NovelToon NovelToon
DEWATA COSPLAYERS : BALI

DEWATA COSPLAYERS : BALI

Status: tamat
Genre:Action / Komedi / Drama / Tamat
Popularitas:51
Nilai: 5
Nama Author: INDKaeda00

Gemerlap pulau dewata ternyata menyimpan sisi kelam yang jarang tersorot di balik kemeriahan panggung pop culture dan berbagai event kreatif. Komunitas hobi yang tampak penuh warna ini sering kali diwarnai oleh berbagai kekacauan mendadak, mulai dari drama penyelenggara acara yang bermasalah, oknum penguntit yang meresahkan, hingga gesekan pelik antar-kelompok.

​Di tengah hiruk-pikuk tersebut, sekelompok orang biasa yang tidak memiliki pengaruh besar harus menjalani hari-hari penuh tantangan. Mereka bukan siapa-siapa di mata publik, melainkan sekadar individu yang berusaha menikmati hobi di tengah himpitan masalah pribadi masing-masing yang silih berganti.

​Setiap babak kehidupan mereka berjalan tanpa terikat pada satu tempat atau konflik tunggal, membawa mereka menghadapi berbagai kekacauan on the spot yang tak terduga. Perjalanan ini dipenuhi oleh campuran aksi, drama emosional, dan komedi segar yang menguji cara mereka bertahan di kerasnya dunia komunitas kreatif.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INDKaeda00, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Battle

​"Disclaimer: Seluruh karakter, organisasi, dan peristiwa dalam cerita ini adalah fiktif. Jika ada kemiripan dengan situasi nyata, kisah asmara, atau kasus di dunia cosplay, itu adalah unsur ketidaksengajaan."

Suasana di sekitar panggung mendadak riuh ketika suara panitia dari pengeras suara mengumumkan bahwa segmen battle pedang foam yang ditunggu-tunggu akan segera dimulai. Tanpa buang waktu, Evelia langsung mencengkram pergelangan tangan Otsuki dengan antusias, menariknya merangsek maju ke barisan depan kerumunan penonton agar bisa melihat dengan jelas.

​"Wah, akhirnya mulai juga! Ayo cepat ke sana, Otsuki, nanti kita kehabisan spot penonton yang strategis!" seru Evelia penuh semangat.

​Otsuki hanya bisa pasrah terseret beberapa langkah, lalu berdiri di samping sahabatnya dengan posisi bersedekap dada dan wajah datar. Sambil menunggu para peserta naik ke atas arena, panitia mulai membacakan daftar nama peserta untuk sesi absensi awal.

​Di tengah pengumuman tersebut, telinga Evelia menangkap satu nama yang sangat ia kenal. Ia spontan berjinjit dan melirik ke arah daftar peserta di panggung.

​Melihat reaksi Evelia yang berbinar-binar, Otsuki menoleh sekilas dengan sebelah alis terangkat. "Hm? Kamu kenal sama salah satu peserta yang namanya baru dipanggil itu?" tanya Otsuki penasaran.

​Evelia mengangguk cepat, semburat kemerahan tipis tampak jelas di pipinya. "Iya! Namanya Aragoto. Aku ketemu dia pas event bulan lalu waktu di ruang makeup—nah, pas hari itu kan kamu nggak ikut datang karena malas."

​Otsuki manggut-manggut paham mendengar penjelasan itu, lalu melirik sekilas ke arah Evelia sebelum melontarkan komentar bernada menggoda dengan datar. "Oh... begitu. Pantas saja akhir-akhir ini senyum-senyum sendiri. Sepertinya sebentar lagi 'Tuan Putri' kesayanganku ini bakal resmi nggak jomblo lagi, ya?"

​Mendengar sindiran telak itu, mata Evelia langsung melebar karena kaget campur salah tingkah. Tanpa ampun, ia melayangkan tamparan pelan namun telak ke lengan Otsuki dengan rasa gemas yang meluap-luap.

​"Heh! Ngawur banget kalau ngomong!" protes Evelia berbisik tajam sambil menahan malu, wajahnya kian memerah. "Udah, jangan mulai ngegosip yang aneh-aneh!"

​Otsuki hanya melirik malas ke arah lengan jaketnya yang baru saja dipukul, lalu menunjuk ke arah arena dengan dagunya. "Iya, iya, ampun Tuan Putri. Makanya, berhenti salah tingkah dan fokus saja menonton ke depan, itu pertandingannya sudah mau dimulai."

Pertandingan di arena utama pun akhirnya dimulai. Namun, alih-alih menampilkan koreografi pedang yang rapi dan elegan, sesi awal battle tersebut justru langsung menyuguhkan aksi saling serang yang beringas dan brutal dari kedua peserta di atas panggung.

​Otsuki membelalakkan sedikit matanya, menatap ngeri ke arah arena sambil melipat tangan di dada. "Wah... gila, itu pertandingannya brutal banget. Bahaya banget kalau mereka sampai niru adegan lempar-lempar senjata seenaknya kayak di Final Fantasy XV," komentar Otsuki dengan nada datar namun penuh keheranan.

​Evelia yang berada di sampingnya mengangguk setuju dengan mata yang tak lepas dari arena. "Iya, bener banget! Itu kalau kena kepala beneran bisa benjol seminggu," timpal Evelia.

​Namun, belum lama mereka membicarakan keliaran gaya bertarung tersebut, sebuah kejadian tak terduga terjadi. Salah satu petarung yang posisinya terdesak tiba-tiba mengambil keputusan nekat dengan melemparkan properti senjata foam-nya secara langsung ke arah lawan dengan tenaga penuh. Lemparan itu meluncur cepat dan telak menghantam tubuh lawannya, seketika menjatuhkannya dan mengakhiri pertandingan dengan kemenangan instan bagi sang pelempar.

​Otsuki mengerutkan keningnya, semakin heran melihat akhir dari pertarungan itu. "Kenapa dia nggak mencoba menghindar saja tadi? Padahal jaraknya masih cukup luang."

​Evelia menggelengkan kepala perlahan sambil menjelaskan situasi dari sudut pandang peserta. "Mau menghindar ke mana lagi, gerakannya sudah terpojok di ujung pembatas arena. Kalau dia sampai nekat menghindar keluar garis arena, posisinya tetap bakal dihitung out dan dinyatakan kalah juga."

Suasana di sekitar area panggung utama mendadak semakin riuh ketika suara panitia kembali bergema, mengumumkan bahwa pertandingan berikutnya akan segera dimulai. Begitu nama peserta selanjutnya dipanggil, gelombang sorakan histeris langsung meledak dari barisan penonton wanita yang memadati pinggir arena.

​Otsuki melirik sekilas ke arah kerumunan yang bersorak heboh, lalu menyiku pelan lengan Evelia di sampingnya. "Hei, kamu nggak ikutan gabung teriak-teriak heboh kayak mereka juga?" tanya Otsuki dengan nada datar menggoda.

​Evelia langsung mendengus geli sambil memutar bola matanya malas. "Hih, ogah banget! Buat apa aku ikut teriak-teriak nggak jelas begitu? Palingan juga mereka yang teriak itu masih satu circle pertemanan atau fangirl-nya sendiri," jawab Evelia dengan nada sinis bercanda.

​Otsuki mengangguk-angguk paham, lalu kembali memfokuskan pandangannya ke tengah arena sambil memperhatikan gaya bertarung peserta yang sedang berlaga. Tidak lama kemudian, keningnya berkerut heran melihat salah satu peserta pria di atas panggung.

​"Aneh banget..." gumam Otsuki pelan. "Kenapa peserta itu dari tadi sibuk banget membetulkan poninya di tengah-tengah benturan serangan, tapi masih bisa-bisanya tetap fokus bertarung?"

​Mendengar komentar itu, giliran Evelia yang mengerjap bingung, lalu menatap tajam ke arah arena dengan sebelah alis terangkat. "Nah, itu dia yang lebih aneh lagi! Lawannya itu kenapa malah diam saja dan nggak memanfaatkan celah selebar itu buat menyerang balik?" protes Evelia geleng-geleng kepala melihat kelengahan di atas panggung.

​Pertandingan yang diwarnai aksi saling serang dan gaya bertarung yang cukup kontras itu akhirnya mencapai babak akhir. Berdasarkan keputusan mutlak, pertarungan tersebut ditutup dengan kemenangan sang peserta pria—yang tak lain adalah sosok idaman para cosplayer wanita yang sempat memicu sorakan heboh di awal tadi.

Suasana di sekitar arena mendadak berubah menjadi jauh lebih tegang ketika suara pengeras suara kembali menggema, memanggil nama peserta selanjutnya.

​"Baiklah, untuk pertandingan berikutnya! Kita sambut peserta selanjutnya... Aragoto!" seru panitia melalui mik, yang langsung disusul oleh derap langkah tegap seorang peserta pria yang berjalan memasuki area panggung.

​Begitu melihat sosok yang baru saja masuk ke dalam arena, mata Evelia langsung membelalak lebar. Tubuhnya serta-merta menegang kaku, sementara napasnya tertahan sejenak. Tanpa sadar, ia melangkah setengah langkah lebih maju ke dekat pembatas dan berseru dengan suara tertahan namun penuh kekhawatiran, "Aragoto... Hati-hati!"

​Panggilan spontan itu membuat sang pria—Aragoto—sedikit menghentikan langkahnya. Ia menoleh sekilas ke arah pinggir kerumunan penonton, mendapati sosok Evelia yang tampak cemas di sana. Namun, sadar bahwa pertandingan akan segera dimulai, Aragoto hanya mengangguk tipis sebagai respons kilat sebelum kembali memfokuskan pandangannya sepenuhnya ke arah tengah arena.

​Di sampingnya, Otsuki menoleh dengan sebelah alis terangkat tinggi-tinggi, menatap Evelia dengan tatapan penuh keheranan. "Wah, baru dipanggil namanya saja reaksimu sudah segitunya. Padahal lawannya itu..." Otsuki melirik sekilas ke arah sudut seberang arena, "...adalah pria dengan gaya bertarung brutal yang kita tonton di sesi awal tadi."

​Mendengar peringatan bernada datar itu, Evelia tidak sempat membalas atau mendumel. Ia kembali menelan ludahnya, mencengkeram erat ujung gaunnya sendiri karena rasa cemas yang kini melanda hatinya, mengabaikan godaan Otsuki sepenuhnya dan kembali fokus memandangi panggung.

​Di dalam arena, alih-alih langsung memasang kuda-kuda menyerang seperti peserta sebelumnya, Aragoto justru berdiri dengan tenang di hadapan lawannya yang berandalan. Ia menarik napas pelan, lalu mengangkat properti pedangnya sejajar dengan dada dan membungkuk sedikit dalam sebuah gestur hormat yang sangat elegan, persis seperti seorang pangeran kerajaan yang menyambut duel terhormat.

​Melihat gerakan sopan nan karismatik itu, ketegangan di wajah Evelia seketika mencair, digantikan oleh binar-binar kekaguman dan senyuman lebar yang merekah di wajahnya.

​"Kyaa... Gestur hormatnya itu lho, keren banget!" bisik Evelia girang sambil menggoyangkan lengan Otsuki pelan. "Apalagi, kalau diperhatikan baik-baik dari dekat, kostum dan detail styling rambutnya itu... Dia sedang cosplay jadi Noctis dari Final Fantasy XV, kan?!"

​Otsuki kembali melirik ke arah arena, mengamati detail kostum bernuansa pangeran modern berbalut jubah hitam dengan aksesori perak yang dikenakan oleh Aragoto. Ia mendengus pelan, lalu berkomentar dengan nada datarnya yang khas.

​"Pantas saja gayanya sok mirip bangsawan, ternyata lagi cosplay karakter utama game yang hobi teleportasi itu," komentar Otsuki datar, melirik Evelia yang tampak salah tingkah sendiri. "Tapi, kalau lawannya tipe petarung bar-bar yang tadi, gestur sopan ala pangeran kerajaan begitu malah kelihatan seperti flag kematian dini."

​Mendengar komentar blak-blakan Otsuki, Evelia hanya bisa menoleh sambil tersenyum lebar penuh antusias, mengabaikan cibiran sahabatnya itu dan kembali fokus menonton jalannya pertandingan dengan jantung berdebar kencang.

Pertandingan di dalam arena kini telah mencapai puncaknya. Otsuki dan Evelia berdiri berdampingan dengan pandangan yang terpaku lurus ke depan, sepenuhnya fokus menyaksikan jalannya duel sengit antara Aragoto dan lawannya yang bergaya brutal.

​"Wah, gerakan lawan mainnya itu benar-benar nggak punya pola, asal serang terus," komentar Otsuki datar sambil melipat tangan di dada.

​"Iya, ngeri banget lihatnya! Untungnya Aragoto refleksnya bagus," balas Evelia dengan nada cemas, matanya tidak lepas mengikuti setiap pergerakan di atas panggung.

​Di dalam arena, Aragoto tampak cerdik memanfaatkan kelincahan karakternya. Ia tidak meladeni serangan mentah-mentah dari lawannya, melainkan sesekali mengitari sudut arena dengan langkah terukur untuk menjaga jarak aman. Namun, situasi mendadak berubah menjadi sangat menegangkan ketika sang lawan melancarkan tebasan vertikal ke atas dengan kecepatan tinggi.

​Syuuung!

​Refleks Aragoto terbukti luar biasa cepat; ia memiringkan kepalanya ke belakang di detik-detik terakhir, membuat bilah pedang foam itu nyaris saja menyapu dan menghantam rahang bawahnya. Belum sempat penonton menarik napas lega, lawan yang mulai frustrasi itu tiba-tiba nekat melempar properti senjatanya dengan tenaga penuh ke arah Aragoto. Dengan gesit, Aragoto melompat kecil dan berhasil menghindari lemparan maut tersebut.

​Begitu mendarat di dekat lawannya, saat sang lawan terhuyung dan berteriak, "Menyerah!"—secara tidak sengaja, tangan Aragoto yang terayun refleks justru mendarat telak menampar sisi kepala lawannya bersamaan dengan teriakan penyerahan tersebut.

​Suasana arena seketika hening sedetik sebelum riuh rendah tawa dan sorakan penonton menggema.

​Melihat kejadian tak terduga sekaligus kocak itu, mata Evelia mengerjap lebar karena terkejut, lalu ia buru-buru menutup bibirnya dengan kedua tangan untuk meredam pekikan gemas dan tawanya yang hampir lepas. Di sampingnya, Otsuki perlahan menggelengkan kepala sambil terkekeh pelan melihat akhir duel yang dramatis sekaligus konyol itu.

Suara panitia kembali menggema melalui mic pengeras suara di tengah arena, memecah keriuhan penonton yang masih menikmati akhir pertandingan sebelumnya.

​"Baiklah, karena waktu kita terbatas dan jadwal sudah padat, kita langsung tanyakan kepada pemenang kita... Aragoto! Apakah kamu siap langsung lanjut ke babak final sekarang juga?" tanya panitia dengan nada bersemangat.

​Di atas panggung, Aragoto yang napasnya masih sedikit memburu akibat duel melelahkan tadi, tampak mengangkat sebelah tangannya hendak memberikan gestur jeda atau istirahat sebentar. Namun, karena suasananya yang terlalu bising dan gerak tangan itu disalahartikan oleh panitia, sang pengisi acara langsung bersorak riuh.

​"Wah, luar biasa! Pemenang kita langsung mengacungkan tangan tanda setuju! Kalau begitu, tidak perlu menunggu lama lagi, kita siapkan babak final sekarang juga!" seru panitia tanpa memberi kesempatan bagi Aragoto untuk memprotes.

​Aragoto hanya bisa berdiri mematung dengan ekspresi pasrah di tengah panggung, sementara lawannya untuk babak final sudah berjalan masuk dengan langkah tegap bersiap menghadapi sisa tenaga sang pangeran Noctis.

​Melihat kejadian itu dari barisan penonton, semangat Evelia dan Otsuki langsung tersulut kembali. Keduanya merangsek lebih dekat ke pembatas arena, mata mereka tidak mau lepas dari sosok Aragoto di atas panggung.

​Otsuki menyilangkan tangan di dada, lalu melirik ke arah Evelia sambil terkekeh pelan dengan nada meledek. "Hahaha... Kasihan sekali pangeran impianmu itu. Dikerjai panitia langsung ditarik ke final tanpa dikasih jeda napas sedikit pun. Kelihatan banget dari posturnya kalau energinya sudah habis, sepertinya sebentar lagi dia bakal game over dan kalah telak di babak final ini."

​Mendengar komentar bernada ramalan buruk itu, Evelia langsung memelototi Otsuki dan mendengus tidak terima. Ia menyikut lengan sahabatnya dengan gemas sambil membela mati-matian.

​"Eh, enak saja kalau ngomong! Mana ada main character kalah secepat itu cuma karena kurang istirahat!" protes Evelia dengan nada penuh keyakinan. "Aragoto itu kuat, ya! Kamu lihat saja nanti, dia pasti bakal menang dan bawa pulang kemenangan itu dengan gaya!"

​Otsuki hanya mengangkat bahunya acuh tak acuh, tersenyum tipis melihat betapa antusias dan setianya sang "Tuan Putri" dalam mendukung pria pilihannya. "Iya, iya, kita buktikan saja nanti siapa yang benar," balas Otsuki santai, kembali mengalihkan pandangannya penuh fokus ke arah arena pertandingan final yang baru saja dimulai.

Tidak lama kemudian, sosok lawan yang akan dihadapi Aragoto di babak final akhirnya melangkah masuk ke tengah arena. Sontak saja, sorakan histeris dari barisan penonton wanita kembali bergema memenuhi ruangan, menyambut sang cosplayer populer yang sempat menarik perhatian di sesi sebelumnya.

​Melihat riuhnya reaksi penonton yang begitu kontras dengan kondisi Aragoto yang tampak kelelahan, Evelia dan Otsuki kompak memasang ekspresi datar dengan senyum tipis penuh keheranan di wajah mereka.

​Otsuki menyipitkan mata sejenak, lalu mulai mengamati postur tubuh serta cara jalan sang lawan baru. Dengan nada tenang, ia berbisik kepada sahabatnya, "Meskipun dia didukung banyak fans, justru menurutku pertarungan ini bakal jauh lebih mudah buat Aragoto daripada menghadapi lawan yang brutal di babak pertama tadi."

​Evelia menoleh dengan sebelah alis terangkat, menatap Otsuki penuh rasa penasaran. "Hah? Kok kamu bisa langsung berpikiran begitu? Jelas-jelas Aragoto sekarang lagi kehabisan tenaga lho karena nggak dikasih jeda istirahat," tanya Evelia meminta penjelasan.

​Otsuki melipat tangan di dada, lalu menjelaskan hasil pengamatannya secara analitis. "Coba kamu perhatikan dari cara dia pasang kuda-kuda tadi. Dari pengamatanku selama memperhatikan pola pertarungan Aragoto sebelumnya, center of gravity dan bobot fisik Aragoto jauh lebih stabil serta lebih berat daripada lawan yang cosplay jadi karakter Guren ini. Lawan yang gayanya mengandalkan kecepatan visual semacam itu biasanya bakal kewalahan kalau dipaksa adu dorong atau pertahanan rapat di detik-detik akhir."

​Mendengar penjelasan logis dan terperinci tersebut, Evelia manggut-manggut paham. Ia tersenyum lebar sambil menepuk pelan lengan Otsuki dengan rasa kagum. "Wah... tumben sekali analisamu masuk akal dan tajam begitu. Cukup paham juga ya soal teknik battle begini, padahal tadinya malas-malasan diajak kesini," puji Evelia setengah menggoda.

​Otsuki hanya menoleh sekilas, lalu membalas pujian itu dengan tatapan datar dan tengah khas miliknya tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.

Suara bel atau aba-aba dari panitia menandakan babak final resmi dimulai. Di tengah arena, Aragoto langsung mengambil inisiatif dengan bergerak lincah, mencoba memancing pergerakan lawannya yang berkarakter cosplayer Guren tersebut. Beberapa kali gerakannya berhasil mengecoh sang lawan hingga terpancing menyerang terlebih dahulu, meski lawannya kini tampak lebih berhati-hati dan menjaga jarak aman.

​Melihat jalannya duel yang semakin taktis itu, Otsuki dan Evelia yang berdiri di tepi pembatas mulai berbisik-bisik memberikan komentar.

​"Wah, strategi Aragoto lumayan juga. Dia sengaja pakai taktik pancingan buat nguras tenaga lawannya yang dari tadi kelihatan terlalu bersemangat," analisis Otsuki dengan nada datar namun penuh perhatian pada ritme pertarungan.

​Evelia mengangguk setuju, matanya berbinar-binar mengikuti setiap gerak-gerik di atas panggung. "Iya, bener banget! Kelihatan banget kalau dia main aman tapi efektif. Beda banget sama gaya bar-bar di babak awal tadi."

​Pertandingan semakin memanas ketika memasuki round penentuan atau ronde terakhir. Menyadari gerakannya mulai sedikit terhalang oleh pakaian luar yang dikenakannya, Aragoto mendadak berhenti sejenak, lalu dengan gerakan cepat melepaskan blazer hitam khas karakternya. Ia melemparkannya ke arah pinggir arena sambil berseru singkat kepada temannya yang berdiri di sana untuk menitipkan pakaian tersebut.

​Fyuuh!

​Aksi lepas blazer di tengah pertarungan itu sontak membuat barisan penonton wanita kembali bergemuruh. Di sebelah Otsuki, Evelia langsung menutup mulutnya dengan kedua tangan, matanya berbinar semakin lebar dengan rona merah tipis di pipinya. Ia menggigit bibir bawahnya, merasa semakin terpesona dengan aksi karismatik tersebut.

​"Duh... sengaja banget bikin penonton makin histeris," bisik Evelia girang sambil mencengkeram lengan jaket Otsuki.

​Sementara itu, Otsuki hanya melirik sekilas dengan tatapan datar dan jengah melihat reaksi sahabatnya yang kelewat antusias. Tanpa berkomentar apa pun, ia kembali mengalihkan pandangannya lurus ke depan untuk melanjutkan menonton pertandingan.

​Di dalam arena, setelah melepas blazernya, gerakan Aragoto terlihat jauh lebih ringan dan leluasa. Sesuai dengan analisis Otsuki sebelumnya, Aragoto kini mulai bisa membaca pattern atau pola serangan lawannya yang mulai kehabisan akal.

​Ketika sang lawan melancarkan tebakan serangan terakhir dengan terburu-buru, Aragoto dengan sigap melakukan counter-attack kilat. Dalam sepersekian detik, ujung properti pedangnya berhasil mendarat telak dan mengunci poin kemenangan di detik-detik akhir pertandingan.

​Prang! Suara sorak-sorai penonton langsung meledak bersamaan dengan ketukan palu atau pengumuman dari panitia yang menyatakan Aragoto sebagai pemenang mutlak babak final.

​Melihat idolanya keluar sebagai juara, pertahanan diri Evelia runtuh seketika. Ia langsung melompat-lompat kecil di tempat dengan penuh kegélapan, lalu menggoyangkan lengan Otsuki dengan sangat keras sampai-sampai tubuh Otsuki ikut terdorong ke depan dan ke belakang.

​"Kyaaa! Menang! Dia benar-benar menang, Otsuki! Lihat itu, keren banget kan?!" seru Evelia histeris sambil terus mengguncang-guncang tubuh sahabatnya itu tanpa henti.

​Otsuki yang diguncang begitu rupa hanya bisa mendengus pasrah, membiarkan tubuhnya terayun-ayun sambil memutar bola matanya malas. "Iya, iya, Tuan Putri... Ampun, tanganku mau copot rasanya diguncang kayak gempa bumi begini. Selamat deh buat pangeran kesayanganmu itu..." balas Otsuki datar di tengah hiruk-pikuk sorak-sorai penonton.

Suasana di area panggung utama berangsur-angsur tertib kembali ketika panitia memanggil para pemenang untuk naik ke atas panggung guna mengikuti sesi penyerahan hadiah dan piala kejuaraan.

​Dari tempat mereka berdiri di barisan penonton, Otsuki dan Evelia menyaksikan jalannya prosesi tersebut dengan seksama. Begitu Aragoto menerima pialanya, Otsuki menyipitkan mata, memperhatikan gerak-gerik sang pangeran Noctis yang berdiri di atas panggung.

​"Hm... Coba lihat itu," gumam Otsuki pelan sambil menyikut lengan Evelia. "Habis-habisan di babak final tadi, kelihatan banget kalau dia sekarang berdiri saja sudah agak terhuyung-huyung. Tapi hebatnya, dia masih berusaha pasang gimmick keren biar nggak kelihatan capek di depan kamera."

​Evelia mengangguk setuju, bibirnya sedikit mengerucut khawatir meski matanya berbinar-binar penuh rasa bangga. "Iya, kasihan banget ya... Tenaganya pasti sudah terkuras habis."

​Sesi penyerahan hadiah pun ditutup dengan sesi foto bersama para pemenang di atas panggung. Begitu sesi resmi selesai dan para cosplayer mulai turun, Evelia tidak menyia-nyiakan kesempatan. Ia langsung mengeluarkan ponselnya dari tas, membuka kamera, dan mengarahkannya ke arah kerumunan di dekat panggung.

​Namun, alih-alih mengambil foto panggung secara keseluruhan, Otsuki yang berdiri di sebelah Evelia tanpa sengaja melirik layar ponsel sahabatnya itu dan langsung tertegun.

​Di layar ponsel Evelia, bidikan kameranya melakukan zoom-in secara ekstrem dan berlebihan—hanya berfokus sepenuhnya pada wajah dan ekspresi Aragoto seorang diri dari jarak jauh, mengabaikan seluruh elemen lain di sekitar panggung. Jepretan demi jepretan terus ditekan berulang-ulang tanpa henti, menghasilkan puluhan foto dengan sudut pandang yang sama persis.

​Otsuki mengerutkan keningnya dalam-dalam, menatap Evelia dengan sebelah alis terangkat tinggi dan tatapan penuh rasa ngeri sekaligus heran.

​"Evelia... sebentar," protes Otsuki dengan nada datarnya yang menusuk. "Itu zoom kameranya jangan sampai keterlaluan begitu. Kalau dilihat dari luar, caramu mengambil foto close-up diam-diam dari jarak jauh sambil senyum-senyum sendiri kayak gitu... jujur saja, kelihatan seram banget. Mirip penguntit profesional, tahu."

​Mendengar teguran telak itu, Evelia langsung tersentak kaget. Wajahnya seketika merona merah padam hingga ke telinga. Ia buru-buru menurunkan ponselnya, lalu menoleh ke arah Otsuki sambil mengerucutkan bibir kesal.

​"Heh! Enak saja bilang aku mirip penguntit!" sanggah Evelia setengah berbisik dengan nada membela diri, meski rona malu tak bisa disembunyikan dari wajahnya. "Ini namanya mengabadikan momen kemenangan idol dengan penuh totalitas, tahu! Biar detail ekspresinya nggak ada yang terlewat!"

​Otsuki hanya menggelengkan kepala pelan, memutar bola matanya malas, lalu mendengus pasrah menghadapi tingkah laku sahabat setianya itu. "Terserah kamu saja... Asal jangan sampai besok-besok fotomu itu dipajang di mading peringatan cosplayer berbahaya."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!