Delapan tahun Tira dan Dimas menjadi kekasih. Delapan tahun pula ia menunggu satu kepastian yaitu pernikahan. Namun, ketika Dimas tak kunjung datang membawa lamaran, ayah Tira justru menjodohkannya dengan Fahri, lelaki asing yang bahkan tak pernah ia cintai.
Tira akhirnya menikah dengan Fahri, meninggalkan cinta yang telah menemaninya selama delapan tahun. Tapi bagaimana jika lelaki asing itu perlahan membuatnya menemukan cinta yang selama ini ia cari? Dan bagaimana jika Dimas baru datang ketika Tira sudah menjadi istri orang lain?
#Konflik Etika #Nikah Paksa #Air Mata Pernikahan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
14
Tira tertawa kecil. “Saya sebenarnya nggak pernah minta rumah, ngontrak dulu juga nggak apa-apa.”
“Saya tahu.”
“Yang penting jangan tinggal sama orang tua. Saya ingin belajar mandiri.”
Fahri menatapnya sebentar, lalu tersenyum. “Makanya saya beli rumah.”
Tira mengangkat alis. “Hubungannya?”
“Supaya kamu bisa belajar mandiri. Kalau ngontrak juga bisa. Tapi saya pikir kalau memang mampu punya tempat sendiri, kenapa harus menunggu?”
Tira kembali memandang rumah itu. Entah kenapa dadanya terasa hangat. Bukan karena rumahnya. Rumah itu bahkan belum diisi apa-apa. Tidak ada sofa, tidak ada televisi, tidak ada foto keluarga. Tetapi untuk pertama kalinya Tira melihat sesuatu yang selama ini tidak pernah ia dapatkan dari hubungan lamanya, sebuah rencana yang benar-benar sudah disiapkan. Dimas dulu sering berbicara tentang masa depan. Rumah seperti apa yang mereka inginkan. Mau punya berapa anak. Mau tinggal di kota mana. Tira masih ingat semuanya. Tetapi semua hanya berhenti sebagai obrolan. Fahri justru tidak banyak bicara. Ia diam-diam menyiapkan tempat tinggal yang kelak akan mereka tempati.
“Kenapa lihat saya begitu?” tanya Fahri. Tira segera mengalihkan pandangan.
“Nggak.”
“Menyesal?”
“Bukan.”
“Takut?”
Tira mengangguk jujur. “Sedikit.”
Fahri tidak tertawa. “Wajar.”
“Abang nggak takut?”
“Takut juga.”
“Terus kok kelihatannya santai?”
“Karena kalau saya ikut panik, nanti kamu tambah panik.”
“Jadi selama ini Abang pura-pura tenang?” Tira pura-pura serius.
“Tidak pura-pura. Saya memang tenang.”
“Bedanya apa?”
“Kalau pura-pura, saya harus latihan dulu di depan cermin. Lagipula untuk serius sama kamu nggak perlu pura-pura.”
Tira menutup mulut menahan tawa. Baru kali ini ia melihat Fahri bercanda seperti itu. Selama pertemuan keluarga, lelaki itu selalu tampak serius. Ternyata kalau sedang berdua, sifatnya jauh lebih ringan.
Mereka berjalan mengelilingi rumah. Fahri menunjukkan kamar utama, kamar yang nantinya bisa menjadi kamar anak, dapur, dan halaman belakang. “Kamu mau mengubah apa?” tanyanya.
Tira mengamati ruangan. “Belum tahu, memang boleh diubah.”
“Selama tidak merobohkan rumahnya.”
Tira tertawa. “Kalau saya mau cat pink?”
Fahri berpikir sebentar. “Saya ikut nyonya rumah saja deh, warna pink juga kayaknya seru, suasana romantis. Iya nggak sih?" Fahri agak ragu.
“Abang nggak malu?”
“Rumah saya sendiri. Kenapa harus malu?”
Tira tersenyum. Ia mulai membayangkan hal-hal kecil. Meletakkan rak buku di ruang tengah. Menanam bunga di halaman. Membeli meja makan yang tidak terlalu besar. Mungkin memasak di dapur itu. Mungkin suatu hari nanti terdengar suara anak-anak berlari di lorong rumah.
Pikiran itu membuatnya terdiam. Ia baru sadar bahwa untuk pertama kalinya ia sedang membayangkan masa depan tanpa Dimas di dalamnya. Bukan karena Dimas sudah hilang dari hatinya. Belum. Nama lelaki itu masih ada di sana, mungkin terlalu dalam untuk dihapus begitu saja. Tetapi ruang baru perlahan terbentuk. Ruang yang sebelumnya tidak pernah Tira berani bayangkan.
Fahri berdiri di sampingnya, menyerahkan kembali kunci rumah itu ke tangannya. “Simpan. Mulai sekarang kamu yang pegang. Sebagai calon penguasa rumah ini. Kamu InshaAllah akan jadi ratunya."
Mendengar itu pipi Tira terasa hangat, mungkin warnanya sudah merona. Entah kenapa, ada perasaan-perasaan menyenangkan yang mulai muncul di hatinya, padahal mereka belum akad.
Dua hari lagi ia akan duduk di hadapan penghulu. Fahri akan mengucapkan akad. Dan setelah itu, ia tidak lagi menjadi perempuan yang menunggu seseorang datang membawanya menuju masa depan. Ia akan menjadi istri seorang lelaki yang sejak awal sudah datang dengan tujuan yang jelas. Tira menggenggam kunci itu erat-erat. “Terima kasih, Bang.”
Fahri mengangguk. “Sama-sama.”
Mereka meninggalkan rumah itu untuk kembali ke rumah orang tua Tira, sebelum pergi, Tira melihat kembali calon Rumah mereka, yang akan menjadi tempat tinggal mereka setelah akad nantinya. Rumah itu seperti pintu menuju kehidupan yang selama ini ia tunggu-tunggu dari orang lain. Kali ini, pintu itu dibuka oleh lelaki yang bahkan belum sempat ia cintai namun ia sangat yakin masa depannya akan bahagia bersama Fahri.
***
Fahri mengantar Tira sampai di depan rumah menjelang magrib. Setelah mesin mobil dimatikan, keduanya masih sempat berbicara beberapa menit tentang persiapan akad yang tinggal menghitung hari. “Besok saya mungkin agak susah dihubungi,” kata Fahri. “Masih ada beberapa urusan kantor yang harus diselesaikan.”
Tira mengangguk. “Nggak apa-apa, Bang. Jangan sampai gara-gara mau nikah malah pekerjaan Abang berantakan.”
“Saya masuk dulu, Bang.”
Fahri menunggu sampai Tira masuk ke halaman, lalu melambaikan tangan sebelum kembali menjalankan mobilnya.
Tira baru beberapa langkah menuju pintu ketika melihat ayahnya berdiri di teras. Lelaki tua itu tidak masuk ke rumah seperti biasanya. Ia hanya berdiri di sana, mengenakan sarung dan kaus lengan panjang, memandangi mobil Fahri yang perlahan menghilang di ujung jalan. “Ayah belum masuk?” tanya Tira.
Ayahnya menoleh. “Menunggu kamu."
Tira mendekat. “Ada apa?”
“Duduk sebentar.” Mereka duduk di kursi teras. Beberapa saat ayahnya tidak bicara. Tira menunggu. Ia mengenal ayahnya. Kalau lelaki itu sudah diam seperti ini, biasanya ada sesuatu yang ingin disampaikan. “Tira,” katanya akhirnya, “Ayah mau bilang sesuatu sebelum kamu menikah.”
Tira menatapnya. “Apa?”
“Ayah tidak pernah berniat menghancurkan kebahagiaanmu.”
Tira mengerutkan kening. “Maksud Ayah, tentang Fahri?”
“Fahri datang membawa keluarganya. Dia bicara baik-baik. Dia tidak menjanjikan hidup mewah. Dia hanya mengatakan bahwa dia siap bekerja, siap membangun rumah tangga, dan siap belajar menjadi suami.” Ayahnya menoleh kepada Tira. “Itu yang Ayah lihat.”
Tira mengusap ujung matanya. Ada bulir-bulir hangat yang siap keluar.
“Tapi kalau ternyata Tira tidak bahagia?” “Itu yang paling Ayah takutkan.” Ayahnya tersenyum sedih. “Ayah tidak bisa menjamin Fahri akan membuatmu bahagia. Tidak ada orang yang bisa. Bahkan orang yang paling kamu cintai sekalipun belum tentu bisa menjadi suami yang baik.” Tira menunduk. “Ayah cuma ingin kamu punya lelaki yang berani bertanggung jawab. “Ayah yakin Fahri orangnya."
Ayah Tira ternyata tidak pernah benar-benar buta terhadap hubungan putrinya dengan Dimas. Selama ini ia hanya memilih diam.
Tira memang menyembunyikan hubungan itu dari kedua orang tuanya karena Dimas tidak pernah mau datang dan memperkenalkan diri. Setiap kali Tira ditanya, ia selalu mengatakan belum waktunya. Dimas belum siap. Nanti kalau sudah serius, Dimas akan datang sendiri.
Ayahnya menunggu. Tahun pertama, kedua, ketiga, sampai tahun-tahun berikutnya, ia masih menunggu lelaki yang katanya mencintai putrinya itu datang mengetuk pintu rumah. Tetapi suatu sore, tanpa sengaja ia melihat sesuatu yang membuat hatinya jatuh. Tira pulang setelah pergi bersama Dimas. Bukan turun di depan rumah. Bukan pula di halaman seperti seorang lelaki mengantar perempuan yang ingin ia hormati.