Cerita berlatarkan negara luar
Meira seorang gadis berusia 21 tahun, ia tinggal bersama seorang ayahnya yang hanya tinggal sendiri karena kedua orangtuanya telah berpisah saat Meira masih berusia 7 tahun. Ibu Meira menikah lagi dengan seorang aktor terkenal, sementara Meira menjalani kehidupan seperti biasa bersama ayah nya yang hanya memiliki satu perusahaan kecil.
"Meira.. tolong teruskan perusahaan itu demi papa." ucap papa Meira, dan menjadi pesan terakhirnya sebelum ia meninggalkan putrinya untuk selamanya.
*
Suatu saat perusahaan mengalami penurunan drastis hingga Meira harus meminta pertolongan pada perusahaan besar yang di pimpin oleh pria dingin.
"Permohonan mu saya terima dengan satu syarat." ucap si pria itu.
"A-apa?"
"Menikahlah dengan ku."
Ucapan itu membuat Meira terkejut bagaikan di sambar petir di siang bolong. Namun rencananya terhalang oleh seseorang.
Simak yuk 👉
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chiechi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
Tak terasa waktu terus berputar dan jam menunjukkan pukul 15.45 Meira masih duduk santai dengan hanya mengenakan t-shirt dan celana pendek nya serta rambut yang tergerai. Sesekali ia teringat dengan pesan yang di kirimkan oleh Alexi, "aisshh.. kenapa juga harus kepikiran dia sih." ucap gadis itu sambil menggelengkan kepalanya.
Baru saja ia mau merebahkan dirinya di sebuah sofa ruang tv, tiba-tiba bell berbunyi dan dengan terpaksa ia melangkahkan kakinya menuju pintu depan.
ceklek. . . sebuah pintu terbuka dan terlihat dua orang pria yang berpakaian rapi serba hitam termasuk kacamata yang mereka pakai. Kedua pria itu langsung membawa Meira ke dalam sebuah mobil. Sekeras apapun gadis itu berontak ia tetap tidak bisa menahan kedua pria itu karena badan nya yang terlalu mungil.
"kalian mau membawa ku kemana?!"
"diamlah nona." ucap salah seorang pria itu.
"jangan dekat-dekat! aku gak mau berdekatan dengan pria asing." ucap Meira menyuruh kedua orang di samping kiri kanan nya untuk menjauh.
Seketika kejadian itu mengingatkan dia pada mimpi beberapa waktu lalu di saat mendiang ayah nya masih ada. "apa ini arti dari mimpi itu? kenapa semuanya terlihat sama?" gumam Meira sambil melihat ke sekeliling dalam mobil.
"kalian siapa? kenapa membawa ku secara tiba-tiba?"
"kita hanya menjalankan perintah dari tuan muda."
"ucapan itu? apa ini artinya sebuah mimpi menjadi nyata?" ucap Meira dalam batinnya.
"siapa tuan muda yang kalian maksud?"
"nona akan mengetahuinya setelah kita sampai."
"buka jas mu"
"untuk apa?"
"udah cepat gak usah banyak tanya! ini perintah!" ucap Meira dengan kesal.
Dengan terpaksa seorang pria membuka jas nya dan memberikan nya pada gadis di sebelahnya. Ia pun langsung mengambil nya dan menutupi celana pendeknya. Selama perjalanan tak hentinya gadis itu menggerutu kesal sampai akhirnya mereka tiba di sebuah mansion berwarna putih yang begitu mewah dan elegan. Kedua orang itu bergegas turun dan membukakan pintu mobil nya.
Kedatangan Meira di sambut langsung dengan dua orang pelayan dari samping kiri dan kanannya. Mereka mengantarkannya ke sebuah ruangan khusus yang telah di siapkan dengan beberapa pakaian wanita dan seorang make over profesional.
"silahkan nona, waktunya hanya tersisa 15 menit." ucap seorang pelayan ketika telah sampai di sebuah kamar.
"tunggu... untuk apa semua ini?"
"nanti nona tau sendiri, permisi."
"apa-apaan ini?" ucap Meira mengerutkan keningnya.
"gaun mana yang nona sukai?" tanya sang make over.
Meira menunjuk sebuah gaun pendek berwarna biru muda tanpa lengan yang terlihat simpel dan tidak terlalu berat. Ia pun segera mengganti baju nya dan duduk di depan meja rias. Hanya butuh waktu beberapa menit sang make over memasangkan make up di wajah Meira yang telah cantik secara natural dan menambahkan sedikit lipstik tipis di bibir mungilnya serta rambut yang di biarkan secara terurai.
"nah, selesai." ucap sang make over.
Gadis itu menatap dirinya dalam sebuah cermin, ia melihat secara seksama wajah nya yang terlihat sedikit berbeda.
"nona.. mari tuan sudah menunggu." ucap pelayan yang menjemput Meira di kamar.
Ia pun hanya mengikuti perintahnya. Meira berjalan keluar dan menuruni beberapa anak tangga yang di dampingi oleh seorang pelayan wanita. Alexi yang telah siap menunggu di lantai bawah, tertegun ketika melihat pesona yang terpancar pada gadis yang sedang menuruni anak tangga.
Langkah Meira tiba-tiba terhenti ketika ia melihat pria di hadapannya adalah pria menyebalkan yang pernah ia kenal. "kau..!!!" ucap gadis itu sambil menunjuk pria di hadapannya.
"hai.. gadis kecil." ucap Alexi sambil mengedipkan sebelah matanya.
"yasshhh... apa-apaan semua ini?"
"bawa dia masuk" ucap Alexi yang menyuruh dua orang bawahannya untuk membawa Meira masuk ke dalam mobil.
"hei..!! kau belum menjawab pertanyaan ku.." teriak Meira yang di seret masuk ke dalam mobil.
Dengan begitu santai Alexi berjalan di belakangnya tanpa menjawab pertanyaan gadis itu. Di dalam sebuah mobil mereka duduk secara berdampingan.
"ayo jalan."
"baik tuan." saut Nino yang kemudian melajukan mobilnya menuju rumah utama.
Selama perjalanan tidak sepatah kata pun yang Alexi ucapkan, lain hal nya dengan Meira yang terus mengajukan beberapa pertanyaan meski Alexi tidak menjawabnya satu pun. ciiitttt .. bunyi rem yang di injak secara mendadak dan membuat kedua orang di belakang oleng.
Dengan sigap Alexi melindungi gadis di sebelah nya agar tidak terbentur hingga posisi mereka kini saling berhadapan dan begitu dekat.
"maaf tuan, tiba-tiba mobil di depan berhenti mendadak." ucap Nino yang melihat mereka dari sebuah kaca spion.
"lain kali berhati-hatilah, kau hampir saja melukai masa depan ku." ucap Alexi.
"baik tuan."
"apa aku gak salah dengar dia bilang masa depan?" ucap Meira dalam batinnya.
"hei tuan seenaknya, menyingkir lah jangan mencoba mencari kesempatan!" ucap Meira membenarkan posisi duduknya.
Tanpa sebuah kata Alexi menggeser kan posisi duduk nya, hingga terlihat ada jarak di antara mereka.
*
Ponsel Meira yang tertinggal di sebuah meja ruang tv terus berdering, beberapa panggilan masuk dari Sakha dan nomor tidak dikenal yang tak lain adalah dari Yoona mamanya Meira. Kini Yoona datang dan menunggu di depan rumah Meira sampai akhirnya ia bertemu dengan Sakha yang kebetulan juga akan menemui gadis itu.
"sepertinya dia tidak di rumah." ucap Yoona yang menghentikan langkah Sakha.
"apa anda berniat untuk menemuinya juga?" tanya Sakha yang belum mengetahui kalau Yoona adalah ibu dari seorang gadis yang di incar nya.
"ya, aku Yoona mama nya Meira."
"ahh ya, perkenalkan aku Sakha teman sekaligus rekan bisnisnya."
Yoona tersenyum ketika mendengar Sakha mengatakan kalau dia adalah temannya.
"gimana kalau kita mengobrol di tempat lain? biar lebih nyaman" ucap Sakha.
Yoona hanya mengangguk menerima ajakan dari pria muda itu. "ternyata putriku sudah benar-benar dewasa." gumam Yoona selama dalam perjalanan menuju sebuah cafe.
Sesampainya di sebuah cafe mereka mengobrol dengan begitu akrab seakan bukan pertemuan untuk yang pertama kalinya.
"semuanya belum terlambat, aku akan membujuknya untuk bertemu dengan Tante."
"terimakasih untuk kebaikan kamu, tapi semuanya tidak perlu kamu lakukan, mungkin dia telah benar-benar membenci Tante." ucap Yoona yang menyadari kesalahannya di masa lalu.
"tolong berikan ini saat kamu bertemu dengan nya. bilang kalau Tante merindukannya." sambung Yoona kembali sambil memberikan sebuah kotak kecil.
"akan aku sampaikan ketika bertemu dengan nya."
"terimakasih, sudah saatnya saya untuk pergi, permisi."
Yoona pun berjalan meninggalkan tempat itu.
Kesempatan ini akan menjadi peluang besar untuk Sakha mencapai tujuan nya.
***
Bersambung. . .
Mohon dukungan nya bantu like juga komentarnya.. makasih ☺️🙏
katanya gadis pintar tapi kok bodoh
selalu bertindak tanpa pikiir terlebih dahulu
meski Meira udah 2 kali ke kantor Lexi ttp aja yang pertama kan dia hanya di bagian depanperusahaan