❝Let's meet in the future. Kita pasti akan bertemu kembali di masa depan. Setelah itu, mari kita buka time kapsul kita bersama-sama.❞
Ara hanyalah seorang wanita biasa yang tidak pernah menyangka bahwa hidupnya akan berubah setelah meminum ramuan ajaib yang membawanya kembali ke masa lalu, tepat sebelum seseorang yang paling dicintainya meninggal dunia.
Bara. Lelaki yang dicintainya itu tengah berjuang melawan leukemia stadium akhir. Namun, kali ini Ara mendapatkan kesempatan untuk mengubah takdirnya.
Sayangnya, kesempatan itu hanya diberikan selama 14 hari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon justjeha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Crazy of You
Day 1
"Ra! Bangun! Kerjaan lo dari dulu ngebo mulu, perasaan! Kelarin dulu ini tugas kelompok kita!"
Sora mengguncang-guncangkan tubuh Ara dengan cukup keras hingga akhirnya gadis itu terbangun dari tidurnya.
"Eh? Hah? Gue ada di mana ini?"
"Buset! Gini, nih, akibat ngebo kelamaan. Jadi oleng otaknya." Yuvin mendengus. "Lo lagi di perpustakaan, Ara! Lagi kerja kelompok bareng kita. Itu iler lo di lap dulu, coba."
Yuvin menunjuk sudut bibir Ara.
Memang sudah menjadi kebiasaan Ara untuk tidur sembarangan. Mau di kelas, kantin, perpustakaan, atau di mana pun selama ada meja dan ia bisa menyandarkan kepalanya dengan nyaman, Ara pasti akan langsung tertidur begitu saja.
Ara hanya meringis, lalu mengusap sudut bibirnya dengan tangan. Setelah itu, pandangannya beralih kepada teman-temannya satu per satu.
Yuvin.
Yohan.
Sora.
Ketiganya menatap Ara dengan ekspresi bingung.
"Dasar kebo!" Yohan menjitak kepala Ara. "Untung kita teman lo yang paling baik, Ra. Seenggaknya kita semua udah kebal sama kelakuan lo yang suka tidur di mana-mana."
Ara masih terdiam. Ia masih ingat dengan jelas bahwa sebelumnya dirinya berada di kamar setelah meminum ramuan dari wanita tua yang ditemuinya di toko buku.
Ia juga ingat bagaimana rasa kantuk tiba-tiba menyerangnya hingga akhirnya ia tertidur begitu saja.
Namun, seharusnya ia bangun di kamarnya. Bukan di perpustakaan kampus.
"Woy, Ara!" Sora melambaikan tangan di depan wajahnya. "Nyawa lo udah balik belum, sih?"
"Ini tugas mau dikelarin kapan?" Yohan ikut menyahut. "Gue ada janji habis ini."
Suara kedua temannya akhirnya menyadarkan Ara dari lamunannya.
"Kita lagi ngerjain tugas siapa, sih?"
Ketiganya langsung menatap Ara dengan tatapan tidak percaya. Mereka benar-benar heran dengan tingkah Ara yang terlihat sangat aneh hari ini.
"Si bangsul! Lo kenapa jadi kena anemia gini, sih, Ra?"
"Amnesia, Yohan ganteng!" Ara langsung menyahut. "Bukan anemia! Gue slepet juga nih otak lo!"
Yohan yang memang tidak terlalu pintar itu hanya melayangkan tatapan kesal kepada Sora. Lelaki itu mendengus karena Sora lagi-lagi berhasil membuatnya terlihat semakin bodoh di hadapan teman-temannya.
"Kita lagi ngerjain tugasnya Pak Adam, sayangku Ara!"
"Sayang-sayang kepala lo peyang!"
Ara langsung menjitak kepala Yuvin yang masih sempat-sempatnya menggoda dirinya di saat seperti ini. Padahal, ia benar-benar serius bertanya.
Ara bahkan belum menyadari sepenuhnya bahwa dirinya sudah terlempar ke masa lalu.
"Udah, berhenti!" Sora akhirnya menyela. "Ini tugas mending cepetan kita kelarin sekarang. Tenggat waktunya besok."
Ara dan ketiga teman dekatnya itu pun mengangguk. Mereka kembali fokus mengerjakan tugas kelompok.
Meskipun begitu, Ara masih berada dalam kebingungan. Ia semakin bingung ketika melihat tugas yang diberikan oleh dosen killer mereka.
Perasaan tugas pengembangan diri ini udah pernah gue kerjain bareng mereka. Tugas bulan lalu, kan? Kenapa Pak Adam ngasih tugas yang sama lagi?
"Ra, jangan ngelamun mulu. Entar lo kesambet." Yuvin menepuk bahu Ara. "Masih siang juga ini. Nggak lucu kalau lo kesurupan di perpus."
"Iya, iya. Bawel banget, ah, lo, Vin."
Ara merengut, kemudian kembali memusatkan perhatiannya pada tugas di hadapan mereka.
Lebih dari satu jam berlalu. Akhirnya, tugas kelompok mereka selesai.
Yohan dan Yuvin langsung pamit pulang karena memiliki urusan masing-masing, meninggalkan Ara dan Sora yang masih duduk santai di perpustakaan.
"Mau makan dulu nggak, Ra?" tanya Sora. "Gue laper, nih."
"Boleh. Mau makan di mana?"
"Di kantin aja. Keburu laper."
Ara mengangguk dan segera membereskan buku-bukunya. Ia berjalan santai di belakang Sora saat mereka keluar dari perpustakaan.
Namun, baru beberapa langkah meninggalkan gedung itu, seseorang dengan sengaja menjegal kaki Ara.
Bruk!
Tubuh Ara langsung kehilangan keseimbangan dan terjatuh.
"Sialan! Siapa, sih? Iseng banget!"
Ara buru-buru bangkit. Ia langsung menoleh ke arah orang yang menjegalnya, berniat memarahinya.
Namun, kemarahannya seketika menghilang. Matanya membulat. Tubuhnya membeku.
Lelaki yang selama beberapa hari terakhir hanya bisa ia rindukan itu berdiri tidak jauh darinya.
Bara Samudera.
Ini... gue berhasil kembali ke masa lalu? Bara ada di sini. Apa gue cuma lagi mimpi?
Ara masih menatap Bara seolah takut lelaki itu akan menghilang jika ia berkedip.
"Kamu?"
Bara mengernyit.
"Kamu kok bisa ada di sini?"
Ara menoleh kepada Sora.
"Ini gue sebenarnya lagi mimpi apa nggak, sih?"
"Hah?"
"Sora, coba cubit pipi gue sekarang!"
"Apa?"
"Cepetan!"
Sora yang semakin bingung akhirnya mencubit pipi Ara cukup keras.
"Aduh!"
Ara langsung meringis kesakitan. Ia memegang pipinya sendiri.
Sakit. Berarti ini nyata.
"Lo lagi sakit apa gimana, sih, Ra?" Sora menggelengkan kepala. "Dari tadi lo aneh banget, sumpah! Emang kenapa kalau ada dia? Perasaan Bara emang udah jadi makanan lo tiap hari buat dijahilin, kan?"
"Teman lo ini lagi kesambet, ya?"
Bara ikut menyahut.
"Apa gara-gara keseringan gue kerjain, muluㅡ"
Belum sempat menyelesaikan kalimatnya, Bara mendadak membelalakkan mata.
Ara tiba-tiba memeluknya. Erat sekali.
Bara benar-benar tidak menyangka akan mendapatkan perlakuan seperti itu dari Ara.
Dengan canggung, ia berusaha melepaskan pelukan tersebut demi keselamatan jantungnya sendiri yang sudah berdetak tidak karuan.
"Apa-apaan, sih, lo!"
"Baraaa!"
Ara justru semakin erat memeluknya.
"Aku senang bisa ketemu kamu lagi!"
"Hah?"
Bara semakin bingung.
"Kok lo jadi akuㅡkamuㅡan sama gue? Jijik tahu nggak gue dengernya."
"Bodo amat."
Ara akhirnya melepaskan pelukannya, tetapi senyuman di wajahnya tidak kunjung hilang.
"Intinya sekarang aku lagi senang banget!"
Air matanya mulai mengalir.
"Astaga, Tuhan... terima kasih banyak."
Ara mengusap pipinya.
"Aku bahagia bisa melihat Bara lagi."
Bara hanya menatapnya dengan ekspresi aneh.
Sementara itu, Ara buru-buru mengambil ponselnya. Tangannya sedikit gemetar ketika membuka kalender. Tanggal yang tertera membuat jantungnya berdegup semakin kencang.
Hari ini. Empat belas hari sebelum kepergian Bara.
Jadi ini benar-benar nyata. Gue berhasil kembali ke masa lalu.
Mulai detik ini, Ara berjanji akan menggunakan empat belas hari yang dimilikinya sebaik mungkin. Ia akan memperbaiki hubungannya dengan Bara. Ia akan membuat Bara bahagia.
Dan yang paling penting, ia akan berusaha mencari tahu tentang penyakit yang selama ini disembunyikan lelaki itu. Ara sudah berjanji kepada dirinya sendiri.
Bara mungkin akan merasa aneh dan jijik melihat perubahan sikapnya. Namun, Ara sudah tidak peduli. Tujuan utamanya kembali ke masa lalu adalah karena Bara.
Dan hanya untuk Bara.
Sementara itu, Bara masih memperhatikan Ara yang sejak tadi tersenyum sendiri sambil sesekali mengusap air mata yang mengalir di pipinya.
Ia benar-benar tidak mengerti. Mengapa Ara tiba-tiba berubah menjadi begitu baik kepadanya?
Biasanya, setiap kali Bara mengusili gadis itu, ia akan mendapatkan gamparan, makian, atau setidaknya tatapan membunuh.
Namun, hari ini? Ara malah memeluknya.
"Sora, teman lo ini kenapa, sih? Kok jadi kayak orang gila gini?"
"Lo ngerjain Ara mulu, sih," jawab Sora kepada Bara. "Kalau lo suka, tuh, harusnya ngomong aja. Nggak usah sok jahil begitu."
Sora melirik Ara.
"Terus, hari ini otak dia emang lagi agak aneh. Nggak kayak Ara yang biasanya."
"Apa?"
Bara langsung tertawa tidak percaya.
"Suka? Gue suka sama Ara? Ngimpi!"
"Halah! Terserah."
Sora mengibaskan tangannya.
"Ra, ayo cepetan ke kantin. Gue udah laper banget. Lo juga nggak usah ladenin si Bara. Kesenangan nanti dianya."
Ara menggeleng.
"Lo duluan aja ke kantin. Nanti gue nyusul."
Ia menatap Bara.
"Ada yang mau gue omongin sama Bara."
"Tumben."
Sora mengangkat bahu.
"Ya udah, cepetan. Gue tunggu."
Ara mengangguk.
Sora pun pergi lebih dulu menuju kantin.
Kini hanya ada Ara dan Bara. Suasana di antara mereka mendadak terasa hening.
"Bara?"
Ara meraih tangan Bara dan menggoyang-goyangkannya kecil.
Ia masih tidak percaya bahwa lelaki yang selama ini hanya bisa ia tangisi kini benar-benar berada di hadapannya.
Bara semakin kebingungan melihat tingkah Ara.
"Apa?"
Ia menarik tangannya perlahan.
"Lo kok jadi aneh gini?"
Bara mengerutkan kening.
"Ah, nggak asik, lo! Udah nggak seru lagi gue kerjain."
Ia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana.
"Ya udah, mending gue cari korban lain aja."
Ara tertawa kecil.
"Oke, oke."
Ia berusaha menyembunyikan perasaannya.
"Sebenarnya gue cuma mau ngerjain lo balik. Habisnya lo nggak ada capeknya ngerjain gue terus dari dulu."
Ara memasang wajah seolah-olah sedang menyusun rencana.
"Ya, gue pengin balas dendam, dong."
Ia tertawa.
"Kena deh lo sekarang! Hahaha!"
"Sialan!"
Bara mendengus.
"Gue kira lo udah jadi cewek imut yang pakai akuㅡkamuㅡan."
Ia bergidik.
"Geli gue dengernya."
Ara hanya tersenyum. Namun, senyumannya perlahan memudar ketika tatapannya jatuh pada wajah Bara.
Waktu kamu hadir di mimpiku waktu itu, kamu bicara akuㅡkamu sama aku, Bara. Kamu juga manggil namaku dengan suara yang lembut banget. Pelukanmu terasa hangat. Tatapanmu teduh. Sentuhanmu lembut. Bahkan kamu manggil aku dengan sebutan sayang.
Ara menggigit bibirnya, menahan tangis.
Apa aku boleh berharap untuk bisa ada di sisimu sebelum kamu pergi? Aku sayang sama kamu. Aku belum bisa menerima kenyataan kalau kamu pergi begitu aja tanpa pernah memberitahuku kalau kamu sedang sakit.
"Ra!"
Suara Bara membuat Ara tersentak.
"Ngelamun mulu dari tadi."
Bara menatapnya curiga.
"Kayaknya otak lo emang agak terganggu hari ini."
Ara hanya diam.
"Lo nggak jadi mau ngomong sesuatu sama gue?"
Bara melihat jam tangannya.
"Gue sekarang ada janji, soalnya."
Ia mulai melangkah pergi.
"Gue duluan, ya?"
Bara menoleh sebentar.
"Tunggu pembalasan gue besok."
Ara hanya memandang punggung Bara yang semakin menjauh.
Aku mau jujur sama kamu juga nggak bisa, Bara. Aku takut kalau kamu malah menjauhi aku. Sekarang aku bingung harus gimana selama empat belas hari ini.
Bara terus berjalan tanpa menoleh lagi. Namun, tanpa Ara ketahui, lelaki itu sempat tersenyum kecil. Senyuman yang tidak terlihat oleh Ara.
Terima kasih, Ara. Terima kasih karena kamu mau memelukku untuk yang pertama kalinya.