"Jika waktu bisa kuhentikan, aku ingin selamanya berada di sisimu, menjaga hubungan kita hingga garis terakhir."
Banyak yang berkata jika masa remaja adalah masa yang menyenangkan. Sepertinya kalimat itu berlaku juga untuk Izang, pemuda 17 tahun yang menyukai adik kelasnya, Ara. Meskipun awalnya bersama karena terpaksa, hal itu tidak menyurutkan rasa cinta Izang pada Ara.Bahagia? Harusnya. Namun, cobaan mulai menimpa bertubi-tubi. Mulai dari perceraian orang tua, kepindahan ke Bandung, hingga hubungan jarak jauh (LDR).Di saat mereka berjuang mempertahankan cinta, takdir justru mendatangkan badai yang jauh lebih kejam—sebuah vonis sakit yang mengancam sisa usia Izang. Akankah mereka yang memulai hubungan dengan tertatih, bisa bertahan hingga akhir? Ataukah perpisahan selamanya menjadi ujung dari kisah ini?
💔 Kisah Romantis Melankolis - POV Pria (Siapkan Tisu!)
🕒 Update Setiap Hari!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayuni Reisz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB TIGA: Arah Angin (Bagian 5)
“Mbak, ini punyamu?” kutunjukkan sebuah kotak kecil berwarna hitam saat aku masuk ke kamar kakakku. Dia menoleh ke arahku, menggeleng.
“Bukan tuh. Emang itu apaan?”
“Nggak tahu juga, tiba-tiba aja ada di meja belajarku,” ujarku sambil menyorongkan kotak itu padanya. Mbak Senja mengambilnya dan langsung mengenali sesuatu.
“Ah, ini bau parfumnya bapak. Hadiah buat kamu mungkin,” keningku langsung mengerut mendengarnya. Hadiah?
“Apa-apaan?” aku menggerutu sambil membuka bungkusan hitam itu. Ada beberapa lapis kertas yang harus kubuka hingga akhirnya aku sadar apa yang ada di genggamanku. Ini kunci. Dan sebagai pecinta motor, aku hafal benar dengan jenis motor apa yang memiliki kunci seperti ini. Shit!
“Oh, sudah pulang?” bapak tersenyum melihatku yang tergesa-gesa memasuki garasi. Beliau baru saja selesai mencuci motor sport yang jelas-jelas bukan milikku. Motor sport itu seri terbaru dari yang kupunya dan baru diproduksi di kota-kota besar saja. Harga? Yah, setara dengan uang muka untuk mobil barulah.
“Itu...”
“Bapak dulu juga pembalap liar. Selalu kelayapan tiap malam demi dapat uang tambahan. Digerebek polisi, masuk rumah sakit, sudah jadi makanan sehari-hari Bapak. Sampai akhirnya Bapak kecelakaan hebat sekali, dan jatuh koma. Semenjak itu Bapak kapok, Bapak tidak ingin dekat-dekat kematian lagi. Makanya begitu tahu kamu ikut balapan, Bapak marah. Bapak takut kejadian yang menimpa Bapak, menimpa kamu juga. Bapak tidak ingin membentak ibumu, tapi Bapak merasa Bapak bisa memberimu apa pun tanpa perlu kamu susah-susah balapan. Tapi melihat betapa besarnya rasa percaya ibumu padamu, Bapak akhirnya mengerti. Kalau sudah hobi tentu sulit untuk berhenti begitu saja,” bapak bercerita sambil mengelap bagian-bagian motor yang masih basah. Aku bergeming, hanya bisa mengedipkan mataku tanda aku mendengarkannya.
“Bapak tahu motor kamu sudah masuk bengkel berkali-kali. Banyak yang perlu diganti kata pak Joko. Tidak menyangka saja kalau ternyata bengkel langganan Bapak jadi bengkel langgananmu juga. Karena saran dari pak Joko pula, Bapak putuskan untuk menjual motormu. Untung harganya masih pantas. Bapak minta maaf karena lancang memutuskan sendiri. Tapi, Bapak rasa motor itu sudah tidak layak dipakai balapan, mesinnya cepat panas. Jadi, ini Bapak belikan yang baru sebagai ganti. Semoga...” aku merangkul bapak begitu saja. Air mataku sudah tidak terbendung. Orang ini memang selalu bertingkah seenaknya. Seenaknya saja mengambil hati ibu, mbak Senja, dan sekarang meluluhkan keras kepalaku. Bapak tertawa memelukku.
“Semoga balapannya menang terus ya, Le,” ucapnya sembari mengelus kepalaku. Air mataku menderas. Membuatku semakin sesenggukan di pelukannya yang hangat.
...***...
“Nggak ada yang ketinggalan?” Ario merengkuh pundakku sembari mengedarkan pandangan ke barang bawaanku. Aku berpikir sejenak sebelum menggeleng.
“Semua barangku udah di Bandung. Ini cuma barang sehari-hari yang kupakai selama nunggu pengumuman kelulusan kok. Emang cuma segini.”
“Oh, gitu. Ya kali aja ada yang lupa belum dimasukin ke koper,” Ario menggaruk-garuk kepalanya.
“Eh, ada. Ini nih!” aku menggaet tangan Ara dan mengangkatnya tinggi-tinggi. Ara langsung mencubit lenganku tanpa pikir panjang.
“Aduh, aduh! Iya, iya, sakit!” aku meringis. Kulihat lenganku memerah. Gila! Anak ini semakin pintar saja mencubitku.
“Kalian ini mau pisah masih sempet drama aja,” Farel dengan santainya duduk di koperku. Kutoyor kepalanya dengan telunjukku.
“Mentang-mentang kamu lagi jomblo, segitu risinya liat orang pacaran.”
“Biasa, si otak encer butuh hiburan. Abis ini kan kita sibuk buat tes tulis masuk universitas. Nah dia? Udah main keterima aja karena nilai dia yang awesome itu,” Alan ikut-ikut menoyor kepala Farel.
“Terbaik satu sekolah!” Indra tak ketinggalan menggoda.
“Hey, guys, guys! Stop! Ini tuh kepala bukan mainan,” Farel menahan tangan Indra yang hampir mendarat di kepalanya juga. Kami terbahak-bahak.
Penumpang yang kami hormati, sesaat lagi kereta api Malabar akan diberangkatkan dari stasiun Malang Kotabaru menuju stasiun akhir Bandung dengan pemberhentian utama di Stasiun Kediri dan Kiaracondong. Terima kasih.
“It’s time,” aku menghela napas panjang. Ara tersenyum sambil tak lepas menggandeng lenganku. Hari ini dia tak banyak bicara. Mungkin takut air matanya akan jatuh begitu dia mulai bersuara. Ya, aku tahu dia susah payah menahan kesedihannya. Selalu sok kuat sendirian.
“Kutunggu di dalem ya?” Ario mengambil alih koperku. Dia mengedipkan sebelah matanya ke arahku sambil berjalan mendahului aku dan Ara. Dan entah bagaimana caranya aku dan Ara sudah tinggal berdua saja. Kulihat Indra berjalan beriringan dengan Ario. Sedangkan Alan dan Farel sepertinya berbelok untuk membeli kopi.
“Kenapa diem aja sih? Sariawan?” godaku pada Ara. Aku sudah mengantisipasi jika dia akan mencubit lenganku lagi. Tapi anehnya dia malah bersandar di bahuku. Kalungan tangannya juga makin erat. Sekarang akulah yang merasa akan menangis.
“Hati-hati selama kutinggal. Jangan sungkan buat minta tolong anak-anak kalau butuh apa-apa. Kalau aku ada libur, aku juga bakal main ke sini. Yang penting kamu harus kangen aku, oke?” ucapku berusaha seceria mungkin. Ara menatapku, tersenyum. Dia mengangguk pelan.
Duh, Gusti! Tidak bisakah aku di sini saja dengan Ara?
“Oke, time to go!” kuhentikan langkahku di depan petugas pemeriksa tiket. Aku mengacak poni Ara sebelum memeluknya. Dia menghambur. Membenamkan wajahnya di dadaku begitu saja, menyembunyikan isaknya, yang kemudian berubah menjadi bisikan lembut yang pasrah.
“I love you, Chan,” dan air mataku pun jatuh.
...***...