Demi membalas orang-orang yang membuatnya terpaksa terpisah dengan orangtua, Nayyara telah merencanakan sebuah pembalasan.
Dia menyamarkan dirinya dengan sempurna, menyembunyikan wajah indahnya menjadi wajah buruk yang menggunakan kacamata tebal!
Namun dalam proses balas dendamnya, Nayyara berbuat salah yang fatal—— dia telah menarik perhatian CEO dingin.
""Semua wanita itu murahan"" Harry Balwis
""Kau hanya pria arogan yang haus akan cinta"" Nayyara.
Mampukah Naya mencapai tujuannya? atau dia malah jatuh cinta pada pria itu sebelum tujuannya tercapai?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mom yara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15 Saingan
Harapan seseorang kadang tidak sesuai rencana, apa yang kita rencanakan sering kali suka berbelok, apalagi ada perasaan di dalamnya. Tanpa kita rasakan semua itu terasa mengikat, membuat hati dan ucapan tidak bersahabat, begitupun dengan rasa yang mungkin telah ada di hati mereka berdua.
"Paman bisakah kita mempercepat rencananya. Aku akan muncul di hadapan mereka saat ini juga" ucapnya pada sang paman melalui sambungan ponselnya
"Dan mengorbankan nyawamu dengan sia - sia"
"Tapi jika kita menunggu buktinya, itu akan terlalu lama paman, harus ada yang dikorbankan untuk memancing mereka, yaitu dengan kemunculanku, aku akan baik baik saja"
"Itu terlalu beresiko, jangan melakukannya"
Naya menghembuskan nafasnya kasar.
Aku takut pada diriku sendiri paman, aku takut jatuh hati padanya
.
Ia bangkit dari tempat duduknya, kemudian melangkah menuju rumah sewanya tapi sebelum sampai, tiba - tiba ada yang memukul tengkuknya membuatnya jatuh tersungkur.
Setelah dari apartemen Harry, ia memutuskan untuk kembali ke rumah sewa, ia menolak tawaran Harry untuk mengantarnya. Sebelum sampai dirumah sewa ia duduk dulu di halte dekat sana, tapi saat melangkah sesuatu menghantam tubuh bagian belakangnya.
*
*
Perlahan ia membuka matanya, berusaha untuk menyesuaikan dengan penerangan yang temaram, terdengar suara orang berbicara tapi penglihatannya tak mampu menemukan mereka, Saat sadar sepenuhnya, tangan dan kakinya sudah terikat pada kursi.
Dimana ini. gudang.
"Kepalaku sakit, uhhhh... " dia bergerak ke kanan ke kiri berusaha melepaskan ikatannya, tapi tubuhnya tak mampu untuk bergerak lincah, ada apa dengan tubuhnya kenapa terasa lemas. Apa mereka melakukan sesuatu pada tubuhku ini batinnya.
Terdengar derap langkah beberapa pasang kaki, dan yang tengah aku sangat mengenalnya. Ternyata dia yang membuatku seperti ini pikirnya.
"Wah.... wah... ternyata kau sangat cantik tanpa kaca mata tebal itu, pantas saja Harry terpikat olehmu. Tapi tenang saja sebentar lagi kau akan meninggalkan dunia ini, jadi berbahagialah" ucapnya sinis sambil memegang rambut Naya menariknya sedikit agar wanita dikursi itu bisa melihat kearahnya.
Naya malah tertawa mendengar ucapan wanita yang menarik rambutnya"Apa kau merasa tersaingi, kau takut bersaing denganku yang hanya karyawan rendahan"
"Tutup mulutmu, aku sama sekali tidak takut padamu, sampai kapanpun Harry adalah milikku" melepaskan tangannya dari rambut Naya dengan kasar.
"Tapi dia mencintaiku, dia takut kehilanganku" Naya masih memprovokasi wanita itu yang tak lain adalah Tasya
"Bukankah sudah benar jika aku membunuhmu? "
"Apa kau merasa tak percaya diri, sehingga ingin menghabisiku"
"Bagaimana mungkin wanita murahan sepertimu mau menyaingi ku, kau hanya patner ranjangnya yang akan segera dibuang olehnya"
"Dia mengajakku menikah" Naya mencoba untuk lebih Memprovokasi Tasya.
"Kau benar - benar ******! "
Plak
Satu tamparan mendarat mulus pada pipi Naya.
*
*
Ditempat yang lain.
"Bos, bagaimana apa yang akan kita lakukan, nona ditangkap lagi oleh mereka"
"Tenanglah, nona akan baik - baik saja, sesuai perintahnya jangan lakukan apapun jika ada orang yang akan mencelakai nya cukup pantau dari jauh"
"Baiklah bos, saya sudah menempatkan beberapa orang untuk berjaga - jaga"
"Baguslah" ucap pimpinan mereka, dia bingung dengan nona nya yang tidak mau diselamatkan.
*
*
Seseorang berdiri di dekat jendela sambil memegang ponselnya. Ia segera pergi setelah mendengar kabar dari bawahannya yang ia suruh untuk menjaga wanita yang akhir akhir ini mengganggu pikirannya.
Kembali ke tempat penyekapan.
"Kau masih bisa membanggakan dirimu sekarang" Tasya menampar Naya berulang kali membuat kedua sudut bibirnya terluka, pipinya terasa kebas, tapi ia tetap bertahan untuk menunggu seseorang datang. Ia tahu beberapa hari ini orang Harry mengikutinya.
Belum sampai setengah jam, terdengar kehebohan diluar gudang.
Orang - orang Harry datang.
Naya tersenyum pada Tasya. "Sepertinya pria pujaanmu datang untuk menyelamatkanku, kau berakhir, tidak mungkin dia mau memiliki istri wanita jahat sepertimu" ucapnya sambil tersenyum sinis meskipun terasa sedikit sakit di bagian bibirnya.
"Kau.... " hendak menampar Naya.
"Hentikan! " teriak seorang pria sebelum tamparan itu mendarat sempurna.
"Kau tamat" bisik Naya pada Tasya dengan ekspresi mengejek.
"Apa yang kau lakukan? kau ingin menjadi pembunuh? kau sudah melakukan tindakan kriminal, bagaimana kalau seluruh orang tahu kalau anak pemilik Mall terbesar adalah seorang pembunuh"
Deg
"Lepaskan dia" perintah Tasya pada anak buahnya untuk melepaskan Naya, menatap Naya dengan tatapan membunuh, permusuhan diantara keduanya tidak bisa dihindari lagi, melihat pria yang dicintainya menyelamatkan wanita murahan yang sangat ia benci membuat darahnya semakin mendidih, ia sudah ketahuan tidak perlu lagi bersikap lembut dan manis di depan Harry, kemudian ia berlalu pergi dari sana dengan amarah yang membuncah.
"Mana yang sakit? maaf membuatmu terluka karena aku" ucap Harry pada wanita yang masih duduk dikursi, bedanya saat ini ikatannya sudah dibuka.
Naya tersenyum sambil meringis karena bibirnya terluka. "Aku mau pulang"
"Kita kerumah sakit dulu"
Harry datang dengan lima anak buahnya, ia pikir akan melawan anak buah Tasya ternyata dia pergi begitu saja, Harry memerintahkan anak buahnya untuk segera meninggalkan tempat itu tanpa mengikutinya, ia akan mengantar Naya sendiri kerumah sakit.
Setelah di dalam mobil, Naya merengek tidak mau kerumah sakit, cukup diobati saja. Akhirnya ia menyerah tidak jadi kerumah sakit, ia mampir ke apotik untuk membeli salep pereda nyeri.
Mobil melaju kembali menuju rumah yang disewa Naya, Harry mengajaknya ke apartemen tapi ia ingin istirahat dirumahnya. Sampai dirumah sewa, Harry yang membuka pintu setelah mendapatkan kuncinya, Naya masuk lebih ke dalam diikuti Harry.
Harry memperhatikan rumah itu, kecil, rapi dan lumayan nyaman.
"Duduklah, aku akan mengobati lukamu"
Harry mengambil es untuk mengobati luka Naya sebelum memberi salep.
Mereka duduk berhadapan, dengan jarak yang begitu dekat membuat jantung mereka ditabuh seperti suara gendang.
Bibir Naya yang sedikit terbuka membuat Harry meneguk salivanya berulang ulang, kerongkongannya terasa kering. Naya menatap lurus ke wajah Harry, memperhatikannya dengan seksama, mata besar dengn bulu mata yang lentik, alis tebal dan rapi mendukung sekali, hidung mancung tegak, rahang yang kuat dengan bulu - bulu tipis, bibir yang seksi.
"Kau mengambil banyak kesempatan dengan menikmati ketampananku" Naya merasa gelagapan, ketahuan memperhatikannya. "Apa kau sudah puas?" Mengambil tangan Naya membawanya mendekati wajahnya, ia menuntun tangan Naya untuk mengelus setiap bagian wajahnya.
Jantung Naya mendadak ingin keluar dari tubuhnya, apa yang mereka lakukan saat ini. saling mengagumi keindahan ucapnya dalam hati membuatnya tertawa kecil.
"Apa yang membuatmu tertawa, kau merusak suasana romantis kita" Harry cemberut.
"Priaku ini sangat tampan" pujinya membuat Harry memerah. Hah Harry dipuji begitu saja sudah klepek - klepek.
"Kau sangat beruntung bersamaku"
"Ya, aku wanita yang paling beruntung"
Keduanya mendadak menjadi canggung, mereka baru tersadar dengan posisi mereka yang begitu intim, mereka duduk berhadapan dengan kaki Naya dijepit oleh kedua kaki Harry.
Kemudian Naya berdiri. "Aku akan membuat minuman" sambil menggaruk tengkuknya lalu berjalan menuju dapur.
"Ya " jawab Harry salah tingkah, kalau berduaan memang yang ketiga itu adalah syetan.
terima kasih atas karya yg sangat menghibur ini thor.. semangat terus utk karya² baru yg lebih wow lagi.