Dibuang dan dibiarkan mati di kegelapan Alas Purwo, Satria Pamungkas justru membangkitkan "Sistem Penguasa Jagat". Di dunia Nusantara Kuno yang kejam, kesaktian adalah segalanya. Satria tidak peduli pada moralitas; ia menghancurkan musuh hingga ke akar-akarnya dan melipatgandakan energinya setiap kali menaklukkan wanita-wanita paling berpengaruh di jagat raya. Dari seorang buangan, sang anti-hero bangkit menembus ranah dewa, membangun imperium harem tak terbatas, dan memaksa seluruh Dwipantara bertekuk lutut!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RIOR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11: Benih Ketakutan di Jantung Kadipaten
Hening yang mencekam mencengkeram halaman Benteng Sayap Barat.
Seratus lebih prajurit pertahanan Blambangan berdiri membeku, seolah-olah sepasang kaki mereka telah tertanam dan menyatu dengan ubin batu yang kini digenangi darah segar Senopati kembar mereka.
Senjata-senjata di tangan mereka—tombak, keris, dan perisai kulit—terasa luar biasa berat dan bergetar hebat. Tidak ada satu pun di antara mereka yang berani bernapas dengan keras.
Satria Pamungkas berdiri di tengah lingkaran kematian itu, perlahan mengayunkan Pedang Bintang Tujuh Kedewaan ke samping.
Gerakan sederhana itu membersihkan sisa darah Surogento dan Suroganti dari bilah hitam legamnya, menciptakan garis merah yang lurus di atas permukaan tanah.
Tujuh permata rasi bintang di bilah pedang perlahan meredup, menyisakan aura dingin yang tetap menusuk tulang.
"Aku bertanya sekali lagi," suara Satria memecah kesunyian, begitu datar namun bergema kuat karena dialiri *Prana* Ranah Wira Tahap 7. "Siapa di antara kalian yang masih ingin maju dan menguji ketajaman pedangku?"
Mendengar pertanyaan itu, seorang perwira menengah yang berada di barisan depan langsung menjatuhkan tombaknya ke tanah. Suara dentingan logam itu memicu reaksi berantai. Satu per satu, puluhan, lalu ratusan prajurit di belakangnya ikut melemparkan senjata mereka. Mereka semua berlutut secara serentak, menundukkan kepala hingga menyentuh tanah yang dingin.
"Am... ampun, Gusti! Kami hanya menjalankan perintah istana! Kami tidak memiliki dendam pribadi dengan Gusti Satria!" teriak sang perwira menengah, suaranya gemetar menahan kengerian yang luar biasa.
[Bip! Menundukkan seluruh garnisun Benteng Sayap Barat tanpa perlawanan lanjutan.]
[Memicu Intimidasi Mutlak skala penuh!]
[Mendapatkan: 30.000 Poin Sistem.]
[Saldo Poin saat ini: 38.000 Poin.]
Satria menatap tumpukan manusia yang bersujud di kakinya tanpa ada binar kepuasan sedikit pun.
Baginya, kepatuhan mereka yang lahir dari rasa takut sama berharganya dengan kepatuhan yang lahir dari kesetiaan; keduanya adalah alat yang efektif untuk mencapai tujuan.
Ia melirik Dyah Sekar Ayu yang berjalan mendekat dengan langkah anggun.
"Biarkan mereka hidup, Satria," ucap Sekar Ayu pelan, sepasang mata esnya menatap para prajurit yang ketakutan. "Mereka adalah bibit terbaik untuk menyebarkan kepanikan di ibu kota. Jika kau membantai mereka semua di sini, tidak akan ada saksi hidup yang membawa cerita tentang bagaimana Surogento dan Suroganti dipenggal dalam satu tebasan."
Satria memasukkan kembali pedangnya ke dalam sarung di punggungnya. Intuisi Dewi Sri yang beresonansi di dalam benaknya membenarkan taktik psikologis yang disarankan oleh sang putri. "Kau benar. Ketakutan yang tidak terlihat jauh lebih melumpuhkan daripada sepasang pedang yang nyata."
Satria menatap perwira menengah yang tadi pertama kali menjatuhkan senjata. "Kau. Siapa namamu?"
"Ba... Bagus Tejo, Gusti!" jawab sang perwira tanpa berani mengangkat kepalanya.
"Bagus Tejo, bawa setengah dari pasukanmu yang tersisa. Masuk ke dalam ibu kota Blambangan sekarang juga. Temui Adipati Bhre Wirabhumi dan katakan padanya: Satria Pamungkas telah mengambil kembali apa yang kalian rampas dari Alas Purwo, dan dalam tiga hari, giliran kepalanya yang akan menghiasi gerbang istana pusat," perintah Satria dingin.
"Si... siap, Gusti! Perintah Anda akan hamba laksanakan saat ini juga!" Bagus Tejo segera bangkit dengan tergesa-gesa, mengumpulkan beberapa anak buahnya yang masih bisa berdiri, dan berlari keluar benteng menuju arah timur bagai dikejar oleh hantu kelaparan.
"Sisa pasukan yang ada di sini, bersihkan tempat ini. Benteng ini sekarang berada di bawah kendaliku," lanjut Satria kepada prajurit yang masih berlutut.
•••
Siang harinya, atmosfer di dalam ruang utama Benteng Sayap Barat terasa jauh lebih bersih setelah sisa-sisa pertempuran dibersihkan.
Satria duduk di atas kursi jati besar yang sebelumnya merupakan milik Surogento.
Di depannya, sebuah peta kulit domba yang menggambarkan seluruh wilayah Kadipaten Blambangan terbentang di atas meja kayu.
Dyah Sekar Ayu berdiri di sampingnya, meletakkan jemari halusnya di atas peta, menunjuk ke arah sebuah titik yang dikelilingi oleh simbol benteng berlapis empat.
"Bagus Tejo pasti sudah menyampaikan pesanmu pada Adipati," ucap Sekar Ayu, matanya berbinar cerdas. "Dengan jatuhnya Sayap Barat dan tewasnya Ronggolawe, Blambangan kini hanya menyisakan dua Senopati utama: Senopati Kebo Marcuet yang memimpin pasukan gajah di wilayah selatan, dan Senopati Menak Jingga yang menjaga benteng dalam istana pusat. Menak Jingga dikabarkan telah mencapai Ranah Satria Tahap 9 dan memiliki senjata ghaib berbentuk gada kencana."
Satria mendengarkan dengan saksama. Status kekuatannya saat ini berada di Ranah Wira Tahap 7, namun berkat kombinasi Ajian Kebal Jolo Sutro dan ketajaman Pedang Bintang Tujuh Kedewaan, ia tidak gentar sedikit pun terhadap pendekar Ranah Satria puncak sekalipun. Namun, sifat anti-heronya yang tidak naif membuatnya tetap waspada.
"Bagaimana dengan sang Adipati sendiri?" tanya Satria.
"Bhre Wirabhumi adalah rubah tua," jawab Sekar Ayu, dahi indahnya sedikit berkerut. "Dia jarang bertarung sendiri, namun kekuatannya berada di Ranah Senopati Tahap 3. Yang berbahaya bukanlah kekuatannya, melainkan koneksinya. Jika dia merasa terdesak, dia memiliki mantra komunikasi kuno untuk meminta bantuan dari faksi kultivator benua luar yang sering berdagang pusaka dengannya secara ilegal."
Mendengar kata 'kultivator benua luar', seulas senyum dingin justru muncul di wajah tampan Satria. Ini adalah persis seperti informasi alur yang ada di dalam ingatan sistemnya. Tantangan yang meluas ke luar Dwipantara adalah apa yang ia nantikan untuk menguji Overlord System dalam skala penuh.
"Biarkan dia memanggil siapa pun yang dia inginkan. Semakin banyak tikus yang keluar dari lubangnya, semakin banyak poin yang bisa kukumpulkan," ucap Satria datar. Ia kemudian menoleh, menatap langsung ke arah wajah jelita Sekar Ayu yang berada sangat dekat di sampingnya. "Gusti Ayu, kekuatanmu baru saja menyentuh Ranah Satria Tahap 3 semalam. Fondasimu masih membutuhkan penguatan sebelum perang besar besok lusa."
Dyah Sekar Ayu merasakan tatapan intens Satria menembus langsung ke dalam jiwanya. Hubungan mistis dari Asmaragama Siphoning seketika bergetar, memicu rasa hangat yang familier di dalam dadanya. Tanpa perlu diperintah dua kali, sang putri melangkah mundur, menutup pintu kayu ruang utama benteng, dan mengunci selotnya dengan rapat.
Ia berjalan kembali ke arah Satria, melepaskan jubah luarnya dengan gerakan yang anggun, menyisakan tubuh indahnya yang hanya dibalut kemben sutra hijau. Keangkuhannya sebagai calon penguasa Kadiri kini sepenuhnya tunduk di bawah keinginan sang pemuda di depannya.
"Gunakan tubuh dan sukmaku sesukamu, Satria. Tempa aku menjadi senjata tertajammu," bisik Dyah Sekar Ayu, suaranya bergetar penuh kepatuhan yang mendalam saat ia duduk di pangkuan tegap Satria, menyandarkan pundak halusnya pada dada bidang pemuda itu.
Satria melingkarkan tangan kirinya di pinggang ramping Sekar Ayu, sementara tangan kanannya mulai memanggil menu sistem di dalam benaknya, bersiap melakukan investasi poin besar-besaran di Toko Pawon Pusaka untuk mempersenjatai diri dan harem pertamanya menjelang penyerbuan ke jantung Blambangan.