NovelToon NovelToon
Bencana Akhir Zaman: Seluruh Kota Tenggelam

Bencana Akhir Zaman: Seluruh Kota Tenggelam

Status: sedang berlangsung
Popularitas:31
Nilai: 5
Nama Author: Novi

Arga Bayu Pratama, mantan prajurit Kopassus, terbangun di kamar kosnya yang sempit.
Tanggal di ponselnya: 10 November 2040 — dua hari sebelum kiamat.
Di kehidupan sebelumnya, ia bertahan selama enam tahun di dunia yang hancur. Ia menyaksikan hujan api menghujani kota, zombie berkeliaran di jalanan, dan manusia saling membunuh demi segenggam beras. Ia mati sendirian, tanpa apa-apa, tanpa siapa-siapa.
Tapi sekarang ia kembali. Dengan seluruh ingatan masa depan di kepalanya. Dan satu kekuatan baru yang membuatnya bisa mendengar pikiran setiap orang di sekitarnya.
"Kali ini, aku tidak akan menjadi yang paling lemah."
Sambil membeli puluhan karung beras, air mineral, dan gas elpiji sebelum dunia runtuh, Arga mulai menyusun rencana: membangun tim terkuat, menguasai kota, dan mencari tahu siapa — atau apa — yang sebenarnya menyebabkan kiamat ini.
Karena kiamat bukan kebetulan. Seseorang sedang menonton dari atas sana.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 14

Bab 014 - Tingkat 2

Arga tidak langsung kembali ke tenda.

Teleportasi berhasil, tapi tubuhnya masih lemah setelah Serum Bakat. Kalau ia pulang dengan tangan kosong, itu bodoh. Kalau ia pulang tanpa memastikan jalur aman, itu lebih bodoh.

Ia berdiri di pintu parkiran bawah tanah, menarik napas pelan, lalu membuka Telepati.

Di atas, beberapa dorongan lapar bergerak.

Tingkat 1.

Banyak.

Mereka tertarik oleh bau darah dua Tingkat 2 Zombie yang mati di bawah. Sebagian mulai turun lewat ramp parkir. Sebagian lain berkeliaran di area supermarket.

Arga memutar leher.

Rasa sakit di kepalanya masih ada, tapi matanya sudah kembali dingin.

"Bagus," gumamnya.

Ia membutuhkan Kristal.

Pedang Hi-Tech keluar.

Malam itu, mall kecil berubah menjadi ladang panen.

Arga tidak berlari seperti orang panik. Ia memilih posisi. Menyalakan senter sebentar, memancing tiga atau empat Zombie masuk ke koridor sempit, lalu mematikan cahaya. Ketika mereka bergerak mengikuti suara tetesan air dan bau manusia, pedang sudah menunggu.

Satu.

Dua.

Lima.

Sepuluh.

Dengan tubuh enam kali manusia biasa, Tingkat 1 Zombie bukan lawan. Bahaya mereka hanya jumlah dan suara. Tapi Arga punya Telepati untuk membaca dorongan kasar mereka, Combat Suit untuk menahan kesalahan kecil, dan sekarang Teleportasi sebagai jalan keluar terakhir.

Ia bahkan tidak perlu memakai sisa dua kesempatan itu.

Sebelum tengah malam lewat, enam puluh satu Kristal Tingkat 1 masuk ke Gelang Dimensi.

Lalu ia kembali ke gudang yang kemarin mereka segel.

Rak besi masih menutup pintu. Tidak ada manusia yang menemukan tempat itu. Arga menarik rak dengan satu tangan, membuka rantai, lalu masuk.

Gelang Dimensi 5000kg bekerja seperti mulut raksasa tanpa suara.

Indomie.

Makanan siap panaskan.

Sambal ABC.

Garam.

Pembalut.

Obat dasar.

Selimut.

Kasur lipat.

Pakaian bersih.

Kompor portable.

Tabung gas kecil.

Semua yang kemarin terpaksa ditinggalkan kini hilang dari rak satu demi satu.

Ketika ia selesai, gudang itu hampir kosong.

Arga menatap ruang penyimpanan di pikirannya.

Lima ton kapasitas.

Hampir empat ton barang sudah masuk, dan masih ada ruang tersisa.

Ini arti dari Dimensi equipment besar.

Ia bisa mengosongkan gudang dan memindahkan logistik tanpa meninggalkan jejak besar.

Ia menghapus kelemahan logistik.

Setelah memastikan tidak ada jejak yang mudah diikuti, Arga naik ke lantai dua. Tenda Hi-Tech berada di aula kecil, lampunya redup dari luar.

Di depan pintu tenda, Kiara masih duduk.

Dua belati di pangkuan.

Mata merah.

Begitu melihat bayangan Arga, ia berdiri terlalu cepat sampai meringis karena rusuknya.

"Arga!"

Ia berlari tiga langkah, lalu tubuhnya hampir limbung.

Arga maju dan menangkapnya.

Kiara memeluknya sekuat yang bisa dilakukan tubuhnya yang masih sakit.

"Kamu pergi seharian," suaranya pecah. "Kamu bilang sebelum malam."

"Aku bangun agak terlambat."

Kiara terdiam.

Lalu ia memukul dada Arga pelan. "Itu bukan jawaban yang bagus."

"Tapi akurat."

"Aku benci kalau kamu akurat."

Arga menepuk kepalanya sekali.

"Aku tidak mati."

Kiara mencengkeram Combat Suit-nya. "Aku tahu. Aku menunggu karena kamu bilang akan kembali."

Kalimat itu membuat Arga diam sebentar.

Di kehidupan sebelumnya, banyak orang bersumpah setia padanya setelah ia kuat. Mereka mengikutinya karena makanan, perlindungan, kekuasaan, atau kesempatan hidup.

Kiara menunggunya saat ia belum kembali.

Itu berbeda.

"Aku kembali," katanya.

Baru setelah itu Kiara melepasnya sedikit.

Matanya turun ke gelang hitam di pergelangan Arga.

"Itu baru?"

"Gelang Dimensi."

"Seperti cincin?"

"Lebih besar."

"Seberapa besar?"

"Lima ribu kilogram."

Kiara membuka mulut.

Lalu menutup lagi.

"Aku tidak tahu harus bereaksi bagaimana."

"Dengan senang."

"Aku senang. Tapi otakku belum sampai."

Arga mengangkat tangan. Dalam satu gerakan, beberapa dus Indomie, satu kasur lipat, dua kotak obat, dan sekarung garam muncul di lantai tenda.

Kiara menatap barang-barang itu.

"Gudang?"

"Sudah kosong sebagian besar."

"Kita benar-benar bisa membawa markas."

"Belum markas. Tapi fondasinya sudah ada."

Kiara duduk kembali, masih menatap tumpukan barang seperti takut barang itu hilang kalau ia berkedip.

Arga mengambil air otomatis dan minum lagi.

"Ada yang lain."

"Apa?"

Ia berdiri di tengah tenda.

"Lihat."

Kiara menegang. "Kamu berdarah?"

"Bukan itu."

Arga menatap sudut tenda, sekitar dua belas meter dari posisinya.

Ruang bergetar tipis.

Tubuhnya hilang.

Kiara terlonjak. "Arga!"

Detik berikutnya, Arga muncul di belakangnya.

"Di sini."

Kiara berputar cepat, hampir mengayunkan belati.

Arga menangkap pergelangan tangannya sebelum belati bergerak terlalu jauh.

"Refleks bagus."

"Kamu menghilang!"

"Teleportasi."

Kiara menatapnya seperti melihat seluruh aturan dunia ditulis ulang.

"Kamu bisa... pindah begitu saja?"

"Selama tempatnya terlihat mata. Tiga kali sehari. Hari ini sudah kupakai dua kali."

"Dua?"

"Satu untuk tes di parkiran. Satu untuk menunjukkan padamu."

Kiara memegang dadanya. "Kamu pakai satu kesempatan cuma untuk membuatku hampir mati kaget?"

"Untuk membuktikan."

"Kamu bisa bilang dulu."

"Kalau bilang dulu, reaksimu tidak alami."

Kiara menatapnya tajam.

Lalu, perlahan, senyum muncul.

Bukan senyum takut.

Bukan senyum lega.

Senyum kagum.

"Kamu benar-benar makin sulit dibunuh."

"Itu tujuan utama."

"Dan makin menyebalkan."

"Itu efek samping."

Untuk pertama kalinya sejak kiamat, Kiara tertawa pendek tanpa langsung menangis setelahnya.

Arga membiarkan suara itu hidup beberapa detik.

Lalu ia mengeluarkan Kristal.

Tiga Kristal Tingkat 2 biru dan puluhan Kristal Tingkat 1 putih pucat berbaris di atas meja lipat.

Wajah Kiara berubah serius.

"Kamu mau naik tingkat?"

"Ya."

"Sekarang?"

"Sekarang."

Ia menunjuk Kristal biru.

"Secara dasar, naik ke Tingkat 2 butuh seratus Kristal Tingkat 1. Tapi Kristal Tingkat 2 punya energi jauh lebih padat. Dua Kristal Tingkat 2 ditambah dua puluh Kristal Tingkat 1 cukup untuk menutup ambang energi."

"Berbahaya?"

"Sakit."

"Kamu selalu meremehkan kata sakit."

"Aku sudah pernah lebih sakit."

Kiara tidak tertawa.

Ia tahu itu benar.

Arga duduk bersila di lantai tenda. Ia melepas Pedang Hi-Tech dan meletakkannya di samping. Combat Suit tetap dipakai. Jika proses ini gagal, Kiara tidak akan bisa menolong banyak. Tapi jika ada Zombie masuk, ia harus bisa berdiri secepat mungkin.

"Jangan sentuh aku saat proses berjalan," katanya.

Kiara menggenggam belatinya. "Kalau kamu berhenti bernapas?"

"Baru sentuh."

"Itu tidak lucu."

"Aku tidak bercanda."

Ia mengambil dua Kristal Tingkat 2 dan dua puluh Kristal Tingkat 1.

Satu per satu, energi dingin masuk ke tubuhnya.

Pada Kristal pertama, tubuhnya hanya terasa berat.

Pada Kristal Tingkat 2 pertama, panas meledak dari perut ke tulang belakang.

Pada Kristal Tingkat 2 kedua, rasa sakit menghantam jantung.

Arga menunduk.

Otot di lehernya menegang. Keringat keluar deras. Urat di tangannya menonjol seperti akar.

Kiara berdiri dua langkah darinya, pucat, tapi tidak maju.

Ia taat.

Karena taat sekarang adalah satu-satunya cara membantu.

BOOM.

Tidak ada suara di luar.

Namun dalam tubuh Arga, sesuatu pecah lagi.

Pintu pertama sudah terbuka saat ia menjadi Tingkat 1.

Kini pintu kedua dihantam sampai hancur.

Energi kasar mengalir ke tulang, daging, mata, telinga, paru-paru. Tubuhnya yang sudah enam kali manusia biasa diperas, ditempa, lalu dilipatgandakan lagi.

Enam menjadi dua belas.

Serum Evolusi Tingkat Tinggi memberi dasar tiga kali.

Tingkat 1 menggandakannya menjadi enam.

Tingkat 2 menggandakannya menjadi dua belas.

Arga membuka mata.

Udara di dalam tenda seperti berhenti.

Kiara tanpa sadar mundur setengah langkah.

Tekanan dari tubuh Arga membuat ruangan terasa lebih sempit.

Arga berdiri.

Lantai terasa terlalu ringan.

Ia mengepalkan tangan.

Udara seperti dipadatkan.

Lampu kecil di meja bergetar.

"Tingkat 2," kata Kiara pelan.

"Tingkat 2."

"Dua belas kali?"

"Dua belas kali."

Kiara mengembuskan napas. "Kalau begitu Tingkat 2 Zombie tadi..."

"Sekarang bukan masalah."

Kalimat itu datar.

Tapi Kiara percaya.

Arga mengambil sisa Kristal Tingkat 1 dan satu Kristal Tingkat 2 yang belum dipakai.

Ia memisahkan lima puluh Kristal Tingkat 1 untuk Kiara, termasuk miliknya yang tersisa sejak kemarin.

"Simpan ini."

Kiara menatap tumpukan kecil itu. "Sebanyak ini untukku?"

"Kamu belum perlu menelan semuanya malam ini. Tubuhmu baru minum Serum Evolusi Biasa. Terlalu cepat menyerap banyak Kristal bisa merusak ritme tubuhmu. Mulai dari sepuluh. Sisanya simpan."

"Aku tidak naik Tingkat 1?"

"Belum penuh. Tapi ini akan mendekatkanmu. Dengan dasar tubuh dua kali manusia biasa, begitu kamu masuk Tingkat 1 nanti, lompatanmu akan besar."

Kiara menyentuh Kristal itu.

Dulu ia pernah menangis karena satu botol air.

Sekarang di depannya ada lima puluh Kristal.

Ukuran dunia berubah terlalu cepat.

"Aku akan mengejar," katanya.

Arga menatapnya.

"Aku tahu."

Kiara mengangkat wajah. "Bukan cuma mengikuti."

Hening singkat turun.

Lalu Arga mengangguk.

"Bagus."

Malam itu, Kiara menyerap sepuluh Kristal Tingkat 1. Prosesnya lebih ringan daripada Serum Evolusi, tapi tetap membuatnya menggigil. Arga mengawasi dari samping, menghitung napasnya, memastikan tubuhnya tidak menolak energi.

Ketika selesai, Kiara bersandar pada dinding tenda, lelah tapi matanya lebih terang.

"Tubuhku panas."

"Normal."

"Aku lapar."

"Lebih normal."

Arga mengeluarkan makanan dari kotak otomatis. Nasi, telur, sedikit daging, sambal. Kiara makan tanpa pura-pura anggun. Setelah tiga hari terakhir, ia sudah tidak malu menjadi lapar.

Menjelang subuh, mereka membuka peta sederhana yang digambar Arga di lantai dengan spidol dari gudang.

Hotel.

Mall kecil.

UNDIP.

Jalur yang masih bisa dilewati.

Area yang terlalu banyak Zombie.

Kiara duduk di sampingnya. "Kita kembali ke UNDIP?"

"Ya."

"Kenapa?"

"Ada orang yang harus kita ambil."

"Rina?"

Suara Kiara langsung dingin.

Arga meliriknya. "Bukan."

"Bagus."

"Nadira dan Dara."

Kiara berpikir beberapa detik. "Aku pernah dengar nama mereka. Nadira dari manajemen bisnis. Dara anak olahraga. Mereka cukup terkenal."

"Mereka masih hidup."

"Kamu yakin?"

Arga menatap peta.

"Dalam pola yang kuketahui, mereka bertahan di area perpustakaan dengan sekitar tiga puluh mahasiswi."

Kiara tidak bertanya bagaimana ia tahu.

Belum.

"Kenapa mereka penting?"

"Nadira bisa mengatur orang. Dara bisa bertarung. Kita tidak bisa membangun kekuatan hanya dengan dua orang."

Kiara menatap peta lebih lama.

"Kamu mau membentuk tim."

"Bukan tim kecil."

"Apa?"

"Fondasi untuk kota."

Kiara diam.

Di luar tenda, Zombie masih berkeliaran. Kota masih tenggelam, terbakar, dan runtuh. Sebagian besar manusia masih memperebutkan mi instan dan air.

Arga sudah bicara tentang kota.

Dulu, Kiara mungkin mengira itu gila.

Sekarang ia hanya bertanya, "Aku bagian dari fondasi itu?"

Arga menatapnya.

"Kamu yang pertama."

Kiara menunduk. Rambutnya jatuh menutupi wajah, tapi telinganya memerah sedikit.

"Kalau begitu kita ambil mereka."

Arga melipat peta.

Pagi datang dengan langit kelabu.

Mereka membongkar Tenda Hi-Tech, memasukkannya ke Gelang Dimensi bersama Bathtub Hi-Tech dan sebagian besar barang. Ruangan besar itu mengempis menjadi paket hitam kecil, seolah semalam yang hangat dan aman hanya sebuah rahasia yang bisa dilipat.

Kiara memasang Combat Suit, dua belati Hi-Tech, dan Cincin Dimensi.

Arga berdiri di sampingnya.

Tingkat 2.

Teleportasi.

Gelang Dimensi.

Pedang Hi-Tech.

Telepati.

Di hari kedua belas kiamat, ia akhirnya memiliki cukup modal untuk berhenti sekadar bertahan.

Sekarang waktunya mengambil orang.

Menjelang pukul delapan, mereka tiba di gerbang UNDIP.

Kampus itu tampak lebih rusak daripada saat terakhir mereka meninggalkannya. Beberapa bangunan terbakar sebagian. Halaman dipenuhi jejak darah dan tubuh Zombie yang sudah membusuk. Dari arah dalam kampus, terdengar teriakan perempuan dan geraman Zombie.

Kiara menggenggam belati.

"Ada yang bertarung."

Arga menutup mata.

Telepati menyapu masuk ke area perpustakaan.

Puluhan pikiran kacau.

Takut.

Lapar.

Jangan sampai pintu jatuh.

Lalu satu suara muncul.

Jernih.

Dingin.

Tertata.

Semua mundur ke perpustakaan! Dara bawa kelompok pertama tahan koridor barat! Jangan buang tenaga, pukul lututnya dulu! Aku urus jalur evakuasi!

Arga membuka mata.

Sudut bibirnya terangkat.

"Ketemu."

Kiara menatapnya.

"Siapa?"

"Nadira."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!