NovelToon NovelToon
PUTRI MALAM UNTUK PANGLIMA SENJA

PUTRI MALAM UNTUK PANGLIMA SENJA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Cinta Istana/Kuno / Transmigrasi
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Tiga Alif

Pada hari ia terbangun kembali tujuh tahun lalu, Wulan Ardani sadar bahwa pernikahannya dengan Panglima Senja, Nalendra, akan menimbulkan tragedi. Dalam hidup sebelumnya, ia menolak, keluarga hancur, dan sang pria yang menolongnya gugur di Lembah Sigar. Kini ia menerima takdir itu, menyimpan rahasia sebagai putri malam dari Paguyuban Niskala. Saat intrik istana, racun mematikan, dan perebutan takhta mengejar, Wulan harus memilih: menebus masa lalu atau menulis takdir baru bersama lelaki yang pernah mati demi menyelamatkannya.

note : support para pembaca sangat berarti bagi penulis untuk tetap berkarya dan upload minimal 3 bab per hari

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

14 - AKU TIDAK AKAN MENGATAKAN

"Apa?"

"Kenapa..." Wulan menggigit bibirnya dan menatapnya tanpa bisa menghindar, "Kenapa kau begitu baik padaku?" Pertanyaan yang sudah lama mengendap di hatinya akhirnya keluar juga, di malam yang hanya diterangi cahaya bulan. Dulu, di kehidupan lampau, ia terlalu sibuk mengejar bayang-bayang untuk bertanya hal seperti ini. Kini ia tidak mau lagi menyesal. Namun ia tetap menatap, karena kali ini ia memilih untuk berani.

Alis Nalendra sedikit melembut. Ia tidak menjawab dengan kata-kata, hanya menggenggam tangan putih Wulan, menundukkan kepala, dan mencium ujung jarinya dengan lembut, lalu mengangkat matanya untuk menatapnya lagi. Tangan itu dingin di ujung jari, tetapi sentuhannya hangat.

Jawabannya jelas. Begitu jelas, hingga Wulan tidak bisa berpura-pura tidak mengerti. Namun ia tetap ingin mendengar jawabannya dengan kata-kata, bukan hanya isyarat.

Wulan tiba-tiba tertawa merasakan sentuhan sejuk dan lembut di ujung jarinya itu, dan sepasang mata jernih yang menatapnya tampak dipenuhi bintang-bintang kecil — pantulan cahaya lilin yang menari-nari. Senyumnya lepas, tulus, tanpa beban — sesuatu yang jarang terjadi sejak ia hidup kembali. Kehangatan di dadanya menebal, dan untuk sesaat seluruh beban yang ia bawa terasa ringan.

Ia juga tertawa, tampak geli melihat senyumnya. "Apa yang kau tertawakan?" Wajahnya sedikit condong, menunggu jawaban.

"Aku tidak akan memberitahumu." Wulan berkedip misterius, masih tersenyum, seolah menyimpan rahasia paling indah di dunia. Ada keceriaan di balik kelopak matanya yang menyipit.

Tampak tersentuh oleh penampilannya yang energik, mata Nalendra berkedip sedikit, lalu perlahan menundukkan kepala seolah terpikat, dan memberikan ciuman dingin di dahinya — ringan seperti bulu yang jatuh. Bulu mata panjang pria itu menunduk, membayang di bawah cahaya lilin.

Jika ini mimpi indah yang diberikan belas kasihan langit kepadanya, biarkanlah ia sedikit liar untuk sementara waktu, meski hanya sesaat. Wulan memejamkan mata dan membiarkan kehangatan itu menenggelamkannya. Malam ini, di ruangan yang hening ini, ia mengizinkan dirinya bahagia.

Nalendra menutup matanya, seolah ingin membekukan momen itu sebelum pagi datang dan menuntut keduanya kembali menjadi orang yang berbeda.

---

Keesokan paginya, Wulan bangun sebelum hari benar-benar terang. Ia menyantap sarapan dengan linglung, sering kali berhenti dan tersenyum sendiri tanpa alasan yang jelas, lalu membuat alasan dan menyingkirkan dayang yang mengikutinya. Ada kebahagiaan kecil yang ia rasakan, yang tidak bisa ia ceritakan kepada siapa pun — bahkan kepada dayang yang paling setia sekalipun. Ia bahkan tersenyum tanpa sebab ketika menyadari bahwa malam tadi bukan mimpi.

Setelah berkeliling kamar Waskita tanpa menemukannya, Wulan berpikir sejenak lalu berlari menuju perpustakaan. Ia menaiki tangga hingga lantai tiga dan melihat kakaknya duduk di kursi anyaman di ambang jendela, sepotong gulungan bambu di antara jari-jarinya, dagu bertumpu pada satu tangan, menunduk dengan pikiran yang entah terbang ke mana. Gulungan bambu itu adalah catatan puisi dan teka-teki kuno yang biasa ia baca untuk mengisi waktu luang. Buku-buku tua berserakan di rak, berdebu namun tetap rapi dijaga.

Mendengar langkah dari tangga, ia menoleh dan terlihat sedikit terkejut. "Wuri?" Ia tersenyum, menyambut adiknya dengan tatapan yang lebih hangat dari biasanya.

"Kenapa kau bangun sepagi ini?" Waskita menatapnya heran, lalu memiringkan kepala melihat matahari di luar jendela dan berkata sambil tersenyum, "Matahari pasti terbit dari barat hari ini." Sementara matahari pagi menyinari punggung kakaknya, membuat bayangannya jatuh panjang di lantai kayu.

"Tidak mungkin, aku tidak bisa tidur." Wulan berkata samar, lalu berjalan cepat, menjejakkan tangan di meja di depannya dan menatap kaki kakaknya, "Kakak Waskita, apa kakimu baik-baik saja?" Kekhawatirannya tadi malam masih menempel di hatinya — ia hampir tidak bisa tidur memikirkan kaki kakaknya yang tersiram obat panas.

Waskita meletakkan gulungan bambu di tangannya, menunduk, dan menggerakkan kakinya untuk membuktikan. Ia melambaikan tangan sembarangan. "Oh, hanya luka ringan. Kalau tidak ada urusan penting, kau pasti tidak akan datang menemuiku sepagi ini." Meski begitu, ia tidak bisa menahan diri untuk tidak bertanya-tanya tentang apa yang tengah dipikirkan adiknya di pagi yang tenang ini. Ia memang adik yang paling sering menyusahkan, tetapi juga paling ia sayangi.

"Eh?" Wulan membuka mata lebar-lebar. "Kau tahu kalau aku ada perlu?" Rasa heran itu membuat matanya membulat.

Ia bahkan belum mulai membicarakan masalahnya, dan kakaknya sudah menebaknya begitu ajaib. Sejak kapan Waskita menjadi peramal? Sejak kecil, Waskita memang selalu tahu kapan Wulan sedang menyimpan masalah.

Waskita menggerutu dan meliriknya, "Yah—"

Ia meninggikan suara sedikit. "Meskipun aku tidak menebak apa masalahnya, aku tahu kau ini tak akan mendekati Balai Sembahyang tanpa ada maunya. Bangun sepagi ini untuk menemuiku, pasti ada hal yang tak bisa kau selesaikan sendiri." Kalimat itu diucapkan sambil menyipitkan mata, persis seperti orang tua yang sedang menangkap murid nakal. Wulan menunduk, mencoba menyembunyikan senyum yang nyaris terbit.

Seolah teringat sesuatu, ia tiba-tiba memandang Wulan dari atas ke bawah, menelan ludah seolah tidak percaya, lalu bertanya dengan suara gemetar, "Kau... tidak memukuli Pangeran Senja tadi malam, kan?" Ada bayangan cemas di matanya, seolah Wulan bisa saja melukai panglima besar itu dalam semalam.

"Mana mungkin?!" Wulan memelototinya dengan marah, menjejakkan kaki. "Apa aku terlihat seperti orang yang kejam?" Sejak kapan kakaknya melihatnya sebagai orang yang suka menganiaya orang? Sebenarnya ia bisa mengalah, tetapi malam ini ia tidak mau terlihat lemah.

Waskita menatapnya lagi dari ujung kepala sampai ujung kaki, lalu mengangguk tanpa memberi harga diri. "Sepertinya." Wulan menahan napas — kakaknya benar-benar tidak memberinya muka sama sekali.

Wulan: "..."

Inilah kakak kandungnya. Wulan menarik napas dalam-dalam, menahan keinginan untuk menjitak kepalanya. Namun di balik rasa kesal itu, ada kehangatan. Hanya kakak yang paling mengenalnya yang berani menggoda seperti ini.

Tergoda seperti ini oleh Waskita, Wulan hampir melupakan urusannya. Setelah berdeham dua kali, ia melunakkan suaranya. "Kakak Waskita, bisakah kau membawaku keluar rumah?" Wulan menatapnya penuh harap, matanya berbinar seperti anak kucing yang meminta ikan.

Ekspresi Waskita berubah seperti orang yang sudah menduganya sejak awal. "Kubilang juga, kau ini tidak akan datang ke sini tanpa alasan." Sebagai kakak yang telah lama menjaga adiknya, ia tahu persis pola tingkah Wulan. Ia memutar-mutar cangkir teh di tangannya, menunggu.

Wulan memasang ekspresi menyedihkan. "Ayah mengeluarkan perintah tegas kemarin — tidak ada satu pun penjaga di pintu yang berani melepaskan aku keluar." Ayahnya sangat tegas dalam hal ini — ia tahu betul, jika tidak, ia tidak akan sampai harus menyusun rencana sembunyi-sembunyi seperti ini. Kalau sampai ketahuan, Waskita yang akan ikut terkena masalah.

1
Candra Buwana
novel ini tidak bosan untuk dibaca. keren dah. bikin penasaran terus. lanjutkan thor
Kartika Candrabuwana: terimakasih atas votenya.🙏
total 1 replies
prameswari azka salsabil
keren dah novel ini. membuatku terhanyut dalam emosi. sukses selalu buat penulis.
Candra Buwana: betul sekali
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!