NovelToon NovelToon
Abi Baik, Abi Gak Jahat

Abi Baik, Abi Gak Jahat

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Duda / Mengubah Takdir
Popularitas:636
Nilai: 5
Nama Author: Eritasyofia

Pertemanan medsos membuat wanita yang sudah berusia senja jatuh cinta pada seorang pria muda yang pantas menjadi anaknya.
Dia tidak bertepuk sebelah tangan keduanya saling jatuh cinta, saling sayang, saling memberi dan merima.
" umi gak mau melanjutkan hubungan ini, kalau umi tahu Abi punya istri."
" gak Abi sudah sepuluh tahun menduda.."
Ketika akhirnya dia tahu bahwa si pria punya istri, dia ingin mundur tapi ...
"'Umi, kita jalani aja hubungan ini, apa umi mau, Abi sayang umi.."
Dia menyerah, cinta terlarang itu berlanjut..

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eritasyofia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Senyum untuk Orang Lain, Tangis untuk Rumah

​Rangga melangkah masuk ke dalam rumah dengan siulan kecil yang mengalun santai. Senyum yang terukir di bibirnya belum sepenuhnya luntur, bayangan wajah Winta dan kehangatan jemari wanita itu masih memenuhi benaknya.

Namun, begitu langkahnya melewati ambang pintu ruang tamu, langkah itu terhenti seketika.

​Di sana, Viona duduk meringkuk di sudut sofa. Matanya sembap, memerah, dan tatapannya terkunci lurus pada Rangga.

​"Bagus ya, pulang-pulang mukanya cerah banget,"

suara Viona terdengar serak, dingin, namun sarat akan emosi yang tertahan.

​Rangga mendesah pelan, berusaha menetralkan mimik wajahnya. Ia melonggarkan ikatan dasinya dan berjalan mendekati sofa.

"Mama belum makan? Kok masih duduk di situ?"

​Viona tertawa sumbang. Sebuah tawa pahit yang memecah kesunyian rumah. Ia bangkit berdiri, menunjuk ke arah meja makan di belakangnya.

"Makan? Papa tanya mama udah makan? Lihat itu, Pa!"

​Rangga menoleh. Di atas meja, sajian makanan favoritnya sudah mendingin, kehilangan aroma dan kesegarannya.

​"Mama bela-belain masak dari pagi, berharap Papa pulang buat makan siang bareng. Tapi apa? Papa malah asyik 'makan siang sama klien' sampai mukanya berseri-seri begitu waktu pulang!"

Viona melangkah mendekati Rangga, dadanya naik turun menahan napas yang menyesakkan.

"Klien mana, Pa? Klien yang mana yang bikin Papa senyum-senyum sendiri dari pintu depan?"

​"Ma, tolonglah. Papa capek baru pulang kerja," potong Rangga dengan nada mulai meninggi. Keindahan ingatannya bersama Winta mendadak buyar, berganti kekesalan.

"Kan Papa udah WhatsApp, Papa lupa kalau Mama masak dan udah terlanjur janji sama orang."

​"Orang atau wanita lain?!"

jerit Viona, tak mampun menahan benteng emosinya lagi. Air matanya kembali menetes deras.

"Tolong jangan anggap mama bodoh, Rangga! Insting istri mana yang nggak hancur kalau suaminya berubah drastis begini? Semalam Papa nolak Mama, tadi pagi Papa buru-buru pergi, dan siang ini Papa bohong!"

​Rangga terkekeh sinis, memalingkan wajahnya.

"Bohong? Dulu waktu Papa sendirian di rumah, waktu Papa butuh perhatian Mama tapi Mama sibuk sama urusan dan teman-teman Mama, apa Papa pernah tuduh Mama yang enggak-enggak? Nggak, Vio! Sekarang pas Papa sibuk kerja, Mama malah drama begini."

​Kata-kata itu menampar Viona begitu keras. Rasa bersalah yang selama ini menggerogoti hatinya kini disiram minyak tanah.

​"Mama tahu Mama salah dulu! Mama ngaku!" Viona memegang lengan Rangga, suaranya memelan, bergetar memohon.

"Tapi apa nggak ada kesempatan buat Mama benerin semuanya? Kenapa pas Mama mau berubah, Papa justru makin jauh? Pintu hati Papa udah benar-benar tertutup buat Mama?"

​Rangga menatap wanita di depannya. Ada kilat rasa kasihan, namun tertutupi oleh rasa dingin dan bayangan kehangatan Winta yang baru saja ia rasakan beberapa jam lalu. Ia melepaskan cengkeraman tangan Viona secara perlahan tapi tegas dari armadanya.

​"Papa butuh ketenangan, bukan tuduhan," ucap Rangga datar.

"Kalau Mama mau marah-marah terus cuma gara-gara makanan dingin dan prasangka nggak jelas, Papa tidur di kamar sebelah."

​Tanpa menunggu balasan dari Viona, Rangga memutar badan dan melangkah pergi menuju kamar tamu, meninggalkan Viona yang terpaku sendirian.

​Viona jatuh terduduk di lantai dingin, menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan. Suara isakannya bergema di ruang tamu yang hampa.

Di saat yang sama, di tempat lain, Winta mungkin sedang tersenyum menatap ponselnya, sementara di rumah ini, sebuah pernikahan sedang perlahan-lahan runtuh tanpa bisa dihentikan.

Bersambung

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!