kisah seorang anak yang bernama Nina yang tinggal di desa dan bertahun-tahun di tinggal ayahnya, kemudian saat beranjak dewasa , ia di ambil kembali dan di paksa menikah untuk menggantikan saudara tirinya dengan laki-laki kejam seperti serigala.
yuk.. ikuti kisahnya... , akankah Nina bisa bertahan hidup di sarang serigala yang isinya manusia kejam berhati iblis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Marina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
Jafar menghentikan langkahnya di sisi meja, mengabaikan sama sekali tatapan memuja dari Martha maupun senyuman licik dari Miska. Pria itu menarik kursi kayu jati berukir di hadapan ayahnya, lalu duduk dengan gerakan yang sangat tenang dan penuh dominasi.
"Jafar," panggil Jordi dengan suara bass yang berat. "Ini Martha. Dia putri dari mitra bisnis terpercaya Ayah. Kalau kau masih ingat, dia temanmu saat kecil, Martha juga yang pernah menolong mu saat kau hampir tenggelam di danau . Dan malam ini, Ayah sengaja memanggilmu pulang untuk membicarakan tanggal pertunangan kalian."
Suasana di ruang makan mendadak hening. Ketegangan tak kasat mata merayap cepat di udara.
Jafar tidak langsung menjawab. Pria itu meraih serbet kain di atas meja, membukanya perlahan, lalu menatap sang ayah lurus-lurus. Di balik ketenangannya yang sempurna, bayangan sosok Nina, gadis cantik yang saat ini tertidur lelap di penthouse-nya terlintas jelas di dalam benak Jafar.
"Pertunangan?" bisik Jafar dingin, menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan ironi di bibirnya yang tampan. "Sepertinya Ayah selalu lupa... bahwa masa depan saya bukan sesuatu yang bisa Ayah atur di atas meja makan ini."
Ruang makan yang megah itu mendadak hening mencengkeram. Denting sendok dan porselen terhenti total.
Miska yang tadinya bersandar jumawa dengan senyum culas, mendadak menegakkan punggungnya. Wajah Martha yang semula bersemu merah kini pucat pasi, terkejut oleh nada suara Jafar yang begitu dingin dan tak tersentuh.
Jordi meletakkan garpunya dengan dentang keras di atas piring marmer. Pria paruh baya itu menatap putranya dengan kilat mata yang menyala marah.
"Jafar!" tekan Jordi dengan suara rendah yang menggelegar, menahan murka di depan para tamu. "Jaga bicaramu! Ayah melakukan ini demi kebaikanmu, demi kelangsungan keluarga kita! Kamu butuh pendamping yang sepadan, wanita dari keluarga terpandang yang bisa memberimu keturunan murni, bukan terus-terusan hidup dingin seperti mayat hidup!"
Jafar menyandarkan punggungnya di sandaran kursi kayu jati. Sama sekali tidak gentar oleh gertakan sang ayah. Pria itu menatap Jordi dengan pandangan datar, melirik tipis ke arah Miska yang tampak gelisah, lalu beralih sejenak ke arah Martha.
"Keluarga terpandang?" bisik Jafar, menyunggingkan senyum satir yang amat tampan namun mematikan. "Atau sekadar boneka baru yang disiapkan Tante Miska untuk meramaikan mansion sepi ini?"
Miska tersentak hebat. "Jafar! Apa-apaan kamu ini?! Tante cuma mau membantu ayahmu... Lagian Martha itu teman mu, penolong mu, kamu punya hutang nyawa padanya!"
"Cukup, Tante," potong Jafar tanpa menaikkan nada suaranya sedikit pun, namun sanggup membungkam perkataan Miska seketika.
Jafar kembali mengunci pandangannya pada Jordi. Tatapannya menajam, memancarkan aura dominasi yang bahkan membuat beberapa pelayan di belakang meremang ketakutan.
"Ayah sibuk mencarikan saya pendamping dari wanita-wanita pilihan Ayah... hanya untuk memuaskan ego dan ketakutan Ayah akan masa depan keluarga..., dan untuk masalah hutang nyawa, bukankah selama ini, keluarga kita yang selalu membantu nya sampai keluarga nya sukses seperti sekarang," ujar Jafar lambat dan penuh penekanan. "Tapi Ayah lupa... luka yang Ayah miliki akibat pengkhianatan masa lalu tidak bisa disembuhkan dengan cara mengatur hidup saya. Saya bukan Ayah. Dan saya tidak akan pernah membiarkan siapa pun, termasuk Ayah, mendikte siapa wanita yang berhak berada di samping saya."
Jordi mengepalkan tangannya di atas meja hingga buku-buku jarinya memutih. "Kamu makin tidak sopan, Jafar! Kalau bukan gadis seperti Martha, lalu wanita seperti apa yang kamu inginkan?!"
Jafar bangkit dari duduknya secara perlahan. Pria itu merapikan kancing jas hitamnya dengan gerakan yang sangat anggun. Sebelum membalikkan badan, ia menatap Martha yang menunduk gemetar, lalu memberikan tatapan penuh peringatan pada Miska.
"Saya sudah memiliki wanita pilihan saya sendiri," tegas Jafar dengan suara berat yang memenuhi seluruh penjuru ruang makan. "Seseorang yang tahu artinya bertahan di tengah hancurnya dunia... bukan sekadar pajangan bergaun sutra."
Tanpa menunggu balasan dari Jordi yang napasnya mulai memburu menahan amarah, atau Miska yang menggigit bibirnya dengan muka merah padam karena rencananya berantakan, Jafar berbalik arah. Langkah kakinya yang mantap melintasi lorong mansion, meninggalkan ruang makan yang kini dipenuhi aura kekalahan dan drama ketegangan yang kian membara.
____
Langkah kaki Jafar memantul berat dan kasar di atas lantai marmer penthouse. Pria itu pulang dengan aura dingin yang menusuk. Wajah tampannya tertekuk tajam, sisa amarah dari perdebatan memanas di meja makan mansion. Ayahnya, Jordi, sampai berteriak memintanya menginap malam ini, namun Jafar memilih melangkah pergi begitu saja, menolak mentah-mentah aturan dan perjodohan paksa keluarga besarnya.
Jafar menghempaskan tubuhnya di sofa kulit ruang tengah, melepas jas hitamnya dengan kasar. Dako yang sudah berdiri siaga di samping meja langsung melangkah mendekat.
Tanpa banyak bicara, Dako menyerahkan sebuah tablet ke tangan sang majikan.
"Ada beberapa laporan dari pengawasan hari ini, Tuan," ujar Dako pelan dan teratur. "Tadi siang, Nyonya muda dan Nyonya Tania sempat bertemu dengan Tante Miska di boutique dress."
Alis tegas Jafar bertaut. Pria itu menggeser layar tablet. Video rekaman tersembunyi menampilkan bagaimana Miska mencoba meluapkan keangkuhannya dengan menyerobot gaun dan menghina Nina. Namun, tatapan Jafar perlahan melunak saat melihat bagaimana Nina menghadapi tantenya, tenang, bijak, namun sarat akan keanggunan yang membungkam telak kesombongan Miska.
"Tante Miska sempat murka, tapi Nyonya berhasil mengatasinya dengan sangat tenang," tambah Dako.
Jafar mengusap rahangnya, sudut bibirnya terangkat tipis. Rasa jengkel akibat ulah keluarga besar di mansion tadi perlahan mencair. Namun, slide video berikutnya dari Dako justru menyajikan pemandangan yang sama sekali tak terduga.
Di layar tablet, terlihat rekaman Nina dan Tania sedang duduk di bangku kedai es krim masing-masing memegang mangkuk es krim besar. Nina tertawa lepas saat melihat Miska melintas dari kejauhan dengan gaya super glamor, dikawal oleh empat bodyguard bertubuh tegap yang kerepotan membawakan puluhan paperbag belanjaan berlogo brand luxury, persis seperti artis yang sedang jumpa fans.
Audio rekaman menangkap percakapan mereka dengan sangat jernih.
"Nina, kamu lihat deh Tante-Tante tadi! Gaya belanjanya udah kayak mau bikin toko baru di rumahnya," celetuk Tania sembari menjilat es krimnya, membuat Nina tertawa terkikik.
"Hus, Tania... Nggak boleh gitu," sahut Nina berusaha menahan tawa, meski matanya memicing geli.
"Beneran, Nina! Tapi ya... kalau soal pengawal, aku juga dikawal tahu," bisik Tania dengan nada ketus. " Mas Ameer itu mana pernah membiarkan aku jalan sendirian tanpa pengamanan. Cuma bedanya... pengawal suamiku itu niat banget kalau menyamar!"
Jafar mengernyitkan dahi. Ameer? Nama pengusaha muda yang menjadi mitra bisnisnya di sektor tekhnologi itu mendadak terlintas di benak Jafar. Jadi Tania yang di maksud sahabat Nina ini istri dari Ameer?
Di layar tablet, Kamera pengawas Dako menyorot ke sekeliling area mall. Tania mulai menunjuk beberapa orang di sekitar mereka dengan gerakan wajahnya yang kocak.
" itu, itu dan itu.... Sales kacamata, OB, laki-laki yang memakai tongkat dan pura-pura pincang,... Itu semua anak buah mas Ameer!"
Mendengar penuturan Tania, Nina mendadak tersedak es krimnya sendiri. Tawa gadis itu pecah seketika, tawa lepas, renyah, dan terbahak-bahak hingga matanya berair dan memegang perutnya yang geli.
"Kreatif banget suamimu, Tania! Masa pengawal disuruh menyamar jadi orang pincang?!" gelak Nina di dalam rekaman, tidak tahu sama sekali bahwa di atas lantai tempat mereka duduk, ada dua anak buah berjas rapi milik Jafar yang juga sedang menyamar pura-pura menjadi pengunjung mall biasa demi menjaganya.
Di ruang tengah penthouse, Jafar memperhatikan tawa bahagia Nina di layar tablet. Suara tawa renyah gadis itu mendadak mengusir seluruh sisa amarah dan kepenatan yang dibawa Jafar dari mansion sang ayah.
Pria berdarah dingin itu bersandar di sofa, menyunggingkan senyum hangat yang teramat langka di balik tangannya.
"Dia tertawa lepas sekali..." bisik Jafar pelan pada dirinya sendiri.
"Nyonya muda tampaknya sangat terhibur dengan Nyonya Ameer, Tuan," sahut Dako dengan senyum tipis. "Nyonya Tania memang istri sah dari Tuan Ameer... Kabarnya Nyonya Tania juga berasal dari desa, saudara kembar cucu angkat tuan Hamzah yang terpisah sejak kecil, mungkin, di desa , nyonya Tania berteman dengan Nyonya muda....Tampaknya para pengusaha kelas atas memiliki cara mereka sendiri untuk menjaga istri masing-masing."
Jafar terkekeh rendah. "Ameer memang selalu berlebihan... Tapi setidaknya, kehadiran istrinya bisa membuat Nina melupakan beban hidupnya..., pantas saja, data-data Nina susah di tembus, rupanya, Ameer lah yang membantu Nina."
Jafar menyerahkan kembali tablet itu pada Dako, lalu bangkit berdiri dan melangkah menuju lorong kamar. Rasa lelah di tubuhnya menguap. Mengetahui gadis yang mulai memenuhi hatinya kini bisa tertawa bahagia tanpa bayang-bayang ketakutan masa lalu adalah sebuah kemenangan besar yang jauh lebih berharga daripada seluruh intrik kekuasaan di mansion ayahnya.
makasih Thor, wujudkan nya 👍
biar Miska tampar Liliana 4x bolak balik, enak ajah 🤣😡👊🏼