Baska tak pernah tertarik pada olahraga hidupnya cuma berputar antara kantor dan kasur. Sampai suatu hari, karena tak sengaja merusak koleksi berharga sahabatnya, ia terpaksa ikut main padel sebagai ganti rugi. Siapa sangka, sebuah smash yang meleset dan membuat kepalanya berdarah justru mempertemukannya dengan Zia admin lapangan yang cantik, ramah, dan punya cara sendiri membuat siapa pun merasa nyaman di dekatnya. Dari luka kecil di pelipis, tumbuh benih cinta yang membuat Baska rela mengambil kelas privat, bukan demi jago bermain, tapi demi alasan untuk terus kembali menemuinya. Namun kebahagiaan yang mereka bangun perlahan diuji ketika bayangan masa lalu Zia seorang mantan bernama Ali tiba tiba muncul kembali, membawa kesalahpahaman demi kesalahpahaman yang nyaris menghancurkan semuanya. Akankah cinta yang tumbuh dari lapangan sederhana itu cukup kuat bertahan melawan kecemburuan, keraguan, dan bayang bayang masa lalu yang menolak pergi? Kamu di Lapangan Padel adalah kisah tentang bagaimana cinta sejati sering kali lahir dari hal paling tak terduga dan diuji oleh hal yang paling sulit untuk dilepaskan: kepercayaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wabula, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kemunculan yang tak terduga
Suatu siang yang biasa, ketika Zia sedang sibuk menjalankan tugasnya di meja resepsionis Sport Padel, seorang pria yang tidak asing baginya tiba-tiba memasuki area lobi tersebut, mengenakan pakaian olahraga yang terlihat baru dan sedikit canggung mengenakannya. Zia yang sedang fokus mengetik jadwal booking, mendongak sejenak untuk menyambut pelanggan baru tersebut, namun begitu matanya bertemu dengan wajah pria itu, seluruh tubuhnya membeku seketika.
"Zia?" ujar pria tersebut dengan nada terkejut, tidak menyangka akan bertemu dengan mantan kekasihnya tersebut di tempat yang sama sekali tidak dia duga sebelumnya.
"Ali?" jawab Zia dengan suara yang tercekat, merasakan campuran perasaan antara kaget, gugup, dan berbagai emosi lain yang tiba-tiba muncul begitu saja menyaksikan sosok yang sudah bertahun-tahun tidak dia temui tersebut.
Ali, yang tampak sedikit lebih dewasa dari terakhir kali mereka bertemu, berdiri kaku di depan meja resepsionis tersebut, tidak menyangka bahwa tempat yang dia pilih secara acak untuk mulai belajar olahraga baru tersebut ternyata mempertemukannya kembali dengan Zia. "Aku... aku baru pindah ke daerah sini, terus temen kantor ngajakin coba main padel. Nggak nyangka bakal ketemu kamu di sini."
"Oh gitu," jawab Zia dengan nada yang berusaha terdengar profesional, mencoba menyembunyikan berbagai perasaan yang tiba-tiba bergejolak dalam dirinya tersebut. "Mau booking lapangan atau gimana?"
"Iya, mau booking buat sore ini kalau masih ada slot," jawab Ali, masih terlihat sedikit canggung menghadapi situasi yang begitu tidak terduga tersebut, mengingat perpisahan mereka dulu berakhir dengan cara yang kurang baik dan tanpa penjelasan yang layak dari pihaknya.
Zia dengan tangan yang sedikit gemetar, memproses booking tersebut sesuai prosedur standar yang biasa dia lakukan kepada setiap pelanggan, berusaha keras mempertahankan profesionalismenya meski dalam hatinya sendiri dipenuhi berbagai pertanyaan dan kenangan yang tiba-tiba muncul kembali akibat pertemuan tak terduga tersebut.
"Zia, boleh aku minta waktu sebentar buat ngobrol? Aku pengen minta maaf soal yang dulu," ujar Ali tiba-tiba, mengungkapkan keinginannya yang sudah lama dia pendam sejak kepergiannya yang begitu mendadak dan tanpa penjelasan tersebut bertahun-tahun lalu.
Zia terdiam sejenak, mempertimbangkan permintaan tersebut dengan berbagai perasaan yang berkecamuk dalam dirinya. "Aku lagi kerja, Ali. Nggak bisa ngobrol panjang sekarang."
"Aku ngerti. Tapi mungkin nanti, kalau kamu ada waktu luang?" tanya Ali lagi, tidak menyerah begitu saja untuk mendapatkan kesempatan menyampaikan permintaan maafnya tersebut.
"Aku... aku harus pikirin dulu, Ali. Sekarang aku udah punya pacar, jadi aku nggak mau bikin salah paham," jawab Zia dengan tegas, berusaha menetapkan batasan yang jelas meski dalam hatinya sendiri dia merasakan sedikit kegelisahan mengenai bagaimana harus menyikapi situasi tersebut dengan bijaksana.
Ali sedikit terkejut mendengar kabar tersebut, namun berusaha menerima dengan lapang dada. "Oh, selamat ya kalau gitu. Aku cuma pengen minta maaf aja kok, nggak ada maksud lain."
Setelah menyelesaikan proses booking tersebut, Ali akhirnya pergi meninggalkan meja resepsionis, meninggalkan Zia yang masih duduk terpaku dengan pikiran yang begitu kacau, mencoba mencerna seluruh kejadian tak terduga yang baru saja dia alami tersebut. Dia menyadari, cepat atau lambat, dia harus segera menceritakan kejadian ini kepada Baska, meski dia sendiri belum sepenuhnya siap menghadapi bagaimana reaksi kekasihnya tersebut terhadap kabar kemunculan kembali sosok yang pernah menyakiti hatinya tersebut secara langsung.
Reta, yang kebetulan berada tidak jauh dari meja resepsionis dan menyaksikan sebagian percakapan tersebut, segera menghampiri Zia begitu Ali benar-benar pergi dari lobi tersebut. "Zi, itu tadi Ali kan? Beneran dia balik ke sini?"
"Iya, Ret. Aku nggak nyangka bakal ketemu langsung secepat ini, apalagi di tempat kerja aku sendiri," jawab Zia dengan suara yang masih sedikit bergetar, mencoba menenangkan diri dari kekagetan yang baru saja dia alami tersebut.
"Kamu nggak apa-apa kan? Mukamu pucet banget tadi," tanya Reta dengan nada khawatir, memperhatikan kondisi sahabatnya yang terlihat begitu terguncang tersebut.
"Nggak apa-apa, Ret. Cuma kaget aja. Tapi aku harus cerita ini ke Baska secepatnya, nggak enak kalau dia tau dari orang lain," jawab Zia dengan tekad yang mulai terbentuk, menyadari pentingnya kejujuran segera mengenai kejadian tak terduga tersebut demi menjaga kepercayaan yang telah dia bangun bersama Baska selama ini.
Sore itu, setelah shift kerjanya berakhir, Zia langsung menghubungi Baska, mengabari bahwa dia ingin bertemu untuk membicarakan sesuatu yang penting. Perasaannya masih diliputi kegugupan mengenai bagaimana cara terbaik menyampaikan kejadian tersebut, namun dia bertekad untuk tetap jujur, mengingat janji yang telah mereka buat sebelumnya mengenai pentingnya keterbukaan dalam hubungan mereka berdua, sebuah keterbukaan yang akan segera diuji oleh kenyataan pahit bahwa kekhawatiran Baska mengenai kemunculan Ali tersebut, ternyata benar-benar terjadi lebih cepat dari yang mereka berdua duga sebelumnya.