Arnetta bersumpah bahwa dirinya takkan lagi jatuh ke dalam jurang yang sama. Ia telah berjanji untuk menjaga ibunya dan juga hatinya. Namun, Sepasang mata kelabu itu kembali memikatnya. Rasa rindu yang besar pada akhirnya memenangkan akal sehatnya. Sampai suatu ketika, ia sadar bahwa tak ada rasa selain rasa ingin menghancurkan dalam diri pria itu. Untuk kedua kalinya Arnetta akan kembali menemukan dirinya dihancurkan oleh pria yang paling dipujanya.
"Sekarang kau tahu bahwa aku hanya berhasrat ingin menghancurkanmu. Aku akan merusakmu, menjadikanmu tidak lebih buruk dari sampah."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon JAEHOLOVE, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
“Kau memang takkan pernah merebutnya, tapi
suatu saat kau pasti jatuh cinta kepadanya, Arneta.”
Kalimat
itu terus teringiang dalam benak Arnetta hingga malam menjemputnya. Sepanjang hari
ia mengerjakan segala sesuatu dengan iringan kesalahan yang membuat pekerjaanya
mendapatkan terguran dari bosnya. Bukan hanya itu, beberapa kali Arnetta
berjalan diatas trotoar menabrak orang yang lalu lalang disekitarnya.
Berkali-kali pula ucapan maaf terlontar dari bibirnya dengan penuh penyesalan.
Pikirannya
mendadak kosong setelah pertemuannya dengan Lusiana. Kalimat wanita itu
benar-benar menganggunya. Apalagi sederet kalimat mustahil yang terakhir
diucapkan wanita itu sebelum memaksakan dirinya pergi dari hadapan Arnetta.
Arnetta
tahu, bahkan seluruh dunia pun tahu bahwa pria kaya mana pun takkan pernah ada
yang menaruh hati kepadanya. Sekalipun ada, mereka hanya ingin menjadikan
Arnetta sebagai simpanan. Tak ada istilah cinderella pada jaman ini. Semuanya
tetap berjalan sesuai realita. Hanya seorang yang memiliki derajat dan
pendidikan tinggi yang akan mendapatkan pasangan orang sederajat pula.
Kepahitan
hidup mengajarnya Arnetta untuk berhenti bermimpi. Jika sewaktu sekolah ia
memiliki cita-cita menjadi seorang bos perusahan besar, dan membawa ibunya
keliling dunia, kini impian itu berubah menjadi harapannya untuk keesokan
harinya. Ia hanya berharap jika dirinya masih diberikan kekuatan untuk bekerja
dan menghasilkan uang untuk hidupnya dan juga Ratih, sang ibu.
Tak
pernah ia berpikir untuk memiliki mimpi menikahi seorang pria kaya seperti
halnya cerita cinderella. Bahkan setahunya, Cinderella pun berasal dari
keturunan keluarga kaya, yang akhirnya menderita karena sang ayah menikah
dengan janda beranak dua, yang menjadikannya pembantu.
Arnetta
menghela nanpasnya kuat-kuat. Kata-kata yang baginya mustahil itu kenyatannya
sangat mengganggunya. Ia tak bisa bekerja dengan benar jika terus seperti ini.
Membayangkan dirinya yang berdiri, berdampingan dengan Jullian didepan Altar
saja sudah membuatnya merasa geli. Entah apa yang akan terjadi jika sampai itu
semua berubah menjadi nyata. Mungkin Rowena akan menjadi biarawati jika itu
sampai terjadi.
Ketika
ia sampai didepan Bar milik temannya itu, sebuah objek yang tak asing
membuatnya berhenti melangkah. Ia tertegun saat melihat kendaraan roda empat
yang terparik paling depan disana. Diantara deretan kendaraan yang ada disana,
sedan mewah berwarna hitam itulah yang paling menarik perhatiannya. Arnetta terdiam
ketika suatu ingatan menjemput kesadarannya.
Ia
pernah melihat mobil ini sebelumnya. Rasanya ia sudah tak asing dengan mobil
ini, dan ingatannya ia pernah menaiki kendaraan ini sebelumnya. Tapi, Arnetta
hampir melupakan di mana itu terjadi.
Jullian?
Hanya
satu pria yang pernah menggiringnya masuk ke dalam kendaraan mewah itu. Seumur
hidupnya, satu-satunya kendaraan paling mewah yang pernah dinaiki Arnetta
hanyalah taksi. Itu pun yang biasa, bukan yang ekslusif.
Namun,
rasanya tak mungkin jika Jullian kembali datang ke tempat ini. Menurut
penuturan temannya itu, Jullian hanya sekali menginjakkan kakinya ditempat ini
lima tahun yang lalu. Waktu yang sangat lama terlewati untuk mengingat Bar
kecil dipinggiran kota seperti ini. Lagi pula, akan sangat tidak baik jika pria
yang akan menikah mengunjungi Bar saat dirinya akan menikah.
Pasti
bukan.
Lusi
pasti sudah menjabarkan daftar panjang ideal seorang suami untuknya. Wanita itu
pasti bisa mengendalikan Jullian dengan baik. Tentu saja nama itu akan dicoret
oleh Arneta dari pikirannya sesegera mungkin.
Kaki
Arnetta kembali melangkah menuju pintu belakang Bar tersebut. Disana ia pun
mengira bahwa saat ini Rowena pasti tidak datang. Tak tampak motor matic milik
wanita itu terparkir disana. Hanya ada satu kendaraan yang biasanya dan selalu
ada disana. Mungkin saja wanita itu sedang berjalan ke tempat lain yang tidak
Arnetta ingin ketahui.
“Arnetta!”
Maria,
salah seorang bartender di Bar ini terlihat tersenyum sumringah melihat
kedatangannya. Wanita itu langsung berlari dan melompat memeluknya kegirangan.
Memang sudah sangat lama rasanya tidak melihat wanita ini disini. Sejak
melahirkan anak pertamanya, Maria memang sangat jarang ke Bar. Oleh karena itu,
terkadang posisinya digantikan oleh Rowena.
Pantas
saja wanita itu dengan bebas menghilang kemana saja sekarang, pikir Arnetta
jengkel.
“Kemana
saja kau, Maria?”
Dengan
gaya khasnya yang senang mengikal rambutnya, wanita itu tersenyum nakal pada
Arnetta. “Berbulan madu.”
Arnetta
tak bisa menahan kekehannya. Ia pun mengacak rambut wanita itu dengan gemas.
Meski telah melangkahinya menikahi, namun usia Maria masih terbilang cukup
muda. Setelah lulus dari universitas, wanita itu langsung menikah dengan
sahabatnya di kampus. Suaminya yang bekerja sebagai arsitek tentu saja akan
membiayai kehidupan Maria dengan terjamin. Kehadirannya di Bar sesekali
hanyalah untuk mengusir rasa bosan pada wanita beranak satu itu.
“Adit
di mana?”
Maria
menunjuk ke arah salah satu kamar yang khusus diperuntukan untuk karyawan yang
sedang sakit. Rowena setidaknya membuat satu kamar darurat untuk para
karyawannya yang mungkin saja pingsan atau sedang hamil.
“Disana
sedang meniduri anak kami. Kau tahu, dia takkan bisa menhirup bau rokok terlalu
lama.”
Ya,
Arnetta tahu ketika pertama kali Adit bertemu dengan Maria ditempat ini. Pria
itu nyaris jatuh pingsan karena ada seorang pengunjung yang sengaja menghisap
rokok didekatnya. Alhasil pria itu langsung pingsan ditempatnya tidak lama
setelahnya. Beruntung Maria berbaik hati menggotongnya ke dalam kamar darurat
khusus karyawan. Disanalah mereka bertemu dan mengenal. Tak disangka jika
keduanya bersekolah di kampus yang sama.
Inilah
kisah cinta yang sebenarnya. Penuh realita. Siapa yang menduga jika jodohmu
mungkin saja berada tak jauh darimu, pikirnya lagi. Tidak ada kisah cinta bak
cinderella yang dikhawatirkan oleh Lusi. Baginya semua itu hanyalah dongeng
yang takkan pernah terjadi.
Seperti
katanya, kalau pun Jullian merasa tertarik kepadanya, mungkin pria itu hanya
tertarik untuk menjadikannya simpanan atau pelampiasan. Takkan pernah bisa
lebih dari itu.
“Rowena
saat ini pasti sedang pergi, bukan?” Tanya Arnetta dengan mata menyipit tak suka.
“Tidak!”
Maria menggeleng. “Wanita itu sedang kedatangan tamu. Teman katanya.”
Tamu?
Mengejutkan
mendengar Rowena mendapatkan seorang tamu yang datang ke Bar. Biasanya wanita
itu akan membawa salah seorang pria ke dalam penthousenya tanpa pilih. Tak
pernah didengar oleh Arneta jika sahabatnya itu memiliki teman lain yang
mengetahui pekerjaannya.
“Kau
yakin?” Maria menganguk pasti.
Mungkin
saja Arnetta harus memeriksanya. Meski terlihat nakal, tapi Rowena tetaplah
wanita lugu yang tak mengenal keras dunia sama sekali. Wanita itu mudah tertipu
daya oleh seroang lelaki. Pernah suatu ketika wanita itu ditipu oleh partnernya
yang tega menguras habis seluruh isi tabunganya di bank. Beruntung, seseorang
tengah berbaik hati meminjamkannya modal untuk kembali membuka usaha Bar
miliknya.
Masa
itu benar-benar masa yang kelam bagi dirinya dan Rowena. Arnetta sampai harus
menginap di dalam Bar demi membangun kembali perabotan yang sudah nyaris
dihancurkan penagih hutang. Rowena pun hampir frustasi dan berkali-kali
menggumamkan niatan ingin mengakhiri hidupnya sendiri.
Tidak!
Arnetta
tidak akan membiarkan itu terjadi. Membiarkan Rowena melakukan hal bodoh
seperti itu hanyalah akan meninggalkan
rasa sesal di hidupnya. Ia tak tahu apakah jenis teman dari Rowena itu
berbahaya atau tidak. Ia juga tak bisa menjamin jika hidup temannya itu aman
dari bahaya. Bisa saja Rowena kembali dikejar oleh penagih hutang yang siap
memporak-porandakan tempat ini.
Dengan
langkah cepat, Arnetta berjalan melewati Maria. Ia masih mendengar wanita itu
berteriak dibelakangnya jika saat ini Rowena berada disalah satu bangku VIP bersama
temannya itu. Tak peduli seberapa sesak Bar itu dan seberapa bising musik yang
bermain ditelinganya, Arnetta menerobos kerumunan orang yang sedang menari itu
tanpa peduli. Umpatan demi umpatan diterimanya sat beberapa orang merasa tak
terima dengan apa yang dilakukannya. Namun, Arnetta tak peduli. Sahabatnya kini
lebih penting dari apapun. Jika sesuatu terjadi pada Rowena, maka Arnetta
takkan bisa memaafkan dirinya sendiri.
Ketika
dirinya sampai didepan pintu ruangan VIP itu, terdengar jelas suara tawa dari
seorang wanita yang tak asing dan juga seorang pria didalamnya. Arnetta berani
bersumpah jika tawa lepas milik wanita itu adalah Rowena. Terdengar dari suara
tawanya, wanita itu tidak sedang berada dalam bahaya.
TOK
TOK TOK!
Arnetta
mengetuk sedikit tidak sabaran. Ia berharap jika tawa itu memang mencerminkan
keadaan temannya yang saat ini memang dalam keadaan baik-baik saja.
“Masuk!”
Dari
dalam terdengar suara seorang pria yang mempersilahkannya untuk masuk. Dengan
degup jantung yang menggila, Arnetta berusaha untuk menenangkan dirinya
sendiri. Ia sudah tak bisa mundur lagi. Didalam sana mungkin saja Rowena sedang
dalam bahaya bersama pria itu. Andai saja musik bermain sedikit lebih ringan,
Arnetta bisa menduga jenis pria seperti apa yang ada didalam sana hanya dengan
mendengar suaranya saja.
Saat
pintu terbuka, Arnetta melihat ruangan itu tidak diterangi dengan pencahayaan
minim. Semua lampu pijar berwarna putih menyala disana. Tidak ada bau alkohol
yang biasa dihirup oleh Arnetta ketika mengantarkan minuman ke salah satu kamar
VIP itu. Semuanya terlihat normal sesaat sebelum Arnetta menyadari siapa yang
tengah berbincang dengan sahabatnya itu.
“Arnetta!”
Sapa Rowena dengan keriangan yang berlebihan. Cengiran yang menghiasi bibir
wanita itu kentara jelas mengutarakan bahwa Rowena sedang dalam suasana hati
yang bahagia. Bisa diukur oleh Arnetta senyuman sahabatnya itu nyaris
merobekkan batas antara telinga dan mulutnya.
Napas
Arnetta tersendat saat ia mengalihkan pandangannya ke arah lain. Matanya
tertumbuk pada sosok pria yang duduk bersebrangan dengan Rowena. Wajah tegas
miliknya masih dapat dingatnya dengan baik. Sepasang mata elang milik pria itu
pun masih jelas dalam ingatannya, dan kini tengah menatapnya juga.
“Perkenalkan
ini sahabatku, Jullian Basuki.”
Aku
ingin mati, batin Arnetta. Cairan asam
yang mengalir di lambungnya pun seolah akan meledak ke atas dan memaksanya
untuk memuntahkan cairan itu di mana saja ia berada. Kepalanya seketika
mendadak pusing. Ia nyaris limbung kalau saja dirinya tidak merasakan ada
sesuatu yang melesat menahan bobot tubuhnya yang hampir jatuh ke atas lantai.
Ketika
itu wangi maskulin masih dapat dirasakan olehnya bersamaan dengan dekapan
hangat yang membuatnya terbuai. Arneta sadar dirinya sudah tak lagi kuat sampai
akhirnya kegelapan menjemputnya. Ditengah itu semua, suara bisikan membuatnya
merinding ketakutan. Bisikan aneh yang membuatnya takut untuk membuka matanya
kembali.
“Akhirnya
aku menemukanmu, wanita penipu.”
ya allah ngenes amat hidupnya