Arum memutuskan berhijrah, hidup dengan syari'at agamanya. Namun bukan hijrah namanya bila tanpa rintangan, suami yang dicintainya pergi untuk selamanya, berjuang keras menghidupi anaknya. Dan suatu ketika dia dikhitbah untuk menjadi madu. Bagaimakah ceritanya? Sanggupkah Arum menjadi madu?
Ini hanya fiksi ya, tidak ada kaitannya dengan cerita hidup siapapun. Happy reading 🤗🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shakeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terimakasih Adik Maduku
" Abiii, kapan ini berangkat ke pantai?" Tanya Hanna pada Ammar.
" Iya, sebentar lagi ya, itu mobilnya masih dipanaskan sama opa, Ummi juga belum siap-siap." Jawab Ammar, dan saat itu dia baru menyadari ada Arum yang duduk di dekatnya.
" Dik, aku bantu Umminya Salman siap-siap dulu ya," Kata Ammar sambil menggandeng Fitri masuk ke dalam dan tangan kirinya menepuk pundak Arum.
" Eh.. Iya Mas." Jawab Arum. Ammar dan Fitri masuk ke kamar. Tak lama kemudian mereka sudah kembali ke ruang tamu lagi. Fitri sudah berganti baju dengan gamis dan khimar yang warnanya hampir sama dengan Arum, yaitu ungu tua.
" Ummi kok bajunya warnanya sama kayak Umma." Tanya Salman heran.
" Iya, gak papa kan, Ummi sama Umma sama-sama ibunya kalian, dan sama-sama istrinya Abi." Jawab Ammar sambil tersenyum melirik Arum. Arum juga tersenyum walau tidak terlihat karena tertutup cadar.
" Karena Ummi sudah siap berangkat, kita berangkat." Kata Arum kepada krucil.
" Ini Dik, kamu bawa Umminya Salman naik mobil dulu ya, aku ambil tas baju ganti anak-anak di kamar." pinta Ammar.
" Iya Mas. Ayo Mba." Kata Arum sambil menggandeng Fitri ke Mobil. Fitri memang saat ini kuat berjalan tanpa kursi roda, tetapi harus pelan-pelan.
Sesampainya di dekat mobil, Arum membuka pintu depan dan meminta Fitri duduk di depan.
" Masuk sini Mba." kata Arum.
" Nggak Dik, aku dibelakang aja, gak bisa tidur kalau di depan." Fitri menolak beralasan, sebenarnya ia tidak ingin adik madunya merasa canggung.
" Okelah." Arum setuju dan membuka pintu belakang. Sedangkan Salman dan Rayhan sudah siap di bangku paling belakang.
" Hanna duduk di depan ya temani Abinya." kata Arum pada Hanna.
" Iya Umma." Jawab Hanna patuh. Arum pun membuka pintu depan untuk Hanna, Hanna masuk dan duduk kemudian Arum memasangkan sabuk pengaman. Setelah itu Arum masuk bangku tengah di samping Fitri.
" Abi mana sih kok lama banget." Salman dan Rayhan mulai protes di belakang.
" Sabar dulu sayang. Nah, tuh Abi masih pamit Oma sama opa." Jawab Arum menenangkan.
Mendengar dan melihat sendiri bagaimana Arum begitu sabar dan perhatian kepada anak-anaknya, Fitri sangat bahagia.
" Dik, terimakasih ya, sudah merawat, dan mengurus Mas Ammar dan anak-anak dengan sangat baik." Kata Fitri sambil menggenggam tangan Arum.
" Sama-sama Mbak terimakasih juga sudah mempercayakan mereka padaku." Jawab Arum.
Ammar pun masuk mobil setelah berpamitan kepada orang tua Fitri.
" Oke, semua sudah siap?" Tanya Ammar.
" Siap!!!" Jawab anak-anak kompak.
" Doa naik kendaraan dulu." pinta Ammar. Anak-anak pun berdoa setelah itu mobil berjalan menuju pantai. Pantai itu terletak di kota yang sama dengan rumah orangtua Fitri. Sekitar tiga puluh menit mereka sampai di pantai.
" Alhamdulillah kita sudah sampai." kata Ammar.
" Alhamdulillah, Yeay main di pantai!!!" seru anak-anak senang.
" Tapi Hanna laper bi." ucap Hanna sambil cemberut.
" Baiklah, kita makan dulu tuan putri." Jawab Ammar sambil tersenyum manis pada Hanna. Dan semuanya turun kemudian berjalan menuju warung makan seafood di tepi pantai. Mereka duduk melingkari meja makan. Berturut-turut duduknya Arum, Fitri, Ammar, Rayhan, Salman dan Hanna di samping Arum.
Sepuluh menit kemudian makanan yang mereka pesan datang. Arum kemudian berdiri melayani Fitri, Ammar dan anak-anaknya satu persatu. Ammar dan anak-anak asyik makan sedangkan Fitri tersenyum melihat Arum yang sibuk melayani mereka, dia terus bersyukur ada Arum di tengah mereka.
" Hanna pengen disuapin." Kata Hanna sambil menyodorkan piringnya ke Arum.
" Iya sayang." Jawab Arum sambil menyuapi Hanna, diapun belum jadi makan.
Mereka semua selesai makan, tinggal Arum yang baru mulai makan karena sibuk menyuapi Hanna.
" Main di pantai yuk!" Ajak Salman.
" Baiklah mari kita ke pantai." Ammar setuju. Dia dan anak-anak segera berdiri.
" Dik, kamu sama adikmu dulu ya." Pesan Ammar kepada Fitri. Fitri pun mengangguk.
" Dik, titip kakakmu ya." Pesan Ammar pada Arum.
" Baik boss." Jawab Arum sambil terus makan. Ammar dan anak-anak pun berlari hingga tepi pantai.
" Dik, apa mas Ammar memperlakukan kamu dengan baik?" Tanya Fitri.
" Alhamdulillah, sangat baik Mba." jawab Arum.
" Emang kenapa?" Tanya Arum balik.
" Nggak papa, cuma Mbak takut kamu gak nyaman." kata Fitri.
" Mbak, jangan khawatir, percaya saya Mba, semampu saya akan menjaga amanah Mbak." Jawab Arum.
" Gak tau lagi musti ngomong apa Mbak ini, pokoknya terimakasih terimakasih, Jazaakillahu khayran ( Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan )." Kata Fitri dengan mata berkaca-kaca.
" Wa anty fajazaakillahu khayran ( Semoga Allah juga membalasmu dengan kebaikan )." Jawab Arum. Arum pun selesai makan dan mereka segera menyusul Ammar dan anak-anak yang main di tepi pantai.
Di tepi pantai ada sepasang ayunan dari kayu yang dibuat warga sekitar. Arum mendudukkan Fitri di satu ayunan itu. Dan Arum di ayunan satunya. Ammar dan anak-anak menghampiri mereka.
" Ayo kakak fotoin kami ya." Pinta Ammar sambil berdiri diantara dua istrinya. Dan mereka berfoto dengan berbagai posisi dan pose.
Tak terasa hari mulai gelap, sebentar lagi Maghrib datang, merekapun masuk mobil dan beranjak pulang. Di perjalanan, Adzan Maghrib berkumandang, Ammar membelokkan mobil itu di masjid yang mereka lewati. Dan mereka singgah untuk sholat Maghrib.
Setelah selesai sholat mereka melanjutkan perjalanan pulang. Sesampainya di rumah, Ammar membawa Fitri ke kamar untuk istirahat. Arum dan anak-anaknya ke kamar sebelah beristirahat juga sambil menunggu makan malam dan adzan Isya.
" Yuk, makan yuk." Alin memanggil Arum dan keponakan-keponakannya.
" Eh, Alin, apa kabar?" tanya Arum.
"Alhamdulillah baik Mba, makan yuk." ajak Alin.
" Iya, eh maaf ya gak bantuin masak tadi, ini anak-anak minta dipijit, katanya capek." Kata Arum sambil keluar kamar bersama anak-anak menuju ruang makan.
" Mas Ammar mana?" tanya Arum karena tidak melihat suaminya di meja makan.
" Maaf, Mbak lagi di kamar nyuapin Mbak Fitri, tolong biarkan dulu ya Mbak." Jawab Alin hati-hati takut Arum marah.
" Lho kenapa kamu minta maaf? Gak papa lagi, toh Mba Fitri juga istrinya mas Ammar kan. Santai aja." Arum mencoba menenangkan Alin. Akhirnya Arum dan anak-anaknya makan malam.
Selepas Isya, Arum menidurkan ketiga anaknya di kamar tadi. Arum tidak bisa memejamkan matanya sebelum ia melihat Ammar, mungkin sudah menjadi kebiasaannya setelah menikah dia bisa tidur setelah melihat wajah Ammar.
" Clekk." Ammar membuka pintu, terkejut melihat Arum yang masih terjaga dan duduk di tepi tempat tidur. Kemudian Ammar pun masuk.
" Kok belum tidur Dik?" Tanya Ammar.
" Gak tau, belum terbiasa palingan tidur di tempat baru." jawab Arum beralasan.
" Temani aku makan yuk! Laper nih." ajak Ammar.
" Iya Mas, Mbak Fitri sudah tidur?" tanya Arum.
" Sudah." Jawab Ammar singkat sambil menarik kedua tangan Arum hingga ia berdiri. Kemudian Ammar memeluknya dengan erat.
" Terimakasih sayang, aku bangga sama kamu, kamu sudah menjagaku, istriku dan anak-anakku." Ucap Ammar.
" I.. Iya Mas, tapi lepasin, sesak nih." Arum berusaha melepaskan pelukannya. Merekapun keluar kamar menuju meja makan.
*****
jangan lupa mampir ya ukh di karyaku juga ya, dan beri dukungan. sekalian boleh minta folback nya agar bisa berteman/Smile/
Sekalian rekomen buat yang kesusahan nyari novel yang seru dan bagus, mending coba baca yang judulnya (Siapa) Aku Tanpamu wajib searchnya pakek tanda kurung dan satu novel lagi judulnya Caraku Menemukanmu
bisa berbagi....
sukses
semangat
mksh
mantap