NovelToon NovelToon
Mr. Sinclair Bride

Mr. Sinclair Bride

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Menikahi tentara / Action
Popularitas:5.4k
Nilai: 5
Nama Author: Muse_Cha

Chester, Kapten tim khusus Angkatan Darat yang dingin dan tak tersentuh, terpaksa melangkah ke altar memungut kekacauan yang ditinggalkan Haikal.

Ia membenci situasi ini, membenci kelakuan kakaknya, dan kini terjebak mengikat janji suci dengan wanita yang tak pernah ia inginkan.

Di antara dendam, luka yang belum sembuh, dan kebohongan besar di hadapan publik—mampukah pernikahan paksa ini bertahan saat Haikal kembali menagih apa yang seharusnya menjadi miliknya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muse_Cha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bukan Cenayang

Sebelum alunan lagu valsa benar-benar mencapai nada terakhirnya, Ayyana memperlambat putaran langkah mereka secara halus.

Tangan Ayyana yang berada di jemari sang Jenderal mencengkeram sedikit lebih erat—bukan karena ragu, melainkan sebagai penahan kaku agar pimpinan tertinggi militer itu tidak bisa menghindar sebelum menjawab satu hal lagi.

Ayyana menengadah. Senyum anggun yang semula terpatri di bibirnya perlahan memudar, berganti dengan binar mata cokelat yang berkilat teramat dingin, tajam, dan penuh intrik.

"Kalau begitu, katakan padaku, Tuan Jenderal..." bisik Ayyana halus, suaranya begitu rendah hingga nyaris seperti hembusan angin malam, namun sarat akan intonasi penekanan yang menusuk lurus ke rahang kaku Jenderal Jacob. "...Anda pasti sangat tahu ke mana bajingan itu pergi."

Jenderal Jacob membeku di tempat.

Langkah kaki sang Jenderal yang biasa presisi di atas lantai dansa terhenti sepersekian detik lebih cepat sebelum irama musik selesai.

Manik mata sekeras batu milik sang Jenderal menyipit tajam, menangkap fakta bahwa menantunya sama sekali tidak terkecoh oleh gertakan politik atau bayang-bayang Haikal yang baru saja dilontarkannya.

Ayyana tahu persis bahwa pelarian Haikal beberapa bulan lalu dari Florida bukanlah sekadar tindakan impulsif, melainkan ada tangan dingin sang Jenderal di baliknya.

Sebelum Jenderal Jacob sempat membalas atau mengelak dari tatapan intimidatif Ayyana, alunan instrumen gesek di aula resmi berakhir.

Tepuk tangan riuh tamu VIP memecah keheningan di antara mereka.

Di saat yang bersamaan, sebuah bayangan tegap berbalut seragam PDU kaku langsung memotong jarak.

Chester sudah berdiri tepat di samping mereka. Rahang Kapten Sinclair mengetat keras, matanya yang sehitam malam memancarkan dominasi kaku yang amat pekat seraya mengulurkan tangan—mengambil alih jemari Ayyana dari cengkeraman ayahnya tanpa menunggu izin protokol.

"Dansa selesai, Jenderal," potong Chester dengan suara bas yang amat rendah, berat, dan tak dapat diganggu gugat.

Chester menarik Ayyana rapat ke sisinya, menatap ayahnya lurus-lurus dengan aura protektif seorang suami yang tak lagi sudi menyisakan ruang bagi siapa pun untuk mengusik wanitanya.

Jenderal Jacob tidak langsung menjawab tatapan menantangnya.

Sang Jenderal hanya menurunkan tangannya secara perlahan, membetulkan letak epaulet berpangkat bintang empat di pundaknya dengan ketenangan kaku seorang pimpinan komando tertinggi.

Namun, binar mata sekeras batu milik sang Jenderal berkilat tipis saat tatapannya bergulir dari Ayyana menuju Chester—memperhatikan bagaimana tangan kekar putra bungsunya mencengkeram pinggang Ayyana dengan tingkat kepemilikan yang amat pekat.

"Kamu selalu punya cara untuk mengajukan pertanyaan yang salah di waktu yang tidak tepat, Nyonya Sinclair," gumam Jenderal Jacob rendah. Suaranya datar, tanpa emosi, namun menyisakan ancaman dingin di udara. "Nikmati malam gala ini selagi kamu bisa. Karena di pangkalan ini... tidak ada rahasia yang tetap terkubur selamanya."

Tanpa memberi jawaban pasti mengenai keberadaan Haikal, Jenderal Jacob membalikkan tubuh tegapnya, melangkah pergi meninggalkan mereka berdua menuju jajaran perwira tinggi VIP lainnya.

Chester merasakan ketegangan luar biasa pada tubuh Ayyana.

Jarinya di pinggang Ayyana makin mengerat, memangkas habis jarak di antara mereka di tepi lantai dansa.

"Apa yang dia katakan padamu, Ayyana?" tanya Chester dengan suara bas yang amat rendah dan kaku.

Binar mata abu gelapnya memindai wajah Ayyana dengan kecemasan protektif yang tak lagi bisa ia tutupi.

Ayyana menengadah, menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan dominasi dan ketenangan berkelas.

Bintik-bintik amarah dari ucapan Jenderal Jacob menyatu dengan pesona alaminya, membuat garis leher dan tulang selangkanya yang terpapar indah makin memikat di bawah pendar lampu kristal.

"Hanya gertakan tua dari seorang pria yang takut kehilangan kendali, Kapten," bisik Ayyana halus, jemarinya terangkat merapikan posisi pin komando di dada Chester—sebuah sentuhan yang seketika membuat otot dada sang Kapten mengencang keras. "Dia cuma mengingatkanku kalau suamiku malam ini sangat... posesif."

Chester mengetatkan rahangnya. Ia tahu Ayyana menyembunyikan sebagian percakapan itu, namun kehangatan dari sentuhan jemari Ayyana di dadanya dan keharuman vanilla yang mengurung indranya sukses membuyarkan sebagian logika taktis sang Kapten.

Di tepi aula, Flyn yang sejak tadi memperhatikan dari jauh bersama Team Eclipse meletakkan gelas sampanyenya. Prajurit pirang itu berdeham pelan seraya melirik Zack yang berdiri kaku di sebelahnya.

"Bos benar-benar nggak bisa diganggu malam ini," bisik Flyn pelan, memasang kembali wajah sok cool-nya agar tak memancing radar ketat Zack. "Tapi kalau Harris atau faksi logistik Kendall coba-coba manuver lagi, kita yang harus bergerak lebih dulu."

Zack tidak menyahut secara lisan, hanya mengangguk kaku seraya terus memantau pergerakan Laksamana Muda Harris yang tampak makin terpojok di sudut VIP.

Sementara itu, Chester membimbing Ayyana keluar dari kerumunan tengah aula menuju Balkon Barat yang lebih sepi.

Terpaan angin malam pangkalan menyapu gaun sutra navy blue Ayyana, menonjolkan siluet anggunnya di bawah pendar rembulan.

Chester memutar tubuhnya, memasang tubuh tegap berbalut seragam PDU-nya sebagai benteng penutup dari pandangan aula.

"Acara utama sudah selesai," ujar Chester dengan suara bas yang dalam dan serak, menatap lurus ke manik mata Ayyana dengan binar mata yang sarat akan dominasi kaku. "Kita kembali ke rumah dinas sekarang."

Ayyana menyandarkan tubuhnya sedikit pada pembatas balkon, menatap wajah kaku Chester dengan binar mata jenaka yang amat memikat. "Kembali ke rumah untuk menjalankan rutinitas persembunyianmu lagi, Kapten? Pergi sebelum subuh dan pulang jam sebelas malam?"

Chester membeku sejenak. Rahangnya mengetat keras saat menyadari bahwa strategi persembunyiannya selama seminggu terakhir tidak pernah lepas dari pengamatan istrinya.

Chester terdiam selama beberapa detik. Terpaan angin malam Balkon Barat mengibarkan ujung mantel PDU-nya, namun ketegangan di antara mereka berdua justru makin rapat dan menghangat.

Sang Kapten mengetatkan rahangnya, membuang pandangannya sejenak ke arah kegelapan kompleks pangkalan yang membentang di bawah rembulan, sebelum akhirnya kembali mengunci binar mata cokelat gelap Ayyana.

"Lalu mau apa lagi, Ayyana?" tanya Chester kaku, suara basnya keluar begitu rendah, berat, dan dipenuhi pertahanan diri yang terpaksa dipasang rapat. "Begitulah siklus kehidupan prajurit. Tugas pangkalan tidak pernah selesai hanya karena kita menghadiri satu malam gala."

Ayyana tidak bergeming. Ia menyunggingkan senyum tipis—sebuah senyum yang sangat memahami bahwa kata-kata dingin sang Kapten hanyalah perisai taktis untuk menutupi gejolak posesif dan rasa frustrasi di dalam dadanya.

"Bahkan saat prajurit itu tahu..." bisik Ayyana halus, melangkah satu tapak lebih dekat hingga ujung gaun sutra navy blue-nya menyentuh sepatu pantofel Chester, "...bahwa istrinya menunggunya setiap malam?"

Chester menahan napas seketika. Tenggorokannya terasa amat kering. Kata-kata Ayyana meruntuhkan sisa-sisa argumen rasional di kepalanya. Pria itu menyadari total bahwa rutinitas pergi subuh dan pulang larut malam bukan lagi sekadar jadwal dinas, melainkan bentuk pelarian yang sia-sia dari pesona istrinya sendiri.

"Saya tidak suka membiarkan diri saya terdistraksi, Ayyana," tegur Chester rendah, namun jarinya yang memegang pembatas balkon di belakang Ayyana memutih karena cengkeramannya yang amat kuat. "Dan berada di dekat kamu... selalu mengacaukan kontrol saya."

"Kalau begitu berhenti mengontrolnya, Kapten," balasan Ayyana memotong keheningan malam bagaikan perintah manis yang memabukkan.

Chester berdiri mematung di bawah pendar rembulan, menatap garis leher, tulang selangka mulus, dan binar mata Ayyana yang menantangnya tanpa henti.

Tanpa mengikis garis kaku di rahangnya, Chester meraih tangan Ayyana, menggenggam jemari lembut itu dengan ketegasan mutlak seorang suami yang tak lagi sudi menyisakan ruang bagi jarak.

"Mobil sudah menunggu," gumam Chester serak, membalikkan badannya dan membimbing Ayyana melangkah meninggalkan balkon menuju arah pelataran parkir—membawa wanita itu kembali ke rumah dinas tempat pertahanan sang Kapten malam ini dipastikan akan runtuh sepenuhnya.

Ayyana menahan pergerakan tubuhnya. Langkah kaki Chester yang tadinya mantap dan lebar seketika terhenti kaku begitu merasakan cengkeraman jemari Ayyana di tangannya tidak lagi mengikutinya.

Ayyana berdiri mematung di ambang batas pintu kaca balkon, menolak melangkah lebih jauh.

"Aku tidak mau pulang..." bisik Ayyana halus namun tegas, suara mewahnya bergetar tipis menerpa angin malam pangkalan. Binar mata cokelatnya menatap lurus ke dalam manik mata gelap Chester. "...tapi aku juga tidak mau masuk ke dalam lagi."

Chester berbalik sepenuhnya. Alisnya bertaut kaku, bahu bidang berbalut seragam PDU resminya menegang keras saat dipaksa menahan bobot pergerakan istrinya. Binar mata abu gelap sang Kapten memancarkan kebingungan taktis yang amat langka.

Aula megah di belakang mereka masih riuh oleh suara alunan instrumen musik dan gelak tawa politik para pejabat VIP.

Di sisi lain, SUV hitam yang terparkir di pelataran siap membawa mereka kembali ke kesunyian rumah dinas. Namun Ayyana justru memilih berdiri di area abu-abu—di atas lantai batu Balkon Barat yang sepi dan dinaungi pendar rembulan malam.

"Ayyana," tegur Chester dengan suara bas yang amat rendah dan kaku, memangkas jarak di antara mereka hingga mantel seragamnya menyapu sutra navy blue gaun Ayyana. "Udara malam di luar terlalu dingin. Dan kita sudah selesai dengan urusan Harris maupun Jenderal."

"Bagi kamu mungkin sudah selesai, Kapten," potong Ayyana pelan, menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan dominasi dan pesona alami. Ia memajukan tubuhnya setengah inci, membiarkan garis leher dan lekuk tulang selangkanya yang mengekspos kalung mutiara tipis itu terpapar makin memikat di bawah cahaya bulan. "Tapi bagiku belum. Di dalam sana terlalu berisik oleh kepalsuan orang-orangmu, sementara di rumah dinas... kamu hanya akan kembali menjadi patung militer yang bersembunyi di balik jadwal dinas subuh."

Chester menahan napas dalam-dalam. Rahang tegasnya mengetat keras hingga otot-otot di sepanjang lehernya menegang kuat. Perkataan Ayyana seperti sembilu yang menusuk tepat di balik baju zirah pertahanan dirinya.

"Saya tidak bersembunyi," tegur Chester serak, walau jarinya yang menggenggam jemari Ayyana justru makin mengerat posesif, menolak melepaskan genggaman itu sedikit pun.

"Kamu bersembunyi, Chester," bisik Ayyana halus, jemari kirinya terangkat pelan, menyentuh kerah kaku seragam PDU Chester—merapikan tatanan dasi kupu-kupu pria itu dengan ketenangan yang memikat sekaligus memabukkan. "Kamu takut berada di dekatku tanpa seragam ini. Kamu takut kehilangan kendali atas '150 sentimeter' yang selalu kamu batasi."

Sentuhan halus jemari Ayyana di kerahnya seketika memicu dentuman liar di dalam dada sang Kapten. Refleks kepemilikan Chester bekerja lebih cepat dari logika taktisnya.

Tanpa memedulikan risiko jika ada perwira lain yang melangkah ke arah balkon, Chester maju satu langkah besar. Ia mendesak tubuh Ayyana secara perlahan namun dominan hingga punggung wanita itu menyentuh pembatas kokoh balkon.

Tangan kekar Chester yang terbungkus sarung tangan resmi terangkat, mendarat kaku di sisi samping tubuh Ayyana, mengurung Nyonya Sinclair total di dalam jangkauan dan dominasinya.

"Kamu sedang bermain dengan api malam ini, Nyonya Sinclair," bisik Chester dengan suara bas yang teramat rendah, begitu kaku, dalam, dan dipenuhi ancaman posesif yang tak lagi disembunyikan.

Napas hangat Chester yang terengah berat menerpa langsung kulit wajah dan leher mulus Ayyana. Binar mata sang Kapten mengunci lurus bibir Ayyana—kecupan tiba-tiba di lantai dansa tadi masih menyisakan jejak panas yang membakar seluruh toleransi disiplin militernya.

"Kalau kamu tidak mau masuk dan menolak pulang..." lanjut Chester penuh penekanan, rahangnya mengetat keras seraya menundukkan kepalanya beberapa inci lebih dekat, "...maka katakan apa yang kamu mau? Aku tentara, Ayyana, bukan cenayang."

1
YuWie
lhaaa begitu ternyata mbak kendall
IceQueen
mulai muncul nih gangguan2 dedemit/Smug/
karina
guaaaa suka bangetttt cerita nyaa aaaaa baperr bangett 🤣
Muse_Cha: makasihhh ya kak 😍😭
total 1 replies
IceQueen
mulai muncul serangan fajar
Muse_Cha: serangan ayya ini kak 🤣
total 1 replies
Mei TResna Rahmatika
porak poranda sudah hati Chester 🤣
Muse_Cha: kalah bom molotov ya😭
total 1 replies
IceQueen
selalu ada aja gebrakan dari ayyana🤣
Muse_Cha: ini dia si kancilll🤭
total 1 replies
YuWie
wah wahhh.... masih kita tunggu action mu yg lebih berani kapt..
Muse_Cha: jabatan doang kapten ya, ama istri sendiri cemen🤭
total 1 replies
YuWie
gagal kapt..hukumanmu ke ayyana
Muse_Cha: kurang beruntung, silahkan coba lagi besok😄
total 1 replies
Mei TResna Rahmatika
wkwkw Chester 🤣bikin Ayana hamil Chester biar kalo si pecundang kembali ga bisa ngrebut ayana🤭
Muse_Cha: pelaaaaaaan pelaaaan pak sopiiiiir🤣🤭
total 1 replies
YuWie
walahh..kupikir akan terjadi hal yg iya2... btw rambutbayyana hitam atau coklat kak thor..
Muse_Cha: iya² nya delay ini😶‍🌫️cokelat kak. makasih yaa🙏
total 1 replies
YuWie
nah lho..
YuWie
sik, aku gak salah baca kan..perkawinan ayyana dan cester sdh berapa lama..kenapa ayy tanya ke jacob..kemana haikal menghilang 2th lalu?
YuWie
dasar kanebo..dikasih sinyal2 gak paham..memang harus dijelaskan secara gamblany ayy..biar mudeng tuj si kapten
YuWie
semangat kak..aku aja baru nemu cerita cester dan ayyana kemaren..
YuWie
maniss dikit.. terus ayy..buat suamimu makin salting dan akhirnya bucin akut
YuWie
goda goda aja terus itu suami mu ayy...
YuWie
kapan manis2 nya tho kapten...
YuWie
sdhh terima aja kapt..ayyana kan mmg istrimu
YuWie
jar kan saja si kapten ya Ayy..biar berjuang mendapatkanmu dan lepas dr bayang2 haikal
YuWie
skrg baru bertahta dipikirannya..tambah hari tambah takluk..asyik
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!