NovelToon NovelToon
Jangan Ucapkan Cinta (Book 1)

Jangan Ucapkan Cinta (Book 1)

Status: tamat
Genre:Romantis / Misteri / Patahhati / Balas Dendam / Tamat
Popularitas:48.5k
Nilai: 5
Nama Author: JAEHOLOVE

Arnetta bersumpah bahwa dirinya takkan lagi jatuh ke dalam jurang yang sama. Ia telah berjanji untuk menjaga ibunya dan juga hatinya. Namun, Sepasang mata kelabu itu kembali memikatnya. Rasa rindu yang besar pada akhirnya memenangkan akal sehatnya. Sampai suatu ketika, ia sadar bahwa tak ada rasa selain rasa ingin menghancurkan dalam diri pria itu. Untuk kedua kalinya Arnetta akan kembali menemukan dirinya dihancurkan oleh pria yang paling dipujanya.



"Sekarang kau tahu bahwa aku hanya berhasrat ingin menghancurkanmu. Aku akan merusakmu, menjadikanmu tidak lebih buruk dari sampah."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon JAEHOLOVE, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15

 “Kau memang takkan pernah merebutnya, tapi

suatu saat kau pasti jatuh cinta kepadanya, Arneta.”

Kalimat

itu terus teringiang dalam benak Arnetta hingga malam menjemputnya. Sepanjang hari

ia mengerjakan segala sesuatu dengan iringan kesalahan yang membuat pekerjaanya

mendapatkan terguran dari bosnya. Bukan hanya itu, beberapa kali Arnetta

berjalan diatas trotoar menabrak orang yang lalu lalang disekitarnya.

Berkali-kali pula ucapan maaf terlontar dari bibirnya dengan penuh penyesalan.

Pikirannya

mendadak kosong setelah pertemuannya dengan Lusiana. Kalimat wanita itu

benar-benar menganggunya. Apalagi sederet kalimat mustahil yang terakhir

diucapkan wanita itu sebelum memaksakan dirinya pergi dari hadapan Arnetta.

Arnetta

tahu, bahkan seluruh dunia pun tahu bahwa pria kaya mana pun takkan pernah ada

yang menaruh hati kepadanya. Sekalipun ada, mereka hanya ingin menjadikan

Arnetta sebagai simpanan. Tak ada istilah cinderella pada jaman ini. Semuanya

tetap berjalan sesuai realita. Hanya seorang yang memiliki derajat dan

pendidikan tinggi yang akan mendapatkan pasangan orang sederajat pula.

Kepahitan

hidup mengajarnya Arnetta untuk berhenti bermimpi. Jika sewaktu sekolah ia

memiliki cita-cita menjadi seorang bos perusahan besar, dan membawa ibunya

keliling dunia, kini impian itu berubah menjadi harapannya untuk keesokan

harinya. Ia hanya berharap jika dirinya masih diberikan kekuatan untuk bekerja

dan menghasilkan uang untuk hidupnya dan juga Ratih, sang ibu.

Tak

pernah ia berpikir untuk memiliki mimpi menikahi seorang pria kaya seperti

halnya cerita cinderella. Bahkan setahunya, Cinderella pun berasal dari

keturunan keluarga kaya, yang akhirnya menderita karena sang ayah menikah

dengan janda beranak dua, yang menjadikannya pembantu.

Arnetta

menghela nanpasnya kuat-kuat. Kata-kata yang baginya mustahil itu kenyatannya

sangat mengganggunya. Ia tak bisa bekerja dengan benar jika terus seperti ini.

Membayangkan dirinya yang berdiri, berdampingan dengan Jullian didepan Altar

saja sudah membuatnya merasa geli. Entah apa yang akan terjadi jika sampai itu

semua berubah menjadi nyata. Mungkin Rowena akan menjadi biarawati jika itu

sampai terjadi.

Ketika

ia sampai didepan Bar milik temannya itu, sebuah objek yang tak asing

membuatnya berhenti melangkah. Ia tertegun saat melihat kendaraan roda empat

yang terparik paling depan disana. Diantara deretan kendaraan yang ada disana,

sedan mewah berwarna hitam itulah yang paling menarik perhatiannya. Arnetta terdiam

ketika suatu ingatan menjemput kesadarannya.

Ia

pernah melihat mobil ini sebelumnya. Rasanya ia sudah tak asing dengan mobil

ini, dan ingatannya ia pernah menaiki kendaraan ini sebelumnya. Tapi, Arnetta

hampir melupakan di mana itu terjadi.

Jullian?

Hanya

satu pria yang pernah menggiringnya masuk ke dalam kendaraan mewah itu. Seumur

hidupnya, satu-satunya kendaraan paling mewah yang pernah dinaiki Arnetta

hanyalah taksi. Itu pun yang biasa, bukan yang ekslusif.

Namun,

rasanya tak mungkin jika Jullian kembali datang ke tempat ini. Menurut

penuturan temannya itu, Jullian hanya sekali menginjakkan kakinya ditempat ini

lima tahun yang lalu. Waktu yang sangat lama terlewati untuk mengingat Bar

kecil dipinggiran kota seperti ini. Lagi pula, akan sangat tidak baik jika pria

yang akan menikah mengunjungi Bar saat dirinya akan menikah.

Pasti

bukan.

Lusi

pasti sudah menjabarkan daftar panjang ideal seorang suami untuknya. Wanita itu

pasti bisa mengendalikan Jullian dengan baik. Tentu saja nama itu akan dicoret

oleh Arneta dari pikirannya sesegera mungkin.

Kaki

Arnetta kembali melangkah menuju pintu belakang Bar tersebut. Disana ia pun

mengira bahwa saat ini Rowena pasti tidak datang. Tak tampak motor matic milik

wanita itu terparkir disana. Hanya ada satu kendaraan yang biasanya dan selalu

ada disana. Mungkin saja wanita itu sedang berjalan ke tempat lain yang tidak

Arnetta ingin ketahui.

“Arnetta!”

Maria,

salah seorang bartender di Bar ini terlihat tersenyum sumringah melihat

kedatangannya. Wanita itu langsung berlari dan melompat memeluknya kegirangan.

Memang sudah sangat lama rasanya tidak melihat wanita ini disini. Sejak

melahirkan anak pertamanya, Maria memang sangat jarang ke Bar. Oleh karena itu,

terkadang posisinya digantikan oleh Rowena.

Pantas

saja wanita itu dengan bebas menghilang kemana saja sekarang, pikir Arnetta

jengkel.

“Kemana

saja kau, Maria?”

Dengan

gaya khasnya yang senang mengikal rambutnya, wanita itu tersenyum nakal pada

Arnetta. “Berbulan madu.”

Arnetta

tak bisa menahan kekehannya. Ia pun mengacak rambut wanita itu dengan gemas.

Meski telah melangkahinya menikahi, namun usia Maria masih terbilang cukup

muda. Setelah lulus dari universitas, wanita itu langsung menikah dengan

sahabatnya di kampus. Suaminya yang bekerja sebagai arsitek tentu saja akan

membiayai kehidupan Maria dengan terjamin. Kehadirannya di Bar sesekali

hanyalah untuk mengusir rasa bosan pada wanita beranak satu itu.

“Adit

di mana?”

Maria

menunjuk ke arah salah satu kamar yang khusus diperuntukan untuk karyawan yang

sedang sakit. Rowena setidaknya membuat satu kamar darurat untuk para

karyawannya yang mungkin saja pingsan atau sedang hamil.

“Disana

sedang meniduri anak kami. Kau tahu, dia takkan bisa menhirup bau rokok terlalu

lama.”

Ya,

Arnetta tahu ketika pertama kali Adit bertemu dengan Maria ditempat ini. Pria

itu nyaris jatuh pingsan karena ada seorang pengunjung yang sengaja menghisap

rokok didekatnya. Alhasil pria itu langsung pingsan ditempatnya tidak lama

setelahnya. Beruntung Maria berbaik hati menggotongnya ke dalam kamar darurat

khusus karyawan. Disanalah mereka bertemu dan mengenal. Tak disangka jika

keduanya bersekolah di kampus yang sama.

Inilah

kisah cinta yang sebenarnya. Penuh realita. Siapa yang menduga jika jodohmu

mungkin saja berada tak jauh darimu, pikirnya lagi. Tidak ada kisah cinta bak

cinderella yang dikhawatirkan oleh Lusi. Baginya semua itu hanyalah dongeng

yang takkan pernah terjadi.

Seperti

katanya, kalau pun Jullian merasa tertarik kepadanya, mungkin pria itu hanya

tertarik untuk menjadikannya simpanan atau pelampiasan. Takkan pernah bisa

lebih dari itu.

“Rowena

saat ini pasti sedang pergi, bukan?” Tanya Arnetta dengan  mata menyipit tak suka.

“Tidak!”

Maria menggeleng. “Wanita itu sedang kedatangan tamu. Teman katanya.”

Tamu?

Mengejutkan

mendengar Rowena mendapatkan seorang tamu yang datang ke Bar. Biasanya wanita

itu akan membawa salah seorang pria ke dalam penthousenya tanpa pilih. Tak

pernah didengar oleh Arneta jika sahabatnya itu memiliki teman lain yang

mengetahui pekerjaannya.

“Kau

yakin?” Maria menganguk pasti.

Mungkin

saja Arnetta harus memeriksanya. Meski terlihat nakal, tapi Rowena tetaplah

wanita lugu yang tak mengenal keras dunia sama sekali. Wanita itu mudah tertipu

daya oleh seroang lelaki. Pernah suatu ketika wanita itu ditipu oleh partnernya

yang tega menguras habis seluruh isi tabunganya di bank. Beruntung, seseorang

tengah berbaik hati meminjamkannya modal untuk kembali membuka usaha Bar

miliknya.

Masa

itu benar-benar masa yang kelam bagi dirinya dan Rowena. Arnetta sampai harus

menginap di dalam Bar demi membangun kembali perabotan yang sudah nyaris

dihancurkan penagih hutang. Rowena pun hampir frustasi dan berkali-kali

menggumamkan niatan ingin mengakhiri hidupnya sendiri.

Tidak!

Arnetta

tidak akan membiarkan itu terjadi. Membiarkan Rowena melakukan hal bodoh

seperti itu hanyalah akan  meninggalkan

rasa sesal di hidupnya. Ia tak tahu apakah jenis teman dari Rowena itu

berbahaya atau tidak. Ia juga tak bisa menjamin jika hidup temannya itu aman

dari bahaya. Bisa saja Rowena kembali dikejar oleh penagih hutang yang siap

memporak-porandakan tempat ini.

Dengan

langkah cepat, Arnetta berjalan melewati Maria. Ia masih mendengar wanita itu

berteriak dibelakangnya jika saat ini Rowena berada disalah satu bangku VIP bersama

temannya itu. Tak peduli seberapa sesak Bar itu dan seberapa bising musik yang

bermain ditelinganya, Arnetta menerobos kerumunan orang yang sedang menari itu

tanpa peduli. Umpatan demi umpatan diterimanya sat beberapa orang merasa tak

terima dengan apa yang dilakukannya. Namun, Arnetta tak peduli. Sahabatnya kini

lebih penting dari apapun. Jika sesuatu terjadi pada Rowena, maka Arnetta

takkan bisa memaafkan dirinya sendiri.

Ketika

dirinya sampai didepan pintu ruangan VIP itu, terdengar jelas suara tawa dari

seorang wanita yang tak asing dan juga seorang pria didalamnya. Arnetta berani

bersumpah jika tawa lepas milik wanita itu adalah Rowena. Terdengar dari suara

tawanya, wanita itu tidak sedang berada dalam bahaya.

TOK

TOK TOK!

Arnetta

mengetuk sedikit tidak sabaran. Ia berharap jika tawa itu memang mencerminkan

keadaan temannya yang saat ini memang dalam keadaan baik-baik saja.

“Masuk!”

Dari

dalam terdengar suara seorang pria yang mempersilahkannya untuk masuk. Dengan

degup jantung yang menggila, Arnetta berusaha untuk menenangkan dirinya

sendiri. Ia sudah tak bisa mundur lagi. Didalam sana mungkin saja Rowena sedang

dalam bahaya bersama pria itu. Andai saja musik bermain sedikit lebih ringan,

Arnetta bisa menduga jenis pria seperti apa yang ada didalam sana hanya dengan

mendengar suaranya saja.

Saat

pintu terbuka, Arnetta melihat ruangan itu tidak diterangi dengan pencahayaan

minim. Semua lampu pijar berwarna putih menyala disana. Tidak ada bau alkohol

yang biasa dihirup oleh Arnetta ketika mengantarkan minuman ke salah satu kamar

VIP itu. Semuanya terlihat normal sesaat sebelum Arnetta menyadari siapa yang

tengah berbincang dengan sahabatnya itu.

“Arnetta!”

Sapa Rowena dengan keriangan yang berlebihan. Cengiran yang menghiasi bibir

wanita itu kentara jelas mengutarakan bahwa Rowena sedang dalam suasana hati

yang bahagia. Bisa diukur oleh Arnetta senyuman sahabatnya itu nyaris

merobekkan batas antara telinga dan mulutnya.

Napas

Arnetta tersendat saat ia mengalihkan pandangannya ke arah lain. Matanya

tertumbuk pada sosok pria yang duduk bersebrangan dengan Rowena. Wajah tegas

miliknya masih dapat dingatnya dengan baik. Sepasang mata elang milik pria itu

pun masih jelas dalam ingatannya, dan kini tengah menatapnya juga.

“Perkenalkan

ini sahabatku, Jullian Basuki.”

Aku

ingin  mati, batin Arnetta. Cairan asam

yang mengalir di lambungnya pun seolah akan meledak ke atas dan memaksanya

untuk memuntahkan cairan itu di mana saja ia berada. Kepalanya seketika

mendadak pusing. Ia nyaris limbung kalau saja dirinya tidak merasakan ada

sesuatu yang melesat menahan bobot tubuhnya yang hampir jatuh ke atas lantai.

Ketika

itu wangi maskulin masih dapat dirasakan olehnya bersamaan dengan dekapan

hangat yang membuatnya terbuai. Arneta sadar dirinya sudah tak lagi kuat sampai

akhirnya kegelapan menjemputnya. Ditengah itu semua, suara bisikan membuatnya

merinding ketakutan. Bisikan aneh yang membuatnya takut untuk membuka matanya

kembali.

“Akhirnya

aku menemukanmu, wanita penipu.”

1
Anonim
vvv
Anonim
ggg
dinata
bagus, bahasanya jg apik 👍👍👍, recomanded lah. bacanya jg deg2an
😍eRh😍
membosankan,lg pula mana ada didunia ini laki² yg kelewat goblok kyk julian itu.
sanjiaran
saking seriusnya baca, jadi lupa ninggalin jejak. dan sampai di bab ini, emosiku di aduk aduk olehmu thor..benar² memilukan kisah arnetta
sanjiaran
jangan² othornya anak sastra nih..gaya penulisan ceritanya, cara merangkai kata, banyak mengandung makna tersirat, apalagi idiomnya. aku tipe reader yg suka baca cepat², tp utk cerita ini aku harus nyantai bacanya. soalnya sering gagal paham klo kecepatan, malahan ada bagian yg aku ulang² bacanya sampai ngerti maksud dari ceritanya
yusuf xxx123
nice
Teras Aja
lanjut
Mawar
mampir
mauly
dih silusi error',padahal dia sendiri yg nyuruh netta buat nemuin Jullian,tapi sekarang dia yg cemburu 🙄🙄
vhie vie
ini eps akhir season 2 y,,akhirny kehilangan anak ny si arnetta,,jdi depresi y akhirnya,,
ya allah ngenes amat hidupnya
Gabriela Agustina
Ceritanya sebenernya bagus, cm tll bny monolog aja. Coba lbh diperbanyak percakapan antar tokoh. Critanya sad ending, pgnnya sih ada season 2. Kasian Arnetta jd gila krn di jadiin jalang pribadi Julian. Di setubuhi dgn kasar oleh pria yg dulu mencintainya & dicintainya. Hanya karena salah paham/ fitnah, sang lelaki lngs menganggap & menjadikan Arnetta jalang. Skrg tnggl penyesalan, Arnetta yg ceria jd depresi, spertj mayat hidup. Pdhl aq ngarep happy ending. Tp tetep keren ko👍👍
Putri Atan: kirain heppy ending.
total 9 replies
Kekasih Dropper
Hari ini aku mantengin HP ku karena nunggu update-an dari author :( Suka banget :( lanjutannya jangan lama-lama
Jaeho Love: sudah tayang ya jangan ucapkan cinta book 2
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!