Sekte kuno Pedang Langit yang berjaya selama seribu tahun, dalam lima ratus tahun terakhir mengalami kemunduran akibat seluruh guru besar dan murid sekte bahkan sesepuh serta ketua sekte tewas dalam perang melawan Klan Iblis. Hanya tersisa, seorang murid luar Li Tianchen dan mendapatkan warisan dari guru besar. li Tianchen menjadi ketua sekte Pedang Langit.
Hidup damai dan nyamannya mulai terusik, saat Sekte -sekte baru menyerang dan ingin menguasai wilayah sekte Pedang Langit.
Mampukah Li Tianchen mempertahankan sekte pedang Langit? Dapatkah Tianchen mendapatkan murid untuk membantu sekte meraih puncak tertinggi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss_Dew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SEKTE KUNO 16
"I-Istri?" Liu Cheng dan Nyonya Han berteriak bersamaan dengan wajah yang dipenuhi ketakutan dan ketidakpercayaan.
"Kurang ajar! Berani sekali kau meremehkan Keluarga Liu kami!"
Tiba-tiba, sebuah tekanan energi spiritual yang sangat dahsyat meledak dari arah aula leluhur di bagian belakang kediaman. Tekanan energi tersebut begitu masif hingga menyebabkan ubin-ubin batu di halaman tengah retak dan bergetar hebat.
Dua berkas cahaya abu-abu melesat dari langit belakang dan mendarat dengan anggun di depan Liu Cheng. Saat cahaya itu meredup, terlihatlah dua orang pria tua dengan rambut dan janggut yang sudah memutih sepenuhnya, mengenakan jubah abu-abu kuno yang memancarkan aura keagungan yang sangat menindas.
Mereka adalah Sesepuh Agung Pertama, Liu Zhan, dan Sesepuh Agung Kedua, Liu Mo, dua pilar kekuatan sejati yang menjaga eksistensi Keluarga Liu selama ratusan tahun. Keduanya telah mencapai tingkat kultivasi Setengah Dewa, sebuah tingkatan yang sangat langka dan dihormati di wilayah barat ini.
"Leluhur!" Liu Cheng langsung berlutut dengan wajah yang dipenuhi harapan baru. "Tolong selamatkan Keluarga Liu! Orang-orang ini telah membantai pengawal kita dan ingin menghancurkan kediaman kita!"
Liu Zhan, sesepuh tertua dengan mata yang tajam bagai elang malam, menatap tumpukan es batu yang merupakan sisa tubuh penjaga gerbang, lalu beralih menatap Tianchen. "Benar-benar anak muda yang sombong. Hanya karena memiliki sedikit kemampuan, kau berani datang ke wilayah Keluarga Liu kami dan melakukan pembantaian? Apakah kau berpikir tidak ada orang kuat yang tersisa di dunia ini?"
Liu Mo mendengus dingin, aura setengah dewa di sekeliling tubuhnya meledak keluar membentuk bayangan harimau spiritual raksasa di langit. "Zhan, tidak perlu membuang kata-kata dengan orang mati. Hari ini, kita akan menggunakan darah mereka untuk membersihkan noda di nama baik keluarga kita!"
Yuanling dan Ziyan seketika merasakan tekanan yang sangat berat dari aura setengah dewa tersebut, membuat napas mereka sedikit sesak. Namun, Tianchen dengan lembut melangkah maju, berdiri di depan mereka berdua. Begitu Tianchen melangkah, seluruh tekanan spiritual dari kedua sesepuh agung itu seketika lenyap bagai debu yang ditiup angin, digantikan oleh rasa hangat yang melindungi Yuanling dan Ziyan.
"Setengah dewa?" Tianchen menatap kedua pria tua itu dengan seulas senyum tipis yang dipenuhi rasa meremehkan. "Di mataku... kalian berdua tidak lebih dari sekadar katak di dalam sumur yang mencoba menantang langit."
"Lancang! Terima kematianmu!" teriak Liu Zhan yang merasa sangat terhina.
“Jurus Rahasia Keluarga Liu: Sembilan Cakar Harimau Penghancur Surga!”
Liu Zhan dan Liu Mo melompat maju secara bersamaan. Keduanya mengalirkan seluruh energi spiritual setengah dewa mereka ke dalam tangan mereka, membentuk cakar-cakar energi raksasa berwarna merah darah yang siap mencabik-cabik tubuh Tianchen menjadi serpihan daging. Serangan gabungan ini begitu kuat hingga menyebabkan ruang di sekeliling mereka tampak sedikit terdistorsi.
Yuanling membelalakkan matanya dengan panik. "Tuan Li, awas!"
Namun, Tianchen tetap berdiri dengan sangat tenang. Ia tidak menarik pedang di pinggangnya, melainkan hanya mengangkat satu jari telunjuknya ke arah kedua sesepuh yang sedang menerjang maju dengan kecepatan kilat.
"Hancur," ucap Tianchen dengan nada yang sangat santai, hampir seperti berbisik.
“Gaya Pedang Tanpa Batas: Tebasan Satu Jari Pemutus Takdir!”
Ziiing—BOOOOM!
Sebuah garis cahaya putih murni yang sangat tipis melesat dari ujung jari telunjuk Tianchen. Garis cahaya itu tampak sangat sederhana, namun saat cahaya itu melintas, seluruh energi cakar harimau raksasa milik kedua sesepuh seketika terbelah menjadi dua dan lenyap tanpa suara.
Cahaya putih itu terus melaju dengan kecepatan yang melampaui batas penglihatan manusia, melewati tubuh Liu Zhan dan Liu Mo yang masih berada di udara.
Duk. Duk.
Kedua sesepuh agung tingkat Setengah Dewa itu mendarat di tanah, namun gerakan mereka seketika membeku. Mata mereka membelalak lebar dengan pupil yang bergetar hebat karena ketakutan yang teramat sangat.
"Kau... tingkat kultivasimu... bagaimana mungkin..." Liu Zhan mencoba berbicara, namun suaranya terputus.
Slash!
Sebuah garis merah tipis muncul di leher kedua sesepuh tersebut secara bersamaan. Kepala mereka perlahan-lahan merosot jatuh dari bahu mereka, diikuti oleh tubuh mereka yang ambruk ke tanah dengan darah yang menyembur deras bagai air mancur.
Hanya dengan satu jurus... bahkan hanya menggunakan satu jari tanpa menarik pedangnya, seorang Ketua Sekte tingkat Maharaja Agung telah membantai dua orang ahli tingkat Setengah Dewa seolah-olah mereka hanyalah semut kecil yang lemah.
Keheningan yang teramat mencekam seketika menyelimuti seluruh kediaman Keluarga Liu. Liu Cheng terjatuh terduduk di tanah dengan wajah yang benar-benar kosong, pikirannya telah runtuh sepenuhnya melihat dua leluhur terkuat keluarganya tewas dalam satu kedipan mata. Nyonya Han menjerit histeris sebelum akhirnya pingsan karena ketakutan, sementara ketiga pamannya gemetaran hebat hingga pedang di tangan mereka terjatuh ke tanah dengan bunyi denting yang nyaring.
"Monster... dia adalah monster tingkat Maharaja Agung..." bisik Liu Ba dengan bibir yang membiru.
Tianchen mengabaikan ketakutan mereka dan menoleh ke arah Yuanling. "Yuanling, pergilah ke aula leluhur. Ambil abu ibumu dan semua barang milikmu yang tersisa. Aku akan menjagamu dari sini."
Yuanling menatap Tianchen dengan mata yang dipenuhi rasa haru dan terima kasih yang tak terhingga. Ia mengangguk kuat-kuat. "Baik, Tuan!"
Dengan langkah kaki yang mantap, Yuanling berjalan melewati tubuh-tubuh gemetar dari anggota keluarganya yang kini tidak berani bahkan untuk menatapnya. Ia masuk ke dalam aula utama, menuju aula leluhur yang terletak di bagian paling belakang.
Di dalam aula leluhur yang dingin dan berdebu, Yuanling menemukan sebuah guci abu giok putih sederhana yang diletakkan di sudut paling bawah, sebuah tempat yang sengaja dipilih untuk menghina mendiang ibunya. Di samping guci tersebut, terdapat sebuah kotak kayu kecil berukir yang berisi beberapa cincin penyimpanan dan segel warisan milik ibunya yang selama ini dirampas oleh Nyonya Han.
Yuanling mengambil guci abu tersebut dengan kedua tangan yang gemetar, mendekapnya erat-erat ke dadanya saat air mata hangat mengalir deras di pipinya. "Ibu... Yuanling kembali. Yuanling akan membawamu pergi dari tempat terkutuk ini... ke tempat yang jauh lebih indah dan damai..."
Setelah mengamankan kotak warisan ibunya, Yuanling berbalik dan berjalan keluar dari aula dengan tatapan mata yang kini sepenuhnya bebas dari beban masa lalu.
Begitu Yuanling kembali ke halaman tengah dan mengangguk ke arah Tianchen, sang Maharaja Agung tahu bahwa urusan pribadi istrinya telah selesai. Kini saatnya untuk menyelesaikan sisa kotoran yang ada di tempat ini.
Tianchen menatap dingin ke arah Liu Cheng, ketiga pamannya, dan seluruh pelayan serta pengawal Keluarga Liu yang masih tersisa di halaman tersebut. Orang-orang ini telah menyiksa Yuanling selama bertahun-tahun, membunuh ibunya, dan berniat menjualnya sebagai budak kultivasi. Bagi Tianchen, membiarkan satu pun dari mereka hidup adalah sebuah penghinaan terhadap keadilan.
"Yuanling, Ziyan, berbaliklah dan tutup mata kalian," perintah Tianchen dengan nada suara yang teramat dingin dan tanpa ampun.
Ziyan yang biasanya ceria kini tampak sangat serius. Ia segera menarik tangan Yuanling dan membimbingnya untuk berbalik menghadap gerbang luar, menutup mata mereka rapat-rapat.
Tianchen melangkah ke tengah halaman. Ia menggigit ujung ibu jarinya sedikit hingga mengeluarkan setetes darah murni tingkat Maharaja Agung miliknya. Dengan gerakan tangan yang sangat cepat, ia melukis sebuah simbol rune kuno di udara menggunakan darah tersebut.
“Seni Terlarang Pedang Langit: Penghancuran Garis Darah Penyucian Jiwa!”
Bzzzzz!
Simbol rune darah itu mendadak membesar, melayang ke langit di atas kediaman Keluarga Liu dan memancarkan cahaya merah darah yang sangat pekat dan menindas. Sebuah lingkaran formasi pembantaian raksasa terbentuk, mengunci seluruh area kediaman tanpa ada satu celah pun untuk melarikan diri.
"T-Tolong ampuni kami! Kami salah! Kami bersedia menjadi budak Anda!" teriak Liu Cheng dengan histeris, mencoba merangkak mendekati Tianchen.
Namun, Tianchen sama sekali tidak bergeming. Ia mengepalkan telapak tangannya yang berdarah dengan keras.
BOOM!
Cahaya merah darah dari langit melesat turun bagai hujan jarum energi spiritual yang tak terhitung jumlahnya. Setiap jarum darah yang menyentuh kulit anggota Keluarga Liu dan para pelayannya langsung merembes masuk ke dalam tubuh mereka, menyulut pembakaran energi dalam secara instan.
"Arghhhhh!"
Jeritan memilukan yang teramat mengerikan menggema di seluruh penjuru bukit. Satu per satu, tubuh Liu Cheng, ketiga adiknya, Nyonya Han, serta seluruh pelayan dan pengawal di dalam kediaman tersebut mulai meledak dari dalam, hancur menjadi abu merah dalam hitungan detik akibat pembakaran mantra darah tingkat tinggi Tianchen. Bahkan jiwa astral mereka pun langsung dihancurkan, memastikan bahwa mereka tidak akan pernah bisa bereinkarnasi lagi untuk selamanya.
Hanya dalam waktu kurang dari satu menit, seluruh kediaman megah Keluarga Liu yang semula dipenuhi kehidupan kini berubah menjadi sebuah kuburan sunyi yang dipenuhi debu abu merah yang perlahan-lahan tertiup angin gunung yang dingin.
Tianchen mengembuskan napas pelan, meredakan aliran energinya hingga kembali tampak seperti manusia biasa. "Selesai. Kita bisa pulang sekarang."
Yuanling dan Ziyan membuka mata mereka kembali. Melihat halaman yang kini benar-benar kosong tanpa menyisakan satu pun musuh atau pelayan, Yuanling merasakan kelegaan yang luar biasa di hatinya. Beban berat yang selama ini menghimpit pundaknya kini telah sirna sepenuhnya.
Mereka bertiga berbalik dan mulai berjalan meninggalkan kediaman Keluarga Liu yang kini telah mati.
Namun, saat mereka melangkah melewati reruntuhan paviliun pelayan di dekat gerbang samping luar, langkah kaki Tianchen mendadak terhenti. Sepasang mata elangnya menatap tajam ke arah tumpukan kayu dan batu runtuh di sudut halaman samping.
"Tuan? Ada apa?" tanya Yuanling yang menyadari perubahan ekspresi suaminya.
tenann yunnn... tuan Tian sangat tampan kokk JD nikmatin aja🤭
murid yg pintar langsung bisa tepat sasaran 🤣🤣🤣
ziyan ayo pasti bisa kamu ngelewatin ini 🤣
udah pada datang sendiri..
hanya tinggal bersatuu dan bangkit