Ditinggal pergi untuk selamanya oleh suami yang kaya membuat Karina harus rela dimusuhi oleh ibu mertuanya.
Karena harta kekayaan sang suaminya jatuh ke tangannya hampir tujuh puluh lima persen karena kekayaan suaminya dirintisnya dari nol dengan Karina yang mendampinginya sebagai kekasihnya dan sekarang menjadi istrinya. Gelar istri yang baru disandangnya seminggu itu harus rela menjadi janda karena sang suami meninggal dalam kecelakaan karena perjalanan bisnis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arazy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 14
Johan meninggalkan tempat kost Karina melajukan kendaraannya tak tentu arah. Dia bingung harus kemana karena niat hatinya memang untuk mengantarkan calon kakak iparnya. Namun karena dirinya mengira tanpa bertanya dulu ternyata dia sudah pergi naik taksi online.
"Huff... entah kenapa mas Ken jadi semakin cuek pada mbak Karin?" Guman Johan saat berhenti di lampu merah menuju pulang ke rumah.
"Dimana bro?" Isi pesan singkat yang masuk ke dalam ponsel Johan. Johan hanya meliriknya terdapat pesan dari sahabatnya.
"Otw pulang." Jawab Johan singkat.
"Sini deh, kita pada ngumpul nih." Balasan pesannya.
"Males gue, balik aja." Jawab Johan.
"Yah, jam segini pulang... anak mami Lo?" Balasan pesan itu membuat Johan merasa tersindir.
"Posisi?" Tanya Johan melakukan panggilan dan menghubungi sahabatnya itu. Dia memilih meminggirkan mobilnya untuk melakukan panggilan ponselnya.
"Nah... gitu dong. Di tempat biasa JK cafe." Johan langsung tancap gas tanpa menunggu jawaban dan langsung mematikan ponselnya.
***
"Bagaimana dengan barang-barang yang saya bawakan ini mbak?" Tanya seorang supplier itu saat mereka bertemu di sebuah cafe tempat janji Karina.
"Saya suka bahannya tapi... apa harganya bisa dikurangi?" Tanya Karina dengan nada sopam dan ramah.
"Harga segitu sudah murah mbak, coba mbak tanya ke tempat lainnya. Pasti punya saya paling miring harganya." Jawab pria itu sambil menggosok dagunya menatap Karina intens.
"Saya akan menghubungi anda nanti jika saya sudah memutuskan. Kalau begitu saya.." Karina hendak berdiri dari duduknya dan pamit namun pria itu mencekal pergelangan tangan Karina karena merasa tak terima dengan keputusan Karina yang tidak bisa memutuskan langsung di tempat mereka bertemu saat ini.
"Kenapa mesti nunggu nanti mbak, bukannya kita sudah sepakat untuk bertemu dan setelah melihat barangnya mbak akan langsung bisa memutuskan?" Tanya pria itu menatap tajam pada Karina seolah akan menelannya hidup-hidup.
"Tolong lepaskan!" Pinta Karina sambil berusaha melepas cekalan pria asing yang baru ditemuinya itu.
Sebenarnya sejak pertemuan pertamanya dengan supplier itu dia sudah curiga karena pria itu menatapnya dengan tatapan tak terbaca malah terlihat mes*m. Padahal pakaian Karina termasuk sopan dan tertutup, bahkan Karina juga mengenakan masker di wajahnya. Itulah sebabnya Karina tak bisa langsung memutuskan tentang orderan produk itu. Karena dia sudah tak nyaman dengan pria itu.
Sebenarnya untuk harga dan bahan produknya karena sudah merasa puas. Hanya saja karena tatapan mata pria itu padanya membuatnya tidak nyaman dan memilih untuk langsung pamit dan akan menghubungi lewat ponsel saja agar terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan.
"Mbak harus segera memutuskan dong, jauh-jauh saya datang untuk menemui mbak, dan mbak gak bisa langsung memutuskan dan beralasan akan menghubungi lagi. Jangan-jangan mbak mau permainkan saya ya?" Ucap pria itu dengan nada marah.
Semua orang di cafe menatap mereka dengan pandangan aneh. Apalagi melihat pria itu berteriak marah pada Karina dan orang-orang yang tak tahu apa-apa malah menatap Karina dengan tatapan merendahkan Karina. Karina yang merasa diperhatikan oleh semua orang berusaha mengendalikan dirinya agar tidak terlalu mengundang perhatian semua orang.
"Baiklah. Anda bisa lepaskan dulu tangan saya!" Pinta Karina dan perlahan cekalan itu mengendur. Keduanya kini duduk diam tenang seperti tadi. Semua orang pun kembali diam dan duduk kembali di tempat masing-masing.
"Saya bukannya tidak terima syaratnya. Saya hanya perlu waktu untuk berpikir dan kemudian akan menghubungi anda melalui ponsel. Mengingat waktu yang semakin malam saya harus segera pulang." Jawab Karina masih berusaha tenang dan sopan.
"Ya gak bisa gitu dong. Anda harus langsung memutuskan sekarang. Kan waktu di telepon kemarin, kita sepakat kalau bahan dan harga sesuai anda langsung bisa memutuskan." Jawab pria itu tak terima. Nada bicaranya masih meninggi membuat semua orang kembali menatap ke tempat mereka duduk.
Kenapa jadi seolah-olah dia memaksakan kehendaknya agar aku harus membeli barangnya? Batin Karina masih belum bisa memutuskan.
Sebenarnya dia mau protes saat bertemu dengan pria asing ini. Padahal berdasarkan kesepakatan dia akan menemui seorang wanita. Itulah sebabnya dia mau bertemu malam-malam begini. Kalau tahu yang datang seorang pria dia pasti menolak. Namun saat mendengar alasan wanita yang seharusnya bertemu dengannya sedang sibuk dengan urusan lain Karina pun memakhluminya.
"Maaf sekali, kalau begitu saya harus membatalkannya. Permisi." Karina langsung beranjak segera berlari meninggalkan cafe, untung saja cafe itu bayar dimuka untuk pemesanannya jadi dia tak harus membayar dulu pesanannya.
"Mbak, jangan melarikan diri!" Seru pria itu membuatnya emosi sontak mengejar Karina yang segera menyetop taksi lewat meski hal itu gagal karena pria itu berhasil mencekal kembali pergelangan tangannya.
"Apa yang anda lakukan? Lepaskan saya! Saya berhak membatalkan semuanya karena saya merasa anda memaksakan kehendak." Seru Karina lagi yang sudah tidak memperdulikan kesopanan karena perlakuan pria itu jauh dari kata sopan bahkan berperilaku kasar padanya. Tangan Karina menggeliat berusaha melepaskan cekalan itu namun tenaga pria itu terlalu besar.
"Saya tidak terima keputusan anda seperti ini. Anda tak bisa melakukannya." Seru pria itu tak kalah sengit.
"Lepas!" Seru Karina mulai merintih merasakan nyeri di pergelangan tangannya yang digenggam erat.
"Tidak." Seru pria itu lagi menyeret Karina untuk masuk ke dalam cafe. Karina yang sudah berusaha melepaskan diri dari perlakuan itu hanya bisa meringis kesakitan dengan air mulai menetes.
Grep
Tangan pria asing itu dipelintir oleh seseorang membuat pria itu menjerit kesakitan karena tidak siap.
"Awww...." Jerit pria itu.
"Sebaiknya anda memperlakukan seorang wanita dengan baik." Suara itu mengejutkan Karina. Dia hapal betul suara siapa itu. Karina sontak mendongak menatapnya.
"Si...siapa kamu?" Tanya pria itu masih meringis kesakitan karena pria yang memelintir tangannya semakin memperkuatnya.
"Aww...sialan...!" Teriak pria itu berusaha melawannya dengan satu tangannya yang bebas namun lagi-lagi diterima pria yang baru datang itu dan juga langsung dipelintir keduanya ke belakang semakin membuat pria kasar tadi mengaduk dan berteriak kesakitan hingga semua orang yang mendengarnya langsung mengerubungi menyaksikan tontonan itu.
.
.
TBC