Pout for Me, Little Mouse.
Keylana Reinhardt, Putri seorang raja perbankan lokal Jerman, diatur ke dalam pertunangan dengan Julian Donnersmarck -- Seorang Miliarder muda dari Berlin yang arogan, pragmatis dan bergaul dengan bebas.
Setelah disatukan, mereka tinggal bersama di Berlin, Kota kelahiran Julian. Tidak ada satu hari pun tanpa perdebatan. Julian tidak meninggalkan kebiasaan moral yang buruk sedangkan Keylana tak kalah nakal, memanggil Julian dengan nama depannya.
Ini tentang Rasionalitas yang terus dipertanyakan dan Perasaan yang dianggap tidak penting.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bubble🫧, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di Bawah Langit Tropis
Lana duduk di bangku menghadap lautan di Resort Grand Hyatt Bali, menikmati pemandangan matahari terbenam sambil menikmati air kelapa yang masih berada di dalam sebuah kelapa muda sambil sesekali memotret pemandangan matahari terbenam di cakrawala pantai menggunakan kamera kecilnya.
Ponselnya berdering di atas meja, Kontak dengan nama -Julian- muncul.
Pria itu tidak mencarinya semalam, Lana mengira dia sibuk dengan tumpukan dokumen sampai tidak menyadari dirinya tidak pulang ke apartemen untuk akhir pekan ini.
Ponsel itu berdering bertubi-tubi menuntut untuk segera di Jawab. Lana akhirnya menegakkan punggungnya dan mengusap tombol jawab ke atas.
"Julian?"
"Kamu punya waktu lima detik untuk menjelaskan mengapa aku harus mengetahui dari pengurus asramamu bahwa kau lari ke Bali tanpa memberitahuku." Suara Julian memotong saluran telepon.
Sial, dia marah. aku pikir dia tidak tahu. apakah dia baru menyadari aku pergi?
"Aku lupa."
Julian mendengkus, Jawaban Lana hanya menambah kekesalannya yang berusaha ditekan.
"Lupa, Sayang? ini bukan kesalahan kecil – Kau sengaja mengecualikan aku dalam rencana liburan mu." Nadanya tidak menerima bantahan.
"Dan kamu pergi dengan dua teman kecilmu itu? Kau pikir apakah mereka berguna jika kau dalam masalah di tempat ini? Ataukah mereka yang menghasut mu agar terlibat dalam liburan curian ini. Aku seharusnya memberikan mereka peringatan."
Alis Lana berkerut mendengar temannya di pojokkan, ketegangan dalam percakapan mereka membuat Lana menegakkan tubuh di kursi.
"Julian! Apa masalahm—"
"Apakah kau tidak tau betapa memalukannya saat supir ayahmu melaporkan bahwa tunanganku telah menghilang tanpa jejak dengan aku seperti orang bodoh yang tak tahu apapun." Nadanya semakin tajam saat dia memotong.
Lana mencengkram ponselnya, Julian mengaitkan masalah ini pada ayahnya berarti pria itu memiliki kekhawatiran nyata atau mungkin ancaman.
Julian menarik nafas jengah menahan amarahnya.
"Aku berada di bagian reservasi." Nadanya sedikit lebih lembut. "Jika kau tidak disini dalam dua menit, aku akan mengirim orang untuk menjemputmu sendiri."
Julian memang sudah berdiri di dekat pos penerimaan tamu. Pakaian bisnisnya masih terpasang rapi di tubuhnya yang tinggi dengan postur arogan khas. Satu tangan di masukan ke dalam saku dengan tangan lainnya memegang ponsel di dekat telinganya.
Mantelnya sudah dilepas, Sepatu kulitnya mengetuk-ngetuk lantai karena ketidaksabaran.
Lana akhirnya muncul dengan tergesa-gesa, Pakaian gadis itu terlalu terbuka di udara sejuk dimana malam sudah hampir datang. Julian melangkah mendekatinya sambil mengantongi ponsel.
Lana menemukan Julian disana dan menghampirinya di tengah hiruk-pikuk.
"Kau berlarian disini setengah telanjang Lana, kau ingin menunjukkan ini pada siapa?" Julian mengaitkan jarinya di tali Summer dress Putih lana.
Baginya, pakaian itu tetap terbuka untuk Lana walaupun orang lain disekitarnya memakai potongan yang lebih tidak menutupi apapun.
"Setengah telanjang?! kau sebut ini apa? ini kan pakaian musim panas biasa." Lana menunjuk-nunjuk gaun roknya.
Julian memandangi Lana perlahan dari ujung kaki sampai terpaku ke lehernya lalu menatap matanya dengan penuh arti.
"Kamu kenapa?" Lana memiringkan tubuhnya defensif.
"Kenapa?"
Julian mengulangi dengan mengejek, menarik pinggang Lana dengan satu tangan. Jarak dari wajah mereka sangat dekat sekarang.
"Karena aku tidak tahan memikirkan kau menghabiskan malam di bungalo tepi pantai entah dengan siapa."
Nafas Julian menerpa wajah Lana. Julian tidak menjauh tapi justru semakin mendekat hingga hidung mereka bersentuhan.
"Aku akan segera melemparkanmu ke Munich agar ayahmu tau persis bagaimana tingkah putri kecilnya ini." Nadanya mengandung ancaman dan godaan disaat bersamaan.
Tanpa peringatan, Julian menarik tangan Lana ke Resort lebih dalam, Menemukan kamar Lana bahkan tanpa dibertahu.
Julian membawa Lana masuk dan menutup pintu di belakangnya.
Ruangan itu menangkap udara malam yang sejuk melalui balkon terbuka yang menghadap ke lautan biru kehijauan, pasir putih dan pohon kelapa yang menjulang.
"Sekarang," Julian melepaskan jas dan mansetnya dengan cepat untuk menggulung lengan kemejanya.
"Mari kita bahas perilaku kekanak-kanakan ini, Lana. Kamu akan pulang dengan ku, suka atau tidak."
Julian meletakkan kedua tangan di pinggulnya, menghakimi Lana yang berdiri di depannya mendongak padanya seperti anak kecil yang menunggu omelan.
"Lari tanpa sepatah kata pun untuk pergi bersama dua orang yang tidak pernah ketemui."
"Sudah kubilang aku lupa! Mengapa kamu tidak me–"
"Lupa atau sengaja? Ada perbedaan. Aku tau kau melakukan ini dengan sengaja."
Julian meraih dagu Lana dengan ibu jari dan telunjuknya, mengangkat wajah Lana agar sepenuhnya terpaku padanya.
"Kau senang membuatku gila,"
"Kau memang gila!"
"Lihat saja seberapa jauh kau bisa mendorongku sebelum aku kehilangan kesabaran sepenuhnya."
Ibu jari Julian menelusup ke dalam bibir Lana, membungkamnya agar tidak membantah lagi.
"Coba tebak? Kau berhasil." Julian mendekatkan wajahnya, membuka bibir Lana sedikit sambil merasakannya di jarinya.
"Permainan kecilmu ini memiliki konsekuensi, sekarang kemasi barang-barangmu. Kau pulang bersamaku."
Nafas Julian menerpa Lana, berbau Mint dan Wisky.
"Aku pulang bersama temanku!" Gigi Lana menekan jari Julian saat bicara.
"Begitukah? Kamu pikir aku terbang ke belahan dunia lain hanya untuk kembali dengan tangan kosong?"
Tangan Julian berpindah ke belakang leher Lana.
"Tidak sayang, Kamu tinggal di sini bersamaku sampai kita terbang pulang bersama besok malam."
"Tapi temanku—"
"Dengarkan baik-baik," Geram Julian menarik pinggang Lana hingga menempel padanya.
"Kamu punya dua pilihan: tetap bersamaku dengan sukarela atau aku akan menggendongmu sambil menendang dan berteriak ke pesawat itu besok malam."
Julian melepaskan Lana untuk melintasi ruangan dan mengambil ponsel Lana yang tergeletak di meja balkon.
"Ambil," Julian melemparkan ke arah Lana yang menangkapnya dengan kedua tangan.
"Katakan pada teman mu bahwa liburan sudah selesai untukmu."
Julian berdiri sambil menyilangkan tangan melihat Lana yang cemberut kesal. baginya itu imut.
"Aku menunggu. atau jika kau pergi tanpa memberitahu mereka, Itu bukan masalah bagiku. Kau akan tetap pulang denganku."
Lana memandangi ponselnya dengan cemberut lalu menelusuri Kontak Jennifer. terdapat beberapa panggilan tak terjawab.
Julian melihatnya tetap keras kepala seperti biasa walau sudah patuh, Ia mendekati Lana dan melingkari pinggangnya dari belakang.
"Cepat," giginya menggores daun telinga Lana.
"Iya, Iya."
Jawabnya kesal. Menghubungi Jennifer dengan enggan.
"Lana, kemana saja kau? Kami sudah menunggu dua puluh menit di tempat makan malam." Suara Jennifer tampak khawatir. Di telepon terdengar samar Suara hiruk-pikuk.
"Jenny, Aku harus pulang lebih awal. Kita tidak bisa pulang bersama"
Julian terus mencium leher dan pundak Lana yang terbuka, tangannya membelai pinggang dan perutnya.
"Pulang lebih awal?" Nadanya khawatir.
"Ada apa? apakah terjadi sesuatu. Kami akan ikut bersamamu. Kau tidak boleh kembali sendirian." Nadanya penuh kekhawatiran
"Tidak, Bukan apa-apa. Hanya saja ibuku perlu ditemani ke acara temannya. Lagipula, aku dijemput disini." Alasannya sangat lancar
"Kamu pembohong kecil, aku seharusnya tau kau memang mahir berbohong." gumam Julian di telinganya, tangannya sudah membelai rusuknya, naik lebih tinggi.
"Lana, Kamu yakin? Kami bisa kembali bersamamu."
"Tentu saja. bodyguard ayahku bahkan sudah disini. Akulah yang harusnya meminta maaf karena kalian harus melanjutkan rencana kita tanpa aku."
Lana dengan sigap menahan tangan Julian agar tidak naik lebih tinggi.
"Oh Lana, Jangan berlebihan. Kami senang bersamamu, mungkin lain kali kita bisa liburan penuh." "Lana hati-hati ya."
Suara Jennifer sekarang bercampur dengan suara Elara.
"Ya, baiklah teman-teman. Aku mendapatkan bagian membayar makan malam kalian sebagai kompensasi."
Tanpa menunggu Jawaban Lana mematikan telepon agar mereka tidak memprotes lalu membayar tagihan mereka.
Lana mematikan ponselnya, Tangan Julian kini sudah membelai dengan menyebalkan juga meninggalkan beberapa bekas kecupan di leher Lana.
"Kau pikir apakah yang kau lakukan?!" Lana menyikutnya
"Menikmati pemandangan."