Setelah melewati penolakan, kehilangan buah hati pertama, dan perjuangan panjang, Nala dan Kim Namjunho akhirnya memiliki kehidupan yang mereka impikan. Restu keluarga telah mereka dapatkan, dan seorang putra kecil melengkapi keluarga mereka.
Namun, satu hal tak pernah berubah.
Nala masih menjadi istri rahasia—perempuan yang dicintai Junho, tetapi tak pernah bisa ia akui di hadapan dunia.
Nala bertahan karena percaya pada cinta yang dahulu membuat mereka melawan segalanya. Hingga perlahan, Junho berubah. Sorot matanya tak lagi sama. Pria yang dulu berjanji akan berjuang bersamanya, kini membuat Nala merasa harus berjuang seorang diri.
Ketika cinta masih ada, tetapi kepercayaan mulai runtuh, apa yang tersisa? Apakah cinta saja cukup untuk mempertahankan sebuah rumah tangga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BYNK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15: Pengganggu Kecil.
Pagi itu, Nala mengerjap pelan, merasa silau oleh cahaya matahari yang merembes masuk melalui celah gorden di kamarnya. Sinar keemasan jatuh tipis di lantai dan sebagian ranjang, membuat suasana kamar perlahan terasa lebih terang.
Saat matanya terbuka sepenuhnya, ia tidak melihat Junho di sana. Sisi ranjang itu kosong, meskipun jelas masih terdapat bekas tubuh pria itu di atas kasur. Selimut yang sedikit berantakan dan bantal yang masih menyisakan cekungan menjadi tanda bahwa beberapa saat lalu Junho masih berada di sana.
Hal itu membuat Nala menghela napas panjang, entah sejak kapan ia mulai terbiasa mencari keberadaan pria itu setiap kali membuka mata.
Nala bangun, lalu meraih ponsel dari atas meja di samping ranjang. Saat membuka pesan yang masuk, jam baru menunjukkan pukul enam pagi waktu setempat.
Hari ini sama seperti hari-hari sebelumnya. Semuanya terasa monoton dan berjalan dalam rutinitas yang hampir selalu sama. Namun, saat hendak turun dari ranjang, sebuah panggilan masuk muncul di layar ponselnya.
Nama ibunya tertera di sana membuat senyum Nala seketika mengembang, karena sesibuk apa pun harinya, setiap kali wanita itu menghubunginya, ada rasa hangat yang selalu muncul di dalam dadanya.
“Nyi...” panggilnya begitu panggilan tersambung.
Nala tersenyum ketika wajah wanita yang sudah tak lagi muda itu muncul di layar. Wajahnya mulai dihiasi kerutan, menampakkan garis-garis waktu yang perlahan meninggalkan jejak di sana. Rambutnya pun tak lagi sehitam dahulu.
Namun, ada satu hal yang tidak pernah ikut lekang bersama usia—cinta dan perhatian wanita itu kepada semua putra dan putrinya.
“Mama, sehat?” tanya Nala sembari tersenyum.
“Atuh sehat... Alhamdulillah. Kumaha didinya? (Iya, sehat... Alhamdulillah. Bagaimana kabar di sana?)” jawabnya.
Nala mengangguk kecil.
“Di sini baik, Mah. Semuanya sehat...” balas Nala, membuat wanita itu tersenyum bahagia.
“Kamu kurus sekali, Nyi. Makan yang banyak. Jangan sakit di sana, Mama susah ngurusnya,” katanya lagi dengan nada penuh kekhawatiran.
Nala terkekeh kecil mendengarnya.
“Iya, Ma. Nala memang diet kemarin. Berat Nala naik, jadi memang harus mengurangi makan,” bohong Nala, jelas tidak sedang melakukan program diet apa pun.
Tubuhnya memang kecil dan cenderung sulit bertambah besar. Karena itu, setiap kali sang ibu melihatnya, kekhawatiran yang sama selalu muncul. Nala tahu, di mata wanita itu, berapa pun usianya nanti, ia tetaplah anak perempuan yang harus dipastikan sudah makan dengan cukup dan baik-baik saja.
“Di mana suami dan anakmu?” tanyanya, membuat Nala terdiam sejenak. Ia tidak mungkin bercerita jika sedang bertengkar dengan Junho. Namun, bersamaan dengan itu, pintu kamar terbuka.
Pria itu masuk dengan pakaian santainya, lalu berjalan ke arahnya.
“Ayo sarapan,” ajaknya, belum menyadari bahwa Nala sedang melakukan panggilan video dengan ibunya.
“Iya. Sebentar, aku sedang bicara dengan Mama,” kata Nala pelan. Junho membulatkan matanya sebentar. Tanpa diminta, ia ikut duduk di tepi ranjang, tepat di samping Nala.
“Nala... Junho ada di sana?” tanya Sumiati, membuat fokus Nala kembali kepada ibunya.
“Iya, Ma, ada. Dia duduk di sini,” ucap Nala sembari menatap Junho sebentar. Tanpa ragu, Junho mengambil ponsel Nala, lalu melambaikan tangan ke arah kamera untuk menyapa ibu mertuanya.
“Halo, Ma,” sapanya dengan bahasa Indonesia yang lancar, meskipun masih terdengar logat Korea yang cukup kental.
Sumiati tersenyum lembut dari seberang sana.
“Apa kabar, Nak?” tanyanya.
“Aku sehat, Ma,” jawab Junho sopan.
Senyumnya tampak rapi, sementara bahunya sedikit condong ke arah kamera, gestur yang selalu ia gunakan ketika ingin menunjukkan bahwa ia benar-benar hadir dan memperhatikan lawan bicaranya. Sumiati mengangguk pelan. Wajah tuanya terlihat lega mendengar jawaban menantunya.
“Syukur atuh. Kamu kelihatan kurusan juga, Nak. Kerja jangan kebanyakan. Tetap pikirkan kesehatan kalian,” ucapnya membuat Junho tertawa kecil.
“Iya, Ma. Saya usahakan,” jawabnya lagi.
Nala memperhatikan dari samping bagaimana cara Junho berbicara kepada ibunya dengan nada yang selalu sama; tenang, tertib, dan penuh hormat. Tidak ada sedikit pun celah yang memperlihatkan sisa ketegangan di antara mereka sejak semalam.
Seolah-olah pertengkaran itu tidak pernah terjadi.
Nala menatap wajah Junho beberapa detik lebih lama. Pria itu tetap tersenyum kepada ibunya, sesekali mengangguk ketika Sumiati berbicara. Namun Nala tidak tahu apakah itu memang sudah menjadi kebiasaannya, atau justru bentuk lain dari caranya menahan diri.
“Jun-seok di mana?” tanya Sumiati lagi.
“Masih tidur, Ma,” jawab Nala lebih dahulu.
“Wajar, anak seusianya memang tenaganya besar, tetapi juga gampang lelah,” sahut Sumiati lembut.
Junho mengangguk setuju.
“Nanti saya bangunkan pelan-pelan. Hari ini tidak ada kegiatan pagi karena libur sekolah, jadi biarkan saja,” jawab Junho, membuat Sumiati tersenyum puas.
“Bagus. Anak jangan dipaksa. Kalau bisa, hari libur itu kumpul,” katanya, yang kembali membuat Junho mengangguk.
“Iya, Ma,” jawab Junho lagi. Nadanya tetap sama—hangat dan menenangkan.
Beberapa detik berlalu. Hening kecil menyusup di antara percakapan mereka, cukup untuk membuat Nala merasa bahwa ibunya sedang memperhatikannya lebih dalam.
“Nala,” panggil Sumiati pelan.
“Iya, Ma?” jawab Nala. Ia yang sedari tadi menunduk perlahan mengangkat kepalanya.
“Kamu istirahat yang cukup. Jangan kebanyakan dipikirkan. Kalau capek, bilang. Jangan bekerja terlalu keras,” ucap Sumiati. Nada suaranya terdengar lebih seperti sebuah permintaan daripada peringatan.
Nala tersenyum tipis, lalu mengangguk kecil.
“Iya, Ma. Nala baik-baik saja,” jawabnya.
Jawaban itu membuat Junho melirik sekilas ke arahnya. Tatapannya hanya bertahan beberapa detik, cukup singkat dan sulit dibaca, sebelum akhirnya kembali tertuju pada layar ponsel.
“Kapan pulang ke sini? Sudah lama sekali Bapakmu rindu pada Seok, katanya. Mama juga,” tanya Sumiati.
“Belum tahu pasti. Nanti kalau waktunya pas, Nala kabari,” jawab Nala jujur. Sumiati mengangguk pelan.
“Mama doakan dari sini. Kalian jaga diri baik-baik,” katanya lagi.
“Terima kasih, Ma,” ucap Junho bersamaan dengan Nala.
Setelah berpamitan, panggilan pun berakhir layar ponsel kembali gelap, dan kamar itu seketika terasa lebih luas atau mungkin justru lebih kosong. Kehangatan yang tadi sempat hadir melalui suara Sumiati perlahan menghilang bersama berakhirnya panggilan.
Junho menyerahkan ponsel itu kembali kepada Nala sembari berucap dingin.
“Aku sudah siapkan sarapan. Sekarang pergi mandi,” ujarnya singkat.
“Iya,” jawab Nala pelan.
Junho berdiri lebih dahulu dia merapikan kaus santainya sekilas, lalu melangkah keluar dari kamar tanpa menoleh lagi. Sementara Nala masih duduk beberapa detik di tepi ranjang. Tatapannya jatuh pada sisi tempat tidur yang tadi pagi kosong, tempat Junho biasanya berada ketika mereka bangun bersama. Ada sesuatu yang terasa berbeda pagi ini, meskipun tidak ada satu pun dari mereka yang mengatakannya.
Nala menarik napas dalam-dalam, mencoba mengusir perasaan yang kembali mengusik dadanya, sebelum akhirnya bangkit dan berjalan menuju kamar mandi. Hari ini memang hari libur. Artinya, mereka memiliki lebih banyak waktu untuk bersama di rumah.
Namun, untuk pertama kalinya, waktu yang panjang itu justru terasa seperti sesuatu yang tidak Nala tahu harus diisi dengan apa sedangkan Junho masih dingin kepadanya dan Nala sendiri belum tahu bagaimana mereka akan melewati hari ini tanpa kembali terjebak dalam keheningan yang sama.
Sementara itu, Junho yang baru saja keluar dari kamar langsung naik ke lantai atas untuk membangunkan putra mereka. Jam masih menunjukkan setengah tujuh pagi masih terlalu pagi untuk beraktivitas, tetapi sudah terlalu siang untuk terus tidur.
Junho membuka pintu kamar Jun-seok perlahan. Suasana di dalam masih remang-remang, hanya cahaya matahari pagi yang menyelinap melalui celah tirai dan jatuh tipis di lantai.
“Adeul... Ireona.” Junho duduk di tepi ranjang, lalu menggoyangkan bahu sang putra pelan. Namun, sentuhan pertama itu hanya membuat tubuh kecil Jun-seok bergerak sedikit sebelum kembali diam.
Junho menghela napas kecil kemudian menggoyangkan bahu putranya sekali lagi.
“Ayo, bangun.”
Butuh beberapa kali hingga akhirnya Jun-seok menggeliat di balik selimut. Matanya masih terpejam rapat, sementara rambutnya berantakan ke segala arah.
“Daddy... lima menit lagi Seok masih mengantuk,” gumamnya serak. Junho hampir tersenyum mendengar suara mengantuk itu.
“Kita mau sarapan. Seok tidak mau?” tanyanya lembut.
“Ada Mommy?” tanya Jun-seok dengan mata yang masih tertutup. Pertanyaan sederhana itu membuat Junho mengangguk kecil.
“Tentu saja. Mommy sudah mandi. Kamu juga mandi, lalu cepat turun, ya. Daddy tunggu di bawah,” ucap nya sembari bangkit dan meninggalkan putranya yang masih bergelung di dalam selimut.
Jun-seok bahkan kembali memeluk erat boneka koala besar yang terbaring di sampingnya, seolah benda itu jauh lebih menarik daripada ajakan untuk bangun pagi.
Pintu ditutup perlahan oleh Junho, ia kembali turun ke lantai bawah. Namun, saat melewati meja makan, langkahnya tiba-tiba terhenti. Di atas meja, ia melihat kantong plastik kecil berisi salep yang tadi ia pesan untuk Nala.
Pandangan Junho jatuh pada kantong tersebut selama beberapa detik. Ia tahu kaki wanita itu lecet. Ia hanya tidak mengetahui dengan jelas apa penyebabnya. Namun, melihat luka itu semalam sudah cukup membuat pikirannya terus kembali kepadanya.
Tanpa banyak berpikir, Junho meraih kantong tersebut dan membawanya masuk ke kamar.
Saat pintu terbuka, Nala sedang duduk di depan meja rias. Rambutnya yang masih sedikit lembap disisir perlahan, membuat beberapa helai rambut jatuh di sisi wajahnya. Nala sedikit tersentak ketika menyadari Junho masuk.
“Sebentar lagi aku belum memakai serum,” ucapnya, seolah sudah mengetahui kehadiran Junho berarti pria itu kembali mengajaknya sarapan.
Namun, Junho tidak menjawab dia justru berjalan mendekat, lalu tanpa aba-aba berjongkok di hadapan Nala, tentu saja hal itu membuat Nala mengernyit bingung ketika pria itu meraih salah satu kakinya dan mengangkatnya perlahan ke pangkuannya.
“Oppa, apa yang kamu lakukan?” Nala refleks berusaha menarik kakinya, tetapi Junho menahannya dengan hati-hati.
“Diam,” katanya singkat.
Nadanya terdengar tegas, tetapi gerakannya justru jauh lebih lembut. Junho membuka salep yang berada di dalam kantong tersebut. Kemudian, ia mengambil sedikit dengan ujung jarinya dan mengoleskannya perlahan pada bagian kulit Nala yang lecet.
Gerakannya begitu hati-hati, seakan sedikit tekanan saja bisa membuat luka itu kembali terasa perih. Sesekali, Junho bahkan meniup pelan bagian yang baru saja ia olesi, seolah hembusan napasnya benar-benar mampu mengurangi rasa sakit yang dirasakan Nala.
Nala terdiam tangannya yang semula masih memegang sisir perlahan berhenti bergerak. Ia menatap pria yang kini berjongkok di hadapannya, memperhatikan bagaimana Junho begitu teliti merawat luka di kakinya tanpa banyak bicara.
Tidak ada permintaan maaf, apalagi penjelasan. Nala menatap puncak kepala pria itu. Rambut Junho sedikit berantakan, beberapa helainya jatuh tidak beraturan, sementara ekspresi wajahnya tertutup oleh sikap tenang yang sengaja ia pertahankan.
“Oppa...” panggil Nala lebih lirih. Nadanya melembut tanpa ia sadari.
Junho tidak langsung menoleh tetapi tangannya masih sibuk mengoleskan salep dengan gerakan perlahan, seolah perhatian pada luka di kaki Nala jauh lebih mudah ia tunjukkan daripada apa yang sebenarnya ingin ia katakan.
“Kenapa tidak bilang?” tanyanya. Nada suaranya terdengar seperti sedang marah, membuat Nala mengernyit kecil.
“Itu hanya lecet. Aku tidak kenapa-kenapa,” ucap Nala, berusaha meyakinkan, namun Junho malah mendengus pelan.
“Tidak apa-apa, tetapi semalam menangis,” sindirnya.
Nala langsung terdiam karena tidak menyangka Junho memperhatikan hal itu.
Junho menutup salep tersebut, tetapi masih menahan kaki Nala di pangkuannya selama beberapa detik lebih lama dari yang diperlukan. Ibu jarinya mengusap ringan area di sekitar luka, tidak menyentuh bagian yang sakit, tetapi cukup dekat untuk menyampaikan perhatian yang tidak mampu ia ungkapkan dengan kata-kata.
“Aku minta maaf,” ucapnya akhirnya.
Nada suaranya rendah, tidak dramatis dan tidak berlebihan. Namun, dua kata itu cukup untuk membuat Nala mengangkat wajah.
“Untuk apa?” tanya Nala pelan.
Pertanyaan itu membuat Junho berdiri perlahan. Kini, ia masih berada sangat dekat di hadapan Nala. Terlalu dekat untuk sekadar dianggap kebetulan.
“Aku dingin. Seharusnya aku tidak mendiamkanmu seperti itu. Kemarin aku hanya kesal karena kamu tetap pergi, padahal hari itu ada acara seni Jun-seok,” katanya jujur.
Nala menatap wajahnya beberapa saat. Ada sedikit keterkejutan di matanya, seolah ia masih berusaha mencerna kenyataan bahwa pria yang hampir tidak pernah mengakui kesalahannya itu justru meminta maaf lebih dahulu.
“Kamu jarang minta maaf. Kenapa tiba-tiba?” tanya Nala penuh selidik. Junho menatapnya tanpa menghindar.
“Aku jarang salah dengan sadar,” jawab Junho singkat.
Nala mengangkat satu alis namun, sebelum sempat menanggapi, Junho melanjutkan dengan suara yang lebih pelan.
“Tapi kali ini, iya,” lanjut nya pelan.
Hening singkat menggantung di antara mereka. Nala masih duduk diam di kursi rias, sementara Junho berdiri tepat di hadapannya. Tatapan mereka bertemu, tidak lagi setajam kemarin. Perlahan, Nala menundukkan pandangan sejenak. Namun, tanpa sadar, sudut bibirnya bergerak tipis.
“Aku tidak marah. Aku hanya lelah saja. Kemarin begitu banyak pekerjaan di kantor, lalu saat hendak pergi ke sekolah Jun-seok, malah macet. Itu sebabnya aku berjalan kaki ke sana dan akhirnya kakiku lecet,” kata Nala akhirnya.
Junho langsung membelalak mendengar pengakuan Nala. Ia sama sekali tidak menyangka jika istrinya berjalan kaki kemarin. Pantas saja sopir menyerahkan kunci mobil kepadanya malam tadi, sembari menitipkan beberapa dokumen kerja milik Nala.
“Kamu jalan kaki?” tanyanya, memastikan kembali.
Nala mengangguk.
“Aku takut Oppa marah dan Jun-seok kecewa saat aku terlambat,” kata Nala.
Jawaban itu membuat Junho terhenyak, tatapan pria itu berubah seketika. Ada sesuatu yang melintas di matanya—rasa bersalah yang datang begitu cepat setelah menyadari bahwa kemarin ia hanya melihat hasil akhirnya tanpa pernah bertanya bagaimana istrinya sampai di sana.
Perlahan, tangannya terangkat dia sempat ragu sesaat sebelum akhirnya menyentuh sisi wajah Nala. Ujung jarinya menyusuri rahang dengan kehati-hatian yang nyaris terlalu sopan untuk ukuran suami istri. Ibu jarinya kemudian berhenti di bawah mata Nala, seolah memastikan wanita itu benar-benar baik-baik saja.
“Kenapa tidak bicara... Astaga, selalu saja simpan segalanya sendiri,” ucapnya rendah.
Nala mengembuskan napas kecil, nyaris menyerah pada sentuhan itu. Ada kehangatan yang perlahan merambat di balik kulitnya, membuat sisa kekesalan yang sejak kemarin ia tahan terasa semakin sulit dipertahankan.
“Aku semalam mau bicara, tetapi Oppa malah diam. Bagaimana aku mau bicara?” tanyanya sembari cemberut.
Junho tidak menjawab tapitatapannya masih tertahan pada wajah Nala. Seolah-olah untuk beberapa detik, ia lupa pada semua hal yang sejak tadi ingin dikatakannya.
Ia hanya mencondongkan tubuh sedikit—terlalu sedikit untuk disebut berani, tetapi cukup dekat untuk membuat Nala menahan napas.
Jarak di antara mereka semakin menyempit sampai Nala dapat merasakan hembusan napas Junho yang hangat di wajahnya. Bibir pria itu hampir menyentuh bibirnya—
“Mommy!!” teriak Jun-seok dari luar kamar.
Pintu kamar terbuka tiba-tiba dengan hentakan keras hingga bunyinya menggema singkat di dalam ruangan. Jun-seok berdiri di ambang pintu dengan rambut acak-acakan, mata sembap, dan air mata yang masih menggantung di bulu matanya.
Boneka koala besar terseret di satu tangannya, sementara tangan yang lain mengusap wajah dengan gerakan kasar.
“Astaga... mengganggu saja anak itu,” gumam Junho spontan. Ia langsung menjauh setengah langkah dari Nala, begitu pula dengan Nala yang tersentak dan refleks menurunkan kakinya.
“Ada apa, sayang?” tanya Nala cepat seraya berdiri.
Jun-seok berlari kecil ke arahnya, lalu memeluk pinggang Nala erat-erat. Wajahnya segera disembunyikan di perut sang ibu, sementara tubuh kecilnya masih berguncang menahan tangis.
“Aku mimpi buruk... Tadi aku mau mandi, tetapi karena masih mengantuk, aku tertidur lagi di kasur, lalu...” Tangisnya kembali pecah. Suaranya terdengar tersendat-sendat di sela isakannya.
Junho mengembuskan napas pasrah, dia menatap Nala yang sudah melangkah mendekati putra mereka, sementara dirinya hanya berdiri di tempat.
“Mimpi apa?” tanya Nala lembut sembari mengusap punggung anak itu perlahan. Jun-seok menggeleng tetapi isakannya masih terdengar kecil.
“Aku lupa... tetapi aku takut. Aku tidak mau tidur di kamar itu lagi. Di sana aku selalu mimpi buruk. Aku mau tidur dengan Mommy dan Daddy saja seperti dulu,” ucapnya.
Nala terdiam sejenak lalu melirik Junho, lalu sudut bibirnya perlahan terangkat membentuk senyum kecil. Sebuah senyum yang entah mengapa langsung membuat Junho curiga.
Pria itu menggeleng pelan sembari menatap Nala tajam. Tatapannya seolah memberikan kode keras agar istrinya jangan sekali-kali mengiyakan permintaan Jun-seok.
Namun, Nala sama sekali tidak menggubrisnya dia justru memeluk Jun-seok lebih erat, membiarkan kepala anak itu bersandar nyaman di tubuhnya.
Junho mengembuskan napas panjang karena sepertinya momen yang tadi hampir kembali ia dapatkan memang benar-benar sudah berakhir.
Saat Nala hendak mengatakan sesuatu, Junho akhirnya mendekat. Ia berjongkok di hadapan Jun-seok agar posisi mereka sejajar. Tatapan Junho yang semula masih menyimpan sisa kekesalan perlahan melunak ketika melihat mata putranya yang sembap.
“Benar-benar takut?” tanyanya pelan.
Jun-seok mengangguk cepat membuat Junho menghela napas sekali lagi, lalu mengusap rambut putranya yang berantakan.
“Kalau begitu, jangan menangis. Daddy di sini,” ucap nya menenangkan, membuat Jun-seok mengangkat wajahnya.
“Boleh tidur dengan Mommy dan Daddy?” tanyanya penuh harap.
Namun, Junho justru terdiam dari ekspresinya saja sudah jelas bahwa pria itu benar-benar tidak setuju.
Melihat itu, Nala langsung menatapnya dengan senyum kecil yang semakin lebar. Senyum tersebut segera dibalas dengan ekspresi datar suaminya, seolah-olah pria itu sedang berbicara melalui tatapannya: Jangan macam-macam.
“Seok... Itu kan hanya mimpi. Di sini ada Daddy, Mommy juga ada. Seok kan sudah dewasa, jadi sudah harus bisa tidur sendiri. Lagipula, kalau Seok tidur dengan Mommy dan Daddy, bagaimana dengan Kiyo? Kasihan dia tidur sendirian,” ucap Junho sembari menatap putranya serius.
Nala hanya diam, memperhatikan keduanya sudut bibirnya terangkat saat melihat Jun-seok tampak berpikir sejenak, tetapi kemudian mengangkat wajahnya lagi.
“Tapi Ji-ah masih tidur dengan Keun-abeoji dan Keun-eomeoni. Mereka boleh, kenapa aku tidak?” tanya nya kecewa, Jun-seok kembali tertunduk. Tubuh kecilnya kemudian duduk di lantai, sementara boneka koala besar yang tadi dibawanya diletakkan di sampingnya.
Junho mengembuskan napas pelan.
“Ji-ah kan perempuan, sedangkan Seok laki-laki. Itu berbeda. Laki-laki harus berani. Seok bilang mau seperti Daddy, kan?” tanya Junho.
Mendengar itu, Jun-seok perlahan menoleh ke arah ayahnya. Tatapannya kemudian beralih kepada Nala, seolah-olah ingin memastikan kedua orang tuanya benar-benar ada di sana dan tidak akan meninggalkannya sendirian.
“Mommy...” rengeknya, meminta dukungan kepada Nala.
Nala yang sejak tadi hanya mengamati akhirnya tersenyum. Ia berjongkok di hadapan putranya, lalu mengusap rambutnya yang masih berantakan.
“Mommy akan menemani Seok tidur. Tetapi Seok tetap harus tidur di kamar Seok, ya. Lihat Sian, Seon-woo, Min-kyu, dan Yul. Mereka lebih kecil dari Seok, tetapi mereka sudah bisa tidur sendiri. Hebat, kan?” tanya Nala lembut.
Jun-seok menundukkan kepalanya. Wajahnya jelas menunjukkan ketidaksetujuan. Bibirnya mengerucut, sementara kedua tangannya masih menggenggam erat boneka koala di sampingnya.
“Tapi Seok takut tidur sendiri,” ucapnya kesal.
“Seok kan sudah besar. Harus belajar tidur sendiri,” ucap Junho, jelas tidak mau mengalah dari putranya. Nada suaranya terdengar tegas, seolah jika ia berhenti sekarang, kesejahteraannya sebagai seorang ayah sekaligus suami akan terancam.
“Tapi Daddy juga sudah besar! Lebih besar dari Seok! Kenapa Daddy harus tidur dengan Mommy?” Isak Jun-seok semakin keras. Ia bahkan merangkak pelan ke arah ibunya, menyeret boneka koalanya hingga ikut bergeser di lantai.
Nala memalingkan wajahnya sejenak, berusaha menyembunyikan rasa gemas melihat tingkah anak berusia sepuluh tahun itu. Namun, ketika Jun-seok kembali memanggilnya dengan suara penuh rengekan, ia tidak mampu menahan diri untuk tersenyum.
“Mommy... Seok mau tidur dengan Mommy...” rengeknya.
Nala akhirnya kembali berjongkok dan mensejajarkan dirinya dengan sang putra. Ia meraih dagu Jun-seok dengan lembut agar anak itu menatapnya.
“Kalau Seok takut tidur sendiri, Seok bisa panggil Daddy atau Mommy untuk menemani. Mommy janji akan datang.” Nala mengusap kedua mata putranya yang masih basah oleh sisa tangis. Kemudian, ia merapikan rambut Jun-seok yang berantakan dengan jemarinya. “Jadi, Seok tidak sendirian, ya. Ada Daddy dan Mommy yang selalu ada di dekat Seok.”
Jun-seok terdiam, dia masih terlihat tidak sepenuhnya puas, tetapi setidaknya tangisnya mulai mereda. Di belakang mereka, Junho hanya berdiri sambil menyilangkan kedua tangan di depan dada tatapannya berpindah dari Nala kepada Jun-seok.
Entah kenapa, pria itu merasa seperti baru saja kehilangan satu ronde dalam perdebatan yang bahkan tidak pernah ia minta. Dan yang lebih menyebalkan, istrinya sendiri tampaknya menikmati kemenangan kecil itu.
“Sudah. Sekarang ayo bersiap. Sebentar lagi Harabeoji dan Halmeoni datang. Mereka bilang ingin mengajak Seok jalan-jalan,” ucap Nala, yang seketika membuat wajah Jun-seok berbinar.
“Sungguh, Mommy?” tanyanya penuh antusias.
Nala mengangguk.
“Sungguh, sayang. Cepat mandi, ya. Sampai sana nanti, jangan lupa lihat Leon dan Luna. Ambil gambar juga, lalu tunjukkan kepada Mommy dan Daddy,” titah Nala.
Jun-seok mengangguk cepat.
“Mommy, kenapa Leon dan Luna tidak tinggal di sini juga?” tanyanya penasaran.
Nala tersenyum kecil.
“Karena tidak ada yang menjaga. Mommy bekerja, Daddy bekerja, Seok juga sekolah. Kita tidak boleh menelantarkan makhluk hidup, Nak. Kalau di sana, ada Harabeoji dan Halmeoni yang bisa merawat mereka, jadi mereka tidak akan kesepian,” jelas Nala.
Jun-seok kembali mengangguk. Penjelasan sederhana itu tampaknya cukup untuk membuat rasa penasarannya terjawab.
“Seok akan mandi. Oh, ya, Mommy... Seok mau makan bungeoppang dan susu cokelat, ya,” pintanya.
Nala mengangguk.
“Iya. Sudah, sana. Nanti Daddy yang pesankan bungeoppang-nya.”
Jun-seok mengangguk puas dia segera bangkit dan berlalu dari kamar sambil menyeret boneka koala besar yang masih berada di tangannya.
Begitu punggung kecil itu menghilang di balik pintu, Nala menoleh kepada Junho. Pria itu mengembuskan napas panjang. Bahunya bahkan tampak sedikit turun, seolah baru saja terbebas dari sebuah tekanan besar, melihat itu Nala tidak mampu menahan tawanya.
“Kau terlihat begitu takut Seok tidur di sini, Oppa,” godanya.
Junho mendengus pelan.
“Tentu saja. Dia pasti mengganggu kegiatan kita, iya, kan?”
Tanpa memberi kesempatan kepada Nala untuk menjawab, Junho meraih pinggang istrinya dan menarik tubuh wanita itu mendekat hingga nyaris tidak menyisakan jarak di antara mereka.
Nala sontak membelalak.
“Oppa... Ada Jun-seok.” Ia segera mendorong dada Junho, kemudian berlari keluar kamar sebelum pria itu sempat melakukan apa pun.
Junho hanya berdiri di tempat tangannya terangkat untuk mengacak rambutnya sendiri, sementara ia mengembuskan napas panjang dengan ekspresi frustrasi yang nyaris tidak pernah terlihat di wajahnya.
“Lihat saja...” gumamnya. Ia merapikan rambutnya yang semakin berantakan, lalu melangkah keluar menyusul istrinya. “Aku tidak akan kalah dengan anakku malam ini.”
⊹ ──༺𝐁𝐘𝐍𝐊༻── ⊹
Matahari pagi menyorot terang melalui jendela-jendela besar hunian tinggi tersebut. Cahaya keemasan jatuh memanjang di lantai dan sebagian meja makan, membuat ruangan itu terasa hangat setelah suasana kamar yang sempat dipenuhi ketegangan kecil.
Junho memilih duduk di salah satu kursi meja makan tatapannya tertuju pada Nala yang sibuk di area dapur, menuangkan susu ke dalam gelas sambil sesekali memeriksa sesuatu di atas meja.
Pria itu menyandarkan tubuhnya pada kursi, tetapi matanya tidak pernah benar-benar beralih dari istrinya. Seolah-olah setelah digagalkan berkali-kali pagi ini, ia masih sedang menyusun strategi untuk mendapatkan kesempatan berikutnya.