hingga terdengar oleh Ibu mertuanya yang baru saja akan tidur.
" Ada apa Mawar, kamu........ baru pulang ? " Tanya Bunda Ayu.
Mawar mengangguk, Ia langsung menjalankan rencananya yang sudah Ia pikirkan matang- matang bersama teman-teman nya.
" Bunda, apa Mbak Maudy sudah pulang ke rumah. Hm gini Bun, tadi Mawar pamit sebentar buat ngantar teman Mawar, tapi pas Mawar kembali Mawar tidak menemukan keberadaan Mbak Maudy. Tapi tadi pas Mawar tanya satpam, dia di jemput seorang Pria, tapi nggak tau Pria itu siapa. Maaf Bunda, seharusnya Mawar tidak ninggalin Mbak Maudy disana. "
Mawar menunduk seolah merasa bersalah, dari lantai atas Bayu memanggil Istrinya itu agar segera naik menemuinya.
" Sudah, tidak perlu kamu khawatirkan dia. Temui suami mu itu, mungkin dia membutuhkan sesuatu. "
Mawar mengangguk dan berpamitan pada Ibu mertuanya, Ia tersenyum senang karena rencananya berhasil tanpa Ia tau kalau ternyata rencananya kali ini juga gagal total.
...****************...