"Kamu akan terus dihantui rasa bersalah Dinda. Dan kamu tidak akan bisa lepas dari semua ini. Jika kamu beranggapan, membunuh ku dapat menghentikan semuanya, kamu salah Dinda. Justru kamu akan memulai semuanya. Kamu akan terus dihantui rasa sakit dan penderitaan kemana pun kamu pergi."
Bagaimana seorang Dinda bisa mengalami berbagai hal aneh sekaligus mengerikan dalam hidupnya?
Bisakah dia melalui semua rintangan yang menghadang?
Akankah dia sanggup berjalan hingga akhir?
Peringatan : Cerita ini hanya fiktif belaka. Jika ada kesamaan Nama atau pun tempat, itu semua diluar pengetahuan sang penulis. Dan tidak ada maksud dari Sang Penulis untuk menyinggung suatu pihak manapun. Penulis memohon maaf yang sebesar-besarnya, jika ada bahasa atau pun perkataan yang tidak pantas.
Dan tentunya Sang Penulis tak pernah bisa lepas dari kesalahan.
Terimakasih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Juan Atma Wikarta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Namaku Dinda : Episode 15
Semua patung yang tadinya aku lihat dengan sangat jelas, sekarang berubah menjadi manusia dan menjadi pendekar yang sesungguhnya. Semua ini nyata, aku tertegun melihat semua ini.
Walaupun aku terbiasa melihat makhluk halus, tapi tak pernah sekalipun aku melihat patung yang berubah menjadi manusia. Wajah mereka begitu pucat dan mata mereka terlihat putih bersinar.
Mereka mendekatiku dan berlutut di hadapanku. Tapi satu yang tidak terlihat adalah perempuan tadi.
"Nyi... Kami semua sudah siap untuk berperang kembali. Sudah saatnya perang saudara ini diakhiri Nyi."
"Kek?" (Dinda)
"Nduk, wanita yang tadi sudah masuk kedalam tubuh mu. Dia sudah menyatu dengan mu. Walaupun dia sudah mati, namun jiwanya tetap hidup dan tetap menjaga semua keturunannya." (Jogo Rogo)
"Lalu saya harus melakukan apa Kek?" (Dinda)
"Nyai.. Nyai tidak perlu khawatir, karena Nyai hanya perlu belajar menggunakannya. Jadi sementara ini Nyai harus tinggal di gua ini, dan Nyai tidak boleh keluar barang sebentar pun."
"Tapi bagaimana dengan sahabat dan ayah saya? Mereka juga pasti terancam." (Dinda)
"Tenanglah nduk, mereka aman disana. Yang terpenting adalah dirimu. Jangan remehkan kemampuan lawan kita, mereka bisa menemukan mu hanya dengan mencium bau keringat mu." (Jogo Rogo)
"Maka dari itu Nyi, tinggallah disini untuk sementara waktu. Kami akan menjamin keamanan Nyai di tempat ini, dan lagi pula tempat ini tak bisa dimasuki oleh siapa pun kecuali Nyai dan kami yang ada disini."
"Baiklah, saya akan ikuti nasehat kalian. Tapi sebelumnya, saya ingin tahu dulu siapa kalian ini?" (Dinda)
"Nyai, kami ini adalah pendekar pilihan Nyai Sarmi. Dulu dialah yang melatih kami, hingga kami mampu bertahan hidup selama ini. Dan kami diberi amanat oleh Nyi Sarmi agar selalu setia menjaga keturunannya."
"Baiklah, saya mulai paham apa yang harus saya lakukan disini." (Dinda)
"Syukurlah nduk kalau kamu sudah mulai menerima keadaan ini. Kakek berharap kamu bisa berlatih dengan tekun di tempat ini." (Jogo Rogo)
"Jogo Rogo. Agar cucu mu ini lebih menekuni latihannya, sebaiknya kamu pulanglah. Biarkan dia melewati semua ujian ini dengan baik." (Para Sesepuh)
"Baik Para Sesepuh, saya titipkan cucu saya ini kepada para sesepuh. Saya harap, cucu saya ini bisa melewati setiap ujiannya dengan baik. Saya mohon diri Para Sesepuh." (Jogo Rogo)
"Nduk, ingatlah. Yang berbicara dengan Kakek tadi adalah Para Sesepuh. Kamu bisa melihat mereka, kalau kamu berhasil melewati semua ujian yang diberikan nduk. Jadi Kakek berharap kalau kamu mengikuti ujian ini dengan tekun ya nduk." (Jogo Rogo)
"Iya Kek, saya akan selalu ingat pesan yang telah Kakek berikan kepada saya. Dan saya minta tolong Kek, jaga sahabat saya Beni. Selama ini dia yang bersama saya Kek." (Dinda)
"Iya nduk, tentu saja. Kakek pergi dulu. Perbanyaklah berdoa nduk." (Jogo Rogo)
"Iya Kek." (Dinda)
Setelah itu Kakek berlalu dari gua ini. Aku tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi padaku nanti. Dan aku baru sadar, kalau sedari tadi para pendekar ini masih bertekuk lutut di depan ku.
"Para Pendekar." (Dinda)
"Iya Nyai." (Para Pendekar)
"Sekarang berdirilah. Karena saya ingin meminta kepada kalian." (Dinda)
"Silahkan Nyai, apapun yang Nyai inginkan." (Para Pendekar)
"Saya ingin sebagian dari kalian mencari bahan makanan. Dan sebagian lagi berjaga di gua ini. Untuk memastikan kalau semuanya benar benar aman." (Dinda)
"Baiklah Nyai. Segera kami jalankan." (Para Pendekar)
Selagi mereka semua pergi, sepertinya aku memiliki cukup waktu untuk bermeditasi. Karena suasana yang sangat hening, bisa membuat aku lebih nyaman dan tenang.
jadinya ngeganggu banget
baca sinopsisnya kliatanbya lymayan asik ceritanya,pas udh baca,lsg drop dgn gaya penulisan
ayooo dikoreksi thor...biar bs jd penulis beneran,bkn abal2 yg banyak berseliweran di platform ini