Diangkat dari kisah nyata seorang gadis yang terbelenggu kebodohan cinta hingga hamil.
Namaku adalah Mia, seorang gadis yang beranjak dewasa merasa naluri ku berontak melihat yang terjadi di depan mata.Walau sebenarnya aku pun dari keluarga yang tak sempurna.
Sedangkan Kak Dinda adalah korban dari seorang lelaki yang memanfaatkan keluguan dan tubuhnya hanya untuk kesenangan sesaat.
Berbagai macam prahara ku hadapi bersama Kak Dinda untuk mencapai kebahagiaan semu.
Mampukah Aku dan Kak Dinda menghadapi hidup yang penuh lika liku ini.
Ikuti terus kisahnya, jangan lupa like dan komen serta vote. Agar menulisnya lebih semangat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dice Mariyetti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 14
Pagi ini adalah pagi yang mendebarkan. Sebab hari ini Aku akan melihat pengumuman kelulusan di sekolah.
Malam tadi mataku tak mampu terpejam. Menanti hari ini. Hari terakhir dimana Aku merasakan menjadi siswa putih abu abu.
Papa juga sudah mulai bertanya tentang prospekku setelah tamat. Terus terang saat ini fikiran ku bercabang. Pilihan pertama adalah mencari pekerjaan. Alih-alih mencari pengalaman. Sedangkan pilihan kedua melanjutkan ke perguruan tinggi.
Pilihan terakhirlah yang mendapat dukungan dari Papa. Syaratnya harus masuk ke perguruan tinggi negeri.
"Ayolah Mi. Mendaftar fakultas yang sama denganku,"rengek Yani saat kami tiba di sekolah.
"Bukankah kamu mau ikut fakultas yang sama dengan Roy?"kataku mengingatkan sahabatku itu akan pujaan hatinya.
"Justru itu Roy juga mendaftar di fakultas kedokteran"
"Entahlah. Aku punya dua pilihan salah satunya fakultas hukum"
"Nggak bisa bayangin kalau kita beda jurusan. Bakal jarang ketemu sama kamu lagi, Mi"
"Oh, jadi begitu. Kalau anak kedokteran bakalan nggak mau lagi berteman dengan anak hukum",sindirku.
"Hahahaha nggak gitu juga kalee"
Pengumuman kelulusan sudah ditempel di dinding kelas masing - masing siswa.
Alhamdulillah kulihat semua siswa dikelasku dinyatakan lulus. Kami bersorak gembira. Kulihat wajah temanku semuanya cerah. Seakan kami tak menghiraukan apa yang menunggu kami nanti setelah tamat sekolah.
"Hai,"sapa Roy yang datang agak terlambat.
"Selamat ya Roy udah lulus, "kata Yani sambil menyalami Roy.
" Iya kamu juga selamat yah, "balas Roy.
Aku hanya tersenyum melihat mereka. Terlebih Yani, sejak kedatangan Roy matanya tak lepas dari Roy. Kentara sekali kalau Yani jatuh cinta pada Roy.
" Bagaimana kalau pulang sekolah kita ke Cafe biasa butuh merayakan kelulusan. Tenang aja sebagai lelaki sejati Aku yang traktir ,"kata Roy.
"Aku mau!Kamu ikut kan, Mi? "kata Yani melirik ke arahku.
"Seperti biasa Aku ikut buat ngusir nyamuk," kataku.
Mereka tertawa bersama mendengar leluconku tadi.
Dirasa tak adalagi pengumuman yang lain Kami perlu tahu. Sesegera mungkin kami bertiga meluncur menuju Cafe, tempat favorit kami.
Saat memasuki Cafe Aku tertegun melihat sosok yang duduk dimeja paling ujung. Ternyata Mama disana bersama seorang pria.
"Apa kabar, Ma? "sapaku menghampiri nya.
" Hai, sayang. Apa kabar? "Mama menyambut dengan suka cita.
" Kenalkan ini Mario. Mario ini Mia anakku,"kata Mama mengenalkan temannya.
Aku hanya tersenyum menyalaminya.
"Yani dan Roy temanku kesini buat rayain kelulusan kami,"kataku.
"Oh, ya. Mama juga mau ucapkan selamat atas kelulusan kalian. Silahkan bergabung dengan teman mu Mama nggak mau ganggu. Sebentar lagi Mama harus balik ke kantor, "jelas Mama.
" Oke,Ma"
"Suatu saat kalau ada waktu kita bicara lagi"
Aku hanya mengangguk mendengar ajakan Mama. Kemudian Mama dan Mario beranjak meninggalkan Cafe.
"Cowok yang bersama Mamamu, calon Papa baru ya, Mi, "tanya Yani.
" Nggak tahu. Mama belum cerita tentang itu, "kataku agak malu pada Roy.
Seharusnya Yani tak perlu bertanya tentang itu dihadapan Roy yang baru satu bulan dekat dengan kami, dumelku dalam hati.
Namun bisa kumaklumi sikap Yani yang lagi jatuh cinta. Dunia seakan hanya milik Dia dan Roy, kadang Aku sering merasa tersisih saat Roy berada di antara kami.
"Mumpung suasana masih happy. Aku mau bilang sesuatu sama Yani, "ucap Roy.
" Bilang apa?"tanyaku heran ada apalagi ini.
"Hah iya mau bilang apa sih Roy. Jadi deg deg an, "kata Yani.
" Aku ingin kamu jadi saksi kalau Aku mau meminta Yani jadi pacarku. Kamu mau kan, Yan? "tanya Roy pada Yani yang terkejut setengah mati.
Tak hanya Yani, aku juga terkejut diminta jadi saksi untuk meresmikan hubungan mereka. Apa nggak salah.
" Iya Aku mau Roy. Aku mau jadi pacar kamu, "kata Yani sambil memeluk Roy.
Lagi-lagi Aku terdiam melihat tingkah laku mereka. Sembari mereka memadukan kasih, akupun minta pamit pulang duluan. Hujan yang turun tak menyurutkan ku untuk melangkah meninggalkan mereka.
Hujan dan airmata berbarengan membasahi pipiku. Hey, kenapa Aku harus menangis. Rasa campur aduk bersemayam dihatiku. Aku merasa kehilangan sesuatu yang paling berharga.
Ada rasa panas menyentuh sanubariku saat Roy meminta Yani jadi pacarnya.Roy yang sebelumnya suka memberikan tatapan cinta padaku. Dan Roy yang pernah bilang sudah terlanjur cinta padaku. Kenapa secara tiba-tiba cintanya beralih secepat itu. Huh dasar lelaki mudahnya berpindah kelain hati.
"Aduh kenapa hujan-hujanan begini nanti sakit lho, "tiba-tiba Kak Dinda muncul dengan memayungiku.
" Ah Kak Dinda. Tadi dari sekolahan trus mampir ke Cafe eh nggak tahunya hujan. Jadi kuterobos aja, "jawabku sekenanya.
" Lah Kak Dinda sendiri darimana, "tanyaku.
" Abis beli sayur buat buburnya Upik. Mata kamu merah kenapa. Kamu nangis ya? "
" Ah nggak Kak. Cuma tadi kelilipan kena air hujan, "elakku.
Kak Dinda mengantarku sampai depan rumah. Setelah itu Ia pun langsung pergi, ingat si Upik yang belum makan.