NovelToon NovelToon
Pernikahan Rahasia

Pernikahan Rahasia

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Crazy Rich/Konglomerat / Diam-Diam Cinta
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: songjihee

Mala Jinaya tidak pernah menyangka satu malam akan mengubah seluruh hidupnya.

Ia hanya seorang junior di sebuah perusahaan yang terbiasa menunduk, mengalah, dan berkata "nggak apa-apa" setiap kali rekan senior memanfaatkannya.

Sampai sebuah kejadian membuatnya harus menikah diam-diam dengan Rafael Ibra—lead engineer yang bahkan nyaris tidak pernah ia temui di kantor.

Tidak ada pesta.

Tidak ada cinta.

Bahkan, tidak ada perasaan apapun di antara mereka.

Hanya sebuah pernikahan yang seharusnya tidak pernah terjadi.

Dan yang lebih buruk, mereka harus berpura-pura tidak saling mengenal di tempat kerja.

Namun akankah mereka akan tetap begitu? atau ada yang berubah seiring berjalannya waktu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon songjihee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

14. Selalu Menghindari

Hari-hari berikutnya berjalan seperti biasa, setidaknya bagi orang-orang yang tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi di antara Naya dan Ibra.

Naya tetap datang ke kantor setiap pagi, menyelesaikan pekerjaannya, menerima berbagai suruhan dari senior, lalu pulang ketika jam kerja selesai. Ia bahkan masih bisa tersenyum ketika Dion melontarkan candaan receh atau ketika Bian dan Raka sesekali mengajaknya berbicara.

Entah sejak kapan mereka akrab, tapi yang jelas Naya sedikit merasa terhibur oleh candaan Dion, yang sepertinya sengaja sering datang ke ruangan, mendekati Gea. Yang seringkali dipelototi, sampai diusir.

Namun ada satu hal yang tidak pernah berubah.

Naya selalu menghindari Ibra.

Jika melihat pria itu berjalan dari arah berlawanan di lobi, di lift, dimanapun, Naya akan pura-pura sibuk dengan ponselnya atau berbelok ke lorong lain.

Jika sedang berada di pantry dan melihat Ibra, ia akan segera mencari alasan untuk kembali ke meja. Bahkan ketika mereka hanya berpapasan dari kejauhan, Naya selalu menundukkan wajah dan mempercepat langkahnya. Meski kebanyakan putar balik.

Ibra tentu saja menyadarinya. Sejak awal malah.

Awalnya Ibra berusaha menganggap itu sebagai kebetulan, masih denial. Namun setelah berkali-kali terjadi, rasanya terlalu naif jika ia masih berpura-pura tidak tahu. Perempuan itu memang sengaja menghindarinya.

Pagi itu pun sama.

Ibra baru saja keluar dari salah satu ruangan ketika dari ujung lorong ia melihat Naya berjalan membawa beberapa dokumen. Tatapan mereka hampir bertemu, tetapi Naya lebih dulu menyadarinya.

Langkah perempuan itu langsung melambat, melihat kiri kanan, kemudian berbelok.

Begitu saja.

Ibra berhenti sebentar, memperhatikan punggung Naya yang semakin menjauh.

Rahangnya mengeras, aneh. Bukan karena tersinggung, lebih ke arah Ibra paham. Mengerti.

Naya masih takut kepadanya. Jelas.

Dan meskipun ada bagian dalam dirinya yang ingin mengejar dan mengatakan bahwa ia tidak akan melakukan apa pun, Ibra tahu itu bukan hal yang bisa ia lakukan.

Ia sudah berjanji kepada Papa untuk memberi Naya ruang.

Jadi, ia hanya mengembuskan napas dan kembali berjalan.

Di sisi lain, Dion yang kebetulan sering melihat kejadian serupa mengerutkan kening. Ini tentu saja aneh, dan bukan senyampang, pikirnya.

Ia menatap Ibra yang baru saja pergi, kemudian melihat ke arah lorong tempat Naya menghilang.

"Ini perasaan gue doang atau..." Dion menggaruk kepalanya. "Kayaknya Naya selalu kabur kalau ada Pak Ibra."

"Apa Naya pernah di marah sama Ibra, ya? Duhhh, gue jadi ingat dulu si Nadya sering dimarahi sama Ibra."

Nadya, salah seorang perempuan berusia 25 tahun yang sudah bekerja dua tahun jadi anggota engineer. Ruangan yang sama, seperti dirinya, juga Ibra.

Perempuan itu, dulunya sewaktu masih baru sering melakukan kesalahan, sering telat, sering ini itu. Pokoknya, dia hampir di keluarkan.

Namun Ibra, mempertahankannya. Meskipun sering kena marah oleh Ibra, Nadya yang kemungkinan memang pemberani dan pantang menyerah akhirnya bisa meluluhkan tembok dingin Ibra.

Mereka berteman sekarang, malah akrab.

Seperti sekarang ini, Dion sudah kembali ke ruangan, mengerjakan kerjaannya yang ia tunda sampai ditegur Ibra.

"Iya-iya, ini gue kerjain, pemarah banget." Dion menggerutu, di sebelahnya ada Nadya yang menertawakan. "Diem, Nad."

Masih dengan sisa tawanya Nadya menyahut. "Iya-iya. Buruan kerjain, nanti ngamuk itu Pak kepala."

"Gue denger." Ibra dari mejanya menoleh.

Nadya memukul pelan pundak Dion. "Nah, kan."

***

Pusing sekali Naya hari ini, kepalanya baru saja kejedot ujung meja saat mengambil kertas jatuh di bawah. Dahi kirinya benjol seketika, nampak sekali.

"Lain kali hati-hati," kata Bian, refleks mengelus dahi Naya, membuat empunya menegang.

Raka yang melihat berdehem, memberi komentar. "Adegan ini kalo diliat sama Lady Marina, chaos gosipnya sampai ke lantai bawah."

"Mereka semuanya di gosip, Ka." Bian menyahut. "Obatin Nay, ke klinik kantor. Tau enggak tempatnya?" lanjut Bian seraya menarik tangannya, memberi senyum tipis yang membuat Naya meremas ujung roknya.

​Naya hanya mengangguk canggung. "I-iya, Kak Bian. Makasih..."

​Ia lalu bergegas berdiri, mengambil napas dalam-dalam sebelum berjalan meninggalkan ruangan Administrasi menuju klinik kantor yang berada di lantai dua, turun.

Kepalanya benar-benar cenat-cenut, tapi rasa canggung akibat perlakuan Bian tadi jauh lebih membuat dadanya berdebar.

Bian, seniornya itu memang seringkali mengirim pesan padanya, setiap habis disuruh-suruh Lady, di marahi Marina, di sindir keduanya, Bian selalu menyemangatinya.

Bian juga sering membelanya, tidak secara langsung, namun tersirat. Contohnya seperti satu jam lalu kala Lady melemparkan satu berkas pada Naya.

"Nay, mintain tanda tangan sama Pak Danang, dong." Lady menyuruhnya, memberikan satu berkas.

Naya yang sedang merapikan beberapa dokumen di mejanya langsung mendongak. Tangannya baru saja hendak menerima berkas tersebut tapi urung ketika suara Bian terdengar dari meja sebelah.

"Lady."

Lady menoleh malas. "Apa?"

Bian tidak langsung menjawab. Ia masih menatap layar komputernya, jemarinya yang semula mengetik kini berhenti di atas keyboard.

"Pak Danang tadi minta laporan yang itu ke gue, kan?"

Lady mengerutkan kening, lalu melirik berkas yang berada di tangannya. "Hah? Yang ini?"

"Iya."

"Terus?"

Bian akhirnya menoleh. "Biar sekalian gue yang kasih. Gue juga mau ke ruangan Pak Danang."

Naya yang berdiri di antara mereka langsung mengalihkan pandangan kepada Bian.

"Enggak apa-apa, Kak. Aku aja."

"Lo masih ada kerjaan, kan, itu?"

Naya diam.

Matanya otomatis melirik tumpukan dokumen di meja sendiri. Memang masih ada beberapa berkas yang harus ia selesaikan sebelum jam makan siang.

"Masih..."

"Nah." Bian mengambil berkas dari tangan Lady sebelum perempuan itu sempat menyerahkannya kepada Naya.

"Sekalian gue kasih. Lo lanjutin aja yang punya lo."

Lady mengangkat kedua alisnya. "Rajin banget lo Bi, mau jilat Pak Danang juga?" celetuk Lady.

Bian hanya mengangkat bahu dan menjawab asal. "Bisa jadi."

Lady berdecak, lalu tampak tidak terlalu peduli. Ia kembali duduk dan sibuk dengan ponselnya. "Yaudah."

Bian pun pergi membawa berkas tersebut.

Naya masih memandang punggungnya beberapa detik sebelum akhirnya kembali duduk.

Awalnya ia tidak terlalu memikirkan hal itu.

Baginya, mungkin memang kebetulan saja Bian memiliki urusan yang sama dengan Pak Danang.

Namun ternyata, bukan hanya hari itu.

Beberapa hari terakhir, Naya mulai menyadari ada sesuatu yang berbeda dari sikap Bian kepadanya. Memang tidak terlalu mencolok, tidak sampai membuat orang lain sadar.

Bian hanya seperti... selalu muncul di waktu yang tepat.

Ketika Marina menyuruh Naya mengambil dokumen ke lantai bawah sementara meja Naya masih dipenuhi pekerjaan, Bian tiba-tiba mengatakan bahwa dirinya memang hendak turun untuk menemui salah satu teman.

Ketika Lady memberikan pekerjaan tambahan yang sebenarnya bisa ia kerjakan sendiri, Bian akan dengan santai mengatakan bahwa pekerjaan itu sekalian saja diberikan kepadanya karena ia membutuhkan dokumen yang sama.

Bahkan ketika Marina pernah mengomel panjang hanya karena satu angka di laporan Naya salah, Bian tidak ikut menyela. Ia hanya menunggu sampai Marina pergi, lalu diam-diam mengirim pesan.

"Jangan dipikirin. Semangat, ya."

Sesederhana itu.

Mungkin bagi orang lain itu bukan sesuatu yang besar. Namun bagi Naya, perhatian kecil semacam itu... terasa cukup berarti.

Sebab selama ini, ia memang terlalu terbiasa mengiyakan, sulit berkata tidak. Ia takut dianggap tidak bisa bekerja sama.

Bahkan ketika tubuhnya sendiri sudah lelah, mulutnya tetap lebih dulu mengatakan, "Iya."

Karena itulah, ketika ada seseorang yang sesekali berkata, "Biar gue," Naya merasa sedikit aneh.

Dan mungkin karena itulah, tanpa sadar ia mulai menganggap Bian sebagai salah satu orang yang cukup aman untuk berada di dekatnya.

Sayangnya, Naya belum menyadari bahwa perhatian kecil dari Bian itu mulai terlihat oleh orang lain.

Lama dalam lamunan, Naya baru tersadar ketika langkahnya justru melewati pintu klinik kantor. Ia berhenti, menoleh ke belakang.

"Ya ampun..."

Naya menghela napas panjang, lalu berbalik dan kembali menuju klinik. Kepalanya masih terasa nyut-nyutan, membuat langkahnya sedikit lebih lambat dari biasanya.

Begitu memasuki ruangan, suasana klinik tampak cukup sepi. Hanya terdengar suara pendingin ruangan dan detik jam dinding yang bergerak pelan.

Naya mengembuskan napas lega. Berjalan menuju lemari kecil di sudut ruangan, mengambil kotak P3K yang tersedia, kemudian duduk di salah satu kursi dekat meja pemeriksaan. Dengan hati-hati, Naya membuka kotak tersebut dan mengambil antiseptik serta plester.

Naya baru menyadari ternyata sudut meja tadi tidak hanya membuat dahinya benjol, tetapi juga meninggalkan luka gores kecil.

Tangan Naya terangkat, hendak menyentuh dahinya, seketika terperanjat sebab terdengar suara dari arah ranjang yang tertutup tirai sedikit.

"Awh..."

Naya sontak menoleh.

Dari balik tirai, seorang perempuan berambut sebahu baru saja menegakkan posisi duduknya di atas ranjang periksa. Matanya menangkap sosok Naya, ia tersenyum ramah.

"Eh... maaf, saya pikir enggak ada orang," ucap Naya terkejut.

​Perempuan itu terkekeh pelan, menyibak tirai lebih lebar lalu mengayunkan kakinya turun dari ranjang. "Santai aja," ujarnya sambil memegangi perut, mengaduh pelan lagi.

Melihat Naya diam, perempuan itu bertanya. "Kamu sakit juga?"

Naya berkedip. "I-iya, tadi kena ujung meja."

"Ya ampun, buruan kamu kasih salep, takutnya berbekas. Mana kena di muka lagi," paniknya.

Naya terkekeh. "Iya, enggak apa-apa, kok."

"Kok enggak apa-apa, itu aja benjol," tunjuknya. "Kita perempuan, wajah kita ini aset," katanya lagi.

Naya mengangguk, tersenyum canggung. "Iya." Dari posisinya Naya bisa menebak kalau perempuan di hadapannya itu adalah perempuan yang merawat diri dengan baik, dan benar, perempuan itu sangat cantik.

"Aku Nadya," katanya sambil memegangi perutnya yang sakit. "Kamu?"

"Saya Naya."

"Kamu anak baru, ya? Aku baru liat wajahmu, apa akunya yang jarang keluar?" Nadya berpikir, menampakkan sisi cerewetnya bahkan kepada orang yang baru pertama ia temui.

"Saya baru dua bulan, Kak."

"Ohhh pantesan, dari divisi mana?"

"Administrasi."

Mendengar kata administrasi Nadya langsung menepuk dahi. "Aduhhh, berarti sama kak Lady?"

Naya tersenyum kecil. "Iya, Kak."

Nadya menghela napas. "Pantes."

"Pantes apa?"

"Enggak, cuma pernah dengar cerita dari anak-anak yang dulu kerja di sana. Katanya banyak yang enggak lanjut setelah kontraknya habis."

Naya terdiam.

"Bukan karena kerjaannya," lanjut Nadya santai. "Katanya sih gara-gara Kak Lady sama Kak Marina."

Naya hanya tersenyum kecil. "Oh..."

"Kalau masih baru memang sering disuruh-suruh, ya?"

Iya, sahut Naya dalam hati. Tapi sekarang Naya mengangkat bahu, berpura-pura tak tahu. "Mungkin karena masih baru, biar cepat paham sama kerjaannya."

Nadya langsung menatapnya curiga. "Berarti kamu juga digituin?"

Naya terperangah. Ia takut akan menjadi bahan gosip baru. "Eng-enggak, kok."

"Hmm." Nadya jelas tidak percaya sepenuhnya, tetapi memilih tidak memperpanjang.

"Yaudah. Yang penting jangan terlalu dipikirin. Kalau capek, bilang capek. Jangan iya-iya terus kalau disuruh. Kita sama-sama kerja, kok. Kalau mau nyuruh-nyuruh, jadi bos dulu."

Naya terkekeh kecil mendengar ucapan itu. "Iya, Kak."

Nadya kembali menyandarkan tubuhnya ke ranjang, sementara Naya memasang plester di dahinya. Untuk pertama kalinya sejak masuk ke klinik, pikirannya terasa sedikit lebih ringan.

Setidaknya, ada seseorang yang baru dikenalnya beberapa menit lalu tetapi entah bagaimana sudah berhasil membuatnya tersenyum. Seru juga, batinnya.

Naya kembali fokus mengoleskan salep pada luka di dahinya. Setelah selesai, Naya menutupnya dengan plaster. Baru saja tangannya hendak menutup kotak P3K pintu klinik terbuka.

Keduanya menoleh bersamaan.

Seseorang masuk, membawa kantong plastik dan segelas teh hangat di tangannya. Langkah yang tadinya cepat kini terhenti sesaat ketika tatapannya jatuh, melihat Naya. orang itu adalah Ibra.

Tatapan mereka bertemu, Naya seketika membeku. Ibra pun begitu.

Beberapa detik, Ibra tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya mengalihkan pandangan kepada Nadya, berjalan mendekati ranjang dan meletakkan teh hangat serta kantong makanan di meja sampingnya.

Nadya langsung tersenyum dan berseru, "Akhirnyaaaa..."

Naya yang menunduk meremas pahanya. Tangannya bergerak gugup, hendak memasukkan salep kembali ke dalam kotak P3K, tetapi malah menjatuhkannya. Naya kelabakan.

Ia tersentak sedikit. "K-kak, saya duluan."

"Loh kenap—" Belum sempat Nadya menyelesaikan ucapannya, Naya sudah bergegas keluar.

Kotak P3K yang masih terbuka ditinggalkannya begitu saja di atas meja. Ibra menoleh ke arah pintu yang baru saja tertutup. Terdiam lama sekali.

Naya, menghindarinya, lagi.

1
Agus Tina
Naya ...
Agus Tina
Ayolah Naya, Ibra ... putuskan cepat keburu perut Naya nggak bisa ditutupi lagi, apalagi modelan Naya hamil yg mualnya parah kayaknya ... berabe nanti kalau orang kantor sama orangtuanya menyadari perubahan itu ...
Agus Tina
Naya keras kepala sekali ...
Enz99
bagus sekali
Hosniyah Niyah
lanjut Thor ❤❤❤😘😘😘💞💞💞🥰🥰🥰👍👍👍👌👌👌
Agus Tina
Thor kutunggu up nya ...
Agus Tina
Naya, Ibra ... lama sekali kalian memutuskan .... greregaten banget
Agus Tina
Penasaran banget ... double up thor
Agus Tina
Ayolah Naya yg penting nikah aja dulu, nggak tinggal bareng juga gak pa2 sampai trauma kamu sembuh. Lama2 gregeten sama Naya ...
Makasih thor lanjut up ya
Agus Tina
Terimakasih sudah update ... ditunggu kelanjutannya
ronaaksara: terimakasih sudah rela menunggu🫶
total 1 replies
Agus Tina
Thor ,lama banget Naya ngambil keputusannya jadi pusing sendiri sama gregetan pakai banget ...
Aksara Nirmaya
akhirnyaa updateee, thanksss kakkk🫰
Aksara Nirmaya
kakkk kapannn updateeee😭😭
ronaaksara: haii, segera yaa. Masih sibuk rl😭😭
total 1 replies
Aksara Nirmaya
Ceritanya baguss, semangat kakk
ronaaksara: terimakasihhh, kamu juga yaa💪💪
total 1 replies
licy
alurnya sukaaaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!