Satu jalan keluar dari balik jeruji besi, namun berujung pada labirin tanpa pintu keluar.
Ketika Dorris Gate menawarkan kunci kebebasan, La Bonna De Luca tidak pernah menduga bahwa harga yang harus dibayar adalah jiwanya sendiri.
Terlempar ke dalam gemerlap remang Velvet Noir, Bonna dipaksa menari di atas benang tipis antara penyamaran dan kehancuran. Targetnya adalah Ezequiel Nolan Ashford—pria dingin bernapas racun yang tak pernah terpeleset oleh hukum.
Bonna menyadari satu hal: ini bukanlah misi penyelidikan, ini adalah eksekusi yang tertunda.
Ezequiel tidak hanya sulit dibaca; ia memegang kendali atas hidup dan mati siapa pun di wilayah kekuasaannya. Bagi Ezequiel, Bonna hanyalah mainan baru yang sewaktu-waktu bisa dihancurkan.
Untuk bertahan hidup di tangan pria yang memperlakukan manusia tak ubahnya properti, Bonna hanya punya satu senjata tersisa: memainkan sandiwara paling berbahaya. Berpura-pura menyerahkan hatinya pada sang iblis, atau menjadi bidak yang ditumbalkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#14
...PERINGATAN!...
...( ͡° ͜ʖ ͡°) 🔞.. .21+ Boleh di skip!...
Ruangan bernomor 101 itu diselimuti suasana yang teramat mengimpit jiwa. Alat-alat penyiksaan yang terpajang dingin di dinding batu seakan menjadi saksi bisu atas pertunjukan kehancuran harga diri seorang manusia. Bau amis darah segar dari sudut bibir Bonna bercampur dengan aroma pekat cerutu serta parfum maskulin Nolan, menciptakan atmosfer yang menyesakkan dada.
Tiba-tiba, suara Nolan memecah keheningan yang mencekam itu.
"Dorris mengirimmu kemari berharap wajah sialanmu yang mirip dengan mendiang kekasihku akan membuatku lemah," ucap Nolan dengan nada datar namun sarat akan penekanan yang menusuk.
"Tapi asal kau tahu saja, aku tidak suka kelemahan. Aku membunuh mendiang kekasihku dengan tanganku sendiri karena aku tidak suka punya kelemahan. Jika membunuh wanita yang kucintai saja begitu mudah kulakukan, kenapa harus sulit membunuhmu? Aku bisa melakukannya kapan saja jika aku mau. Cukup satu tarikan pelatuk dan isi kepalamu akan tumpah ruah berceceran di lantai menghias ruangan ini."
La Bonna terdiam tak menjawab apa pun. Bibirnya bungkam, membiarkan Nolan menyentuh pipinya dengan tangan besarnya yang kasar. Sentuhan itu tidak membawa kehangatan, melainkan ancaman terselubung yang membekukan darahnya.
"Matamu indah," lanjut Nolan, mengusap celah di bawah mata Bonna dengan ibu jarinya. "Kalau aku mau, aku bisa menjualnya pada Duke sekarang. Kau sudah dengar sendiri bukan yang Adrian katakan di ruang operasi? Istri Duke baru kecelakaan dan kehilangan penglihatannya. Aku yakin Duke akan bilang kalau matamu cantik dan aku yakin dia siap membayar berapa pun untuk mendapatkan matamu sebagai hadiah untuk istrinya."
Tanpa peringatan, Nolan menggerakkan tangan yang memegang cerutu menyala. Pria itu menyudutkan ujung merah cerutunya tepat ke tulang selangka Bonna!
Ssshh.
"Ngh...!"
Bonna meringis kesakitan yang membakar. Kulit halus di tulang selangkanya melepuh seketika, namun ia menahan diri untuk tidak berteriak histeris.
Nolan melepaskan sundutan itu, lalu menatap Bonna dengan senyum kejam yang mengintimidasi. "Sekarang menarilah, lakukan tugasmu, hibur aku. Jangan buat aku kecewa, jika kau tidak ingin berakhir kulempar ke anak buahku untuk digilir hingga kau tak bernyawa lagi."
Perintah itu diucapkan Nolan seraya berjalan menuju sofa kulit hitam di tengah ruangan dan duduk santai di sana. Tangannya sama sekali tidak melepaskan rantai besi pada collar yang terpasang erat di leher Bonna.
Bonna menganggukkan kepalanya perlahan dengan mata yang berkaca-kaca. Tubuhnya bergerak mematuhi kehendak sang penguasa tunggal di tempat ini.
Bonna mulai menari. Ia meliuk-liukkan tubuh telanjangnya di depan Nolan tanpa sehelai benang pun yang menutupi kulitnya.
Di hadapannya, Nolan yang shirtless—tanpa atasan kemeja—duduk di sofa sembari memegangi rantai pada leher Bonna. Pria itu dengan sengaja menarik kencang rantai dalam genggamannya itu tiap kali ia merasa gerakan tarian Bonna tidak sesuai dengan kehendaknya, membuat Bonna hampir tersedak oleh collar yang terjerat ketat.
"Sungguh wanita yang penurut," kata Nolan seraya terkekeh dingin. "Sepertinya aku harus berterima kasih pada Dorris karena sudah mengirimkanku mainan yang cukup menyenangkan seperti dirimu."
Nolan tersenyum miring, seolah ada kepuasan tersendiri baginya saat menyaksikan Bonna menari telanjang di hadapannya dengan ekspresi ketakutan luar biasa dan menahan tangis yang hampir pecah.
Pria itu kemudian menambahkan lagi dengan intonasi mencemooh, "Seharusnya Dorris melihat momen ini. Melihat orang yang sudah susah payah dia cari dan dia kirim kemari untuk menjatuhkanku justru jadi hiburanku saat ini."
Sret!
Nolan kembali menarik rantai itu lagi, dan kali ini sentakannya jauh lebih keras!
"Ah!"
Bonna tersentak dan jatuh tersungkur ke depan. Kalau saja Bonna tidak menahan tumpuan tubuhnya dengan cepat menggunakan kedua tangannya di atas semen, mungkin wajahnya sudah beradu keras dengan lantai.
"Jangan berdiri, merangkaklah kemari," perintah Nolan seraya menepuk-nepuk pahanya yang terbalut celana bahan mewah.
Bonna, yang tanpa sehelai benang pun menutup tubuhnya, menahan rasa malu dan kepedihan yang meremukkan martabatnya. Ia merangkak perlahan di atas lantai dingin, mendekati Nolan yang duduk tegak di sofa.
Nolan tidak memerintahkan apa pun lagi padanya setelah Bonna berada di antara kedua kakinya. Namun, Bonna bisa menebak apa yang laki-laki itu inginkan tanpa perlu diucapkan. Nolan menginginkan penyerahan kekuasaan secara mutlak, dan Bonna harus bisa memberikan hal itu jika ia tidak ingin dirinya dilempar ke anak buah Nolan untuk digilir secara bergantian.
Tangan Bonna luar biasa bergetar. Jemarinya yang dingin bergerak maju, menggapai dan membuka kembali resleting celana yang dikenakan Nolan.
Kali ini Nolan tidak menendangnya lagi; pria itu membiarkan Bonna mengeluarkan dan menggenggam bagian vitalnya. Nolan justru menopang dagu pada sisi sofa, memperhatikan tiap gerak-gerik Bonna yang gemetar dengan pandangan menilai yang dingin.
Bonna menggerakkan tangannya naik turun tanpa berani mendongak melihat ekspresi di wajah Nolan.
Tiba-tiba Nolan berkata sinis, "Mau sampai kapan kau mengurutnya? Apa sampai matahari terbit?" Pria itu jelas tak puas dengan apa yang dilakukan Bonna. "Kalau pelacur di sini sebodoh dirimu, mereka sudah membuat kerugian besar padaku. Para pelanggan akan komplain dan meminta uang mereka kembali."
Bonna kemudian membuka mulutnya. Bukan untuk membalas perkataan tajam Nolan—karena Bonna sama sekali tidak punya keberanian untuk berdebat di tempat ini—melainkan Bonna membuka mulutnya untuk menjalankan tugas yang dipaksakan padanya.
Luka robek di sudut bibir Bonna membuat tindakan ini terasa sangat menyiksa. Gerakan yang keluar masuk dari mulutnya menggesek luka terbuka pada sudut bibirnya, menimbulkan rasa perih yang luar biasa hingga ia meringis dan merintih kesakitan di sela-sela napasnya.
Bonna menutup matanya rapat-rapat, mencoba menghipnotis dirinya sendiri untuk berpikir bahwa laki-laki yang tengah ia layani di depannya ini bukanlah seorang pria monster tak punya hati yang ingin membunuhnya. Ia mencoba membayangkan dirinya sendiri seolah-olah laki-laki yang duduk di depannya adalah kekasihnya.
Bonna sadar ia tidak boleh gugup. Semakin Bonna gugup, semakin ia kemungkinan akan membuat kesalahan, dan semakin besar pula kemungkinan Nolan akan melakukan hal yang jauh lebih buruk padanya untuk menghukumnya.
Bonna memejamkan matanya erat-erat, gerakannya mulai terasa lebih leluasa dan mengalir. Yang terpenting baginya saat ini adalah tidak melakukan kontak mata langsung dengan Nolan, karena jika ia tak sengaja menatap mata elang Nolan yang tajam, nyali Bonna akan menciut seketika dan menghancurkan konsentrasinya.
Nolan mengulurkan tangannya, membenarkan helaian rambut Bonna yang turun menutupi wajahnya. Namun, bukan dengan kelembutan, Nolan dengan sengaja menekan kuat kepala Bonna ke bawah hingga kening gadis itu bersentuhan ketat dengan perut bagian bawahnya.
"Uhuk...!"
Bonna tersedak hebat. Wajahnya memerah seketika karena kehabisan pasokan udara, begitu pula dengan matanya yang mendadak berkaca-kaca menahan cairan yang hendak mendesak keluar. Namun, Nolan sama sekali tidak peduli. Pria itu menggerakkan kepala Bonna sesuka hatinya, tak peduli jika Bonna tersedak dan tak bisa bernapas tiap kali dorongan itu memenuhi mulutnya.
Air mata meleleh deras membahasi pipi Bonna yang memar. Entah air mata itu mengalir karena Bonna menangis meratapi kehancurannya, atau karena efek biologis akibat tersedak dan hampir muntah berkali-kali.
Yang pasti, Bonna sekuat tenaga menahan dirinya untuk tidak melakukan kesalahan sekecil apa pun, menahan dirinya untuk tidak menarik diri dari kungkungan tangan kekar Nolan.
Bahkan saat Nolan merasa pelepasan kenikmatannya telah selesai, Bonna tidak berani menarik lepas kepalanya dari genggaman pria itu sebelum Nolan sendiri yang melepaskan cengkeramannya dari rambutnya.
Dan saat Nolan akhirnya melepaskan cengkeramannya, Bonna langsung terlempar mundur dan terbatuk-batuk hebat di atas lantai, mencoba meraup oksigen sebanyak-banyaknya ke dalam paru-parunya yang sesak.
"Kau mengecewakan. Seperti ini saja kau kesulitan," kata Nolan seraya merapikan celananya kembali, tatapannya dingin tak tersentuh.
Perkataan itu membuat ketakutan Bonna melonjak ke tingkat yang paling tinggi. Apakah Nolan akan benar-benar memanggil anak buahnya kemari untuk menggilirnya detik ini juga?
Dengan raut pucat dan histeris yang tertahan, Bonna berlutut dan berkata parau penuh keputusasaan, "Aku berjanji akan melakukannya lebih baik lagi! Kumohon... jangan panggil anak buahmu kemari!" Mata Bonna berkaca-kaca menatap lantai, memohon belas kasihan di bawah kaki sang monster.
Nolan menatapnya dari atas, lalu berkata datar, "Kalau begitu, buktikan."
Tanpa membuang waktu satu detik pun, Bonna dengan cepat melakukan yang terbaik. Ia kembali menggerakkan jemarinya yang gemetar dan merapatkan diri, menggenggam kembali milik pria itu dan mengulang aksinya dengan segenap daya yang ia miliki. Melakukan yang terbaik yang pernah ia tahu.
Jangan buat kesalahan lagi... jangan buat kesalahan lagi... Dalam hatinya, Bonna berulang kali menjeritkan kalimat itu bagai mantra pelindung nyawa.
Saat ini Bonna hanya punya satu tujuan tunggal: membuat pria ini puas dan menghibur pria ini dengan seluruh tindakannya. Bonna benar-benar melakukan hal terbaik yang bisa ia kerjakan.
Ia bukan wanita polos yang naif. Ia adalah wanita berusia 28 tahun yang berpikiran realistis bahwa jika ia membuat kesalahan sedikit saja di tempat ini, maka digilir oleh belasan anak buah Nolan atau berakhir mengenaskan di atas meja operasi milik Adrian dan Dorsila adalah akhir dari riwayat hidupnya.
Demi Tuhan, Bonna benar-benar muak dengan alur hidupnya yang tragis ini. Namun jika harus berakhir mengenaskan tanpa perlawanan? Tidak. Ia tidak mau mati sebodoh itu.
Bonna masih ingin berjuang untuk hidupnya. Dia harus bisa bebas dari tempat ini walaupun untuk saat ini kebebasan itu terasa seperti mimpi yang jauh. Ia tidak akan pernah biarkan pria brengsek seperti Dorris tertawa bahagia di luar sana di atas penderitaan dan darah yang ia cucurkan di tempat ini.
Tidak apa-apa jika cara satu-satunya untuk bertahan hidup adalah dengan membuang habis harga dirinya dan menjadi seorang jalang murahan tanpa martabat di mata pria monster bernama Ezequiel Nolan Ashford ini.