kisah sepasang suami istri yang menyerah di tahun kedua pernikahan karena terlalu banyaknya pertengkaran diantara mereka.
pernikahan yang diawali dengan sebuah perjodohan antara Seraphina Anastasya dengan seorang pria dingin bernama Dikta Rey Ibrahim membuat keduanya mengalami konflik berkepanjangan dan yang diperparah oleh Dikta yang dengan sengaja tetap menjalin hubungan dengan kekasih pria itu yakni Delara Sasmita yang berujung pengkhianatan oleh Delara dengan berselingkuh dibelakang Dikta.
setelah 5 tahun, Dikta dan Sera dipertemukan kembali karena sebuah kecelakaan yang tidak disengaja oleh Sera sehingga dirinya diharuskan bertanggungjawab atas Dikta.
yuk simak kisahnya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon neng_86, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
rumah baru, harapan baru
Udara pagi di kota kecil itu terasa sejuk dan wangi tanah basah saat mobil mereka berhenti di depan sebuah rumah berlantai dua yang dicat warna krem.
Di halamannya tumbuh beberapa pohon mangga rindang, dan di sekelilingnya berbunga-bunga indah yang bermekaran indah.
"Ini dia, Nak. Rumah yang Ayah ceritakan," ucap Pak Herman sambil mematikan mesin. Matanya bersinar bangga melihat wajah putrinya yang melebar takjub.
Seraphina turun perlahan, menarik napas panjang hingga dadanya terasa penuh. "Indah sekali, Yah... Seperti di dalam cerita."
Mereka mulai menurunkan barang-barang.
Rumah tersebut di beli oleh Herman dari salah seorang kenalannya.
Dibelakang rumah itu berdiri sebuah peternakan domba dan juga kebun mini yang di tanami berbagai macam sayur-mayur.
Belum lama bekerja, terdengar suara langkah kaki mendekat. Seorang wanita paruh baya dengan senyum paling ramah yang pernah Seraphina lihat berjalan mendekat sambil membawa sekeranjang buah-buahan segar.
"Selamat datang di kampung ini, Pak Herman. Saya Bu Sumi, kakak dari Mang Budi, yang jaga rumah ini selama Bapak dan non belum menempatinya..."
Seraphina tersenyum tulus, menerima keranjang itu. "Saya Seraphina, putri pak Herman."
"Wah... Ternyata Mang Budi benar ya, putrinya juragan memang cantik sekali... Khas gadis kota dengan kulit putih bersinarnya..." puji Bu Sumi yang membuat Sera tersipu.
Hari itu berlalu dengan sibuk namun menyenangkan.
Tidak ada tatapan aneh, tidak ada bisik-bisik di belakang punggung.
Hanya ada kesederhanaan dan kehangatan yang selama ini hilang dari hidup Seraphina. Saat sore mulai menjelang, ia duduk di teras rumah yang baru, memandangi langit yang berwarna jingga kemerahan. Hatinya terasa begitu tenang, jauh lebih tenang dari yang ia bayangkan.
Tidak ada lagi nama Dikta Rey Ibrahim yang dibisikkan orang. Tidak ada lagi beban menjadi mantan istri.
Di sini, ia hanyalah Seraphina, gadis muda yang ingin melanjutkan kuliahnya, yang ingin menata hidupnya kembali.
"Apa kau bahagia di sini, Nak?" tanya Ayahnya yang duduk di sampingnya.
Seraphina menoleh, matanya berbinar cerah. "Sangat bahagia, Yah. Terima kasih... karena mau membawaku ke sini. Rasanya seperti aku baru saja terlahir kembali."
Pak Herman mengusap kepala putrinya lembut. "Ini baru permulaan, Sayang. Luka di hati memang belum sembuh sepenuhnya, tapi di sini... kau punya waktu dan ketenangan untuk menyembuhkannya pelan-pelan. Dan Ayah akan selalu ada di sisimu."
"Iya... Sera beruntung masih punya Ayah..."
Keduanya lalu tersenyum, menatap jauh ke halaman yang mulai gelap.
Saling berjanji dalam hati untuk saling menjaga satu sama lain.
...****************...
Pagi yang indah untuk memulai hari yang baru.
Seraphina bangun dengan perasaan ringan, seolah beban di pundaknya perlahan terangkat.
Hari ini adalah hari yang ia tunggu-tunggu, hari di mana ia akan kembali melangkah ke gerbang kampus yang baru, dan mimpi yang baru pula.
Seraphina berdiri di depan cermin, menatap pantulan dirinya sendiri. Ia mengenakan kemeja katun berwarna krem dan rok jeans yang sederhana. Rambutnya diikat rapi, dan di matanya tak lagi ada bayang-bayang kesedihan yang dulu selalu membayangi. Ia tersenyum pada cermin, senyum yang tulus, senyum milik Seraphina yang baru.
"Semangat ya, Nak," sapa Pak Ardi dari ambang pintu, matanya berbinar bangga. Ia menyerahkan tas punggung berwarna cokelat yang masih baru. "Ayah yakin, hari ini adalah langkah pertama menuju semua yang kau impikan."
"Terima kasih, Yah." Seraphina memeluk ayahnya erat. Pelukan yang memberi kekuatan, pelukan yang mengingatkannya bahwa ia tidak sendirian. "Aku berjanji akan menyelesaikan semuanya. Untukku, dan untuk Ayah."
Kampus kota ini tidak sebesar dan semewah universitas di Jakarta, namun di sini terasa jauh lebih hangat dan bersahabat. Pepohonan rindang berjejer rapi di sepanjang jalan setapak, mahasiswa berjalan beriringan sambil tertawa, udara bersih dan segar. Tidak ada yang mengenalnya di sini, tidak ada yang tahu siapa mantan suaminya atau masa lalunya, tidak ada yang menatapnya dengan rasa iba. Ia hanyalah mahasiswa baru yang kembali mengejar mimpi, dan itu membuatnya merasa bebas, sungguh bebas.
Di ruang administrasi, petugas yang ramah memproses berkasnya dengan cepat. "Selamat, Nona Anastasya. Semua persyaratan lengkap, dan perkuliahan bisa dimulai besok pagi"
Seraphina mengatupkan kedua tangannya di dada, mata berkaca-kaca namun bahagia. "Terima kasih banyak, Bu. Terima kasih."
Saat ia berjalan keluar gedung, terlalu asyik menatap jadwal kuliah di tangannya, bahunya tak sengaja menabrak dada seseorang yang berjalan dari arah berlawanan. Berkas-berkas di tangannya berhamburan jatuh ke lantai.
"Maaf! Saya tidak melihat ke depan" Seraphina berlutut bergegas memungut kertas-kertas itu, jemarinya gemetar sedikit karena gugup.
"Tak apa-apa. Ini salah saya juga, berjalan terlalu cepat," terdengar suara lembut namun dalam, tenang seperti aliran sungai yang jernih.
Sebuah tangan lebih dulu mengambil lembaran jadwal kuliah yang melayang jauh, lalu menyodorkannya kepadanya. Seraphina mendongak dan napasnya tertahan sesaat.
Pria di hadapannya tampak sekitar dua puluh tujuh tahun, mengenakan kemeja biru muda yang digulung hingga siku, dengan sapuan tinta di ujung jari telunjuknya yang menunjukkan bahwa ia baru saja selesai menulis. Wajahnya tegas namun mata cokelatnya menyimpan kelembutan yang tulus, tanpa niat tersembunyi di balik tatapan itu.
"Seraphina Anastasya?" pria itu membaca nama di atas kertas, lalu tersenyum ramah. "Kau mahasiswa jurusan Sastra Indonesia?"
"Iya... benar," jawabnya pelan, menerima kertas itu kembali. "Terima kasih sudah membantu."
"Saya Arga Dirgantara. Saya pengajar asisten di jurusan itu. Kebetulan sekali, sepertinya kita akan sering bertemu mulai besok." Pria itu menyodorkan tangan. "Selamat datang di kampus, Seraphina."
Seraphina menyambut uluran tangannya, cengkeraman yang hangat dan sopan. Ada getaran halus yang menjalar, bukan karena debar cinta yang mendadak, melainkan karena merasa dihargai sebagai manusia, sebagai mahasiswa, bukan sebagai milik seseorang.
"Terima kasih, Pak Arga."
"Panggil saja Arga. Belum profesor kok," candanya, membuat pipi Seraphina merona samar. "Kalau kau butuh bantuan soal materi atau skripsi, ruang kerjaku di lantai dua, pintu nomor 207. Selalu terbuka."
Arga melambaikan tangan lalu berjalan pergi, meninggalkan aroma sabun yang segar dan kesan yang tak bisa dijelaskan Seraphina dengan kata-kata.
Ia berdiri diam di sana, menatap punggung pria itu yang menjauh, lalu menunduk melihat jadwal di tangannya. Hatinya berdebar, bukan karena masa lalu, tapi karena masa depan yang tiba-tiba terlihat lebih cerah dari yang ia bayangkan.
Sore itu, pulang ke rumah dengan langkah yang ringan, Seraphina bercerita pada ayahnya tentang hari ini , tentang kampus, tentang jurusan, dan tentang Arga. Pak Herman tersenyum mendengarkan, lalu menepuk bahu putrinya.
"Lihat kan, Nak? Pintu yang tertutup akan digantikan oleh pintu lain yang terbuka. Tuhan sedang menyusun rencana indah untukmu. Sabar saja."
Malam itu, Seraphina duduk di meja belajarnya, menyalakan lampu meja yang cahayanya lembut. Ia membuka buku catatan baru, halaman pertama masih bersih dan putih.
Di luar, angin berhembus sejuk membelai jendela, dan bintang-bintang mulai bermunculan satu per satu, menyinari jalan panjang yang masih menantinya. Jalan yang tak lagi kelabu, melainkan penuh warna yang baru saja mulai ia lukis.
bersambung....
Ditunggu crazy up nya💪