Dosen, tampan, muda dan... duda.
Itulah panggilan yang disematkan mahasiswa terhadap Adam. Duda anak satu yang diam-diam menikahi salah satu mahasiswinya, Erica, dengan terpaut usia dua belas tahun.
Kehadiran Mona, mantan istri Adam justru memperkeruh suasana. Ia berusaha menguak masa lalu kelam Adam untuk merebut Adam dalam pelukan Erica.
Menikah dengan duda tidak seperti yang Erica bayangkan. Anak, mantan istri, dan masa lalu Adam selalu membayangi kehidupan Erica.
Mampukah mereka mengarungi kehidupan penuh cinta dengan duri dan bayang-bayang akan mantan istri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riskaapa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Akhirnya
Tepat sebelum senja berganti gelap, Mona sampai di rumah. Musim hujan membuatnya agak kesulitan membawa Zhafran ikut serta dalam setiap urusannya. Belum lagi Zhafran selalu merengek ingin pergi setiap menemui rasa bosan. Beruntung Rey sudah sudah tiga kali bersedia menemani dan berbaik hati mengantarnya pulang.
"Thanks, Rey," ucap Mona sesaat sebelum keluar dari mobil Rey.
"Feel free to call me." Rey mengangguk seraya menampilkan senyum nakal khasnya.
Mona mengulas senyum lalu segera beranjak dari mobil Rey. Dengan basah kuyup ia masuk ke dalam rumah, segera di sambut Adam yang mengambil Zhafran dari pangkuannya. Mona mengulum senyum, senang disambut seperti dulu.
Mona kembali tertegun ketika mendapati koper besar di kamarnya. "Koper siapa ini Mas?" tanyanya sembari memeluk tubuhnya yang mulai menggigil.
"Kopermu," sahut Adam yang tidak pernah ada hangat-hangatnya terhadap Mona.
"Itu bukan koperku, Mas." Mona menarik koper tersebut turun dari ranjangnya. Baru saja Mona akan mengeluarkan koper tersebut, Adam menghalangi jalannya.
"Itu akan jadi kopermu." Adam menghujani wajah bingung Mona dengan tatapan tajam. "Kemasi pakaianmu ke dalam koper ini," imbuh Adam dengan penuh penekanan di setiap katanya.
Mona terdiam. Hatinya terguncang hebat. Pemikirannya tentang Adam ternyata salah. Lelaki itu masih sama seperti saat Mona minta talak. Bahkan Adam berani mengusirnya. Padahal tahu Mona sedang berbadan dua.
"Kamu bicara apa Mas?" Suara Mona bergetar. Ada nada ketakutan di suaranya.
"Kemasi pakaianmu ke dalam koper ini." Adam mengulangi ucapannya dengan tak kalah kasar dari sebelumnya, kali ini sembari menunjuk ke arah koper yang di pegang Mona.
Dahi Mona berkerut, sementara kepalanya menggeleng pelan. Matanya mulai berkaca-kaca menatap Adam yang selalu memasang wajah dingin kepadanya. Seolah menunjukkan bahwa hati Adam sudah benar-benar beku untuknya.
"Apa yang kamu lakukan Mas?" Mona berkata lirih, napasnya tercekat.
"Melakukan apa yang harus aku lakukan."
"Memangnya apa yang harus kamu lakukan?"
Adam mengusap wajahnya. Mencoba menenangkan diri dari Mona yang selalu mengetuk pintu kesabarannya.
"Apa aku harus bilang dengan gamblang bahwa aku mengusirmu?" Gigi Adam gemerutuk dengan rahang yang mengeras. Suaranya tertahan, menahan amarah.
"Aku tahu siapa kamu, Mas! Kamu tidak seperti ini. Kamu tidak akan tega mengusir ibu dari anakmu!"
Seketika Adam terkekeh mendengar ucapan Mona, kilatan amarah di matanya menandakan ia tidak main-main dalam menertawakan kelakuan Mona.
"Coba kamu benahi dulu kata-kata mu. Zhafran memang anakmu, tapi apa dia merupakan anakku juga?"
Mona tertegun. Baru kali Adam mengungkit perihal Zhafran. Ia terlalu bodoh dengan mengira Adam tidak tahu apa-apa. Mona kira, dengan Adam menerima Zhafran sebagai anaknya maka Adam tidak tahu banyak.
"Terkejut aku mengetahui kebenarannya?" Seulas senyum meremehkan terbit di bibir Adam.
Ternyata Mona salah telah menganggap Adam hanya lelaki kutu buku yang tidak tahu cara memperlakukan perempuan.
"Mas?" Mona berurai air mata. Ia gunakan telapak tangannya untuk menutupi mulutnya agar tidak mengeluarkan suara tangisan yang pilu. Terkejut bukan main Adam memperlakukannya seperti itu. Mona tidak menemukan Adam yang dulu. Adam yang selalu menghiasi wajahnya dengan senyum juga perangainya yang lembut terhadap perempuan.
"Sejak awal aku tidak setuju kamu menikahi bocah itu, Mas!" Mona memekik disambut tangisnya yang pecah.
Adam berdecak. "Memangnya kamu siapa? Tanpa restu darimu pun aku bisa melakukannya," sahut Adam sengit. Matanya menyala-nyala menggambarkan betapa marahnya dia.
Mona bergerak mendekati Adam. Tangannya menyentuh tangan Adam yang sedang menggendong Zhafran. "Aku tahu Mas, kamu masih mencintaiku. Jujurlah, Mas. Kita bisa memulainya dari awal lagi."
"Cinta?" Adam menepis tangan Mona dari tangannya. Senyum meremehkan terbit di bibir Adam. "Apa sejak awal aku pernah mencintaimu? Aku bercinta denganmu tanpa cinta. Kau ingat bukan, saat kau menjajakan cintamu?"
"Apa hebatnya bocah itu dibanding aku, Mas?"
PLAKK
Satu tamparan mendarat di pipi mulus Mona. Membuat tubuh mungil perempuan itu hampir terpelanting karena tidak bisa menahan tamparan Adam yang begitu keras.
"Jangan coba-coba membandingkan dirimu dengan Erica. Kau tidak ada apa-apanya dibandingkan Erica!" Suara Adam menggelegar di ruang televisi. Lalu, tangis Zhafran memecah ketegangan kedua orangtuanya. Menyadarkan dua orang dewasa tersebut bahwa ada anak kecil menonton kejadian yang tidak seharusnya dilihat.
Adam mendekap tubuh Zhafran. Hatinya menyesal telah melukai hati anaknya.
"Pergi! Sebelum aku mengusirmu dengan cara yang tidak akan kau sukai!"
***
Akhirnya keinginan Adam dan Erica terwujud. Zhafran tinggal dengan mereka tanpa Mona. Ya, Mona pergi setelah mendapatkan pengusiran yang tidak menyenangkan dari Adam. Hampir saja Erica luluh saat Mona menangis ingin tetap tinggal, tapi Adam tetap dengan pendiriannya, mempertahankan rumah tangganya dengan Erica dibandingkan membangun kembali rumah tangga dengan Mona yang sudah porak poranda.
Tidak lucu bukan, jika pernikahan hanya bertahan tiga bulan gara-gara kedatangan mantan istri?
Hari ini sengaja Adam izin tidak masuk kuliah untuk menemani Zhafran dan Erica. Zhafran seolah tidak kehilangan apa-apa. Antara belum menyadari atau mungkin tidak peduli. Dengan cerianya bocah itu berlarian kesana kemari mengejar Erica, sesekali Zhafran yang berteriak-teriak di kejar Erica. Mereka sedang bermain kejar-kejaran.
"Mas sudah dua hari nggak masuk lho," ucap Erica yang melewati Adam duduk di depan tv dengan pikiran yang entah berkelana kemana.
"Lagi mikirin apa?" Erica lalu duduk di samping Adam, merapatkan tubuhnya dengan tubuh tegap milik Adam. Dagunya ia tempelkan di bahu Adam, mengikis jarak. Dapat Adam rasakan hembusan napas Erica yang menggelitik telinganya.
"Ri, bagaimana kalau kita pergi honeymoon?"
Refleks Erica menjauhkan wajahnya dari Adam. "Honeymoon?" Erica tergelak. Ia tidak pernah berpikir untuk membuat waktu luang yang dikhususkan untuk honeymoon. Bahkan terlintas pun tidak.
"Mas serius, Ri," ucap Adam dengan wajah serius.
"Kenapa Mas tiba-tiba ingin pergi honeymoon? Memangnya yang selama ini kita lakukan itu apa?" Wajah Erica bersemu setelah kata-kata itu keluar dari mulutnya. Dengan cepat ia memperbaiki kalimatnya.
"Maksudku, apa bedanya?"
"Memang kamu nggak mau honeymoon? Jalan-jalan ke tempat romantis bersama, menghabiskan waktu bersama, dinner romantis. Emang nggak mau?" Mata Adam memicing menatap Erica. Bohong jika Erica berkata tidak mau.
Erica menghela napas panjang. "Mas, honeymoon itu melakukan segala hal berdua bukan bersama. Aku tahu kita nggak akan bisa melakukan itu." Erica mengulurkan tangannya ke arah Zhafran agar bocah itu menghampirinya.
"Jangan melupakan jagoan kita, Mas," imbuh Erica seraya mengelus puncak kepala Zhafran dengan lembut.
Adam mengangguk pelan. Benar apa yang Erica katakan. Zhafran tidak mungkin di bawa honeymoon, tidak mungkin juga di titipkan.
"Bagaimana kalau kita liburan saja, Ri? Biar Zhafran juga bisa ikut."
Adam kamu harus sadar
GDA exrtapartnya Thor rasanya kurang😂😂