Tidak ada kisah Cinta di dunia ini yang seindah kisah novel..
Tidak ada yang tahu.. Seperti apa dan bagaimana proses masa depan kita terjadi..
Namun ada juga beberapa kisah yang serupa dengan kisah di novel..
Karena beberapa kisah novel memang pernah terjadi di dunia nyata..
"Kadang sesuatu yang kita lihat tidak sesuai dengan kenyataan.
Kebencian yang terlalu dalam ini membuatku terjatuh.
Tapi memang begitu kenyataannya laki-laki itu menyebalkan dan aku muak melihat tingkah gilanya itu, dasar laki-laki aneh dia!
Jika bisa saat itu juga aku mematahkan lehernya. Tapi, aku tidak bisa melakukannya. Karena aku...."
_Shica Mahali_
"Jangan dilihat dari luar. Maka kau akan semakin penasaran dengan apa yang ada didalamnya.
Aku menyesal telah menyakiti perasaannya.
Aku tidak mengira kalau ini buah dari kesalahanku.
Maafkan aku, boleh aku mengenalmu lebih jauh lagi?
Tapi aku......"
_Raihan Alfarizi_
PERINGATAN!!!
17+
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ucu Irna Marhamah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
15
"...Setiap kesalahan akan ada hukumannya, dan hukuman itu harus setimpal. Namun jika kau bersabar, biarkan Tuhan yang menghukumnya... "
_Aditama Bramantyo Adiwijaya_
***
Keesokan harinya, Shica sedang mengerjakan PR di sekolah. Dia lupa semalam tidak mengerjakannya karena terlarut dalam novel yang dia baca.
Raihan memasuki kelas kemudian duduk disamping Shica. Dia meletakkan tasnya kemudian melihat apa yang Shica kerjakan.
"PR?" tanya Raihan.
"Iya," jawab Shica pendek.
"Rajin, tapi kenapa mengerjakannya disekolah?" tanya Raihan.
"Hmmm," jawab Shica sekenanya karena dia sedang tidak mau bertengkar. Dia begitu serius mengerjakan PR-nya.
"Serius sekali," kata Raihan sambil cemberut.
Shica menghentikan aktifitasnya kemudian menatap Raihan.
"Aku belajar dengan serius agar sukses dan aku mau orang tuaku bangga," jawab Shica kemudian meneruskan PR-nya.
"Oh iya, aku lupa. Kau Nona Mahali" kata Raihan sambil menirukan gaya Shica.
Raihan menatap Shica.
Shica melirik Raihan kemudian mengalihkan pandangannya.
"Jangan menatapku terus nanti.." ucapan Shica tidak di teruskan.
"Nanti apa? Aku sudah menyukaimu dari dulu, saat kau menendang bola sialan itu dan mengenai selangkangaku." kata Raihan setengah menggerutu.
Shica terkejut. Ternyata Raihan masih mengingat kejadian memalukan itu.
"Haha aku bercanda, jangan dianggap serius, nanti kau baper." kata Raihan.
Shica sangat kesal dan mencubit pinggang Raihan.
"Aww, kau tega sekali." gerutu Raihan.
"Kau pantas mendapatkannya," gerutu Shica sambil membuang muka.
"Jadi kau mau aku sunguh-sungguh menyukaimu?" tanya Raihan dengan nada menggerutu.
"Aku tidak bilang begitu, gila." gerutu Shica sambil melipat kedua tangannya didepan dada.
"Sini, biar aku yang kerjakan agar cepat selesai." kata Raihan sambil mengambil buku dan pensil Shica.
"Eh, nanti kau malah membuat jawabannya jadi salah." gerutu Shica.
"Tidak akan," gerutu Raihan.
Shica memperhatikan Raihan yang serius mengisi soal matematika itu.
Shica melihat mata Raihan yang serius meneliti jawaban yang Shica tulis tadi. Kedua alisnya yang tajam bertautan.
"Dia tampan juga, manis." batin Shica.
Kedua alis Raihan terangkat. Shica segera mengalihkan pandangannya karena tidak ingin kepergok memperhatikannya.
Raihan menoleh kearah Shica. "Yang ini jawabannya salah," kata Raihan pada Shica sambil menunjukkan buku Shica.
"Benarkah?" tanya Shica.
"Iya, seharusnya seperti ini." Raihan menjelaskannya pada Shica.
Shica memperhatikannya dan mendengarkan Raihan dengan serius.
"Itu tidak terpikirkan olehku, kau pintar juga, ya. " kata Shica.
"Setiap soal pasti ada jawabannya," kata Raihan.
"Setiap masalah pasti ada jalan keluarnya." sambung Shica.
Raihan mencerna kata-kata Shica. Tapi kemudian dia mengalihkan pandangannya.
"Terimakasih, penjelasannya." kata Shica kemudian bangkit dari duduknya, tapi Raihan menarik tangan Shica.
Shica kembali duduk. "Ada apa?" tanya Shica.
"Sebentar lagi Pak Arman masuk, kau mau dihukum karena telat masuk?" tanya Raihan.
"Hmm.. Ya baiklah, aku tidak akan pergi keluar," jawab Shica.
Argaa menghampiri mereka.
"Hai, Shica." sapa Argaa.
"Hai," jawab Shica semangat. Raihan mendengus kesal.
"Assalamualaikum," Pak Arman memasuki kelas. Argaa segera duduk dibangkunya.
"Wa'alaikum salam," jawab semua murid serempak.
Raihan tersenyum. "Bahkan Tuhanku berada diposisiku, rasakan cebol, aku tidak akan memberikan sedikitpun kesempatan bagimu untuk mendekati Shica"
"Raihan, kemarin jawaban matematikamu benar disertai penjelasan yang sangat mengesankan, sekarang maju kedepan dan tulis jawaban dari PR-mu" kata Pak Arman.
Raihan terkejut. "Astaga! Aku lupa," batin Raihan.
"Jangan bilang, kau membantuku tapi kau sendiri belum mengerjakannya." bisik Shica.
"Boleh kupinjam bukumu?" bisik Raihan
Shica mendengus kesal.
Setelah pelajaran matematika berakhir, Shica memilih melanjutkan membaca novelnya.
Raihan memperhatikan novel apa yang dibaca oleh Shica.
"Apa isinya kosong?" tanya Raihan dengan konyol.
Shica menoleh. "Kosong? Tentu saja tidak, mana mungkin aku membeli novel kosong, konyol." jawab Shica ketus.
Raihan mengingat mimpi itu. Dimana dia menemukan novel kosong di bangku taman.
"Boleh aku tahu judulnya?" tanya Raihan.
Shica memperlihatkan cover bukunya.
Aku dan Kamu Berbeda
Raihan terbelalak. "Judulnya sama. Apa mungkin, mimpi itu.."
"Apa ending-nya sedih?" tanya Raihan.
"Aku tidak tahu. Aku belum membacanya sampai selesai. Apa kau juga suka membaca novel?" tanya Shica.
"Tidak," jawab Raihan.
Shica ber'oh ria.
"Lalu, ceritanya tentang apa?" tanya Raihan.
"Tentang Cinta seorang wanita katolik kepada pemuda muslim." jawab Shica.
Raihan tampak berpikir.
"Sepertinya, bu Sindi tidak akan masuk." gumam Raihan.
"Itu bagus, aku tidak suka pelajaran Kimia Lintas Minat." jawab Shica.
Dua jam pelajaran itu kosong. Shica selesai membaca novelnya.
Dia mengusap air mata yang mengalir membasahi pipinya.
"Cerita ini benar-benar menyedihkan. Dia benar, akhirnya sad ending." gumam Shica sambil menatap Raihan yang terlelap pada kedua tangannya diatas meja.
Bel istirahat berbunyi.
Raihan terhenyak dari tidurnya. Dia segera bangkit dan pergi keluar.
Shica memasukkan novel-nya kedalam tas kemudian dia juga keluar dari dalam kelas.
Dia berpapasan dengan Regar.
"Kak? Sedang apa kakak disini?" tanya Shica.
"Aku mau memberikanmu kejutan" jawab Regar.
"Sekarang? " tanya Shica.
"Iya ayo" kata Regar sambil menarik tangan Shica dan membawanya keruang kelas XII-IPA-D.
Shica mengerutkan keningnya. "Untuk apa kita kekelas kakak? " tanya Shica.
"Jangan banyak tanya.. Ayo.. Oh ya aku kesulitan mencarimu.. Kupikir kau kelas IPA aku sampai mencarimu kesetiap kelas" kata Regar.
"Kakak konyol sekali " gerutu Shica.
Regar membuka pintu kelas.
Shica terbelalak.
Ada spanduk bertuliskan
Happy birthday
Shica Mahali
"Selamat ulang tahun Shica"
Semua orang bersorak mereka semua adalah teman sekelas Regar dan Shica. Shica tersenyum bahagia. Padahal dia sendiri tidak ingat kalau hari ini adalah hari ulang tahunnya.
Ada kue di atas meja. Dengan lilin berbentuk angka 17.
"Terimakasih.. Kakak semuanya"
Shica meniup lilinnya. Kemudian memotong kuenya.
"Berikan kue pertama pada keluargamu, kue kedua pada sahabatmu" kata temannya Regar.
Shica memberikan kue potongan pertama pada Regar. Dia menyuapi Regar. Regar tersenyum kemudian mencium kening adiknya. Shica tersenyum.
Shica menelisik kesekelilingnya. Mencari seseorang yang ingin dia berikan kue kedua.
Namun seperti nya orang itu tidak ada. Shica melihat Argaa. Dia memberikan nya pada Argaa.
"Dimana Raihan? Apa kakak lupa mengundang semua teman sekelasku? Padahal aku mau berterima kasih karena membantu mengerjakan PR matematikaku " batin Shica.
Sementara itu, Raihan meloncat di Benteng belakang sekolah. Dia kabur dari jam pelajaran.
Selesai dengan kejutan mendadak itu, Shica kembali kekelasnya sambil membawa bungkusan yang isinya kue untuk Raihan.
"Kamu mencari seseorang? " tanya Argaa mengejutkan Shica.
"Emm.. Tidak " bohong Shica.
Bu Indah memasuki kelas. Shica dan murid lainnya segera duduk rapi.
Shica melirik kebangku disampingnya.
"Raihan kemana? Jika telat masuk kelas dalam 15 menit, dia bisa dihukum" batin Shica.
"Shica.. Kamu duduk dengan siapa? " tanya bu Indah.
"Emm.. Raihan bu.. " jawab Shica.
"Kemana dia? Apa dia telat masuk kelas lagi? Seperti biasa? " tanya bu Indah.
Shica tidak menjawab.
Sampai pelajaran terakhir pun Raihan tidak kembali kekelas.
Shica tidak mengerti dengan Raihan. Dia pun membuang bungkusan kuenya ke tempat sampah.
By
_Ucu Irna Marhamah_
Sicha sebenar tidak pernah mencintai reynaldi, dengan jelas dia menunjukkan dia masih mencintai pria lain didepan suaminya, hak reynaldi tidak dia berikan tapi saat reynaldi mengambil paksa sicha berkoar sebagai korban, tapi pada satu jadi istri raihan dia senang hati beri hak raihan selalu bermeraan dengan raihan
Sicha tidak layan untuk reynaldi seharusnya reynaldi bisa dapat wanita yang lebih menghargainya