Tama, cowok baik-baik, kalem dan jago olahraga yang jatuh cinta dengan Raina si gadis yang terkenal dengan reputasi buruknya. Suka dugem, mabok, merokok, bahkan gosipnya dia pun jadi sugar baby simpanan om-om.
Tama menghadapi banyak tantangan agar bisa bersama Raina. Teman dan keluarganya yang tak menyukai Raina, rumitnya latar belakang keluarga Raina, juga cintanya yang penuh gairah yang amat sulit dikendalikan oleh cowok itu.
Kisah mereka terajut sejak masa di bangku kuliah. Saat mereka lulus, Tama berjanji akan menikahi Raina satu tahun kemudian. Tapi dengan banyaknya pihak yang menginginkan mereka untuk berpisah, bisakah mereka bertahan? Apalagi mereka terpaksa harus berpisah demi mempersiapkan masa depan untuk bersama?
Author masih belajar, tetapi selalu berusaha memperhatikan ejaan dan penggunaan huruf kapital yang benar sehingga nyaman di baca. Silahkan mampir😂
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabina nana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Raina Cemburu
"Tama, istirahat bentar ya. Capek banget," keluh Raina sambil mengusap peluh yang membasahi dahinya. Setelah keluar dari rumah Raina tadi pagi, Tama ternyata mengajaknya untuk jogging di taman tak jauh dari rumah Raina.
Raina pontang panting mengikuti langkah Tama. Tama sebenarnya mengayunkan larinya setengah dari kemampuan larinya yang biasanya. Tapi tetap saja T koama bukanlah tandingan Raina. Gadis itu tersengal-sengal begitu mereka telah dua kali lari memutari taman.
Keluhan Raina itu diabaikan Tama. Raina cemberut. Perutnya yang tadi hanya diisi sebutir apel pemberian Tama, kini mulai menjerit kelaparan. Langkah larinya melambat melihat deretan penjual yang berjajar di sepanjang taman. Tama melirik wajah cantik yang ditekuk itu, menahan senyum geli.
Tanpa sadar langkah Raina melenceng, bukan lagi mengekori Tama, justru berbelok ke arah penjual bubur ayam yang mangkal tak jauh dari situ. Tama yang menyadari Raina tak lagi berlari di belakangnya, berbalik dan langsung menarik lengan gadis itu agar kembali ke jalur lari.
"Laper banget, Tama. Pliisss," Raina mengiba. Tama bergeming, menarik Raina tanpa ampun.
"Kita selesaikan satu putaran ini, baru gue beliin bubur ayam."
"Sama rujak buah yang di sana itu" tunjuk Raina pada gerobak penjual rujak buah. Tama mengiyakan.
Tama tetap menggenggam tangan Raina hingga mereka selesai jogging.
Diam-diam Raina mengagumi Tama, yang dimatanya makin menarik saat berkeringat begini. Badannya jangkungnya terlihat pas dengan otot-otot kencang yang tidak berlebihan. Tidak seperti cowok-cowok yang memang sengaja membuat tubuhnya berotot dengan nge-gym gila-gilaan. Badan atletis Tama memang terbentuk sepenuhnya karena hobi olahraga yang digelutinya.
Tama sebetulnya punya potensi untuk jadi cowok populer di kampus mereka. Tampang, lumayan. Ditunjang badan atletis, cowok ini lebih dari mampu untuk bikin cewek manapun melirik. Raina menyadari sejak mereka tiba di taman ini, ada beberapa gadis yang terang-terangan melirik Tama.
Merasa diperhatikan, Tama yang baru saja menghabiskan bubur ayamnya, menoleh memandang gadis itu lekat.
"Kenapa?" tanya cowok itu, meraih botol air minum Raina dan meminumnya dalam tegukan besar.
"Kamu punya pacar?" tanya Raina langsung. Tama masih menatapnya lekat, tak langsung menjawab.
"Elo pikir gue bisa sering ngabisin waktu sama elo kalau gue punya pacar?" Tama justru bertanya balik. Raina tersenyum. Entah kenapa pertanyaan itu baru terlintas sekarang setelah semua yang mereka lewati.
"Kenapa ga punya pacar? Pasti banyak kan cewek yang mau sama kamu," cecar Raina lagi.
"Gue yang nggak mau sama mereka. Puas?"
"Kenapa nggak mau?" kejar Raina, sifat keras kepalanya muncul. Tama mulai jengkel.
"Gue maunya sama elo, Raina." kata Tama. Tama menatap mata nya lekat. Raina jadi salah tingkah sendiri. Gadis itu merasakan pipinya memanas. Sialan. Ia bertingkah macam abege labil sekarang.
Tama memandangi Raina gemas. Gadis itu terlihat semakin cantik pagi ini, dengan rambut diikat ekor kuda, wajahnya yang segar tanpa riasan makin menarik dengan pipi memerah begitu. Membuat Tama ingin sekali mengecup bibirnya. Tama merasa dirinya berubah jadi lelaki mesum setiap kali berdekatan dengan Raina.
Tiba-tiba saja Raina mendekatkan mukanya ke wajah Tama, dan mengecup bibir cowok itu. Kali ini bukan sekedar mengecup, gadis itu menggoda Tama dengan *******-******* kecil. Maka jangan salahkan Tama jika kemudian membalas Raina dengan jauh lebih panas. Ia jadi sering lepas kontrol jika berdekatan dengan Raina.
Untung posisi duduk mereka agak tersembunyi dibalik tanaman sehingga mereka tidak khawatir tingkah mereka diperhatikan orang. Tapi tetap saja, Tama menjauhkan Raina saat cumbuan mereka semakin liar. Didekapnya gadis itu di dadanya sambil menarik napas, berusaha menepis hasrat yang dibangkitkan gadis itu.
"Nakal," kata Tama sambil mencium kepala gadis itu dengan gemas. Raina tertawa geli.
"Tapi kamu suka kan?" Raina mengerjakan mata hazelnya, membuat Tama lagi-lagi lemah dihadapkan dengan pesona gadis itu.
Mengabaikan godaan Raina, Tama mengalihkan pembicaraan.
"Kamu pengin makan apa nanti siang?"tanya Tama. Raina tersenyum makin lebar menyadari perubahan panggilan Tama terhadap dirinya.
"Apa aja deh. Yang nggak perlu keluar rumah"
"Masakan rumahan aja, mau ya?" tanya Tama lagi. Raina mengangguk. Dia masih berpikir mungkin nanti Tama akan memesankan makanan untuk makan siang mereka nanti.
Itulah sebabnya Raina kaget saat Tama kemudian mengajaknya mampir ke sebuah pasar tradisional. Raina, yang nyaris tak pernah masuk ke pasar yang ramai dengan suara orang tawar menawar, sempit, panas dan penuh dengan aroma yang asing di hidungnya, nampak tidak nyaman saat berada disana.
"Kita ngapain disini, sih?" keluh Raina. Berusaha menyamai langkah Tama yang lebar.
"Beli bahan makanan lah. Masih nanya" jawab Tama.
"Tapi aku nggak bisa masak, Tama"
"Siapa juga yang nyuruh kamu masak?"
"Terus itu bahan masakan siapa yang masak? Jangan bilang kalau kamu yang masak. Tama!"
Tiba-tiba Tama sudah berada jauh di depannya. Cowok itu sedang memilih milih seafood yang segar, sambil berbincang dengan seorang gadis.
"Tama! Belanja ya? Tumben sendirian. Anak-anak kos ngga ada yang ikut?" seorang gadis manis dengan tas belanja penuh sayuran menyapa Tama.
Tama mengangguk.
"Elo sendirian juga?" tanya Tama. Gadis itu, Sarah, tersenyum manis. Matanya jelas-jelas bicara lebih banyak. Kekagumannya pada Tama tak bisa ditutupi.
"Aku sama Nabila. Tuh, dia lagi beli buah. Nanti juga kesini"
Tama mengangguk paham. Pada saat itulah Raina menghampiri Tama, menggelayut manja pada lengan cowok itu. Merasakan kehadiran Raina, Tama tersenyum memandang Raina.
"Uda belum belanjanya? Aku capek,"keluh Raina, namun matanya menatap tajam pada Sarah. Tatapan itu hanya dipahami para gadis saja. Tatapan yang kalau diartikan berusaha menunjukkan kepemilikan.
"Iya, ini juga udah beres. Kita balik sekarang" jawab Tama kalem.
"Sarah, gue duluan ya." pamit Tama, yang dibalas anggukan dan senyum kaku dari Sarah. Raina masih memelototi Sarah, dengan masih menggelayuti lengan Tama.
"Siapa itu tadi?" tanya Raina.
"Temen." jawaban Tama pendek saja.
"Kayaknya dia suka sama kamu. Cara dia ngeliatin kamu tuh beda, Tama" kata Raina, tidak menyadari nada suaranya mulai naik. Tama menahan senyum.
"Kamu cemburu?" tembak Tama langsung. Raina gelagapan.
"Ck. Geer. Siapa juga yang cemburu"
Tama tertawa, dielusnya kepala Raina gemas. Gadisnya jadi manis begini kalau cemburu. Dibalik sikap sok judes dan angkuhnya, ternyata Raina tetaplah cewek biasa. Kata orang, perempuan bisa memendam rasa cintanya selama 40 tahun, tapi tak bisa menyembunyikan rasa cemburunya barang sehari. Dan Tama baru menyadari kalau itu sepenuhnya benar.