Rara wijaya wanita yang cerdas, baik hati dan termaksud gadis pemberani. Dia harus menikah dengan Rendy Handoko seorang CEO muda. Pria yang memiliki penampilan yang tampan dan kepribadian yang sombong.
Dari awal pertemuan mereka sudah mengibarkan bendera perang.
Rendy merasa Rara menikahinya karena harta. Oleh karena itu Rendy selalu berkata kasar kepadanya.
Sementara itu Rara yang memiliki kepribadian ceria harus berubah seratus delapan puluh derajat untuk meruntuhkan kesombongan suaminya.
Tidak ada hari tanpa keributan dan kecemburuan di antara pasangan itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ylfrna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 15
Setelah satu hari kepergian Rendy keluar kota. Rara tidak tahu harus bagaimana, Ia tidak mengabari Rara sedetik pun yang ia lakukan hanya berdiam diri di rumah, pikirnya mungkin dia sedang bersenang-senang dengan pacarnya atau sedang menertawakan kebodohan Rara, aaah Rara benar-benar telah membuang banyak kesempatan demi menikah dengannya.
Dan tiba-tiba menjelang sore Rara mendapatkan telepon dari Angga. Angga mengajaknya bertemu di restoran cepat saji tempat dimana dulu mereka sering menghabiskan waktu bersama.
Rara yang merasa bosan di rumah mengiyakan permintaan Angga. Rara langsung mengganti baju dan sedikit memoles wajah cantiknya dengan beberapa make-up handalan nya.
...----------------...
Satu jam sudah berlalu, Rara berniat mengajak Pak Joko untuk pergi bersamanya. Namun, ketika melihat sopir itu tertidur pulas. Rara tersenyum kecil dan memilih mengendarai mobil sendiri,
Tidak apa, mungkin sudah waktunya ia mengistirahatkan tubuh ketika Rendy keluar kota, Rara tidak tega melihatnya harus menunggu di luar terlalu lama.
Angga sudah menunggunya sedari tadi. Kira-kira sudah lima belas menit yang lalu ia sampai di tempat itu. Dan gelas di depannya itu adalah minuman keduanya, mungkin dia bosan menunggu Rara yang super lelet. Dan makin sore restoran itu semakin ramai oleh pengunjung. Angga tidak memberitahukan Raisa bahwa ia akan menemui Rara. Rara pun lupa menanyakan apakah Raisa ikut?
Karena macet Rara menghabiskan waktu setengah jam di perjalanan.
Begitu turun dari mobil Rara merapikan baju dan rambutnya. tidak lupa Rara tersenyum manis ketika melihat Angga melambaikan tangan ke arahnya.
Jantung Angga kembali berdetak ketika melihat cinta pertamanya. Sudah 8 tahun, dan Rara semakin cantik. Sayang saja dia sudah di miliki pria lain.
"Maaf telat, macet tau" katanya seraya menarik kursi di depan Angga
"Iya nggak papa, aku merindukan kamu loh!" Ucap Angga langsung di sertai gelak tawanya, ketika dia tertawa ketampanannya juga ikut bertambah
"Rayuan maut! Raisa mana?" tanyanya melihat sekeliling
"Dia masih sibuk sama pekerjaannya" Ucap Angga kembali tersenyum manis
"Nggak apa nggak ada dia nih?" tanya Rara memastikan kembali, Rara takut Raisa cemburu lagi
"Benaran nggak papa" balasnya cukup yakin
"Bagaimana rasanya menikahi pria yang tidak kau cintai?" Tanya Angga, dan Rara langsung senyum mendengar pertanyaan itu
"Seperti uji nyali, siang dan malam olahraga jantung,sekalian memastikan agar tetap waras" jawab Rara asalan
"Hahaha" Angga lagi-lagi ketawa lebar
"Oh iya, bagaimana ceritanya kau bisa berlabuh di hati Raisa?" Tanya Rara mengalihkan pembicaraan dan sebenarnya ia juga penasaran dengan hal itu
"Haha, panjang ceritanya!"
"Intinya?" Tanya Rara sedikit mendesak
"Dia mencintai aku!" Balas Angga masih tersenyum puas
"Haha, benar juga ya" pungkas Rara ikut tertawa
Seakan ketika bersama Angga ia bisa melupakan masalahnya yang bagi Rara cukup berat untuk ia jalani
mereka berdua kembali bernostalgia. Mulai dari mereka masuk SD sampai berpisah. Rara dan Angga tidak berhenti tertawa mengingat kepolosan mereka dahulu kala.
Dan entah kenapa juga, saat itu Raisa mengunjungi restoran itu. Ia bersama rekan kerjanya terlihat memesan minuman dingin, dan sambil menunggu Raisa mengedarkan pandangan ke sekeliling. Dan tiba-tiba matanya menangkap pemandangan yang membuatnya emosi. Angga dan Rara sedang tertawa bersama.
Raisa langsung menghampiri meja mereka dan spontan Angga menghentikan tawanya.
"Raisa?" Ucap Rara masih tersenyum, karena ia senang dengan kedatangan sahabatnya
"Kau sudah da..." Belum sempat Rara melanjutkan ucapannya, air di dalam gelas itu sudah berpindah ke wajah Rara, Rara juga melihat wajah penuh emosi dari sahabatnya
"Raisa!" Teriak Angga
"Aku tahu kau sahabat dia dan aku, tapi kau seharusnya tahu batas Ra!" Omel Raisa kepada Rara yang masih dalam keterkejutan
"Rara kau itu sudah menikah, dan dia sudah milik aku! Kita tidak lagi hidup di zaman 8 tahun yang lalu!" Sambung Raisa membentak Rara
"Raisa aku tidak bermaksud apa-apa!" jawabnya meyakinkannya
"Udahlah Ra semua orang juga tahu pernikahan kau itu tidak bahagia makanya kau mencari kebahagiaan di pasangan orang lain!" timpal Raisa dan langsung saja membuat Rara terdiam dengan ucapannya yang menyakitkan itu
Angga menatap Rara dan kemudian ia menarik tangan Raisa dari tempat itu. Angga berusaha menahan amarahnya dan membawa Raisa ke mobilnya. Walaupun Raisa memberikan perlawanan tetap saja Angga menariknya untuk keluar. Sedangkan Rara tersenyum sumbang mendapatkan makian seperti itu, rasanya dia tidak pantas menghakimi Rara seperti itu, Rara membersihkan wajahnya dengan tissu. Dan orang-orang mulai menertawakan nya kembali. Rara tidak ingin peduli tetapi tetap saja ia memikirkan ucapan Raisa yang sungguh sangat menyakitkan.
Rara mengalihkan pandangannya keluar, Rara kembali kesal ketika langit ikut menertawakan nya Tiba-tiba saja di luar hujan begitu deras. Rara bangkit dari tempat duduknya dan langsung membayar minuman yang belum sempat di bayar oleh Angga.
Mungkin karena hujan yang deras langit pun mulai gelap. Rarq langsung pergi meninggalkan tempat itu.
Sepanjang perjalanan menuju ke rumah pikiran terus terusik oleh perkataan Raisa, tak lama kemudian ponselnya berdering. Tertulis Rendy di layar ponsel. Dan tidak seperti biasanya Rendy melakukan panggilan video Call kepadanya.
Rara sedikit tersenyum dan menepikan mobilnya sebelum menjawab telepon dari Rendy.
Belum sempat Rara bicara, Rara sudah di suguhkan dengan pemandangan yang mengerikan. Rendy sedang berciuman dengan Clara bahkan ia terlihat penuh nafsu mencium wanita itu, apa maksudnya memperlihatkan itu kepada Rara di saat ia sedang butuh dukungan dari orang terdekatnya.
Melihat itu dada Rara terasa sesak, pemandangan itu sungguh sangat menjijikan. Rara juga melihat Rendy mendorong Clara ke atas ranjang tidur, dan satu persatu kancing kemeja putih itu mulai terbuka.
Brrraaakk!
Ponsel Rendy terjatuh dan semua mulai tampak gelap.
Rara tertawa dalam tangisannya, Rara menertawakan dirinya yang tidak seberuntung Orang-orang, dalam satu waktu, dua orang sekaligus menyakitinya. Orang-orang sungguh mengerikan. Rara tidak ingin memikirkan apa-apa lagi, ia kembali melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh, Rara ingin hilang bersama hujan, Rara ingin kabur kemana saja. Tangan dan kakinya mulai gemetar dalam waktu yang bersamaan. Telapak tangannya yang terluka kemarin mulai perih, jalanan semakin buram karena hujan. Rara menambah laju kecepatannya sampai ia tidak menyadari sebuah truk pengangkut kebutuhan rumah tangga sama-sama melaju dengan kecepatan penuh.
Rara tidak bisa lagi mengendalikan rem dan membiarkan semuanya terjadi. Mobil Rara langsung terbalik sedangkan truk itu tepat jatuh ke bahu jalan. Rara bersimbah darah dan sebelum ia menutup mata ia sempat mengingat kenangannya bersama Rendy, ia ingin berdoa semoga setelah ini ia benar-benar menghilang dari kehidupan mereka, Rara tidak butuh apapun, Rara hanya ingin kembali ke kehidupannya yang dulu, hidup sendiri tidak ada beban. Tuhan kali ini saja kabulkan keinginannya, pada akhirnya Rara menutup matanya dengan rasa perih yang amat menyakitkan.