NovelToon NovelToon
Terperangkap Dalam Cinta Pria Beristri

Terperangkap Dalam Cinta Pria Beristri

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Konflik etika / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:38.7k
Nilai: 5
Nama Author: Red_Purple

Anindya, wanita muda yang tulus dan sederhana, tanpa sengaja terjebak dalam cinta kepada Reynand — pria berwibawa yang sudah memiliki istri bernama Gisella. Di mata publik, rumah tangga mereka tampak sempurna. Namun saat kebenaran mulai terkuak satu per satu, tidak ada yang benar-benar tahu apa yang terjadi di balik pintu tertutup. Akankah Anindya pergi sebelum terlambat, atau ia akan tetap bertahan — terperangkap dalam cinta yang ternyata jauh lebih rumit dari yang ia kira?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Red_Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 31

Cahaya matahari menembus kaca jendela ruangan, menyinari tumpukan berkas yang sudah rapi di meja Anindya. Ia melangkah pelan, menatap meja kerja Reynand yang kosong dan tenang, sejenak membayangkan sosok pria itu di sana. Senyum tipis terukir di bibirnya, mengetahui perjuangan mereka perlahan membuahkan hasil.

‎‎Ia berbalik hendak keluar ruangan, namun baru saja ia membuka pintu pintu, langkahnya terhenti. Seorang pria berjalan mendekat, berpenampilan rapi dan berwibawa.

‎‎Anindya buru-buru menyapa dengan hormat.

‎‎"Selamat siang, Pak Aditya..." suaranya terdengar sopan namun sedikit gugup. "Maaf... Pak Reynand sedang tidak ada di tempat. Beliau sedang keluar menemui teman, mungkin sebentar lagi kembali."

‎‎Aditya tersenyum tipis, namun senyum itu terasa sulit dibaca. Ia berhenti tepat di depan pintu, menatap wanita itu lekat.

‎"Saya tahu," jawabnya tenang, nada bicaranya rendah namun tegas. "Saya bukan datang untuknya, Anindya. Saya datang untuk kamu."

‎‎Anindya tertegun sejenak, matanya mengerjap bingung.

‎‎"Untuk... saya?"

‎‎"Ya," Aditya mengangguk pelan, memberi isyarat agar ikut. "Mari ikut dengan saya. Ada hal yang ingin saya bicarakan. Di luar, di sebuah restoran yang tidak jauh dari sini."

‎‎Anindya menelan ludah, jantungnya berdegup tak tenang. Tatapan pria itu tidak mengancam, namun terasa berat dan serius. Ia melirik sekilas ke arah lift di depan sana, berharap melihat sosok Reynand muncul, namun tempat itu masih sepi.

‎‎"Ba... baik, Pak," jawabnya lirih, akhirnya mengangguk. "Saya ikut Bapak."

‎‎Ia memastikan pintu ruangan tertutup rapat, lalu melangkah mengikuti Aditya yang berjalan di depannya. Sepanjang perjalanan menuju mobil, pikirannya berkecamuk, apa yang ingin dibicarakan? Apakah ada hal buruk yang terjadi? Apakah berhubungan dengan hubungannya dengan Reynand?

‎‎Mobil melaju tenang, keheningan menyelimuti mereka. Aditya tidak banyak bicara, hanya menatap ke depan. Anindya duduk di sampingnya, menata napas sebaik mungkin, berusaha menenangkan diri.

‎‎Tak lama kemudian, kendaraan berhenti di depan sebuah restoran bergaya klasik yang tenang, jauh dari keramaian. Suasana di dalamnya harum dan damai, dengan cahaya lembut yang menyinari setiap sudutnya. Mereka duduk di sudut yang agak tersendiri, jauh dari jangkauan pendengar lain.

‎‎Aditya menyandarkan punggungnya, menatap Anindya yang duduk di hadapannya, tangan wanita itu tergenggam erat di atas pangkuan.

‎‎"Tidak perlu gugup, Anindya..." ucapnya pelan, namun nada itu tak sepenuhnya menenangkan. "Saya tidak datang untuk menyulitkanmu. Saya hanya ingin jujur, dari hati ke hati."

‎‎Anindya menarik napas panjang, mengangguk perlahan.

‎‎"Silakan, Pak. Saya mendengarkan."

‎‎Suasana di restoran itu hening sejenak, hanya terdengar denting sendok pelan dari meja lain. Aditya menatap ke jendela sebentar, seakan menata kenangan yang sudah lama tersimpan, lalu kembali menatap Anindya.

‎‎"Reynand saat menikah dulu usianya baru dua puluh delapan tahun..." mulai Aditya pelan, suaranya rendah dan tenang. "Masih muda, namun sudah kami bebankan tanggung jawab besar di pundaknya. Pernikahan dengan Gisella adalah jalan yang kami yakini paling tepat karena selama ini keluarga Wijaya yang membantu menopang perusahaan."

‎‎Ia menarik napas panjang, menghela pelan.

‎‎"Kami tidak menanyakan perasaannya, tidak memberi dia pilihan lain. Kami katakan, ini demi nama keluarga, demi masa depan semua orang. Dan Reynand... dia hanya bisa menerima. Tidak membantah, tidak menolak. Dia diam saja, mengangguk, lalu menjalani semuanya seperti yang kami minta."

‎‎Anindya terdiam, mendengarkan sambil menahan napas. Jemarinya saling bertaut di atas meja.

‎‎"Tiga tahun berlalu sejak itu..." lanjut Aditya, matanya berkaca-kaca pelan. "Dia hidup dalam pernikahan yang hampa itu bertahun-tahun, Anindya. Tanpa berani melawan, tanpa berani berharap pada hal lain. Sampai sekarang usianya tiga puluh satu tahun, dan baru kali ini... dia berani berdiri sendiri, berani memilih apa yang dia inginkan."

‎‎Aditya menatapnya lekat.

‎‎"Dan kamu lah yang membangunkannya."

‎‎Anindya menelan ludah, dadanya terasa sesak. Ia ingin bicara, namun kata-kata tertahan di tenggorokan.

‎‎"Saya... saya tidak bermaksud mengubah apapun, Pak..." suaranya bergetar pelan. "Saya hanya—"

‎‎"Saya tahu," potong Aditya lembut, mengangkat tangan pelan seakan menenangkan. "Saya tidak datang untuk menuduhmu. Justru sebaliknya... saya datang untuk mengakui kesalahan kami."

‎‎Ia memandang ke luar jendela sejenak, lalu kembali menatap wanita itu dengan sorot mata yang serius.

‎‎"Tapi Anindya... jalannya tidak akan mudah. Keluarga Wijaya tidak akan diam begitu saja. Gisella... dia tumbuh dengan keyakinan bahwa apa yang menjadi miliknya harus tetap menjadi miliknya. Dan perpisahan ini, ditambah keputusan Reynand untuk mencabut kerja sama... itu mempermalukan mereka. Mereka tidak akan membiarkan begitu saja."

‎‎Anindya merasakan dingin menjalar di sekujur tubuhnya. ‎‎"Maksud Bapak...?"

‎‎Aditya menghela napas berat. ‎"Saya hanya ingin kamu tahu, Nak. Apa yang kalian jalani sekarang... ini baru permulaan. Saya tidak ingin kamu terluka. Terutama karena ada pihak yang mungkin tidak segan menggunakan segala cara."

-

-

-

Sementara itu, di sebuah kamar hotel yang tenang dan berpenampilan rapi, Reynand duduk di kursi empuk di samping jendela yang menampakkan pemandangan kota dari ketinggian. Di hadapannya duduk Kaivan, sahabat lamanya sejak masa kuliah.

‎‎Kaivan menuangkan kopi ke cangkir, mendorongnya pelan ke arah Reynand.

‎‎"Sudah lama sekali kita tidak duduk seperti ini," ucap Kaivan pelan, suaranya rendah namun akrab. "Sejak kamu menikah... seakan kamu hilang dari dunia ini, Rey."

‎‎Reynand tersenyum tipis, menyentuh cangkir yang hangat di tangannya.

‎‎"Pernikahan itu... bukan sekedar menyatukan dua orang, Van. Itu menyatukan dua dunia. Aku tidak bisa lari begitu saja."

‎‎Kaivan mengangguk pelan, menatapnya lekat.

‎‎"Aku dengar banyak hal belakangan ini. Pemutusan kerja sama... perceraian yang diajukan sepihak... nama Gisella dan keluargamu terseret ke mana-mana." Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan lembut. "Dan ada satu nama yang selalu muncul di sampingmu. Anindya."

‎‎Reynand tidak menyangkal, ia hanya menatap ke luar jendela, di mana matahari siang itu begitu terik menyinari bumi.

‎‎"Dia bukan penyebab semua ini, Kaivan. Dia justru alasan aku akhirnya berani menjadi diriku sendiri."

‎‎"Kau yakin siap menanggung semua risikonya?" tanya Kaivan, nada bicaranya penuh kekhawatiran, bukan menghakimi. "Keluarga Wijaya tidak akan membiarkan ini begitu saja. Kau tahu betapa bangganya mereka, dan betapa berbahayanya saat harga diri mereka diinjak."

‎‎Reynand mengepalkan tangan di lututnya, namun matanya teguh, tak goyah sedikit pun.

‎‎"Aku tahu. Dan aku sudah siap. Aku tidak akan membiarkan siapapun menyakitinya. Tidak akan."

‎‎Kaivan menghela napas panjang, melihat ketegasan di wajah sahabatnya.

‎‎"Baiklah," ucapnya akhirnya. "Kalau begitu... aku ada di sini. Apapun yang terjadi, Rey. Temanmu tidak hanya saat senang."

‎‎Reynand tersenyum tulus, ‎"Terima kasih, Kaivan. Itu sudah lebih dari cukup."

‎‎Ia berdiri, merapikan jasnya pelan. "Aku harus pulang, Van. Sudah jam dua."

‎‎Kaivan ikut berdiri, menepuk bahu sahabatnya. "Hati-hati, Rey. Kabari aku kalau ada apa-apa."

‎‎Reynand mengangguk, tersenyum tipis. "Pasti."

‎‎Ia melangkah keluar dari kamar itu, menutup pintu pelan di belakangnya. Baru saja ia berjalan beberapa langkah menyusuri lorong yang sepi, langkahnya tiba-tiba terhenti.

‎‎Dari salah satu kamar di seberang sana, pintunya terbuka lebar. Seorang pria melangkah keluar dengan wajah tegang dan langkah tergesa.

‎‎Jantung Reynand seakan berhenti berdetak. Ia segera menekan tubuhnya ke dinding, mengintai dari kejauhan. Hendra menoleh ke kiri dan kanan dengan gelisah, lalu bergegas melangkah menuju lift di ujung lorong. Jemarinya menekan tombol berkali-kali, tak sabar. Begitu pintu terbuka, ia masuk dan pintu tertutup kembali.

‎‎Keheningan kembali menyelimuti lorong itu. Namun belum lama berselang, pintu kamar yang sama terbuka lagi.

‎‎Seorang wanita melangkah keluar. Tubuhnya sedikit membungkuk, rambutnya berantakan seakan diatur tergesa-gesa. Ia menatap sekeliling dengan cemas, lalu buru-buru merapikan pakaiannya dan berjalan menjauh ke arah lift yang sama tanpa menoleh sedikit pun.

‎‎Reynand menatapnya lekat, berusaha mengenali wajah itu, namun ia sama sekali tak pernah melihat wanita itu sebelumnya.

‎‎Dahinya berkerut dalam. Pikirannya berkecamuk tak tenang. ‎Apa yang dilakukan ayah mertuanya di dalam kamar hotel, bersama seorang wanita dan di siang bolong begini?

‎‎Pertanyaan itu berputar-putar di kepalanya, tak menemukan jawaban. Bukankah Hendra selalu tampil sebagai pria keluarga yang teguh, penuh wibawa, dan sangat menjaga nama baik? Lalu apa artinya semua ini?

‎‎Reynand tetap berdiri terpaku di tempatnya, perasaan tidak enak perlahan merayapi dadanya. Ada sesuatu yang tersembunyi di balik ini semua, sesuatu yang jauh lebih besar dari sekedar pertemuan rahasia.

-

-

-

Bersambung...

1
🍓ADIRA🍓
Bayi tua minta dimanja /Joyful//Joyful//Joyful//Joyful//Joyful/
🔥Violetta🔥: Astaga /Facepalm//Facepalm//Facepalm/
total 5 replies
🍓ADIRA🍓
Mo ambil kesempatan dalam kesempitan y Rey 😝😝😝 modismu Rey.. Rey.. 🤣🤣🤣🤣
🍓ADIRA🍓
Masih aja menyalahkan orang lain y si pak tua /Cleaver//Cleaver//Cleaver//Cleaver//Cleaver//Cleaver//Cleaver//Cleaver//Cleaver//Curse//Curse//Curse//Curse//Curse/
🍓ADIRA🍓
Mampooosss... 😝😝😝 berlapis-lapis kan hukumannya /Joyful//Joyful//Joyful//Joyful//Joyful//Joyful//Joyful//Joyful//Joyful//Joyful//Joyful//Joyful/
🍓ADIRA🍓
Y y y... move on Gis.. move on y.. ada Gavin yg otw menuju kamu tuh 🤣🤣🤣
🍓ADIRA🍓
Bahagianya sama siapa dulu Vin 🙄
🍓ADIRA🍓
Dah bobok bareng pasti ada lah 😝😝
🍓ADIRA🍓
Restunya full ini mah 🤣🤣🤣
🍓ADIRA🍓
Masih nanya ada apa 😝😝😝🤣🤣🤣
🍓ADIRA🍓
Sokoorriinnn 😝😝😝
🍓ADIRA🍓
Oh y y ingat Thor 🤭
🍓ADIRA🍓
Alina.. Revan.. kok seperti gak asing y Thorrrr 🤔
🍓ADIRA🍓
SAH 🤣🤣🤣🤣
Lilies Nuer Hidri'yani
kenapa manggilnya tidak Mas aja, lebih sopan, lebih romantis juga🥰
🔥Violetta🔥: Nanti ada momennya kak 🤭
total 1 replies
〈⎳ FT. Zira
modus lu Reyy😏😏
〈⎳ FT. Zira
penjaranya bukan penjara indo ya? pakai telepon
〈⎳ FT. Zira: iya.. emang gak di sebut, paham juga kok smaa maksdnya.. maksudku di sepanjang alurnya itu, set nya sudah masuk indo./Joyful/
total 4 replies
〈⎳ FT. Zira
kehilangan 2 istri kan dirimu😏
〈⎳ FT. Zira
belum tentu.. coba ungkapin dulu.. sesama G loh kalian , tanda jodoh🤭🤭🤭
〈⎳ FT. Zira
lamar aja si gis🤭
〈⎳ FT. Zira
jangankan sama Rey.. yg darah dagingnya sendiri aja dia tega🤧
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!