Devi yang dibesarkan dengan penuh bergelimpahan harta, apa yang menjadi keinginannya harus tercapai bagaimana pun caranya, termasuk cintanya terhadap laki-laki.
Pada pandangan pertama ia sudah jatuh cinta kepada seorang laki-laki yang cukup dewasa, dan dari tatapan dapat dipastikan laki-laki itu tidak ada niat untuk melirik Devi yang memandanginya penuh kekaguman.
Novel ini Season 2 dari Mafia Kejam Jatuh Cinta, kalau mau baca novel ini silahkan baca mafia kejam jatuh cinta terlebih dahulu biar lebih mantap.
Author juga mau pesan sama resders semua yang baik hati dan tidak sombong, kalau misalnya masih ada yang salah dalam penulisan nama atau kalimat yang kuras pas tolong dikritik dengan kata yang sopan dan membangun ya, biar author perbaiki.
terimakasih
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linasolin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
Tepat pukul 8 malam Devano baru pulang dari kantor, ia langsung bergegas kelantai atas menuju kamarnya, tanpa memperhatikan isi kamar ia langsung bergegas mandi untuk membersihkan badannya.
Tidak menunggu lama Devano sudah keluar dari kamar mandi dengan baju tidur yang melekat pada badannya, Devano melirik kiri dan kanan tapi ia tidak menemukan perempuan nakal itu ada disana.
"Kemana dia?" batin Devano lalu segera mengambil hpnya dari tas kerjanya dan segera menghubungi nomor Devi.
"huft dia kemana sih, telfon nggak diangkat?" gerutu Devano saat telfonnya tidak kunjung diangkat padahal sudah beberapa kali devano menelfonnya.
"Apa mungkin ia tidur dikamar Aris? tapi tidak mungkin ia kan tidak terlalu dekat dengan Aris" batin Devano tapi ia tetap melangkah menuju kamar Aris yang ada dilantai satu.
Klek....
Pintu terbuka pemandangan yang ada disana sangat diidam-idam kan kebanyakan seorang ayah dimana sang istri memeluk anaknya walau itu bukan anak kandungnya, tapi melihat hal itu sedikit pun hati Devano bergetar atau kagum walaupun saat ini dan Aris tidur dengan Devi posisi Devi saat ini memeluk anak kecil itu.
"Devi bangun.... kamu mau tidur disini?" Devano menggoyangkan tubuh Devi supaya Devi terbangun dari tidurnya.
"Hm...." Devi sudah bangun namun kesadarannya belum sepenuhnya kembali, ia mengumpulkan kesadarannya lalu ia segera menjawab Devano yang berdiri disampingnya.
"Ada apa?".
"Nggak tidur di kamar atas? atau mau tidur disini saja?" tanya Devano.
"Aku tidur disini saja, rasanya aku malas untuk bergerak apalagi sampai jalan kelantai tiga".
"Kalau begitu lanjutkan tidur mu, aku mau pergi" suami yang cueknya diatas rata-rata itu pergi begitu saja meninggalkan istrinya tanpa ada niat untuk menggedong atau yang lainnya suapaya ikut dengannya.
Devi yang memang sedang mengantuk berat tidak mau ambil pusing mau tidur dikamar Aris atau dikamar Devano, karena walau pun tidur dikamar Devano tidak ada yang spesial seperti ucapan selamat malam, atau kecupan dikening sebelum tidur, apalagi untuk dipeluk atau diperlakukan yang romantis mungkin itu hanya mimpi disiang bolong untuk Devi.
*******
Devano bangun kesiangan pagi ini mungkin karena terlalu larut malam baru ia tidur tadi malam, Devi yang baru datang dari lantai bawah melihat suaminya masih molor merasa heran tumben suaminya ini lama bangun biasanya ia tepat waktu saat bangun pagi apalagi akan pergi kekantor.
"Sayang bangun" ujar Devi sambil menoel-noel pipi Devano.
"Sayang kenapa kamu pergi dihati pernikahan kita, gara-gara kamu ninggalin aku dihari pernikhan aku harus menikah dengan manusia paling menyebalkan dimuka bumi ini" guman Devano sepertinya ia bermimpi sedang bertemu dengan mantap kekasihnya itu.
"Kamu tenang aja walau aku menikah dengannya kami belum melakukan hubungan suami istri, aku hanya ingin melakukannya dengan mu seperti tadi kamu sangat pintar" guman Devano lagi tanpa sadar.
"Dasar suami kurang ajar mesum sama orang lain aku doakan kamu kualat, beraninya dia memimpikan mantan kekasihnya sedangkan istrinya ada disini" batin Devi, kini sifat jahilnya datang lagi. Ia langsung mengambil bantal dan melemparnya dengan kuat tepat di wajah Devano.
Merasa ada sesuatu yang menerjang wajahnya Devano langsung terbangun dan menatap tajam ke arah Devi yang bekacak pinggang seperti ingin membunuhnya juga.
"Apa melototi ku?" tanya Devi.
"Kamu ini kemapa sih ganggu orang tidur aja".
"Kamu yang kenapa? mimpi mesum sama perempuan lain. awas ya kalau berani macam-macam diluar sana aku tidak akan segan-segan membunuh mu" ancam Devi.
"Siapa juga yang mau main-main" Devano langsung pergi dari ranjang menuju kamar mandi, sepertinya ia lupa dengan mimpinya yang mengundang amarah Devi.
"Aku sumpahin kamu nggak bakal ketemu lagi sama tu perempuan" teriak Devi saat Devano sudah hilang dari padangannya.
"Dasar aneh" begitulah omelan Devano dari kamar mandi.
****
Pagi ini Devi merengek seperti anak kecil didepan suaminya, karena Devano menolak mengantar Devi kekampus dengan alasan telat kekantor kalau sampai Devano mengantar Devi kekampus terlebih dahulu.
"Aku nggak mau, pokoknya antar aku kekampus baru kamu boleh kekantor".
"Bukannya mobilmu sudah ada dirumah ini?".
"Ada tapi aku maunya kamu yang antar".
"Astaga devi..... nanti aku telat kekantor lho, kamu ini bukan anak kecil lagi, mengertilah dengan keadaan" ujar Devano sambil membujuk Devi.
"Nggak mau".
Mau tidak mau akhirnya Devano mengalah dan mengantarkan Devi terlebih dahulu kekempus baru ia pergi kekantor, lagi-lagi didalam mobil Devi membuat Devano kesal karena kepala Devi selalu disandarkan dibahu Devano yang sedang menyetir mobil.
"Devi jangan begitu aku lagi menyetir mobil kamu diamlah dulu" omel Devano.
"Sayang lihatlah cafe disana" Devi menunjukkan Alice yang sedang ngeteh disalah satu cafe bersama seorang laki-laki dengan senyum yang mengembang dibibirnya.
"Dia tidak pernah seceria itu bersama ku, apa selama ini dia tidak pernah mencintai ku" batin Devano kini hatinya sakit melihat pemadangan yang dilihatnya.
"Kamu percayakan kalau mantan kekasih mu itu tidak setia?".
"Nggak, mungkin aja itu sepupu atau keluarga jauhnya" Devano masih menyangkal kalau Alice selingkuh darinya didepan Devi.
"Huftt dasar bucin" ujar Devi.
"Kamu juga bucin padaku" Devano tidak mau kalah dengan Devi yang meremehkannya.
"Aku mengakuinya, dan aku aku lebih beruntung dari pada kamu, aku bisa memiliki, sedangkan kamu hanya bisa memandangnya".
Devano terdiam dengan jawaban Devi, apa yang dikatakan Devi memang benar adanya, cintanya kepada Alice hanya bisa dipandang sedangkan Devi bisa memiliki dirinya walau tidak bisa memiliki hatinya.
Tin.... tin....
Mobil Devano ternyata sempat berhenti ditengah jalan saat Devano melihat Alice sampai pengendara lain mengklakson supaya mobil Devano berjalan.
******
Devano sudah di kantor Aderson company ia berjalan dengan buru-buru karena ia sudah terlamat 1 jam lebih.
"Kamu terlambat juga ya?" ternyata mertua Devano, Aderson sebagai CEO diperusaan ini terlambat juga pagi ini terlihat dari penampilannya apalagi tas yang masih ia pegang.
"Iya pak, tadi Devi minta diantar kekampus dulu" jawab Devano jujur.
"Hmmm" jawab Derson dengan singkat.
Sesampainga diruangan Devano yang pekerjaannya sedang longgar duduk dan termenung diatas kursi kebesarannya, dan langsung mengingat Alice yang ia lihat tadi.
Devano merogoh sakunya dan mengambil hp dari sana, tidak mau menunggu lama Devano langsung menyetuh tulisan panggil pada nama yang tertulis sayang.
Devano sangat deg-degan saat Alice memgangkat telfonnya. "Hallo sayang kamu dari mana saja?" Devano masih berbicara dengan lembut layaknya tidak terjadi apa-apa antara mereka.
"Maafkan aku tidak mengabari mu saat itu, dan sekarang aku katakan kalau aku dan kamu sudah resmi pisah, aku mencintai orang lain dan lupakan aku ini adalah pilihanku" ucap Alice dari seberang telfon.
...Jangan Lupa Dukung Karya Ini Dengan Kasih Like, Komen, Vote, Dan Kasih Bunga Mawar....