NovelToon NovelToon
Mengungkap Misteri Kematian Sang Putri.

Mengungkap Misteri Kematian Sang Putri.

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:399
Nilai: 5
Nama Author: Virgo kelabu

Orang tua Yang rela melakukan apapun untuk mengungkap semua misteri Kematian tragis sang putri yang pernah mereka abaikan selama ini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Virgo kelabu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 15

Nismara muncul lagi dari dalam cafe setelah memastikan mobil Samudra jauh dan tidak akan balik lagi. Telepon pada Miranti dan rapat yang dia sampaikan pada Samudra hanya akal-akalan saja.

Nismara gegas berjalan ke arah utara. Beberapa meter dari cafe Sosiale adalah Mahkota Gym. Nismara sudah sempat mencari tahu lokasi itu via sebuah aplikasi waktu itu.

"Masih jam 07.10 WIB, ada banyak waktu sebelum gym itu tutup di jam 09.00." Nismara bermonolog dalam dirinya sambil melihat jam tangannya.

Sampai di halaman tempat yang dimaksud, Nismara dicegat oleh penjaga keamanan yang berbadan kekar.

"Maaf, Bu, ada yang bisa dibantu?" ucapnya ramah. Tapi pucuk matanya seperti hendak menelanjangi Nismara.

"Eh, itu saya mau daftar Gym disini." jawab Nismara.

Penjaga itu tersenyum penuh arti. "Mohon maaf, Bu, Mahkota Gym hanya khusus untuk pelajar saja."

"Hah? Mana ada tempat olahraga seperti itu?" Sahut Nismara kaget.

"Mohon maaf, memang dari pihak manajemen seperti itu. Ibu kalau tidak ada kepentingan lain, mohon maaf silahkan....." si penjaga dengan gerakan halus menunjukkan tangannya ke arah jalan keluar.

Nismara tidak mendebat, dia tidak ingin menarik perhatian, dia pun berangsur mundur.

Sambil menyusuri jalan, dia jadi teringat pertanyaan Tina: Dulu waktu muda juga nge-gym di situ ya?

"Oh, ternyata Gym itu hanya boleh dimasuki pelajar, hanya yang muda-muda....." Tiba-tiba mata Nismara menyala. Ada sesuatu yang memercik di otaknya. "Aha!"

Gegas Nismara menelpon Miranti. Kali ini dia benar-benar melakukan panggilan pada asistennya itu.

"Hallo, Nis." pada dering pertama Miranti langsung menjawab panggilan Nismara.

"Mir, sepertinya aku udah nemu jalan masuk ke Majafas!"

Akhirnya Nismara benar-benar duduk di salah satu sofa cafe Sosiale bersama Miranti.

"Aku yakin, Mir, gadis-gadis yang direkrut Majafas di kota ini berasal dari mahkota Gym. Karena di gym itu hanya menerima pelajar yang notabennya sudah jelas mereka masih muda. kamu ingat kata Om Ben kan, hanya perempuan muda yang bisa dibawa ke Majafas." Nismara langsung menjelaskan pemikirannya. Matanya berbinar-binar seperti sudah menemukan keping puzzle yang cocok ketika dipasangkan.

Miranti mengangguk-angguk, kali ini dia langsung setuju dengan analisa sahabatnya itu. "Terus apa rencanamu?"

"Nah itu yang lagi aku pikirkan." Nismara berkata sambil melempar badannya ke sandaran sofa. "Bagaimana caranya aku bisa masuk ke Mahkota Gym."

Kali ini Miranti bergidik. "Aku kok jadi ngeri ya, Nis. Menurut ku, sebaiknya ikuti saran Om Ben aja. Sherin dan Joana udah meninggal, apa kamu nggak ngeri....."

"Sst......" Nismara mengibaskan tangannya. Miranti langsung menghentikan pembicaraan sahabat yang dia kenal sejak lama itu, selalu keras kepala kalau sudah menginginkan sesuatu. Itulah kekuatan dan kelemahan Nismara. Makanya Miranti tidak akan pernah lelah untuk terus mengingatkan Nismara kalau situasinya memang berbahaya semacam ini.

Nismara mengetuk-ngetuk telunjuknya ke dagunya sendiri. Tak berapa lama dia duduk menegak lalu menatap Miranti. "Ah, aku mau makan dulu. Aku lapar. Itu pesanan datang."

Miranti tertawa. "Aduh, Nis, sesaat tadi kupikir kamu udah dapat ide, ternyata matamu bercahaya karena melihat makanan datang."

Nismara ikut tertawa.

Beberapa saat mereka senyap. Benar - benar menikmati makanan yang ada.

"Ini kenapa kuahnya agak gimana ya, Mir? Sebenarnya enak, tapi rasanya jadi kayak kurang berkaldu gitu." Kata Nismara memecah kesunyian. Dia sedang menyuap sop buntut.

"Yang bikin chef magang kali." timpal Miranti sekenanya.

"Hahaha, jadi kita ini kelinci percobaan untuk sarana belajar masaknya chef magang? Mana bayar pula." Sahut Nismara. Miranti terkekeh.

"Ah, aku jadi kepikir!" Nismara tiba-tiba meletakkan sendoknya. "Gimana kalau aku kerja atau magang jadi trainer di Mahkota Gym?"

Miranti berhenti mengunyah.

"Nggak mungkin juga kalau trainernya mudah juga kan?" Lanjut Nismara. "Ya meski muda, juga nggak mungkin pelajar. Aku masih pantes ngaku umur 26 kan?"

Miranti mengangguk - angguk sambil menyeringai. "Bisa jadi sih, tapi mungkin seleksinya akan sangat ketat. Ya kamu bayangin aja, Nis. Kalau pemikiranmu benar, bahwa Mahkota Gym ada hubungannya dengan Majafas, sudah barang tentu pegawai-pegawai di sana nggak mungkin sembarangan kan?"

"Ah, itulah kenapa aku membayarmu mahal, Mir. Kamu bisa sampai kepikiran sedetail itu." tukas Nismara meringis. Dia kembali menyendok supnya. Seperti nya perempuan itu memang benar-benar lapar, nasi putih di piringnya telah tandas.

"Oh, iya, Nis, hampir lupa. Tadi sore pengacara dari Gege datang, mereka menyerahkan dokumen-dokumen kepunyaan sharing." tutur Miranti.

"Dokumen apa?"

"Sertifikat kepemilikan rumah dan tanah yang atas nama Sherin."

"Kok jadi dikasihkan ke aku ya? Gege itu kemarin-kemarin baru bahas mau bikin yayasan, aku sudah ceritakan kan pada kamu?" jawab Nismara.

Miranti mengangguk. "Coba hubungi Gege. Tapi kata pengacaranya, Gege agak susah untuk dihubungi. Kata pengacaranya lagi itu karena Gege benar-benar ingin sendiri."

"Oh." Nismara hanya merespon pendek. Tidak berminat untuk membahas soal mantan suaminya. "Kamu satukan dulu dokumen itu sama dokumen kantor, Mir. Eh , kasih ke Om Ben aja deh!"

"Okey."

Nismara menarik piring berisi jamur crispy. Dan mulai memakannya.

"Kamu nggak mau tahu soal Gege, Nis?" Miranti mencondongkan kepalanya setengah berbisik.

"Nggak!" tukas Nismara mantab. " Aku pun lagi mikir-mikir lagi soal yayasan yang Gege usulkan, agak malas juga terlibat, kamu lihat kan Cynthia itu kayak apa. Repot banget urusan sama perempuan satu itu."

Miranti tersenyum. " Cynthia itu juga lagi stress kali. Di tinggal kabur calon pengantin pria."

Mau tidak mau Nismara tersenyum. "Nah itulah, nanti Cynthia terus menyalah menyalahkan aku gara-gara Sherin meninggal , pernikahannya tertunda, lalu nyalahin aku. Lagian Gege itu aneh, kenapa nggak diajak aja sekalian itu Cynthia. Healing sekalian nikah. Padahal dulu menikah di Eropa adalah impiannya."

"Cie jadi keinget ya. Tapi itu kan impian Gege bersamamu." Miranti meringis.

Nismara memutar bola matanya dengan malas.

"Eh, apa kamu beneran nggak ngerti kalau Gege itu sakit, Nis?" Miranti berkata sambil menggerakkan kedua telapak tangan nya, memberi tanda kutip di udara pada kata 'sakit.'

"Hah? Sakit apa? Parah?"

"Sejak kematian Sherin, Gege dikabarkan depresi. Katanya dia merasa dikejar-kejar bayangan Sherin setiap malam. Bahkan kemarin, sebelum akhirnya dia pergi ke Eropa, dia kedapatan teriak-teriak sendiri di kantornya."

"Hah? Serius, Mir? Kata siapa?"

"Anin."

Nismara menghela nafas, sejurus kemudian mengangguk-angguk. Dia baru ingat kalau Anin sepupu Miranti itu bekerja di perusahaan Gerald.

"Ya, maaf, Nis. Jujur aku jadi kepo, setelah tim pengacara Gege pergi, aku telepon Anin untuk cari tahu kebenarannya." Kata Miranti sambil meringis.

"Lha kok minta maaf ke aku? Untuk apa?"

"Udah kepo in mantan suami mu hehehe."

"Tanggung jawab kalau di amuk Cynthia hahahaha."

Miranti ikut tergelak.

1
Maria
penuh dengan teka teki tp seru. Ada pelajaran yg BS kita ambil dr cerita ini. penyesalan pasti akan datang di belakang, kalau di depan itu namanya pendaftaran.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!